Jumat, 13 Oktober 2017

Gambaran Masalah Kekurangan Gizi di Indonesia

Gambaran Masalah Kekurangan Gizi di Indonesia

Salah satu ciri bangsa maju adalah bangsa yang memiliki tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas kerja yang tinggi. Ketiga hal ini dipengaruhi oleh keadaan gizi.

Pola makan merupakan perilaku paling penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi.Hal ini disebabkan karena kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi akan mempengaruhi tingkat kesehatan individu dan masyarakat. Agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit kronis atau penyakit tidak menular (PTM) terkait gizi, maka pola makan masyarakat perlu ditingkatkan kearah konsumsi gizi seimbang.Keadaan gizi yang baik dapat meningkatkan kesehatan individu dan masyarakat. Gizi yang optimal sangat penting untuk pertumbuhan normal serta perkembangan fisik dan kecerdasan bayi, anak-anak, serta seluruh kelompok umur. Gizi yang baik membuat berat badan normal atau sehat, tubuh tidak mudah terkena penyakit infeksi, produktivitas kerja meningkat serta terlindung dari penyakit kronis dan kematian
dini.

Gizi yang tidak optimal berkaitan dengan kesehatan yang buruk. Gizi yang tidak baik adalah faktor risiko PTM, seperti penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi dan stroke), diabetes serta kanker yang merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Lebih separuh dari semua kematian di Indonesia merupakan akibat PTM.

Sebagian besar PTM terkait-gizi di atas berasosiasi dengan kelebihan berat badan dan kegemukan yang disebabkan oleh kelebihan gizi. Data Riskesdas 2007, 2010, 2013 memperlihatkan kecenderungan prevalensi obes (IMT > 25) semua kelompok umur. Anak balita 12,2%, 14% dan 11,9%;usia 6-19 tahun (Riskesdas 2007, 2010) naik dari 5,2% menjadi 5,9%; orang dewasa dan usia lanjut (Riskesdas 2007, 2010) naik dari 21,3% menjadi 22,8%. Pada  Riskesdas 2013 laki-laki obes 19,7% dan perempuan 32,9% [Depkes, 2008; Kemenkes, 2010, 2013].

Kelebihan gizi ini timbul akibat kelebihan asupan makanan dan minuman kaya energi, kaya lemak jenuh, gula dan garam tambahan, namun kekurangan asupan pangan bergizi seperti sayuran, buahbuahan dan serealia utuh, serta kurang melakukan aktivitas fisik. Konsumsi pangan masyarakat masih belum sesuai dengan pesan gizi seimbang.

Hasil penelitian Riskesdas 2010 menyatakan gambaran sebagai berikut.
  • Pertama, konsumsi sayuran dan buah-buahan pada kelompok usia di atas 10 tahun masih rendah, yaitu masing-masing sebesar 36,7% dan 37,9%.
  • Kedua, kualitas protein yang dikonsumsi rata-rata perorang perhari masih rendah karena sebagian besar berasal dari protein nabati seperti serealia dan kacangkacangan.
  • Ketiga, konsumsi makanan dan minuman berkadar gula tinggi, garam tinggi dan lemak tinggi, baik pada masyarakat perkotaan maupun perdesaan, masih cukup tinggi. 
  • Keempat, konsumsi cairan pada remaja masih rendah. 
  • Kelima, cakupan pemberian Air Susu Ibu Eksklusif (ASI Eksklusif) pada bayi 0-6 bulan masih rendah (61,5%).


Riskesdas 2007, 2010, 2013 menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki masalah kekurangan gizi. Kecenderungan prevalensi kurus (wasting) anak balita dari 13,6% menjadi 13,3% dan menurun 12,1%. Sedangkan kecenderungan prevalensi anak balita pendek (stunting) sebesar 36,8%, 35,6%, 37,2%. Prevalensi gizi kurang (underweight) berturut-turut 18,4%, 17,9% dan 19,6%. Prevalensi kurus anak sekolah sampai remaja. Riskesdas 2010 sebesar 28,5% [Kemenkes, 2007, 2010, 2013].

Pengaruh kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan yaitu sejak janin sampai anak berumur dua tahun, tidak hanya terhadap perkembangan fisik, tetapi juga terhadap perkembangan kognitif yang pada gilirannya berpengaruh terhadap kecerdasan dan ketangkasan berpikir serta terhadap produktivitas kerja. Kekurangan gizi pada masa ini juga dikaitkan dengan risiko terjadinya penyakit kronis pada usia dewasa, yaitu kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi, stroke dan diabetes.

Untuk mencegah timbulnya masalah gizi tersebut, perlu disosialisasikan pedoman gizi seimbang yang bisa dijadikan sebagai pedoman makan, beraktivitas fisik, hidup bersih dan mempertahankan berat badan normal.

Untuk mengoptimalkan penyampaian pesan gizi seimbang kepada masyarakat, diperlukan KIE yang tepat dan berbasis masyarakat. Pendidikan dan penyuluhan gizi dengan menggunakan slogan 4 Sehat 5 Sempurna yang dimulai 1952, telah berhasil menanamkan pengertian tentang pentingnya gizi dan kemudian merubah perilaku konsumsi masyarakat.

Prinsip 4 Sehat 5 Sempurna yang diperkenalkan oleh Bapak Gizi Indonesia Prof. Poorwo Soedarmo yang mengacu pada prinsip Basic Four Amerika Serikat yang mulai diperkenalkan pada era 1940an adalah : Menu makanan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan, serta minum susu untuk menyempurnakan menu tersebut.

Namun slogan tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu dan permasalahan gizi dewasa ini sehingga perlu diperbarui dengan slogan dan visual yang sesuai dengan kondisi saat ini. Prinsip Nutrition Guide for Balanced Diet hasil kesepakatan konferensi pangan sedunia di Roma Tahun 1992 diyakini akan mampu mengatasi beban ganda masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi.

Di Indonesia prinsip tersebut dikenal dengan Pedoman Gizi Seimbang. Perbedaan mendasar antara slogan 4 Sehat 5 Sempurna dengan Pedoman Gizi Seimbang adalah: Konsumsi makan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Konsumsi makanan harus memperhatikan prinsip 4 pilar yaitu anekaragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik dan mempertahankan berat badan normal.

Kamis, 12 Oktober 2017

Gizi Seimbang Pada Ibu Hamil Menurut Depkes

Gizi Seimbang Pada Ibu Hamil Menurut Depkes

Seorang wanita yang hamil harus memperhatikan asupan gizi, hal ini sangat penting sekali karena selain untuk kesehatan ibu dan janin. Ada sebagian wanita hamil yang tidak memperhatikan asupan gizinya, padahal jika ibu hamil kekurangan nutrisi bisa sangat berbahaya bagi kehidupan janin yang dikandungnya, salah satu efek yang bisa ditimbulkan adalah stunting (baca, “Stunting Bisa Membuat Anak Cebol dan Bodoh”).

Cara Mengatur Gizi Seimbang Pada Ibu Hamil


Banyak Mengonsumsi Beranekaragan Pangan

Ibu Hamil perlu mengonsumsi aneka ragam pangan yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan energi, protein dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) karena digunakan untuk pemeliharaan, pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan serta cadangan selama masa menyusui.Zat gizi mikro penting yang diperlukan selama hamil adalah zat besi, asam folat, kalsium, iodium dan zink.

Kebutuhan protein selama kehamilan meningkat. Peningkatan kebutuhan ini untuk pertumbuhan janin dan untuk mempertahankan kesehatan ibu. Sangat dianjurkan untuk mengonsumsi pangan sumber protein hewani seperti ikan, susu dan telur.

Kebutuhan zat besi selama kehamilan meningkat karena digunakan untuk pembentukan sel dan jaringan baru. Selain itu zat besi merupakan unsur penting dalam pembentukan hemoglobin pada sel darah merah. Kekurangan hemoglobin disebut anemia atau disebut “penyakit kurang darah” dapat membahayakan kesehatan ibu dan bayi seperti BBLR, perdarahan dan peningkatan risiko kematian. Ikan, daging, hati dan tempe adalah jenis pangan yang baik untuk ibu hamil karena kandungan zat besinya tinggi Ibu hamil juga disarankan untuk mengonsumsi satu tablet tambah darah perhari selama kehamilan dan dilanjutkan selama masa nifas.

Kebutuhan asam folat selama kehamilan juga meningkat karena digunakan untuk pembentukan sel dan sistem saraf termasuk sel darah merah. Sayuran hijau seperti bayam dan kacang-kacangan banyak mengandung asam folat yang sangat diperlukan pada masa kehamilan.

Buah berwarna merupakan sumber vitamin yang baik bagi tubuh dan buah yang berserat karena dapat melancarkan buang air besar sehingga mengurangi resiko sembelit (susah buang air besar).

Kebutuhan kalsium meningkat pada saat hamil karena digunakan untuk mengganti cadangan kalsium ibu yang digunakan untuk pembentukan jaringan baru pada janin. Apabila konsumsi kalsium tidak mencukupi maka akan berakibat meningkatkan risiko ibu mengalami komplikasi yang disebut kehamilan (pre eklampsia). Selain itu ibu akan mengalami pengeroposan tulang dan gigi. Sumber kalsium yang baik adalah sayuran hijau, kacang–kacangan dan ikan teri serta susu.

Iodium merupakan bagian hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) yang berfungsi untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan bayi. Iodium berperan dalam sintesis protein, absorsi karbohidrat dan saluran cerna serta sintesis kolesterol darah.

Zat iodium memegang peranan yang sangat besar bagi ibu dan janin. Kekurangan iodium akan berakibat terhambatnya perkembangan otak dan sistem saraf terutama menurunkan IQ dan meningkatkan risiko kematian bayi. Disamping itu kekurangn iodium dapat menyebabkan pertumbuhan fisik anak yang dilahirkan terganggu (kretin). Dampak pada perkembangan otak dan system syaraf ini biasanya menetap. Sumber iodium yang baik adalah makanan laut seperti ikan, udang, kerang, rumput laut. Setiap memasak diharuskan menggunakan garam beriodium.

Untuk mengatasi “Hiperemesis Gravidarum” (rasa mual dan muntah berlebihan) dianjurkan agar makan dalam porsi kecil tetapi sering, makan secara tidak berlebihan dan hindari makanan berlemak serta makanan berbumbu tajam (merangsang).

Batasi Makanan Mengandung Garam Tinggi

Pembatasan konsumsi garam dapat mencegah hipertensi selama kehamilan. Selama ibu hamil diusahakan agar tidak menderita hipertensi. Hal ini disebabkan karena hipertensi selama kehamilan akan meningkatkan risiko kematian janin, terlepasnya plasenta, serta gangguan pertumbuhan.

Minumlah Air Putih Lebih Banyak

Air merupakan sumber cairan yang paling baik dan berfungsi untuk membantu pencernaan, membuang racun, sebagai penyusun sel dan darah, mengatur keseimbangan asam basa tubuh, dan mengatur suhu tubuh.

Kebutuhan air selama kehamilan meningkat agar dapat mendukung sirkulasi janin, produksi cairan amnion dan meningkatnya volume darah. Ibu hamil memerlukan asupan air minum sekitar 2-3 liter perhari (8 – 12 gelas sehari).

Batasi Minum Kopi

Kafein bila dikonsumsi oleh ibu hamil akan mempunyai efek diuretic dan stimulans. Oleh karenanya bila ibu hamil minum kopi sebagai sumber utama kafein yang tidak terkontrol, akan mengalami peningkatan buang air kecil (BAK) yang akan berakibat dehidrasi, tekanan darah meningkat dan detak jantung juga akan meningkat. Pangan sumber kafein lainnya adalah coklat, teh dan minuman suplemen energi. Satu botol minuman suplemen energi mengandung kafein setara dengan 1 – 2 cangkir kopi.Disamping mengandung kafein, kopi juga mengandung inhibitor (zat yang mengganggu penyerapan zat besi) Konsumsi kafein pada ibu hamil juga akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin, karena metabolisme janin belum sempurna.

The National Institute of Health USA (1993) merekomendasikan konsumsi kafein bagi ibu hamil yang aman adalah 150-250 mg/hari atau 2 (dua) cangkir kopi/hari. Oleh karenanya dianjurkan kepada ibu hamil, “selama kehamilan ibu harus bijak dalam mengonsumsi kopi sebagai sumber utama kafein, batasi dalam batas aman yaitu paling banyak 2 cangkir kopi/hari atau hindari sama sekali, karena dalam kopi tidak ada kandungan zat gizi.

Minggu, 08 Oktober 2017

Penanganan Masalah Kesehatan Dalam Kedaruratan

Penanganan Masalah Kesehatan Dalam Kedaruratan

Dalam kondisi darurat, entah karena penyabab apapun pasti menimbulkan masalah kesehatan. Berbagai masalah harus memerlukan penanganan yang tepat karena dalam kondisi darurat semua kondisi bisa menjadi parah.

Dalam kedaruratan anak-anak, perempuan, ibu hamil, lansia memiliki hak yang sama seperti pada saat kondisi normal


Masyarakat, keluarga dan anak-anak mereka berhak menerima bantuan kemanusiaan dalam kedaruratan. Keluarga dan anak-anak mereka, termasuk perempuan, ibu hamil, lansia yang terpaksa meninggalkan rumah akibat konflik atau bencana harus segera mendapat bantuan agar bisa hidup normal.

Masyarakat dapat mendirikan posko untuk orang-orang yang lemah dan sakit di lokasi yang bebas dari kepentingan militer. Tentara harus memperbolehkan adanya akses bantuan kemanusiaan bagi masyarakat sipil. Petugas kemanusiaan dan pemberi bantuan harus dihormati dan dilindungi.

Kebutuhan khusus bagi para ibu dan remaja puteri dalam situasi kedaruratan harus diperhatikan. Mereka memerlukan suasana pribadi, kebersihan dan perlindungan. Anak-anak yang kehilangan keluarga, ibu-ibu hamil, ibu-ibu dengan anak-anak kecil, ibu kepala rumah tangga, orang-orang cacat dan orangtua memerlukan perhatian khusus sesuai kebutuhan masing-masing.

Pemerintah pusat dan daerah bertanggung jawab terhadap bantuan dan perlindungan kepada anak-anak dan keluarga yang mengungsi. Bantuan dan perlindungan kepada anak-anak dan keluarga dapat diberikan oleh pemerintah, swasta, LSM, Palang Merah, lembaga internasional, dan sebagainya.

Pengungsi berhak pulang dengan selamat kerumah mereka setelah keadaan dinyatakan aman. Hak-hak kepemilikan para pengungsi harus dihormati sehingga mereka dapat membangun hidupnya kembali. Pada saat masyarakat membangun hidupnya kembali pasca kedaruratan, perhatian harus diberikan terhadap pelayanan sosial termasuk kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak dan ibu.

Petugas kemanusiaan yang memberi bantuan kepada masyarakat sipil harus mencegah adanya tindak kekerasan, eksploitasi dan kejahatan. Jika ada kegiatan petugas kemanusiaan yang mengeksploitasi penduduk, harus segera dilaporkan ke instansi terkait dan pemerintah setempat.

Masyarakat, keluarga dan anak-anak harus mempunyai rencana dan mengetahui langkah-langkah sederhana guna menghadapi kedaruratan di rumah, sekolah maupun masyarakat.


Di rumah tangga seluruh keluarga dapat menyiapkan keperluan untuk kedaruratan karena bencana atau konflik. Semua orang harus sadar akan bahaya kebakaran, gempa bumi, banjir, topan dan bencana lainnya termasuk risiko adanya konflik. Kesiapsiagaan akan efektif jika semua anggota keluarga dan masyarakat tahu bagaimana mengurangi risiko mereka dan mengerti tanggung jawab masing-masing. Tempat-tempat yang memungkinkan bahaya dan tempat-tempat yang aman perlu diidentifikasi dan dibuat pemetaan. Setiap anggota masyarakat sekitar harus mendapat informasi dan ikut terlibat dalam perencanaan, serta melakukan tindakan pencegahan, pengurangan dampak (mitigasi) dan kesiapsiagaan.

Sistem peringatan dini kepada masyarakat dan jalur evakuasi untuk penyelamatan dari bahaya harus diketahui dan disosialisasikan. Masyarakat perlu mendapat latihan simulasi tentang tindakan penyelamatan dengan melibatkan anak-anak, sekolah serta keluarga di lingkungan sekitar.
Masyarakat perlu memiliki sarana kesehatan yang siap melayani kedaruratan dan membantu mereka.

Untuk itu petugas kesehatan harus dilatih agar siap melakukan tugas kedaruratan.
Penting sekali mendirikan sekolah di tempat yang aman, dekat dengan tempat tinggal anak-anak dan jauh dari tempat bencana seperti kemungkinan aliran banjir atau tanah longsor. Bangunan sekolah harus baik guna menjamin keselamatan anak-anak dan guru-guru. Pengelolaan sekolah juga harus baik sehingga anak-anak terlindungi dari serangan kekerasan, penculikan dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya.

Guru-guru dan tata usaha sekolah dapat melakukan penyuluhan pada anak-anak, keluarga dan masyarakat agar :
  1. Mengetahui ancaman bahaya alam dan risiko kedaruratan.
  2.  Mengetahui bagaimana mencegah bencana.
  3. Mengetahui bagaimana untuk mengurangi dampak akibat bencana atau kedaruratan tersebut.
  4. Mengetahui apa yang harus dilakukan dalam suatu kedaruratan.

Keluarga termasuk anak-anak harus diperkenalkan dengan peringatan dini adanya bahaya dan paham akan apa yang harus dilakukan ketika melihat atau mendengarnya. Peringatan dini bisa sederhana seperti kentongan, bunyi alarm, bunyi terompet atau bendera berwarna. Tempat yang aman di mana keluarga bisa berkumpul sudah harus diketahui, begitu pula tempat yang aman untuk binatang peliharaan. Ketentuan-ketentuan tersebut membantu mencegah keluarga tercerai-berai.

Anak-anak dapat dilatih untuk menghafal namanya sendiri, nama orangtua dan saudara serta nama desa atau kota tempat tinggal mereka. Mereka juga bisa dilatih mengingat ciri-ciri geografis atau pemandangan alam atau di tempat asal mereka sehingga mudah dibantu jika terpisah dari keluarga mereka.

Paket kedaruratan (emergency kit) untuk keluarga perlu disiapkan untuk keselamatan, isinya termasuk lampu senter, baterai, lilin, korek api, radio, tempat air, dan perlengkapan P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan). Perlengkapan kedaruratan tersebut perlu dicek secara berkala dan siap digunakan setiap diperlukan. Akte kelahiran dan dokumen penting lainnya harus disimpan di tempat yang aman dan mudah dijangkau. Membungkus rapi dalam plastik membantu terhindar dari air atau kerusakan.

Campak, diare, pneumonia, malaria, kurang gizi, dan komplikasi pada bayi baru lahir merupakan penyebab utama kematian anak apalagi di situasi kedaruratan.


Penyakit menular menyebar dengan mudah dalam kondisi lingkungan yang padat seperti di pengungsian. Guna mengurangi terjadinya risiko :
  1. Pastikan bahwa anak umur enam bulan hingga 15 tahun di pengungsian telah mendapat imunisasi lengkap utamanya terhadap campak.
  2. Lanjutkan dengan mendatangi layanan kesehatan guna mencegah atau mengobati penyakit.

Kurang gizi lebih sering terjadi dalam kedaruratan karena keterbatasan pangan, meningkatnya penyakit dan layanan pemeliharaan kesehatan yang kurang baik. Itulah sebabnya penting bagi anak-anak agar:
  1. Mendapat ASI dan jumlah nutrisi yang cukup sesuai umurnya.
  2. Mendapat makanan tambahan untuk menambah nilai gizi.
Anak yang sangat kurus dan atau bengkak-bengkak pada kaki perlu dibawa ke petugas kesehatan yang terlatih atau secara kesehatan agar segera diperiksa serta mendapat pengobatan dan perawatan sesuai statusnya.

Dalam kedaruratan, kurangnya air bersih, sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan dapat menyebabkan penyakit yang kemudian menjadi wabah. Penyakit kolera dapat terjadi karena buruknya sanitasi dan padatnya manusia.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan
  1. Cuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan dan setelah BAB.
  2. Buanglah kotoran manusia di jamban dan jangan buang sampah sembarangan.
  3. Lakukan penyiapan makanan dengan benar.
  4. Pakailah sumber air bersih atau memasak air, menyaring, memberi klorine atau disinfektan dengan panas matahari.
  5. Simpanlah air di tempat yang bersih dan pakai penutup.

Wabah penyakit dapat menjadi kedaruratan


Wabah penyakit dapat menjadi kedaruratan tergantung tingkat kegawatan serangan dan tindakan menghadapinya. Dalam kasus pandemi influenza dan penularan penyakit lain karena kontak perorangan, mereka yang sakit harus dipisahkan dari yang sehat.

Dampak kejadian luar biasa suatu penyakit bergantung kepada gawatnya penyakit serta tindakan pemerintah, masyarakat dan perorangan. Wabah influensia virus baru dapat menyebar dengan cepat melalui populasi yang tingkat kekebalannya rendah atau sama sekali tidak kebal terhadap virus baru tersebut.

Influenza disebut sedang atau gawat sesuai dengan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkannya. Kejadian luar biasa bisa datang dan pergi berulang-ulang setiap waktu. Tingkat kegawatan dapat berubah menjadi wabah dan tak mudah diperkirakan.

Influenza musiman atau tahunan menyebabkan kematian pada orang-orang berusia diatas 65 tahun. Sedangkan wabah influenza menyebabkan sakit dan kematian pada kelompok umur lebih muda. Baik pada wabah atau influenza musiman, risiko komplikasi dan kematian meningkat untuk ibu hamil dan anak di bawah dua tahun. Anak-anak di atas dua tahun tingkat infeksinya tinggi tetapi cenderung tidak menjadi gawat.

Gejala influenza termasuk demam tinggi, batuk, radang tenggorokan, ngilu-ngilu di badan, sakit kepala, menggigil, lemas, muntah dan diare. Dalam beberapa kasus influenza dapat menjadi pneumonia dan sesak nafas.

Dalam kejadian luar biasa influenza atau infeksi lainnya, beberapa langkah untuk membantu melindungi anak-anak dan keluarga-keluarga adalah:
  1. Tinggal di rumah jika sakit, dan jauhi orang lain.
  2. Kenali gejala-gejala dan tanda-tanda yang membahayakan, apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi untuk mendapat pertolongan jika sakitnya menjadi gawat.
  3. Cuci tangan setiap kali dengan air dan sabun.
  4. Pakai tisu jika batuk atau bersin dan buanglah tisu di tempat yang aman.
  5. Jangan meludah dekat anak-anak atau di tempat umum.

Dalam kejadian luar biasa apabila ada seseorang terinfeksi yang berakibat serius, agar tidak menularkan kepada orang lain, perlu mencegah penularan dengan cara :
  1. Ambil jarak kira-kira satu meter dengan orang lain, terutama jika batuk, bersin atau kurang sehat.
  2. Tinggal di rumah dan hindari berkumpul dengan banyak orang dan bepergian.

Dalam kejadian luar biasa yang meluas beberapa orang mungkin memerlukan berada di rumah sakit untuk perawatan dan mencegah penyebaran infeksi. Namun demikian untuk sebagian banyak orang akses untuk perawatan mungkin terbatas.

Cara merawat orang sakit di rumah dan mencegah penyebaran infeksi di rumah tangga.
  1. Berikan ruang khusus untuk yang sakit di rumah.
  2. Tugaskan satu orang saja untuk mengawasi yang sakit.
  3. Berikan makanan dan minuman yang cukup untuk yang sakit.

Ibu-ibu harus tetap memberi ASI meskipun dalam keadaan stres karena kedaruratan


Sering kali orang percaya bahwa dalam kedaruratan tidak boleh atau tidak dapat memberikan ASI karena kondisi ibu stres atau kurang gizi. Hal tersebut tidak benar. Ibu-ibu yang kurang makan atau tidak mendapat gizi yang cukup masih tetap dapat memberikan ASI. Mereka perlu diberi makanan dan minuman tambahan guna melindungi kesehatan diri dan anaknya. Bapak-bapak dan anggota keluarga yang lain dapat memberi dukungan kepada ibu-ibu menyusui dengan menyiapkan makanan dan mengasuh anak.

Stres memang dapat menghambat keluarnya ASI tetapi tidak menghentikan produksi ASI jika ibu dan bayi tetap bersama dan melanjutkan pemberian ASI. Tempat istirahat yang tenang di tenda pengungsian atau penampungan sementara dapat membantu ibu-ibu merasa nyaman.

Pemberian ASI tidak mungkin dilakukan dalam beberapa kasus. Misalnya anak yang terpisah dengan ibu mereka, ibu yang sedang sakit keras, ibu yang pernah menghentikan pemberian ASI, ibu yang tidak sanggup lagi memberi ASI dan ibu yang positif HIV dan sudah memiilih untuk tidak memberi ASI.

Pengganti ASI tidak boleh dibagikan secara bebas tanpa pengawasan bersama makanan lain yang tidak perlu perhatian khusus. Bagaimana pun ASI tidak tergantikan sebagai pelindung terbaik untuk bayi terhadap penyakit dalam kedaruratan.

Anak-anak memiliki hak untuk dilindungi dari kekerasan dalam kedaruratan


Pemerintah, LSM, organisasi nasional dan internasional, masyarakat dan keluarga berkewajiban melindungi anak-anak dari kekerasan dalam kedaruratan. Dalam suasana konflik atau bencana, perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak perempuan dan anak laki-laki agar tidak menjadi korban tindak kekerasan.

Beberapa tindak kekerasan langsung berhubungan dengan kedaruratan, seperti penculikan, penyiksaan, pemukulan, kekerasan di rumah tangga, luka-luka karena perkelahian dengan aparat atau antarkelompok di masyarakat. Kedaruratan juga meningkat karena tawuran, perkelahian di sekolah atau kekerasan di antara anak-anak itu sendiri.

Perempuan dewasa dan anak-anak dapat menjadi korban perdagangan orang, kejahatan seks termasuk perkosaan yang kadang-kadang memang dipakai untuk memicu kerusuhan. Tentu saja hal tersebut tak dapat diterima. Segala upaya harus dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah supaya hal-hal tersebut tidak terjadi. Perempuan dewasa dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan memerlukan perawatan kesehatan, perawatan psikologis dan konseling. Beberapa di antaranya membutuhkan dukungan agar dapat kembali ke keluarga mereka.

Dalam konflik bersenjata anak-anak harus mendapat perlindungan. Mereka jangan sampai dijadikan anggota tentara atau kelompok bersenjata. Jika anak-anak ditahan, mereka tidak boleh disakiti dan dicelakai. Mereka harus dipisahkan dari orang dewasa atau tetap dengan keluarganya serta menerima proses hukum yang adil. Jika anak perempuan atau anak laki-laki menjadi korban kekerasan, mereka harus mendapat hak untuk mencari keadilan yang mempertimbangkan pandangan mereka sebagai anak-anak.

Penting sekali agar anak-anak dan keluarga melaporkan pelanggaran terhadap hak-hak atau kejahatan terhadapanak kepada yang berwajib, jika dipandang aman untuk melakukannya. Pelanggaran serius terhadap terhadap anak termasuk pembunuhan anak, memanfaatkan anak sebagai tentara, kekerasan seksual dan penculikan anak harus dilaporkan hingga ke badan kemanusiaan internasional.

Anak lebih merasa aman diasuh oleh orang tuanya sendiri


Jika perpisahan terjadi maka segala upaya harus dilakukan agar anak berkumpul kembali dengan keluarganya. Dalam kedaruratan, pemerintah berkewajiban untuk memastikan bahwa anak-anak tidak dipisahkan dari keluarga atau pengasuhnya.

Jika terjadi pemisahan, pemerintah bertanggung jawab terhadap perlindungan dan perawatan anak-anak tersebut. Mereka harus mencatat anak-anak yang sebatang kara, terpisah dari keluarganya atau menjadi yatim piatu dan selanjutnya memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Segala upaya perlu dilakukan guna menentukan keluarga anak dan mempersatukan kembali mereka jika hal itu memang yang terbaik untuk anak.

Anak-anak yang terpisah dari keluarga perlu mendapat perawatan sementara yang baik. Jika memungkinkan perawatan sementara dilakukan oleh kerabat atau keluarga yang dikenal anak sampai ia dapat dipersatukan kembali dengan orangtua atau kerabat atau diasuh oleh orang tua angkat. Sebaiknya saudara kandung diasuh bersama.

Jika seorang anak untuk sementara tinggal dengan keluarga angkat maka pihak yang bertanggung jawab perlu memikirkan perawatan dan kesejahteraan anak. Di samping itu harus dipastikan bahwa keluarga angkat diberi sarana agar dapat memberi perawatan yang memadai.

Anak-anak yang terpisah dari orangtuanya karena kedaruratan tidak boleh dianggap yatim piatu. Mereka tidak boleh diadopsi. Selama nasib orangtua si anak dan atau saudara dekatnya belum dapat dipastikan, anak yang terpisah itu harus dianggap punya orangtua atau saudara yang masih hidup.

Perawatan anak dalam jangka panjang perlu direncanakan selama kedaruratan. Setelah periode investigasi, jika orang tua atau kerabat tidak dapat dilacak atau bahkan tidak ada yang tersisa untuk memelihara si anak, harus dicarikan orang tua angkat atau diadopsi. Panti asuhan harus menjadi pilihan terakhir.

Pindah ke masyarakat baru atau negara lain dapat membuat stres, apalagi jika keluarga anak tersebut menjadi korban kekerasan atau suatu bencana. Anak-anak yang menjadi pengungsi kadang-kadang harus belajar bahasa dan kebudayaan baru. Seringkali sekolah dan organisasi masyarakat dapat membantu anak-anak dan keluarganya menghadapi transisi dan integrasi dalam masyarakat mereka yang baru.

Gangguan dan stres karena bencana atau kontak senjata membuat anak takut dan marah


Jika hal itu terjadi, anak memerlukan perhatian khusus dan kasih sayang. Mereka harus berada di tempat yang aman dan diberikan kegiatan yang sesuai usianya. Anak-anak dapat diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kesiapsiagaan serta melakukan pengambilan keputusan untuk menghadapi situasi kedaruratan.

Perasaan dan perilaku anak dapat dipengaruhi oleh rasa takut, rasa sakit atau pengalaman yang mengerikan. Tiap anak bisa menunjukkan reaksi berbeda-beda. Sebagian dari mereka ada yang kehilangan minat terhadap kegiatan sehari-hari, menjadi kasar atau menjadi penakut. Beberapa anak lainnya terlihat tenang, namun sebenarnya menyembunyikan perasaan takut.

Orang tua atau pengasuh, teman sebaya, guru dan anggota masyarakat menjadi sumber yang penting dalam memberi dukungan dan rasa aman pada anak-anak. Keluarga dan masyarakat dapat membantu anak-anak yaitu dengan:
  • Mendengarkan dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengutarakan apa yang mereka pikirkan, berperan serta dalam mengambil keputusan dan mencari solusi.
  • Menyediakan informasi yang sesuai umur anak- guna membangun keyakinan dan memberi dukungan emosional.
  • Segera menciptakan suasana dan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari.
  • Menyediakan kegiatan anak yang menyenangkan sesuai umurnya seperti kesenian dan olahraga.
  • Memberi kesempatan kepada anak untuk bermain dan bersosialisasi.
  • Memberi kesempatan kepada anak sesuai umurnya untuk berperan serta dalam kegiatan kedaruratan seperti mengajar dan merawat anak-anak yang lebih kecil.
  • Membuat tata tertib yang jelas agar anak-anak berperilaku pantas dan hindari hukuman fisik.
  • Menyediakan tempat yang cukup nyaman bagi anak-anak dan orangtua untuk bersosialisasi sekaligus belajar keterampilan hidup dan akses terhadap pelayanan dasar
  • Membantu anak agar dapat menangani stres.

Jika anak-anak menunjukkan reaksi stres yang berlebihan dan tidak cepat pulih, mereka perlu mendapat pertolongan khusus dari konselor, psikolog, perawat atau dokter spesialis.

Anak-anak berhak mendapat pendidikan meskipun dalam kedaruratan


Berada di sekolah dengan suasana yang aman dan ramah anak dapat membantu memberi rasa normal dan proses pemulihan mereka. Adanya kebiasaan rutin yang tertib seperti jam sekolah, waktu makan dan tidur dapat memberikan rasa aman dan tenteram kepada anak-anak.

Suasana kebersamaan di sekolah dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan dan menghilangkan rasa cemas dalam kedaruratan. Dengan dukungan dari keluarga dan masyarakat para guru dan penyelenggara sekolah dapat membantu:
  • Memberi rasa aman kepada anak-anak untuk belajar dan bermain.
  • Memberi dukungan psikososial kepada anak-anak yang stres, trauma atau terpisah dari orang tua.
  • Memberi kegiatan sehari-hari yang dapat menyemangati harapan masa depan setelah kedaruratan.
  • Memberi keterampilan mengenal huruf dan angka.
  • Melatih keterampilan dasar untuk pertolongan pertama gangguan kesehatan.
  • Menyediakan tempat untuk berekspresi melalui permainan, olahraga, musik, drama, dan seni.
  • Membantu anak-anak kembali ke sekolah dan masyarakat.
  • Menjadi pendukung jejaring dan interaksi dengan keluarga dan antarkeluarga.
  • Memberi pengertian tentang hak asasi manusia dan keterampilan untuk hidup damai.
  • Membangun kesadaran untuk memelihara lingkungan dan keterampilan sederhana mengurangi risiko bencana.
  • Melatih anak-anak mengenal situasi, mengemukakan pendapat dan melakukan tindakan dalam hal-hal tertentu yang penting untuk mereka.

Para guru memerlukan latihan dan dukungan agar dapat memahami dan menangani anak-anak yang mengalami stres, kehilangan serta reaksi terhadap kedaruratan. Mereka harus dapat memberikan dukungan emosional, mental dan spiritual kepada murid-muridnya dan membimbing keluarga agar melakukan hal yang sama terhadap anak-anak mereka.

Masyarakat dan sekolah dapat pada pula membantu penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang sifatnya menghibur anak-anak di luar jam sekolah. Banyak kesempatan dapat dipakai untuk menyelenggarakan permainan anti kekerasan, olah raga dan bentuk rekreasi lainnya. Komunikasi dan interaksi antara anak-anak yang sebaya perlu digalakkan. Pemanfaatan seni seperti melukis, atau sandiwara boneka dapat membantu anak-anak kecil mengungkapkan pikirannya sesuai pengalaman mereka.

Orang tua, pengasuh, atau lainnya perlu menjaga anak-anak yang sakit flu atau penyakit infeksi lainnya di rumah atau tempat yang disediakan jika dalam pengungsian. Dalam kasus wabah yang menyebar cepat dari orang ke orang, diperlukan tindakan yang tepat dari pemerintah setempat untuk melindungi anak-anak.

Dalam ukuran kesehatan masyarakat, sekolah perlu diliburkan untuk mengurangi penyebaran penyakit. Dalam beberapa kasus, pendidikan tetap berjalan dengan strategi alternatif. Hal tersebut memerlukan perencanaan yang baik dan tindak lanjut oleh pendidik bekerjasama dengan orang tua murid.

Ranjau darat dan senjata yang tidak meledak sangat berbahaya


Sewaktu-waktu dapat meledak, membuat cacat atau mematikan jika disentuh atau terinjak. Keluarga dan anak-anak mereka hanya boleh berada di tempat yang sudah dinyatakan aman dari benda-benda tak dikenal yang membahayakan.

Ranjau darat adalah senjata pertahanan yang dapat meledak untuk membunuh, melukai, menghancurkan atau merusak kendaraan. Senjata artileri yang tidak meledak atau disebut UXO adalah segala macam amunisi seperti bom, peluru, mortir atau granat yang sudah digunakan tetapi gagal meledak.

Ranjau darat dan UXO memiliki berbagai macam bentuk, ukuran, dan warna. Ada yang dikubur dalam tanah, diletakkan di permukaan tanah atau disembunyikan di rerumputan, pepohonan atau air. Ada yang bersinar dan berkilau, ada pula yang kotor dan berkarat tetapi semuanya berbahaya dan harus dijauhi setiap saat.

Ranjau darat biasanya tidak terlihat. Perlu waspada jika berada di tempat yang pernah ada kegiatan militer atau di tempat-tempat yang ditinggalkan penghuninya atau tidak terawat. Tempat-tempat berbahaya biasanya diberi tanda misalnya dengan gambar tengkorak dan tulang yang bersilang, batu-batu yang dicat merah atau tanda-tanda lain yang menarik perhatian dan mudah dikenal sebagai tanda bahaya oleh penduduk setempat.

UXO lebih mudah terlihat ranjau darat karena warna dan bentuknya sangat menarik bagi anak-anak, tetapi jelas sangat berbahaya karena dapat meledak jika disentuh atau ada perubahan temperatur. UXO lebih sering menyebabkan kematian daripada ranjau darat.

Anak-anak harus diberitahu untuk tidak menyentuh benda-benda yang tak dikenal. Mereka harus diberi pengertian agar tidak menyentuh benda-benda yang kelihatan mencurigakan dan langsung melapor kepada orang dewasa yang mereka kenal atau petugas pemerintah setempat.

Berhati-hatilah melakukan perjalanan. Bertanyalah kepada penduduk setempat terutama jika akan melewati jalan yang mungkin menjadi tempat pembuangan senjata. Lebih aman melalui jalan-jalan umum yang biasa digunakan oleh orang banyak.

Ranjau, UXO, atau senjata-senjata yang ditinggalkan biasanya berada di gedung-gedung tua yang terbengkalai, jalan raya, dan jalan setapak yang tidak dipakai lagi, lapangan yang tidak tera

wat, pangkalan, markas atau pos militer, baik yang masih atau sudah tidak dipakai lagi, selokan atau parit. Keluarga dan anak-anak harus diberitahu agar menjauhi tempat-tempat semacam itu. Harus ada tindakan agar mereka berada jauh dari situ.

Anak-anak dan keluarganya harus tahu apa yang harus dilakukan jika melihat ranjau atau UXO. Mereka harus:
  1. Diam di tempat dan memberitahu orang yang lain.
  2. Hindari rasa panik.
  3. Jangan bergerak.
  4. Minta tolong.
  5. Jika tidak ada pertolongan, pikirkan dahulu sebelum dengan sangat hati-hati berjalan kembali secara perlahan ke jalur yang sebelumnya ditempuh.

Jika terjadi kecelakaan karena ranjau darat atau UXO
  1. Tekanlah kuat-kuat bagian yang mengeluarkan darah hingga pendarahan berhenti.
  2. Jika pendarahan tidak berhenti ikatlah secepatnya dengan sehelai kain atau perban di bagian yang luka lalu panggil petugas kesehatan.
  3. Jika pertolongan terlambat lebih dari sejam, periksalah pembalutnya setiap jam untuk melihat luka pendarahan. Jika pendarahan telah berhenti, lepaskan balutan
  4. Jika korban masih bernafas tetapi tidak sadar, gulingkan orang tersebut agar lidahnya tidak menutup jalan nafas.
  5. Bawalah ke petugas kesehatan.

Pemerintah dan pihak yang berwenang setempat bertanggung jawab terhadap keselamatan masyarakat anak-anak dan keluarga mereka. Penjinak bom yang profesional adalah solusi terbaik demi memastikan keselamatan semua orang.

Masalah Kesehatan Yang Muncul Dalam Kedaruratan

Masalah Kesehatan Yang Muncul Dalam Kedaruratan

Kedaruratan bisa berupa konflik di masyarakat, bencana alam, atau wabah penyakit yang biasanya menyebabkan banyak orang menderita, baik karena akibat langsung dari kedaruratan tersebut maupun akibat tidak langsung seperti terjangkit oleh penyakit, malnutrisi, atau tindak kekerasan. Biasanya anak-anak dan kaum wanita sangat rawan menjadi korban kedaruratan. Dengan informasi dan dukungan yang tepat diharapkan keluarga dan masyarakat dapat siap siaga dan melakukan tindakan yang tepat saat terjadi kedaruratan.

Di Indonesia dalam kurun waktu empat tahun terakhir telah terjadi sekitar seribu kali kejadian bencana. Akibatnya terjadi ribuan orang mengalami luka-luka dan pengungsian sekitar empat juta jiwa.

Bencana alam dapat merusakkan kehidupan keluarga dan melumpuhkan tatanan sosial. Terlebih lagi jika terjadi pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah, potensial terjadi diskriminasi, kejahatan dan tindak kekerasan lainnya.

Dalam beberapa peristiwa di belahan dunia, anak perempuan dan anak laki-laki menjadi sasaran pengumpulan tenaga oleh angkatan bersenjata atau kelompok-kelompok tertentu. Sedangkan para wanita menjadi sasaran kejahatan, perkosaan dan perdagangan manusia.

Konflik dan bencana membuat anak-anak mudah terserang penyakit dan malnutrisi. Akses terhadap pelayanan kesehatan dan pangan menjadi semakin berkurang. Air bersih sangat langka akibat terbatasnya persediaan dan banyaknya jumlah orang yang membutuhkan. Sanitasi menjadi sangat buruk. Anak tak terurus karena ketiadaan sarana pendidikan. Dalam keadaan yang tak terkendali semacam itu risiko penularan penyakit meningkat.

Masalah Kesehatan Yang Muncul Dalam Kedaruratan
  • Dalam kedaruratan baik itu konflik, bencana atau wabah penyakit, kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, ibu hamil, lansia memiliki hak yang sama seperti pada saat kondisi normal.
  • Masyarakat, keluarga dan anak-anak harus mempunyai rencana dan mengetahui langkah-langkah sederhana guna menghadapi kedaruratan di rumah, sekolah maupun masyarakat.
  • Campak, diare, pneumonia, malaria, kurang gizi, dan komplikasi pada bayi baru lahir merupakan penyebab utama kematian anak apalagi di situasi kedaruratan.
  • Wabah penyakit dapat menjadi kedaruratan tergantung tingkat keganasan serangan dan tindakan menghadapinya. Dalam kasus pandemi influenza dan penularan penyakit lain karena kontak perorangan, mereka yang sakit harus dipisahkan dari yang sehat.
  • Ibu-ibu harus tetap memberi ASI meskipun dalam keadaan stres karena kedaruratan.
  • Anak-anak memiliki hak untuk dilindungi dari kekerasan dalam kedaruratan. Pemerintah, LSM, organisasi nasional dan internasional, masyarakat dan keluarga berkewajiban melindungi anak-anak dari kekerasan dalam kedaruratan.
  • Biasanya anak-anak lebih merasa aman jika diasuh oleh orang tuanya sendiri atau pengasuh yang sudah dia kenal. Jika perpisahan terjadi maka segala upaya harus dilakukan agar anak berkumpul kembali dengan keluarganya.
  • Gangguan dan stres karena bencana atau kontak senjata membuat anak takut dan marah. Jika hal itu terjadi, anak memerlukan perhatian khusus dan kasih sayang. Mereka harus berada di tempat yang aman dan diberikan aktivitas yang sesuai usianya. Anak-anak dapat diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kesiapsiagaan serta melakukan pengambilan keputusan untuk menghadapi situasi kedaruratan.
  • Anak-anak berhak mendapat pendidikan meskipun dalam kedaruratan. Berada di sekolah dengan suasana yang aman dan ramah anak dapat membantu memberi rasa normal dan proses pemulihan mereka.
  • Ranjau darat dan senjata yang tidak meledak sangat berbahaya. Sewaktu-waktu dapat meledak, membuat cacat atau mematikan jika disentuh atau terinjak. Keluarga dan anak-anak mereka hanya boleh berada di tempat yang sudah dinyatakan aman dari benda-benda tak dikenal yang membahayakan.

Wabah penyakit dapat menyebabkan kedaruratan atau dengan sendirinya menjadi kedaruratan. Hal tersebut terjadi karena sifat penyakit yang cepat menular dan mematikan serta rendahnya tingkat kesiapan masyarakat dalam menghadapinya. Penyebaran penyakit bisa meluas secara global.

Penyebaran virus influenza jenis baru secara cepat menular ke populasi yang kekebalannya rendah atau sama sekali tidak punya kekebalan. Penyebarannya yang begitu cepat hingga ke seluruh dunia menjadi wabah yang tak terduga. Anak-anak kecil di bawah umur dua tahun sangat menghawatirkan jika terserang influenza atau penyakit infeksi lainnya. Keluarga dan anak-anak mereka perlu mendapat tindakan pencegahan serta informasi dan dukungan yang diperlukan agar siap untuk menghadapi kedaruratan.

Pada kondisi kedaruratan tertentu seperti bencana, seringkali alat maupun saluran komunikasi seperti telpon, telepon genggam dan internet ikut mengalami kerusakan. Solusi pada kondisi demikian adalah penggunaan radio komunikasi atau telepon genggam satelit. Di antara kedua pilihan tersebut, radio komunikasi merupakan pilihan yang paling efisien karena harganya lebih terjangkau dan alatnya pun lebih mudah didapat. Radio komunikasi dapat dimanfaatkan dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam keadaan darurat.

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Anak

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Anak


Anjuran Pertolongan Pertama Kecelakaan Anak


Tindakan pertolongan pertama harus dilakukan guna mencegah keadaan menjadi lebih
buruk, jika pertolongan medis tidak bisa segera didapat.

Pertolongan pertama untuk luka bakar pada anak

  1. Jika pakaian anak terlalap api, cepat bungkus dengan selimut lalu gulingkan anak di tanah agar api padam.
  2. Dinginkan bagian yang terbakar secepatnya dengan air yang bersih. Jika yang terbakar itu luas, letakkan anak dalam bak yang berisi air bersih dan segera mencari pertolongan ke sarana kesehatan. Untuk mendinginkan bagian yang terbakar, kira-kira perlu waktu setengah jam.
  3. Bagian yang terbakar harus dibersihkan dan dikeringkan lalu dibalut longgar dengan perban. Jika luka lebih besar dari uang logam atau mulai melepuh, bawalah anak segera ke petugas kesehatan. Jangan memecah kulit yang melepuh agar tidak terjadi infeksi.
  4. Jangan melepaskan apa pun yang melekat pada luka. Jangan memberi apa pun kecuali air. Jangan mengoles luka bakar dengan mentega atau salep karena tidak menyembuhkan.
  5. Berikan anak minuman jus buah atau air biasa dengan sedikit gula dan garam.

Pertolongan pertama untuk kena setrum listrik pada anak

  1. Jika anak terkena setrum, matikan listrik sebelum memegang anak. Jika anak tidak sadar, selimuti badannya dan segera minta tolong petugas kesehatan.
  2. Jika anak sulit bernafas atau tidak bernafas, baringkanlah mendatar pada punggungnya. Peganglah lubang hidung anak dan tiuplah mulutnya. Tiuplah sekeras mungkin agar dadanya berdenyut. Hitung hingga tiga lalu tiup lagi. Lanjutkan hingga anak mulai bernafas.

Pertolongan pertama untuk tersedak pada anak

Jika anak batuk, biarkan mencoba mengeluarkan benda yang tertelan. Jika tidak cepat keluar dari mulut, bantulah mengeluarkannya. Jika tetap berada di tenggorokan bawalah segera ke petugas kesehatan

Pertolongan pertama untuk jatuh atau cedera pada anak

  1. Cedera yang menimpa kepala, tulang belakang khususnya leher, sangatlah berbahaya karena dapat mengakibatkan lumpuh seumur hidup. Jangan menggerakkan kepala dan punggung guna mencegah bagian tulang belakang terkilir.
  2. Anak yang tidak bisa bergerak atau sangat kesakitan kemungkinan mengalami patah tulang. Jangan menggerakkan bagian yang sakit.
  3. Jika anak tidak sadar, selimuti anak dan segeralah meminta pertolongan petugas kesehatan.
  4. Untuk luka memar dan terkilir, kompreslah bagian yang luka dengan air dingin atau es selama 15 menit. Jangan langsung menaruh es di atas kulit tetapi berilah alas kain. Angkat es atau air, tunggu selama 15 menit dan ulangi lagi jika perlu. Dingin dapat mengurangi rasa sakit, bengkak dan memar.
  5. Jika kemungkinan terluka di kepala atau leher, jangan menggerakkan kepala anak selama membantu pernafasan.

Pertolongan pertama untuk kesulitan bernafas atau tenggelam pada anak

  1. Jika anak sulit bernafas atau tidak bernafas, letakkan mendatar. Pencet lubang hidungnya dan bernafaslah dengan meniup ke dalam mulutnya. Tiuplah dengan hati-hati dan tetap kuat agar dada anak berdetak. Hitung hingga tiga dan tiup lagi hingga anak bernafas.
  2. Jika anak bernafas tetapi tidak sadar, gulingkan badannya agar lidah anak tidak menutup jalan nafas.
  3. Jika orang yang tidak bisa berenang melihat anak tenggelam, orang tersebut harus segera melemparkan tali, alat pelampung, atau dahan pohon dan berteriak keras agar orang datang menyelamatkan anak.
  4. Jika anak sulit bernafas atau tidak bernafas, letakkan mendatar. Pencet lubang hidungnya dan bernafaslah dengan meniup ke dalam mulutnya. Tiuplah dengan hati-hati dan tetap kuat agar dada anak berdetak. Hitung hingga tiga dan tiup lagi hingga anak bernafas.
  5. Jika anak bernafas tetapi tidak sadar, gulingkan badannya agar lidah anak tidak menutup jalan nafas.
  6. Jika orang yang tidak bisa berenang melihat anak tenggelam, orang tersebut harus segera melemparkan tali, alat pelampung, atau dahan pohon dan berteriak keras agar orang datang menyelamatkan anak.

Pertolongan pertama untuk luka potong atau luka berdarah pada anak


Untuk luka kecil
  1. Cucilah luka kecil dengan air yang sangat bersih (sudah mendidih dan dingin) dan sabun.
  2. Keringkan kulit sekitar luka.
  3. Tutuplah luka dengan lap kain yang bersih dan balutlah dengan perban.

Untuk luka yang lebih serius
  1. Jika potongan gelas atau benda lain melekat pada luka, jangan diangkat agar tidak membuat lebih parah.
  2. Jika mengalami pendarahan berat, tekanlah bagian yang luka dengan kain bersih yang dilipat hingga pendarahan berhenti.
  3. Jangan menempelkan daun-daunan atau bagian apa pun dari binatang (sarang laba-laba) pada luka karena dapat menyebabkan infeksi.
  4. Balutlah luka dengan perban tetapi janganlah mengikat perban terlalu kuat pada bagian yang bengkak.
  5. Bawalah anak segera ke Puskesmas atau ke dokter secepatnya. Mintalah pada petugas kesehatan agar anak diberi suntikan tetanus guna mencegah infeksi.

Pertolongan pertama untuk keracunan pada anak

  1. Jika tertelan racun jangan memaksakan anak untuk muntah karena akan lebih sakit.
  2. Jika racun terkena kulit atau baju, buka bajunya dan basuhlah kulit anak dengan air yang cukup. Basuhlah beberapa kali dengan memakai sabun.
  3. Jika racun terkena mata, semprotkan air bersih ke mata selama 10 menit. Bawalah anak ke Puskesmas atau petugas kesehatan secepatnya. Tunjukkan racun, obat, atau kemasannya kepada petugas kesehatan. Upayakan anak tenang dan tidak rewel.
  4. Jika anak digigit binatang bawalah segera ke petugas kesehatan untuk pengobatan.

Untuk setiap kejadian diharapkan untuk segera meminta pertolongan petugas kesehatan.

Cara Mencegah Kecelakaan Anak di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat

Cara Mencegah Kecelakaan Anak di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat

Setiap tahun, hampir 1 juta anak meninggal karena kecelakaan dan lebih dari puluhan juta anak-anak lainnya memerlukan perawatan rumah sakit karena mengalami luka berat. Di antara yang luka berat banyak yang menjadi cacat permanen dan mendapat gangguan fungsi otak.

Di Indonesia angka kematian anak akibat kecelakaan, keracunan dan trauma tercatat 7,3 % pada 1992 dan merupakan salah satu dari lima penyebab kematian anak tertinggi. Kecelakaan darat pada anak – sesuai data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Departemen Kesehatan tahun 2007 – sebesar 19,2% sedangkan kecelakaan lalu lintas jalan raya yang terjadi pada anak sesuai data dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes POLRI) tahun 2009 adalah sebesar 8.601 anak (8,8%). Kecelakaan menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan pada anak-anak.

Kecelakaan yang biasa terjadi adalah jatuh, terbakar, tenggelam dan kecelakaan lalu lintas. Beberapa kasus kecelakaan di Indonesia juga diakibatkan bom atau bahan peledak yang banyak tersisa dari perang dunia dan perang kemerdekaan. Umumnya kecelakaan terjadi di dekat rumah, kecelakaan juga terjadi di sekolah dan lingkungan masyarakat. Hampir semuanya dapat dicegah dan dapat diatasi jika orang tua tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah kecelakaan dan jika terjadi kecelakaan.

1. Banyak kecelakaan anak yang serius dapat dicegah


Banyak kecelakaan yang serius dapat dicegah jika orang tua atau siapa pun yang menjaga anak berhati-hati dan menjaga keamanan lingkungan mereka.

Anak berumur 12 bulan hingga 4 tahun berisiko tinggi terhadap kematian dan kecelakaan. Sebagian besar kecelakaan terjadi di rumah dan hampir semuanya dapat dicegah.

Sebab utama kecelakaan di rumah adalah:
  1. Tertelan benda kecil, seperti koin, kelereng, biji buah-buahan.
  2. Jatuh dari bangku, jendela, meja, dan tangga.
  3. Luka bakar karena api, kompor, oven, panci, makanan panas, air mendidih, uap panas, lemak panas, lampu parafin, setrika, dan peralatan listrik.
  4. Luka potong karena pecahan kaca, pisau, gunting, atau kapak.
  5. Tertelan racun dari parafin atau kerosin, obat serangga, pemutih, dan deterjen.
  6. Terkena setrum karena memegang peralatan listrik atau kabel yang rusak, atau memasukkan pisau atau benda lain ke dalam colokan listrik.

Apa pun yang menyebabkan bahaya pada anak kecil harus disimpan di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan mereka.

Anak di bawah umur sebaiknya tidak diminta untuk bekerja selama berjam-jam atau melakukan sesuatu pekerjaan yang berbahaya. Mereka harus dilindungi dari kerja berat, perkakas yang membahayakan dan paparan dari bahan kimia yang beracun.

2. Anak balita sangat berisiko jika berada di jalan


Anak balita sangat berisiko jika berada di jalanan. Mereka harus selalu diawasi dan diajari perilaku aman di jalanan segera setelah mereka dapat berjalan. Anak kecil tidak berpikir sebelum lari ke jalan, keluarga perlu berhati-hati menjaganya.

Sebaiknya rumah diberi pagar. Anak-anak tidak diperkenankan bermain bola di jalan. Anak-anak harus diajarkan untuk selalu berjalan di tepi jalan.

Jika menyeberang jalan, anak kecil perlu diajarkan untuk:

  1. Berhenti di tepi jalan.
  2. Melihat ke dua arah.
  3. Mendengar suara mobil atau kendaraan lain sebelum menyeberang.
  4. Memegang tangan orang yang lebih dewasa.
  5. Berjalan, bukan lari.

Anak-anak yang lebih tua perlu diajari untuk memperhatikan anak yang lebih kecil dan memberi contoh yang baik.

Kecelakaan sepeda juga menyebabkan kematian. Anak-anak yang bersepeda harus benar-benar terlatih dan tidak lupa memakai tutup kepala (helm). Duduk di bak kendaraan yang sedang berjalan bisa berbahaya bagi anak.

3. Jangan biarkan anak sendirian di sekitar air


Anak dapat tenggelam dalam waktu kurang dari dua menit walaupun airnya tidak terlalu dalam. Sumur dan tempat air harus ditutup. Awasi jika anak sedang mandi, jangan mencebur ke ember besar. Anak harus diajar berenang sejak kecil sehingga tidak mudah tenggelam. Jangan bermain di saluran air. Anak harus dilarang berenang di aliran yang deras dan berenang sendiri. Jika terjadi banjir utamakan keselamatan anak.

4. Anak-anak harus dijauhkan dari api, kompor, lampu, korek api dan peralatan listrik


Luka bakar dapat dicegah dengan cara:
  1. Menjauhkan anak kecil dari api, korek api, dan rokok.
  2. Menjauhkan kompor dari jangkauan anak. Jika memakai tungku terbuka harus ditinggalkan dengan batu bata, jangan langsung di tanah.
  3. Menjauhkan panci-panci panas dari jangkauan anak.
  4. Menjauhkan dari bensin, parafin, lampu, korek api, lilin, penerang, setrika panas, dan kabel listrik dari jangkauan anak.
  5. Jangan menggendong anak sambil membawa air panas atau makanan panas.
Anak dapat tertimpa cedera serius jika mereka memasukkan jari atau benda-benda lain ke dalam colokan listrik. Berilah tutup pada colokan listrik untuk menghindari setrum. Kabel listrik harus dijauhkan dari jangkauan anak. Kabel yang terbuka sangat membahayakan.

5. Jatuh dari ketinggian penyebab utama cedera pada anak


Anak-anak suka memanjat. Karena itu pagar, tangga, balkon, atap, jendela dan tempat bermain harus dibuat aman agar anak tidak jatuh atau cedera. sehingga patah tulang, dan geger otak.

Kecelakaan karena jatuh dapat dicegah dengan:
  1. Melarang anak memanjat.
  2. Memasang pagar pengaman di dekat tangga, balkon, jendela.
  3. Memelihara kebersihan rumah dan mengatur pencahayaan yang baik.
  4. Jangan menaruh kursi dan tempat mainan dekat jendela.

6. Semua racun dan bahan berbahaya jauhkan dari anak-anak


Racun, obat-obatan, pemutih, cairan kimia dan cairan pembakar seperti bensin atau minyak tanah tidak boleh disimpan dalam botol minuman. Semua cairan dan racun harus disimpan dengan tanda yang jelas dan jauh dari penglihatan dan jangkauan anak.

Keracunan sangat berbahaya untuk anak-anak. Cairan pemutih, racun serangga dan racun tikus, parafin, kerosin, dan deterjen dapat mematikan atau mencelakakan anak. Banyak racun yang membahayakan walaupun tidak tertelan. Racun-racun tersebut menyebabkan kerusakan otak, buta, atau cacat, jika :
  • Dihirup, tertelan
  • Terkena kulit anak atau masuk ke mata
  • Masuk ke baju anak
Racun yang disimpan dalam botol minuman, gelas, atau mangkok dapat terminum oleh anak tanpa sengaja. Semua obat, bahan kimia dan racun harus disimpan dalam tempatnya yang asli (botol, kaleng, dll) dan ditutup rapat.

Deterjen, pemutih, cairan kimia, dan obat-obatan jangan sampai dijangkau anak. Bahan-bahan itu harus ditutup rapat dan diberi tanda, disimpan di lemari terkunci atau rak yang tinggi sehingga tak terjangkau oleh anak.

Obat-obatan untuk orang dewasa dapat membunuh anak kecil. Obat hanya diberikan kepada anak kalau resepnya memang untuk anak yang bersangkutan, jangan memberikan obat orang dewasa atau milik anak yang lain. Salah pakai atau terlalu banyak antibiotik dapat menyebabkan tuli pada anak. Aspirin sering menyebabkan keracunan pada anak.

7. Pisau, gunting, benda-benda tajam dan pecahan kaca dapat menyebabkan luka serius


Kantong plastik dapat menyebabkan anak kehabisan nafas. Benda-benda tersebut harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak. Pecahan gelas dapat menyebabkan luka potong, kehilangan banyak darah dan luka infeksi. Botol gelas harus dijauhkan dari jangkauan anak kecil dan jangan sampai ada pecahan gelas di sekitar tempat bermain.

Anak kecil harus dilarang memegang pecahan gelas. Anak yang lebih besar harus diminta untuk membuang pecahan gelas ke tempat yang aman. Pisau, gunting, pisau cukur harus dijauhkan dari jangkauan anak. Anak yang lebih besar harus dilatih menggunakan dan menyimpan benda-benda tersebut dengan aman.

Benda logam yang tajam, alat-alat dan kaleng berkarat dapat menyebabkan infeksi. Tempat bermain harus bersih dari benda semacam itu. Sampah rumah tangga termasuk botol pecah dan kaleng bekas harus dibuang ke tempat yang aman.

Kecelakaan lain di sekitar rumah dapat dicegah dengan mengajarkan anak tentang bahaya melempar batu atau benda tajam dan bermain dengan pisau atau gunting.


8. Anak kecil suka memasukkan benda ke dalam mulutnya


Jauhkanlah benda-benda kecil seperti koin, kelereng, kancing, biji-bijian dan manik-manik dari jangkauan anak-anak agar tidak tertelan.

Anak kecil suka memasukkan benda ke dalam mulut oleh karena itu benda-benda kecil seperti: kancing, manik-manik, uang logam, biji-bijian dan kacang harus dijauhkan dari jangkauan mereka agar tidak tertelan.

Anak kecil jangan diberi kacang, permen yang keras atau makanan bertulang atau berbiji. Anak kecil perlu diawasi pada waktu makan. Sebaiknya makanan anak dipotong-potong atau dihaluskan.
Periksa mainan anak agar tidak ada bagian yang bisa melukai atau tertelan.

Batuk, tersedak, dan nafas berbunyi atau tak bersuara sama sekali adalah tanda akibat menelan sesuatu, hal ini dapat membahayakan. Jika anak mempunyai masalah dengan nafasnya harus dicari kemungkinan apakah menelan sesuatu meskipun bendanya sudah tidak tampak.


9. Anak-anak senang bermain dengan benda di sekitarnya

Anak seringkali tidak menyadari bahwa benda yang ada disekitarnya adalah bahan berbahaya. Beritahukan kepada anak jika menemukan benda asing di tempat bermain, agar jangan menyentuhnya dan segera melaporkan kepada orang tua.

Jika anak menemukan benda yang belum dikenal sebelumnya, mereka biasanya menganggap bahwa benda tersebut dapat dijadikan alat bermain dan terkadang mereka ingin menyimpan benda tersebut tanpa menyadari bahayanya. Bila orang tua mengetahui bahwa benda yang ditemukan anak merupakan bahan peledak atau granat, segeralah melapor pada pihak yang berwajib. Selain itu, anak-anak harus dilarang bermain di sekitar tempat latihan militer.
Mercon atau petasan dapat dikelompokkan sebagai bahan peledak.
Ada semacam tradisi masyarakat Indonesia memasang mercon atau petasan untuk meluapkan rasa kegembiraan, biasanya menjelang hari raya Idul Fitri. Bahkan ada pula kelompok masyarakat yang memasang petasan pada saat pesta perkawinan.

Seringkali bahayanya tidak terpikirkan meskipun sudah banyak kecelakaan yang terjadi karena mercon. Jika terkena pada wajah atau bagian tubuh lainnya dapat mengakibatkan luka bakar. Bahkan sampai pada kematian. Apalagi jika meledak di dalam rumah, dapat terjadi kebakaran besar yang melahap harta penduduk.

Oleh sebab itu sebaiknya orang tua tidak mengijinkan anak-anaknya memasang mercon. Begitu juga diharapkan ada larangan resmi dari pimpinan masyarakat setempat pada warganya yang masih melakukan tradisi memasang mercon atau petasan pada upacara-upacara tertentu.

10. Anak anak harus dikenalkan secara dini budaya tertib berlalulintas di jalan raya


Anak-anak tanpa sadar sering menyeberang sembarangan di jalan raya, tanpa mengindahkan bahaya kecelakaan yang akan terjadi. Menyeberang yang salah dapat menjadi suatu kecelakaan, baik bagi pengendara maupun si penyeberang.
Kecelakaan dapat berakibat luka ringan, luka berat, bahkan kematian pada korbannya.
Untuk mengurangi risiko akibat kecelakaan, maka diperlukan alat pelindung diri (APD), antara lain helm anak untuk kelengkapan dalam berkendara roda dua dan menggunakan sabuk pengaman bagi pengendara roda empat. Hal lain yang perlu diperhatikan sejak dini untuk menghindari bahaya akibat kecelakaan di jalan raya, maka anak-anak harus mengetahui cara menyeberang yang benar, yaitu tengok kanan, tengok kiri, dan tengok kanan lagi.

Selain itu harus mengetahui tempat menyeberang yang aman, yaitu di zebra cross, jembatan penyeberangan. Untuk anak di bawah umur tujuh tahun dilakukan pendampingan saat menyeberang jalan raya. Orang tua atau pendamping anak harus memposisikan anak di bagian yang aman.

Selain cara menyeberang dan tempat menyeberang yang benar, maka anak-anak harus mengetahui secara dini diperkenalkan tentang rambu-rambu lalu lintas. Contoh tanda kendaraan tidak boleh dan boleh berhenti, arti lampu merah, kuning, hijau di perempatan jalan, tanda-tanda tempat menyeberang jalan, dan lain-lain.

Kecelakaan lalu lintas bukanlah takdir, tapi dapat dicegah, khususnya untuk anak-anak agar berperilaku yang benar di jalan raya. Untuk itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan secara dini dalam berlalu lintas yang benar.

Untuk mencegah terjadinya kecelakaan di jalan raya, maka perlu disosialisasikan budaya tertib berlalu lintas pada masyarakat umumnya dan anak-anak pada khususnya.

Bentuk Perlindungan Anak Terhadap Tindak Kekerasan dan Diskriminasi

Bentuk Perlindungan Anak Terhadap Tindak Kekerasan dan Diskriminasi

Setiap anak harus mempunyai kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Jika keluarga tidak mampu memelihara dan mengasuh anak, pihak pemangku kepentingan harus melakukan upaya untuk mengetahui penyebabnya dan menjaga keutuhan keluarga.

Jika seorang anak hidup tanpa orang tua atau pengasuh, pihak pemangku kepentingan harus dapat mengambil tindakan untuk mempertemukan anak dan keluarganya. Tetapi jika hal itu bukan yang terbaik bagi anak, harus dicarikan keluarga/tempat yang terbaik bagi anak agar dapat tumbuh dan berkembang, baik fisik maupun mental. Segenap upaya dilakukan untuk mempersatukan anak-anak dengan saudara kandung mereka.

Pemerintah dengan dukungan masyarakat madani bertanggung jawab untuk menyediakan pengasuhan alternatif yang baik dan dapat dijadikan keluarga pengganti untuk anak-anak yang tidak mempunyai keluarga. Pilihan ini dapat berupa:
  1. Keluarga inti (keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak)
  2. Keluarga besar (keluarga yang dalam satu rumah selain terdiri dari keluarga inti, terdapat juga kakek-nenek dan/atau paman-bibi, dll)
  3. Keluarga mengadopsi anak dan tinggal dalam satu rumah
  4. Orang tua asuh (keluarga yang hanya membiayai secara ekonomi kepada anak)
  5. Panti asuhan/rumah singgah (tempat tinggal yang disediakan oleh pemerintah/swasta/masyarakat bagi anak-anak dengan suasana pengasuhan keluarga dan membuka kemungkinan menyatukan kembali anak dengan keluarganya). 
Seringkali anak di tempatkan di panti dengan suasana keluarga. Meskipun beberapa anak panti dikelola dengan baik, banyak pula yang mempunyai pengaruh buruk dalam perkembangan anak. Terpisahnya dari kehidupan keluarga dan masayarakat membuat anak kurang mendapat perlindungan.

Setiap anak mempunyai hak untuk mempunyai nama dan kewarganegaraan. Pencatatan kelahiran anak membantu kepastian hak anak untuk mendapat pendidikan, kesehatan serta layanan-layanan hukum, sosial, hak waris, dan hak pilih. Pencatatan kelahiran adalah langkah pertama untuk memberikan perlindungan pada anak.

Pencatatan kelahiran merupakan pencatatan resmi keberadaan anak dan hak kewarganegaraannya. Hal itu menjadi hak asasi yang paling dasar. Anak tanpa akte kelahiran akan bermasalah untuk mendapatkan pelayanan masyarakat, pendidikan, kesehatan, hak waris, dan hak pilih jika sampai waktunya.

Mendaftarkan kelahiran anak merupakan langkah utama perlindungan. Anak di bawah lima tahun yang punya akte kelahiran mendapat layanan imunisasi dan kesehatan anak guna mengawali hidup sehat.

Peraturan penetapan usia minimum didasarkan pada pencatatan resmi usia anak. Misalnya, akte kelahiran dapat dipakai untuk menghindari perkawinan anak usia dini dan bentuk pekerjaan yang membahayakan yang tidak sesuai dengan umur anak.

Akte kelahiran harus diberikan untuk setiap anak. Jika tidak demikian maka kelompok masyarakat madani dapat membantu keluarga mencatatkan nama anak tersebut pada institusi pencatat kelahiran untuk mendapatkan akte. Pengurusan akte kelahiran bebas biaya.

Proses pencatatan kelahiran didukung oleh layanan kesehatan. Puskesmas dan Rumah Sakit dapat memberi bantuan untuk layanan akte kelahiran saat bayi lahir atau kunjungan layanan kesehatan.

Anak perempuan dan anak laki-laki harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi. Termasuk ketelantaran fisik, seksual dan emosional, pelecehan dan perlakuan yang merugikan bagi anak seperti perkawinan anak usia dini dan perusakan alat kelamin pada anak perempuan.

Keluarga, masyarakat dan pemerintah berkewajiban untuk melindungi mereka.

Perlindungan anak di keluarga dan rumah tangga dari:
  1. Kekerasan fisik.
  2. Kekerasan psikis.
  3. Kekerasan seksual dan perlakuan buruk.
  4. Penelantaran.
  5. Perkawinan usia dini.
  6. Tindakan tradisional yang membahayakan, misalnya perusakan alat kelamin perempuan (khitan pada perempuan).

Perlindungan anak di sekolah dan kegiatan pendidikan lainnya dari:
  1. Hukuman fisik.
  2. Hukuman psikis.
  3. Seks dan kekerasan berbasis gender.
  4. Adu mulut dan fisik.
  5. Berkelahi/adu fisik, tawuran.

Perlindungan anak di Panti asuhan dan lembaga hukum dari:
  1. Kekerasan fisik dan psikis dalam menegakkan disiplin, seperti
  2. Membiarkan/mengasingkan
  3. Kekerasan antar anak
  4. Kekerasan seksual

Perlindungan anak di tempat kerja dari:
  1. Hukuman fisik atau psikis
  2. Mempermalukan
  3. Kekerasan seksual dan perkosaan

Perlindungan anak di masyarakat (antar teman sebaya, gang, aparat, dan penjual anak) dari:
  1. Kekerasan fisik
  2. Kekerasan psikis
  3. Kekerasan senjata
  4. Kekerasan seks

Anak-anak yang menjadi korban atau menjadi saksi tindak kekerasan, seringkali berdiam diri karena takut, malu, atau stigma. Sebagian anak yang menjadi korban sering pasrah menerima perlakuan kekerasan sebagai bagian dari hidupnya, sementara pelakunya adalah orang yang tidak dikenal atau orang terdekat dari korban yang dipercaya untuk memberi perlindungan padanya. Pelaku bisa orang tua, orang tua tiri atau pacar orang tua, keluarga, pengasuh, teman laki-laki dan teman perempuan, teman sekolah, guru, tokoh agama, dan majikan.

Semua anak perempuan dan laki-laki dapat menjadi korban kekerasan, di mana biasanya anak laki-laki lebih cenderung menanggung risiko kekerasan fisik dan senjata sedangkan anak perempuan risiko kekerasan seksual, ditelantarkan, dan eksploitasi.

Kelompok tertentu sangat rentan menjadi korban kekerasan. Mereka itu adalah anak-anak cacat, kelompok minoritas, anak jalanan, anak bermasalah hukum, anak-anak pengungsi, pencari suaka,

Seringkali mereka menjadi sasaran kemarahan atau frustasi dari orang tua atau pengasuh saat anak tidak berhenti menangis. Pengasuh menggoyang bayi atau balita terlalu keras dan kasar sehingga dapat berisiko timbulnya kerusakan otak yang membawa cacat permanen bahkan kematian. Tanda-tanda guncangan yang keras berupa rasa sakit, susah bangun, susah bernafas, gemetar, muntah, serangan jantung atau koma. Gejala-gejala tersebut harus segera mendapat penanganan medis. Hal yang perlu dilakukan:
  1. Masyarakat perlu mewaspadai pencegahan kekerasan pada anak, salah urus dan tindakan-tindakan yang membahayakan.
  2. Masyarakat perlu membangun kegiatan untuk mencegah kekerasan pada anak.

Beberapa kegiatan kunci:
  1. Membangun komunikasi yang baik untuk menghadapi berbagai bentuk kekerasan di tempat anak tinggal, pada saat pergi bersekolah, bermain, dan bekerja.
  2. Mendidik orang tua dan pengasuh agar menghargai sudut pandang anak, menerapkan aturan yang positif, tidak kasar, dan tidak menangani anak dalam keadaan marah.
  3. Mendukung sekolah menerapkan sikap menolak kekerasan dan menerapkan cara menghadapi anak tanpa kekerasan. Tindakan tersebut adalah bagian pengelolaan kelas dari yang semula menakutkan, memalukan dan menghukum fisik menjadi suasana yang tidak diskriminatif tetapi koperatif.
  4. Mendukung kampanye masyarakat agar tidak melakukan hukuman fisik, mengasingkan dan melakukan tindakan berbahaya termasuk perkawinan di bawah umur.
  5. Memberikan pelayanan anak korban kekerasan dengan layanan kesehatan dan sosial guna membantu anak kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
  6. Membangun jejaring kerja/kemitraan yang baik untuk melaporkan kondisi kesehatan anak melalui telepon atau pusat perlindungan yang terjangkau.

Anak-anak harus mendapat perlindungan terhadap semua pekerjaan yang membahayakan. Bila anak bekerja, maka dia tidak boleh sampai meninggalkan sekolah. Anak-anak tidak boleh dipekerjakan dalam pekerjaan terburuk anak seperti perbudakan, kerja paksa, produksi obat-obatan atau perdagangan anak.

Anak-anak sering terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka sehari-hari. Banyak anak yang bekerja di bawah umur bahkan ada yang baru berumur empat tahun. Dalam banyak hal, anak bekerja sebelum atau sesudah pergi sekolah atau bekerja seharian hingga malam hari dan tidak bersekolah dianggap hal yang biasa.

Banyak ditemukan anak-anak bekerja di pertanian, berjualan, bekerja dipabrik, ikut menjadi nelayan, bekerja di pasar, menjadi pembantu rumah tangga, pengasuh anak, pengrajin, bekerja di rumah makan, menjadi pemulung dan anak jalanan.

Anak-anak bekerja di perkebunan, pabrik, perikanan, pasar, pembantu rumah tangga, handikraf, tempat sampah maupun di jalanan.Mereka sering melakukan pekerjaan yang berat, waktu bekerja yang lama, dan terpapar pestisida atau peralatan membahayakan. Anak terkena risiko pelecehan seksual dan eksploitasi, terutama saat panen, ketika harus bekerja lembur di malam hari di perkebunan.

Beberapa anak terlibat dalam pekerjaan yang menyengsarakan sebagai pekerja anak seperti perbudakan, diperdagangkan, kerja paksa, atau sebagai pengedar narkoba, yang kesemuanya itu adalah pekerjaan yang ilegal. Anak-anak harus ditarik dari situasi semacam itu dan dapat dikembalikan kepada keluarga dan masyarakatnya. Pekerjaan yang dilakukan anak tidak boleh membahayakan kesehatan dan kehidupannya dan jangan sampai menyebabkan anak tidak sekolah.

Pemerintah dan pemerintah daerah dengan dukungan dari keluarga dan masyarakat madani perlu menegakkan hukum untuk situasi pekerja anak yang membahayakan, seperti:
  1. Mengenal dan menginformasikankan kepada umum berbagai bentuk pekerjaan terburuk anak yang membahayakan di masyarakat sekitar atau tempat anak bekerja
  2. Menarik anak-anak dari pekerjaan yang membahayakan
  3. Membantu anak-anak meninggalkan pekerjaan berbahaya dan jauh dari orang tua untuk kembali ke keluarga dan masyarakatnya
  4. Mengupayakan agar anak-anak mengikuti sekolah/pendidikan yang baik, setara untuk semua usia anak dan bebas dari kekerasan
  5. Mengupayakan kesejahteraan/pekerjaan untuk keluarga yang membutuhkan, sehingga tidak bergantung pada pendapatan anak serta dapat menyekolahkan mereka.
Keluarga perlu mengetahui risiko terburuk bagi anaknya jika mengirim anaknya jauh-jauh untuk bekerja, misalnya sebagai pembantu atau pekerja perkebunan.

Anak perempuan dan anak laki-laki dapat berisiko untuk mengalami pelecehan seksual dan eksploitasi di rumah, sekolah, tempat kerja dan masyarakat. Hukum harus di tegakkan untuk mencegah pelecehan seksual dan eksploitasi. Anak-anak korban pelecehan seksual dan eksploitasi perlu bantuan segera. Bagi anak-anak lainnya agar dapat perlindungan sehingga terhindar dari perlakuan tersebut.

Anak perlu dilindungi dari segala bentuk eksploitasi seksual dan pelecehan. Banyak anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual mengenal pelakunya. Umumnya pelaku adalah orang yang dekat dengan anak atau orang yang akrab dengan anak. Sangat sedikit dilakukan oleh orang yang tidak dikenal.

Biasanya pelecehan seksual dilakukan oleh laki-laki. Apa pun bentuk pelecehan atau eksploitasi, tanggung jawab harus dibebankan pada pelaku. Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap pelecehan dan eksploitasi seksual tergantung pada jenis waktu dan berulangnya kejadian sehingga memunculkan bermacam reaksi emosional, seperti pendiam, pemarah, kelainan jiwa, atau terguncang.

Beberapa anak dapat mengalami kegetiran hidup karena mengalami infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV. Anak perempuan mendapat risiko tambahan berupa kehamilan yang tak dikehendaki yang membahayakan nyawa dan mengakibatkan stigma dan diskriminasi.

Anak-anak dapat belajar lebih awal tentang “perlakuan dengan sentuhan fisik yg baik dan perlakuan dengan sentuhan fisik yang bermaksud jahat”. Anak-anak perlu diajarkan agar memberitahu orang dewasa yang mereka percaya jika pernah mendapat sentuhan fisik jahat. Jika anak melaporkan hal tersebut, orang dewasa harus serius menanggapi agar pelecehan tidak berlanjut. Pelecehan seksual dilaporkan kepada yang berwenang, dan anak harus mendapat layanan perlindungan yang sesuai.

Banyak anak-anak dan kaum muda korban pelecehan seksual atau eksploitasi, sembuh dan kembali hidup normal. Pelecehan seksual pada masa anak-anak tidak secara otomatis menyebabkan perilaku agresif seksual. Anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual/eksploitasi belum tentu akan melakukan hal yang sama pada orang lain, begitu juga pelaku seksual belum tentu pernah mengalami pelecehan seksual/eksploitasi pada waktu masih kecil.

Pemerintah bertanggung jawab untuk menegakkan sistem dan peraturan khusus untuk :
  1. Mencegah pelecehan anak, kekerasan, dan ekploitasi
  2. Memungkinkan anak melaporkan pelecehan dan eksploitasi
  3. Menjerat pelaku pelecehan seksual dan eksploitasi dengan hukum
  4. Menyediakan layanan sosial seperti pelayanan kesehatan dan psikologis, penampungan sementara, pendidikan, dan bimbingan untuk anak korban pelecehan dan eksploitasi

Anak-anak sangat rentan terhadap perdagangan orang (trafiking) jika tidak ada perlindungan yang memadai. Pemerintah, swasta, masyarakat madani dan keluarga harus bertanggung jawab untuk mencegah perdagangan anak sekaligus menolong anak yang menjadi korban untuk kembali ke keluarga dan masyarakat.

Penjualan anak adalah kejahatan trans nasional yang tumbuh cepat, baik dalam negeri atau antar negara. Keuntungan dari perdagangan manusia diperkirakan US $ 9,5 milyar per tahun. Anak yang diperdagangkan:
  1. Diperlakukan seperti barang dagangan
  2. Subjek kekerasan, pelecehan, keterlantaran, eksploitasi, dan infeksi HIV.
Menurut perhitungan sebagian besar anak yang diperdagangkan adalah anak-anak perempuan untuk keperluan eksploitasi seksual komersial.

Anak-anak dan keluarga yang hidup miskin dan terbatas akses informasi sering meninggalkan masyarakatnya karena percaya adanya kesempatan yang lebih baik menunggu mereka di tempat lain. Kadang-kadang anak-anak itu dijanjikan pendidikan yang lebih baik, pekerjaan dengan gaji memadai atau hidup yang lebih baik. Tetapi pada kenyataannya, mereka dijual secara rahasia atau ke perbatasan negara atau diperdagangkan di dalam negeri dan dipaksa menempuh berbagai cara yang berbahaya. Mereka dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, bekerja di tempat pelacuran, dipaksa untuk kawin, atau dipaksa menjadi pengemis.

Anak-anak dan keluarga yang memilih meninggalkan kampungnya perlu tahu apa tujuan mereka. Mereka perlu tahu :
  1. Apa yang dapat diharapkan
  2. Risiko yang dihadapi selama perjalanan hingga ke tempat tujuan
  3. Apa yang perlu dilakukan jika terjebak dalam perdagangan orang.

Pemerintah dapat mendukung pemerintah daerah dan masyarakat madani untuk :
  1. Menyebarluaskan informasi kepada orang tua dan anak-anak tentang risiko migrasi dan mengirim anak ke tempat yang jauh untuk bekerja
  2. Menyebarluaskan informasi ke masyarakat tentang perlakuan negatif terhadap anak-anak migran semacam perdagangan anak
  3. Menggalang dukungan orang tua agar anak-anak tetap sekolah dan tidak putus sekolah, sehingga anak-anak tidak terpikir untuk bekerja
  4. Menyelenggarakan layanan sosial yang diperlukan guna membantu mengurangi ketergantungan orang tua kepada pendapatan atau pekerjaan anak
  5. Mencegah tindak kekerasan di rumah yang dapat mempengaruhi anak meninggalkan rumah
  6. Memperlakukan anak-anak korban kejahatan bukan sebagai pelaku kriminal dan memberi dukungan dan waktu kepada mereka agar sembuh sebelum dikembalikan ke keluarga atau panti asuhan.
  7. Menegakkan hukum untuk pelaku perdagangan manusia.

Tindakan hukum yang dikenakan pada anak harus sesuai dengan hak anak. Menahan atau memenjarakan anak seharusnya menjadi pilihan terakhir. Anak yang menjadi korban dan saksi tindakan kriminal harus mendapatkan prosedur yang ramah.

Menempatkan anak pelaku atau tersangka tindak kriminal di lembaga pemasyarakatan atau menghukum badan harus merupakan pilihan terakhir. Hukuman badan di lembaga pemasyarakatan dapat merusak jiwa anak dan lebih menyakitkan saat kembali ke masyarakat.

Tindakan alternatif seperti mediasi, layanan masyarakat dan konseling membawa hasil lebih baik untuk anak dan keluarganya serta masyarakat. Tindakan alternatif biasanya lebih menghargai hak anak dan membantu anak-anak mengenal lebih baik peran mereka di masyarakat. Hal itu harus menjadi tujuan segala tindakan hukum yang dikenakan pada anak.

Sebagian besar anak-anak yang dihukum tidak melakukan kejahatan yang serius. Mereka dihukum karena bolos sekolah, lari dari rumah, minum alkohol, mengemis, atau mengamen. Beberapa anak dihukum karena dieksploitasi oleh orang dewasa melalui pelacuran atau penjualan narkoba.

Anak yang di lembaga pemasyarakatan biasanya menunggu cukup lama proses peradilan dengan keputusan yang tetap (vonis). Mereka berisiko tinggi terhadap kekerasan, narkoba, infeksi HIV dan masalah kesehatan lainnya. Hukuman lembaga pemasyarakatan menyebabkan mereka putus sekolah dan jauh dari keluarga. Maka umumnya anak-anak dalam lembaga pemasyarakatan memerlukan tanggung jawab perlindungan sosial tidak hanya hukuman.

Pemerintah dapat mendukung pemerintah daerah dan masyarakat madani untuk :
  1. Dipisahkan dari tahanan dewasa
  2. Kasusnya segera diselesaikan
  3. Perempuan dan laki-laki dipisahkan
  4. Segera melaporkan kekerasan terhadap mereka jika terjadi di lembaga pemasyarakatan.
Perempuan hamil dan ibu yang ditahan bersama anaknya perlu mendapat perlindungan khusus, perawatan, dan dukungan. Semua anak berhak mendapat perlindungan, pelayanan kesehatan, dan pendidikan.

Prosedur yang ramah anak harus digunakan terhadap anak-anak yang menjadi korban dan saksi kejahatan. Prosedur itu harus:
  1. Mencegah kontak antara anak dengan terdakwa kejahatan
  2. Mengijinkan anak mengikuti proses persidangan
  3. Menjamin bahwa anak diperlakukan dengan baik

Dukungan peningkatan pendapatan dan layanan kesejahteraan sosial, dapat membantu keluarga dan anak-anak yang terlantar untuk bisa bersekolah serta mendapatkan akses pelayanan kesehatan.

Rumah tangga yang membutuhkan bantuan keuangan dan layanan kesejahteraan ditujukan kepada kepala rumah tangga yang sudah tua, janda, anak-anak atau individu yang sakit atau cacat, termasuk keluarga yang terpapar HIV.

Dukungan peningkatan pendapatan dan layanan kesejahteraan sosial dapat berguna bagi anak-anak dan keluarga untuk:
  1. Membeli makanan
  2. Membayar layanan kesehatan dan pendidikan
  3. Mempersatukan keluarga
  4. Mencegah anak-anak menjadi tahanan atau menjadi gelandangan
  5. Membantu keluarga keluar dari siklus kemiskinan.

Pemerintah dan pemerintah daerah dengan dukungan masyarakat madani dapat melakukan identifikasi kebutuhan keluarga. Mereka dapat membimbing keluarga dengan dukungan keuangan dan layanan kesejahteraan sosial melalui konseling dan bantuan. Penting diyakinkan pada keluarga bahwa tidak ada diskriminasi untuk memperoleh layanan. Informasi tentang dukungan keuangan

dan layanan kesejahteraan sosial dapat diperoleh melalui saluran komunikasi yang ada termasuk Puskesmas, sekolah, tempat ibadah, pertemuan-pertemuan, dan pengumuman pada tingkat masyarakat.

Semua anak mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yag tepat, didengarkan dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut diri mereka. Pemenuhan hak anak seharusnya memberi kesempatan pada anak untuk berperan aktif dalam perlindungan diri mereka sendiri dari pelecehan, kekerasan, dan eksploitasi sehingga mereka dapat menjadi warga masyarakat yang baik.

Sejak usia dini, anak-anak dapat mengutarakan pendapat dan minatnya. Dalam pertumbuhannya tumbuh pula kemampuan peran serta mereka dalam pengambilan keputusan yang menyangkut diri mereka, keluarga dan masyarakatnya.

Anak-anak dan orang dewasa harus aktif berkomunikasi satu dengan lainnya tentang berbagai informasi dan ide-ide, baik itu di rumah, sekolah, masyarakat. Berbagi pengalaman harus berdasarkan saling menghormati dan saling menghargai (beretika). Pendapat anak perlu didengar dan diperhatikan sesuai dengan umur dan kematangan jiwa anak.

Anak-anak yang mampu mengemukakan pendapat secara bebas biasanya lebih bertanggung jawab, dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan penting saat mereka tumbuh.

Mereka biasanya mampu untuk:
  1. Menunjukkan prestasi di sekolah
  2. Memikul tanggung jawab terhadap pendidikan dan kesehatan dirinya sendiri
  3. Menjaga diri dari penularan infeksi seksual termasuk HIV, kehamilan tak diinginkan, perkelahian, penipuan, diskriminasi, kekacauan, kekerasan, pelecehan dan eksploitasi.
  4. Mampu belajar dan berperilaku sebagai warga yang baik dan tumbuh sebagai orang dewasa yang siap menjalankan hak dan kewajibannya.

Anak-anak adalah pengguna, penghasil, dan subjek media, sumber yang kuat untuk mempengaruhi pendapat dan persepsi di antara mereka. Berbagai bentuk media yang berbeda dapat dipakai untuk memperluas pengetahuan anak-anak, menginformasikan kepada mereka bagaimana melindungi diri dan menjadi warga negara yang baik.

Perkumpulan atau kelompok anak-anak dapat memberi tempat/wadah bagi anak-anak guna menyuarakan gagasan-gagasan mereka, sudut pandang dan pusat perhatian mereka. Kelompok-kelompok semacam itu memberi kesempatan bagi mereka untuk bermasyarakat dan mengembangkan minat serta kepemimpinan.