Rabu, 04 April 2018

Pengertian Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, dan Obat Keras

Terdapat tiga jenis golongan obat yaitu obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras.

1. Obat bebas


Pengertian Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, dan Obat Keras

Adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus untuk obat bebas adalah berupa lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam.

2. Obat bebas terbatas 


Pengertian Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, dan Obat Keras

Adalah obat yang dijual bebas dan dapat dibeli tanpa dengan resep dokter, tapi disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus untuk obat ini adalah lingkaran berwarna biru dengan garis tepi hitam.


Khusus untuk obat bebas terbatas, selain terdapat tanda khusus lingkaran biru, diberi pula tanda peringatan untuk aturan pakai obat, karena hanya dengan takaran dan kemasan tertentu, obat ini aman dipergunakan untuk pengobatan sendiri. Tanda peringatan berupa empat persegi panjang dengan huruf putih pada dasar hitam yang terdiri dari 6 macam.

3. Obat Keras


Pengertian Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, dan Obat Keras

Adalah obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Ciri-cirinya adalah bertanda lingkaran bulat merah dengan garis tepi berwarna hitam, dengan huruf K ditengah yang menyentuh garis tepi. Obat ini hanya boleh dijual di apotik dan harus dengan resep dokter pada saat membelinya.

8 Langkah Cara Penyerahan Obat Kepada Pasien

8 Langkah Cara Penyerahan Obat Kepada Pasien

Dalam proses penyerahan obat, ada delapan langkah penting yang harus dilakukan untuk menjamin terlaksananya penyerahan obat yang benar kepada pasien dari petugas penyerah obat. Setiap langkah membawa tanggungjawab dan  atau pertimbangan yang penting untuk dilakukan.

Dalam hal ini, diasumsikan bahwa pemberi resep telah melakukan diagnosis yang benar serta memilih obat yang benar dan regimen yang tepat, serta pasien mempunyai akses terhadap apotik. Langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Petugas penyerah obat menerima resep yang benar dari pasien atau pemberi resep (secara tertulis atau lisan) dan melakukan pengkajian resep terhadap antara lain :
  • Originalitas (keaslian) resep.
  • Jika diperlukan komunikasi dengan pemberi resep untuk resep yang meragukan dan tidak jelas.

2. Petugas penyerah obat membaca resep dengan benar dan memeriksa ketepatan instruksi yang tertulis pada resep, terhadap :
  • Nama obat.
  • Dosis, cara dan lama pemberian.
  • Ketersediaan obat.

Petugas penyerah obat kemudian mencari obat di tempat penyimpanannya

3. Obat yang diresepkan tersedia dalam kondisi layak pakai (tidak kadaluarsa atau rusak). Petugas penyerah obat harus :
  • Menjamin obat disimpan pada tempat yang benar.
  • Memeriksa tanggal kadaluarsa dan melakukan proses FIFO (First in First Out).
  • Melakukan proses periksa dan periksa ulang (jika memungkinkan) terhadap ketepatan nama, kekuatan dan bentuk sediaan obat yang diberikan.

4. Petugas penyerah obat harus memiliki pengetahuan obat dan cara penggunaan obat yang tepat dan dapat pula melakukan hal berikut :
  • Penyiapan obat dengan tepat.
  • Pengecekan kembali terhadap jenis obat dan dosis.

5. Petugas penyerah obat harus mengkomunikasikan kepada pasien cara yang tepat untuk menggunakan obat melalui informasi mengenai :
  • Etiket obat yang mencantumkan informasi mengenai nama pasien, nama obat, petunjuk penggunaan obat, tanggal pemberian obat, identitas pemberi resep, dan identitas petugas penyerah obat.
  • Instruksi berupa simbol, untuk pasien yang buta huruf.
  • Pemberian label/etiket informasi tambahan untuk obat.

6. Pasien mengerti terhadap instruksi dari petugas penyerah obat.

Petugas penyerah obat harus:
  • Mengulang secara lisan, instruksi yang tertulis pada etiket, jika memungkinkan dalam bahasa yang jelas dan lugas, yang dimengerti oleh pasien.
  • Meminta pasien untuk mengulang instruksi yang diberikan.
  • Menekankan kebutuhan terhadap adanya kepatuhan.
  • Menginformasikan peringatan dan perhatian terkait penggunaan obat.
  • Memberikan perhatian khusus terhadap kondisi tertentu seperti wanita hamil, pasien yang memiliki gangguan penglihatan dan pendengaran, buta huruf, anak dan pasien lansia dan pasien yang mendapatkan lebih dari satu jenis obat.

7. Yakinkan pasien untuk mematuhi instruksi dari terapi.

Untuk meningkatkan kepatuhan, pemberian obat harus disertai dengan pemberian informasi yang memadai. Komunikasi dengan pasien atau keluarganya seringkali menemui hambatan, sehingga pasien gagal untuk mengikuti petunjuk pengobatan.

Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab yang telah teridentifikasi:
  • Ada kesenjangan antar pemberi dan penerima informasi, baik dalam penggunaan bahasa, cara penuturan, ataupun cara pendekatan.
  • Waktu untuk memberikan informasi terbatas.
  • Pemberi informasi tidak berhasil menarik perhatian atau keterbukaan pasie/keluarganya.
  • Informasi yang diberikan tidak diartikan secara benar, atau tidak dimengerti.
  • Petunjuk yang diberikan tidak dipahami.
  • Petunjuk yang diberikan tidak disepakati.
  • Petunjuk yang diberikan tidak dapat dilaksanakan.
  • Petunjuk diberikan secara tidak lengkap.
  • Hal-hal yang harus dikerjakan terlupa.
  • Pasien tidak suka diajak berdiskusi.
  • Pasien/keluarga merasa sudah mengetahui.
  • Keyakinan pasien/keluarganya sulit diubah.

Tidak tersampaikannya informasi secara baik, mutlak menjadi tanggung jawab apoteker atau petugas penyerah obat lainnya, walaupun hambatannya mungkin ada di pihak penerima. Untuk itu, perlu diwaspadai kemungkinan adanya hambatan diatas, agar dapat segera diantisipasi.

8. Petugas penyerah obat melakukan pendokumentasian terhadap langkah yang dilakukan, yaitu:
  • Memasukkan detil informasi pada profil pengobatan pasien.
  • Memasukkan data resep.
  • Melengkapi data inventori.

Cara Injeksi Yang Tepat dan Benar

Berikut ini adalah 3 cara injeksi yaitu subkutan, intramuskular, dan intravena.

Cara Injeksi Subkutan



Alat/Bahan yang dibutuhkan

Alat suntik berisi obat yang akan diberikan (tanpa udara), jarum suntik (ukuran 25 Gauss,pendek dan tipis, terpasang pada alat suntik), cairan desinfektan (alkohol 70%), kapas, plester.

Teknik:
  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Tenangkan pasien dan jelaskan prosedur penyuntikan.
  3. Bersihkan lokasi penyuntikan (lengan atas, paha, dan perut).
  4. Oleskan desinfektan pada kulit lokasi penyuntikan.
  5. “Cubit” lipatan kulit.
  6. Suntikkan jarum bagian bawah dasar lipatan kulit dengan kemiringan 20 – 30 derajat.
  7. Lepaskan cubitan.
  8. Tarik udara secara perlahan. Jika keluar darah, cabut jarum, pindahkan ke lokasi baru, jika mungkin, dan mulai kembali dari langkah 4.
  9. Suntikkan secara perlahan (0,5 – 2 menit).
  10. Tarik jarum suntik secara cepat.
  11. Tekan kapas steril pada bekas suntikan. Tempelkan dengan bantuan plester.
  12. Perhatikan reaksi pasien  dan tenangkan jika perlu.
  13. Bersihkan dan rapikan , buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.


Cara Injeksi Intramuskular



Alat/Bahan yang dibutuhkan

Alat suntik berisi obat yang akan diberikan (tanpa udara), jarum suntik (22 Gauss, panjang dan agak tebal; terpasang pada alat suntik), cairan desinfektan (alkohol 70%), kapas, plester.

Tehnik:
  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Tenangkan pasien dan jelaskan prosedur penyuntikan.
  3. Cari lokasi penyuntikan (lateral upper quadrant major gluteal muscle, lateral side of upper leg, deltoid muscle).
  4. Oleskan desinfektan.
  5. Minta pasien untuk melemaskan  otot.
  6. Suntikkan jarum suntik dengan cepat dengan kemiringan 90 derajat (perhatikan kedalaman).
  7. Tarik udara secara perlahan; Jika keluar darah, cabut jarum, pindahkan ke lokasi baru, jika mungkin , dan mulai kembali dari langkah 4.
  8. Suntikkan perlahan (agar tidak terlalu sakit).
  9. Tarik jarum suntik secara cepat.
  10. Tekan kapas steril di bekas suntikan. Tempelkan dengan bantuan plester.
  11. Perhatikan reaksi pasien dan tenangkan jika perlu.
  12. Bersihkan dan rapikan, buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.


Cara Injeksi Intravena



Alat/Bahan yang dibutuhkan

Alat suntik berisi obat yang akan diberikan (tanpa udara), jarum suntik (20 Gauss, panjang dan agak tebal; terpasang pada alat suntik), cairan desinfektan (alkohol 70%), kapas, plester.

Teknik:
  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Tenangkan pasien dan jelaskan prosedur penyuntikan.
  3. Buka lengan baju pada bagian lengan atas sepenuhnya.
  4. Anjurkan pasien agar santai dan pegang lengan pada bagian bawah vena yang akan disuntik.
  5. Siapkan torniket dan cari vena yang diinginkan.
  6. Tunggu sampai vena menggembung.
  7. Oleskan desinfektan.
  8. Stabilkan pembuluh darah dengan menarik kencang di arah membujur dari vena tersebut. Lakukan ini dengan tangan lain yang bukan digunakan untuk menyuntikkan jarum.
  9. Suntikkan jarum dengan kemiringan sekitar 35 derajat.
  10. Tusuk kulit dan dan gerakkan jarum sedikit ke dalam  vena (3 – 5 mm).
  11. Pegang alat suntik dan jarum agar berada pada posisi stabil.
  12. Jika darah keluar, pegang alat suntik dengan kencang agar stabil, berarti benar berada dalam vena. Jika tidak tampak, harus dicoba lagi.
  13. Kendurkan torniket.
  14. Suntikkan perlahan. Amati kemungkinan rasa sakit, bengkak, hematoma; jika merasa ragu, apakah posisi masih dalam vena, sedot alat suntik lagi.
  15. Cabut jarum secara cepat. Tekan kapas steril pada bekas suntikan. Kencangkan dengan plester.
  16. Perhatikan reaksi pasien  dan tenangkan jika perlu.
  17. Bersihkan dan rapikan, buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.

Selasa, 03 April 2018

Cara Melarutkan Serbuk Obat

Cara Melarutkan Serbuk Obat

Alat/Bahan yang dibutuhkan
Vial berisi serbuk obat yang akan dilarutkan, alat suntik dengan jumlah pelarut yang sesuai, jarum dengan ukuran yang tepat (intravena, subkutan atau intramuskular) pada alat suntik, desinfektan (alkohol 70%), jarum suntik, kain kasa.

Teknik
  • Cuci tangan terlebih dahulu.
  • Bersihkan bagian atas vial berisi serbuk obat dengan kapas beralkohol.
  • Masukkan jarum ke dalam vial, pegang bagian atas secara seksama.
  • Ambil udara sebanyak mungkin disesuaikan dengan jumlah pelarut yang sudah ada dalam alat suntik.
  • Injeksikan hanya cairan ke dalam vial, bukan udaranya.
  • Kocok vial.
  • Kocok vial kearah atas dan bawah. Balik vial hingga posisi bagian atas vial ada di bawah.
  • Suntikkan udara kedalam vial.
  • Ambil seluruh larutan (tanpa udara).
  • Keluarkan udara dari alat suntik.
  • Bersihkan dan rapikan; buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.

Semoga bermanfaat.

Cara Menyedot Obat Suntik Dari Vial

Cara Menyedot Obat Suntik Dari Vial

Alat/Bahan yang dibutuhkan:
Obat dalam vial dan pelarutnya, alat suntik dengan ukuran sesuai, jarum suntik dengan ukuran yang tepat (intramuskular, subkutan atau intravena), desinfektan (alkohol 70%), kain kasa.

Teknik:
  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Bersihkan bagian atas vial dengan kapas beralkohol.
  3. Gunakan alat suntik dengan volume dua kali jumlah obat atau larutan yang dibutuhkan dan pasang jarum.
  4. Ambil udara sebanyak mungkin disesuaikan dengan jumlah larutan yang akan disuntikkan.
  5. Masukkan jarum suntik ke dalam vial , kemudian dibalik sehingga vial ada di atas.
  6. Pompa udara dari alat suntik ke dalam vial.
  7. Ambil larutan hingga berlebih 0,1 mL. Pastikan ujung jarum bebas dari cairan.
  8. Tarik jarum keluar dari vial.
  9. Keluarkan udara dari alat suntik.
  10. Bersihkan dan rapikan; buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.

Semoga bermanfaat.

Cara Menyedot Cairan Suntik Dari Ampul


Alat yang diperlukan:
Alat suntik dengan ukuran yang tepat, jarum suntik dengan ukuran yang sesuai, sediaan obat atau cairan dalam ampul, kain kasa.

Cara menyedot obat dari ampul
  1.  Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Pasang jarum pada alat suntik.
  3. Turunkan cairan dari leher ampul dengan mengetukkan jari ke ampul atau ampul digoyang dengan gerakan memutar ke arah bawah.
  4. Gesekkan alat pemotong sepanjang leher ampul.
  5. Lindungi jari dengan kain kasa jika ampul terbuat dari kaca. 
  6. Patahkan bagian atas ampul dengan hati-hati (untuk ampul plastik, dipotong dengan cara diputar).
  7. Sedot cairan dari ampul.
  8. Keluarkan udara dari alat suntik.
  9. Bersihkan dan rapikan ; buang semua bekas alat dengan benar; cuci tangan.

Semoga bermanfaat

Jenis Alat KB dan Cara Menggunakannya


A. Alat ber-KB untuk suami

  • Kondom, dipasang pada alat kemaluan suami yang sudah tegang setiap kali melakukan hubungan seksual.
  • Vasektomi, dokter akan melakukan operasi kecil untuk mengikat/memotong saluran sperma/air mani.

B. Alat ber-KB untuk istri

  • Pil, diminum secara teratur setiap hari secara terus menerus, untuk ibu yang sedang menyusui minum pil KB khusus.
  • Suntik, disuntikkan pada pantat sebelah kanan/kiri setiap 1 atau 3 bulan sekali tergantung dari jenis suntikan.
  • Implant, dipasang di lengan atas ibu.
  • IUD, dipasang di rahim 2 hari atau 6-8 minggu setelah persalinan.
  • Tubektomi, dokter akan melakukan operasi kecil untuk menjepit/memotong saluran telur.