Kamis, 16 Februari 2017

Azithromycin Dihydrate

Tags

Azithromycin Dihydrate

FARMAKOLOGI

Farmakodinamik 
Azithromycin merupakan subklas pertama dari antibiotik makrolida dikenal sebagai azalide dan berbeda dengan azithromycin. Secara kimia diturunkan melalui penyisipan atom nitrogen ke cincin lakton dari erythromycin A.

Mekanisme kerja azithrimycin dengan cara menghambat sintesis protein pada bakteri dengan cara mengikat ribosom subunit 50S dan mencegah translokasi peptida.

Azithromycin memperlihatkan aktivitas in-vitro melawan bakteri spektrum luas yaitu :
  1. Bakteri Gram positif aerob: Staphylococus aureus, Staphylococus pyogenes (group A β-haemolytic streptococci), Streptococcus pneumoniae, α-haemolytic streptococci (viridas group) dan streptococci lain, dan corynebacterium diphtheriae. Azithromycin menunjukkan resistensi silang dengan jenis gram- positif resisten erithromycin, termasuk streptoccocus faecalis (enterococcus) dan sebagian besar Staphylococci yang resisten methicillin.
  2. Bakteri Gram negatif aerob: Haemophilus influenzae, Haemophilus parainfluenzae, Moraxella catarrhalis, Acinetobacter species, Yersinia species, Legionella pneumophila, Bordetella pertusis, Bordetella parapertusis, Shigella species, Pasteurella species, Vibrio cholera dan parahaemolyticus, Plesiomonas shigelloides. Aktif melawan Escherichia coli, Salmonella entiritidis, Salmonella typhi, Enterobacter species, Aeromonas hydrophila dan Klebsiella species berubah dan uji resistensi harus dilakukan. Proteus species, Serratia species, Morganella species, dan Pseudomonas aeruginosa biasanya resisten.
  3. Bakteri Anaerob: Bacterocoides fragillis dan bacterocoides species, Clostridium perfringens, Peptococcus species dan Peptostreptococcus species, Fusobacterium necrophorum dan proprionibacterium acnes.
  4. Mikroorganisme nyakit menular seksual: Azithromycin aktif melawan Chlamydia trachomatis dan juga menunjukkan aktivitas yang baik melawan Treponema pallidum, Neisseria gonorrhoeae dan Haemophillus ducreyl.
  5. Mikroorganisme lainya: Borrella burgdorferi (pembawa penyakit getah bening), Chlamydia pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae, Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealyticum, Camphylobacter dan Listeria monocytogenes.
  6. Bakteri patogen dengan infeksi HIV: Mycobacterium avium-intracellulare complex, Pneumocystis carinii dan Toxoplasma gondii.
Farmakokinetik
  • Absorpsi: Pada pemberian secara oral, bioavailabilitas Azithromycin sekitar 37% dari dosis. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai plasma puncak sekitar 2-3 jam.
  • Distribusi: Berdasarkan studi farmakokinetik menunjukkan bahwa konsentrasi Azithromycin di jaringan lebih tinggi dibandingkan yang ada di plasma (konsentrasi mencapai 50 kali konsentrasi yang ada di plasma). Hal ini menunjukkan bahwa Azithromycin terikat kuat pada jaringan. Konsentrasi pada jaringan target, seperti : paru-paru, tonsil dan prostat melebihi MIC90 untuk kebanyakan bakteri patogen setelah pemberian dosis tunggal 500 mg.
  • Eliminasi: Waktu paruh eliminasi plasma hampir mencerminkan waktu paruh deplesi jaringan, yaitu 2-4 hari. Ekskresi bilier Azithromycin merupakan jalur utama eliminasi obat yang tidak berubah yang diberikan peroral. Konsentrasi sangat tinggi dari obat yang tidak berubah ditemukan di dalam empedu, bersama-sama dengan 10 metabolit, dibentuk oleh N- dan O-demetilasi, dengan hikroksilasi cincin desosamin dan aglikon dan dengan pemecahan cladinose konjugasi.

INDIKASI

Azithromycin diindikasikan untuk pengobatan pasien dengan infeksi ringan sampai sedang (seperti: pneumoniae) yang disebabkan oleh mikroorganisme yang peka dengan keadaan sebagai berikut:
  1. Saluran pernapasan bagian bawah: Eksaserbasi bakteri akut dari penyakit paru – paru yang kronis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis, atau Streptococcus pneumoniae. Pneumoniae jangkitan dengan keparahan ringan yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae atau Haemophilus influenzae pada pasien yang tepat untuk terapi secara oral.
  2. Saluran pernapasan bagian atas: Streptococcol Faringitis/tonsilitis : Sebagai alternatif terapi ini pertama untuk faringitis/ tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes terjadi pada individu yang tidak dapat menggunakan terapi ini pertama.
  3. Kulit dan struktur kulit: Kulit yang tidak komplikasi dan infeksi struktur kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes atau Streptococcus agalactiae. Abses biasanya memerlukan drainasi surgical.
  4. Penyakit menular seksual Non-gonococcal uretritis dan servisitis yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis.
Azithromycin pada dosis yang dianjurkan, seharusnya tidak diandalkan untuk mengobati gonore dan sifilis, antimikroba yang digunakan dalam dosis tinggi dalam jangka waktu yang singkat untuk mengobati uretritis non-gonokokal mungkin menutupi atau menunda gejala inkubasi gonore atau sifilis. Semua pasien dengan uretritis menular seksual atau cervisitis harus melakukan tes serologi untuk sifilis dan kultur sesuai untuk menunjukkan adanya gonore yang dilakukan pada saat diagnosis. Terapi antimikroba yang sesuai dan tes tindak lanjut untuk penyakit-penyakit ini harus dimulai jika infeksi telah dikonfirmasi.

DOSIS

Azithromycin harus diberikan sebagai dosis tunggal harian. Dosis yang diberikan untuk infeksi adalah dibawah ini:
  1. Dewasa ( termasuk lanjut usia )
    • Untuk pengobatan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis, Haemophilus ducreyi, Neisseria gonorrhoeae tanpa komplikasi servix, urethra dan rektal adalah 1000 mg sebagai dosis oral tunggal atau urethritris, dan cervicitis di sebabkan Neisseria gonorrhoeae adalah 2000 mg sebagai dosis oral tunggal. 
    • Untuk indikasi lainya seperti fomulasi yang diberikan secara oral, total dosis pengobatan1500 mg, dengan dosis pemberian 500 mg per hari diberikan selama 3 hari. Sebagai alternatif dosis pemberian, hari pertama diberikan 500 mg sebagai dosis tunggal diikuti dengan 250 mg 1 x sehari untuk 2-5 hari.
  2. Anak - anak
    • Tidak ada informasi dosis pemberian untuk anak dibawah 6 tahun.
    • Dosis total 30 mg/kg diberikan sebagai dosis tunggal harian 10 mg/kg atau sebagai dosis alternatif, diberikan selama 5 hari sebagai dosis tunggal harian dimana dari dosis 10 mg/kg pada hari pertama, kemudian untuk hari 2-5 diberikan dosis 5 mg/kg.
Azithromycin dapat diberikan dengan atau tanpa makanan. Pasien dengan gangguan ginjal: Tidak ada penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan ginjal ringan sampai berat (GFR 10–80 ml/min). Perhatian harus dilakukan ketika Azithromycin diberikan untuk pasien dengan gangguan ginjal berat (gfr <10 ml/min). Pasien dengan gangguan hati: Dosis yang sama sebagai pasien normal boleh digunakan pada pasien dengan gangguan hati ringan samapai berat. Penyiapan Azithromycin sirup kering: Tambahkan 8 ml air kemudian dikocok sampai rata. Tutup wadah dengan rapat setelah digunakan. Setelah pencampuran, simpan suspensi pada suhu 25-30 C dan tidak boleh digunakan lebih dari 5 hari. 

KONTRA INDIKASI

Pasien yang hipersensitif terhadap Azithromycin, Erythromycin atau antibiotik makrolida lainya. 

PERINGATAN DAN PERHATIAN

  1. Seperti erythromycin dan macrolida lainya, jarang terjadi reaksi alergi serius, termasuk angiodema dan anaphylaxis (jarang fatal) telah dilaporkan. 
  2. Jika terjadi reaksi alergi serius pengobatan harus dihentikan dan pengobatan yang sesuai harus segera dilaksanakan. 
  3. Tidak ada penyesuaian dosis yang dibutuhkan pada dosis yang dibutuhkan pada pasien dengan kerusakan ginjal sedang (klirens kreatinin >40 ml/min). Hati-hati sebelum meresepkan azythromycin pada pasien dengan kerusakan ginjal yang lebih parah. 
  4. Tidak ada penyesuaian dosis yang direkomendasikan untuk pasien dengan kerusakan hati ringan sampai sedang. 
  5. Seperti layaknya penyiapan antibiotik, pengamatan terhadap tanda-tanda superinfeksi dengan organisme non-rentan, termasuk jamur dianjurkan. 
  6. Azithromycin tidak diresepkan untuk pasien pneumonia dengan resiko tinggi. Faktor resiko yang harus dipertimbangkan : 
    • Penderita dengan infeksi nosokomial yang didapat. 
    • Penderita dengan bakteremia diketahui atau yang diduga. 
    • Penderita memerlukan rawat inap. 
    • Pasien lanjut usia atau debil, atau 
    • Penderita dengan masalah kesehatan serius (termasuk imunodefisiensi atau fungsional asplenia). 
  7. Keamanan penggunaan pada wanita hamil dan menyusui belum tersedia. Azithromycin hanya digunakan pada wanita hamil dan menyusui ketika terapi alternatif lainya tidak tersedia. 

 INTERAKSI OBAT

  1. Antacids Dalam studi farmakokinetik menyelidiki efek simulan penggunaan antacids dengan azithromycin, tidak berpengaruh pada keseluruhan bioavailability yang terlihat meskipun konsentrasi serum puncak berkurang sekitar 30%. Pada penderita yang menerima azithromycin dan antasida, obat tersebut tidak boleh dimunim secara bersamaan. 
  2. Digoxin Banyak pasien telah menerima pemberian bersama dari azithromycin dan glikosida jantung, dan tidak ada interaksi yang dilaporkan. Beberapa antibiotik makrolid telah dilaporkan merusak metabolisme mikroba dari digoxin pada usus pasien. Pasien yang menerima azithromycin bersamaan dengan antibiotik azalide dan digoxin kemungkinan mengalami peningkatan level digoxin. 
  3. Ergot Berdasarkan kemungkinan teoritis dari ergotism, penggunaan bersamaan dengan derivatif ergot azithromycin tidak dianjurkan. 
  4. Cimetidine Dalam studi farmakokinetik menyelidiki efek dari dosis tunggal cimetidine, diberikan 2 jam sebelum azithromycin, pada farmakokinetik dari azithromycin, tidak ada berubahan farmakokinetik azithromycin yang terlihat. 
  5. Coumarin- Type Antikoagulan oral Dalam studi interaksi farmakokinetik, azithromycin tidak merubah efek antikoagulan dari dosis tunggal 15 mg warfarin yang diberikan kepada sukarelawan yang sehat. Adanya laporan yang diterima dalam periode pasca-pemasaran terhadap potensi-antikoagulasi setelah pemberian azithromycin dan antikoagulan kumarin oral tipe. Meskipun hubungan sebab akibat belum ditetapkan, pertimbangan harus diberikan untuk frekuensi pemantauan waktu protrombin bila azithromycin diberikan pada penderita yang menerima antikoagulan oral tipe coumarin. 
  6. Cyclosporin Dalam studi farmakokinetik dengan sukarelawan sehat yang telah diberikan 500 mg/hari dosis oral azithromycin selama 3 hari dan kemudian diberikan dosis tunggal 10 mg/kg oral cyclosporin, menghasilkan cyclosporin Cmax dan AUC 0-5 yang tinggi secara signifikan. Akibatnya, peringatan harus dilakukan sebelum pemberian bersamaan obat ini. Jika pemberian bersamaan diperlukan, tingkay cyclosporin harus dipantau dan dosisnya disesuaikan. 
  7. Fluconazole Pemberian bersama dosis tunggal 1200 mg azithromycin tidak mengubah farmakokinetik dosis tunggal 800 mg fluconazole. Paparan total dan waktu paruh dariazithromycin tidak berubah oleh pemberian bersamaan fluconazole, namun penurunan klinik yang tidak signifikan dalam Cmax (18%) dari azithromycin telah diamati. 
  8. Nelvinafir Pemberian bersama azithromycin (1200 mg) dan nelvinafir pada kondisi tunak (750 mg tiga kali sehari) mengakibatkan konsentrasi azithromycin meningkat. Tidak ada efek samping yang bermakna secara klinis diamati dan tidak ada penyesuaian dosis diperlukan. 
  9. Terfenadine Studi farmakokinetik telah melaporkan tidak ada bukti adanya interaksi antara azithromycin dengan terfenadine. Jarang adanya kasus yang dilaporkan dimana kemungkinan interaksi tersebut tidak bisa sepenuhnya dikecualikan, namun tidak ada bukti spesifik bahwa interaksi tersebut telah terjadi. 

 EFEK SAMPING

  1. Infeksi dan infestasi: Moniliasis dan vaginitis. 
  2. Gangguan sistem darah dan limfatik: Trombositopenia. 
  3. Gangguan sistem kekebalan: Anapilaksis (jarang terjadi). 
  4. Gangguan metabolisme dan nutrisi gangguan: Anorexia. 
  5. Gangguan kejiwaan: Reaksi agresif, gelisah, agitasi, dan kecemasan. 
  6. Gangguan sistem saraf: Pusing, kejang (seperti yang terlihat dengan macrolides lainya), sakit kepala, hiperaktif, hypoesthesia, paresthesia mengantuk dan sinkop. 
  7. Gangguan telingan dan labyrinth: Vertigo. 
  8. Gangguan jantung: Palpitasi dan arrhytmias termasuk ventrikular takikardia. 
  9. Gangguan Vaskular: Hipotensi. 
  10. Gangguan Gastrointestinal: Muntah atau Diare (jarang mengakibatkan dehidrasi), Dispepsia, sembelit, kolitis pseudomeinbranous, pankreatitis, dan jarang adanya laporan perubahan warna lidah. 
  11. Gangguan Hepatobilliary: Hepatitis dan penyakit kuning cholestatic telah dilaporkan serta kasus jarang terjadi nekrosis hati dan kegagalan hati, yang jarang menyebabkan kematian. Namun, adanya hubungan sebab akibat belum ditetapkan. 
  12. Gangguan kulit dan jaringan subkutan: Reaksi alergi termasuk Pruritus, ruam, fotosensitif, edema, urtikaria dan angiodema. Jarang reaksi kulit serius termasuk eritema multiforme, sindrom Stevens-johnson, dan nekrolisis epidermal toksik telah dilaporkan. 
  13. Gangguan muskuloskeletal dan jaringan ikat: Arthalgia. 
  14. Gangguan ginjal dan urin: nefritis interstisial dan gagal ginjal akut. 
  15. Gangguan umum dan ketentuan pemberian berdasarkan kondisi-asthenia telah dilaporkan meskipun hubungan sebab akibat belum ditetapkan; kelelahan dan melaise.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER


Loading...

Artikel Terkait