Jumat, 10 Februari 2017

Hipertensi - Definisi, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Hipertensi - Definisi, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang. Peningkatan tekanan darah yang terjadi dalam jangka waktu yang lama bila tidak dideteksi secara dini dan mendapatkan pengobatan yang baik dapat menimbulkan kerusakan ginjal, jantung dan otak. Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Jumlah penderita hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol terus meningkat. Oleh karena itu kita harus menjaga pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit hipertensi.

Hingga saat ini hipertensi masih menjadi masalah kesehatan besar di Indonesia. Hipertensi merupakan kondisi paling sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer. Hal itu merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu 25,8 persen, sesuai dengan data Riskesdas tahun 2013. Dari data American heart Association (AHA), penduduk Amerika berusia di atas 20 tahun menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa, namun hampir 90-95 persen kasus tidak diketahui penyebabnya.

Gejala Hipertensi

Hipertensi merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada masing-masing orang dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejalanya antara lain:
  • Sakit kepala
  • Rasa berat di tengkuk
  • Mumet (vertigo)
  • Jantung berdebar-debar
  • Mudah lelah
  • Penglihatan kabur
  • Telinga berdenging
  • Mimisan

Diagnosis Hipertensi

Dalam menegakkan diagnosis hipertensi diperlukan beberapa tahapan pemeriksaan yang harus di jalani sebelum menentukan pengobatan yang tepat. Pemeriksaan paling utama adalah pemeriksaan tekanan darah menggunakan alat spyghmomanometer (tensimeter). Alur pemeriksaannya bisa dilakukan seperti di bawah ini.
diagnosis hipertensi

Risiko Hipertensi

Berikut ini beberapa faktor risiko seseorang menderita hipertensi:
  • Keturunan, seseorang yang memiliki anggota keluarga mengidap hipertensi memiliki risiko tinggi mengidap hipertensi.
  • Usia, semakin bertambahnya usia semakin tinggi risiko mengidap hipertensi.
  • Merokok, seseorang yang merokok memiliki risiko tinggi hipertensi.
  • Kurang aktivitas fisik, seseorang yang kurang bergerak, frekuensi denyut jantung menjadi lebih tinggi sehingga memaksa jantung bekerja lebih keras setiap kontraksi.
  • Obesitas, berat badan yang berlebih membutuhkan oksigen dan nutrisi yang banyak, sehingga membutuhkan volume darah yang lebih banyak. Volume darah yang meningkat menyebabkan tekanan darah yang tinggi.
  • Stress, seseorang yang mengalami stres menyebabkan tekanan darahnya meningkat
  • Mengkonsumsi alkohol, meminum alkohol lebih dari 2 gelas per hari  pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah
  • Ras, penderita hipertensi kulit hitam 40 persen lebih banyak dibandingkan penderita kulit putih.
  • Banyak mengkonsumsi garam, kadar garam yang tinggi dalam tubuh mengakibatkan penumpukkan cairan yang akan meningkatkan tekanan darah.

Penyebab Hipertensi

Berdasarkan penyebebnya hipertensi dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:
  • Hipertensi primer atau hipertensi esensial, hipertensi ini penyebabnya tidak diketahui, walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang olah raga dan pola makan yang tidak sehat. Hipertensi primer terjadi pada 90 persen kasus hipertensi.
  • Hipertensi sekunder, merupakan hipertensi yang diketahui penyebabnya. Terjadi pada sekitar 5-10 persen penderita hipertensi, penyebabnya antara lain:
    • Penyakit ginjal
    • Penyakit lupus
    • Penyakit diabetes
    • Penyakit gangguan hormon, khususnya tiroid
    • Penggunaan obat tertentu, seperti pil KB

Hipertensi Pada Kehamilan

Pada hipertensi kehamilan secara umum dilkasifikasikan sebagai berikut:
  • Preeklampsia-eklampsia atau disebut sebagai hipertensi yang diakibatkan kehamilan atau keracunan kehamilan (selain tekanan darah yang meninggi, juga didapatkan kelainan pada air kencingnya). Preeklampsia adalah penyakit yang timbul dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan.
  • Hipertensi kronik, yaitu hipertensi yang sudah ada sejak sebelum ibu mengandung janin.
  • Preeklampsia pada hipertensi kronik, yang merupakan gabungan preeklampsia dengan hipertensi kronik.
  • Hipertensi gestasional atau hipertensi yang sesaat.
Penyebab hipertensi pada kehamilan sebenarnya belum jelas. Ada yang mengatakan diakibatkan oleh kelainan pembuluh darah, ada yang mengatakan karena faktor diet, ada juga yang mengatakan disebabkan faktor keturunan.

Komplikasi Hipertensi

Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Untuk itu sebaiknya Anda dapat menjaga tekanan darah dalam batas normal. Berikut ini komplikasi hipertensi yang sering terjadi:
  • Stroke, pada penderita hipertensi yang tidak terkontrol akan terjadi terganggunya aliran darah ke otak, sehingga area otak yang terlibat akan rusak. Stroke juga bisa terjadi karena tersumbatnya pembuluh darah dan darah tidak bisa melewati sumbatan tersebut. Dalam kasus lain pembuluh darah di otak bisa pecah, dan aliran darah berkurang karena kebocoran. Hipertensi meningkatkan terjadinya dua peristiwa tersebut.
  • Gagal jantung, gagal jantung terjadi akibat tekanan darah yang terlalu tinggi, sehingga otot jantung bekerja lebih berat untuk memompa darah. Hal ini dapat menyebabkan jantung gagal berfungsi. Otot jantung yang memompa darah dengan lebih kuat, lama kelamaan akan membuat otot jantung bertambah besar. Jadi hipertensi dapat menyebabkan pembesaran jantung dan gangguan pembuluh darah, apa bila tidak ditangani akan menyebabkan jantung koroner yang bisa berakibat fatal.
  • Gagal ginjal, tingginya tekanan darah dapat mengakibatkan pembuluh darah dalam ginjal tertekan dan menyebabkan pembuluh rusak. Hipertensi dapat menghambat proses penyaringan dalam ginjal untuk bekerja dengan baik. Kondisi ini akan merusak ginjal.
  • Sindrom metabolik, adalah munculnya sejumlah masalah kesehatan secara bersamaan.

Pengobatan Hipertensi

Pengobatan hipertensi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan dan menjalani pola hidup sehat. Secara umum obat-obatan yang diberikan pada penderita hipertensi antara lain:
  • Betablocker, merupakan obat pilihan pertama dalam pengobatan hipertensi pada pasien dengan penyakit jantung koroner terutama yang menyebabkan timbulnya gejala angina. Obat ini akan bekerja mengurangi iskemia dan angina, karena efek utamanya sebagai inotropik dan kronotropik negative. Betablocker juga menghambat pelepasan renin di ginjal yang akan menghambat terjadinya gagal jantung.
  • Calcium channel blocker (CCB), merupakan obat tambahan setelah optimalisasi dosis betablocker, bila terjadi tekanan darah yang tetap tinggi, angina yang persisten, atau adanya kontraindikasi absolute pemberian betablocker.
  • ACE inhibitor (ACEi), merupakan pilihan utama terapi hipertensi pada pasien penyakit jantung yang disertai diabetes mellitus dengan atau tanpa gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri. Pada pasien hipertensi usia lebih dari 65 tahun, pemberian ACEi juga direkomendasikan. Studi terakhir menyatakan bahwa pada pasien hipertensi pria berusia lanjut, ACEi memperbaiki hasil akhir kardiovaskular bila dibandingkan dengan pemberian diuretik, walaupun kedua obat memiliki penurunan tekanan darah yang sama.
  • Angiotensin Receptor Blockers (ARB), indikasi pemberian ARB adalah pada pasien yang intoleran terhadap ACEi. Beberapa penelitian besar menyatakan valsartan dan captopril memiliki efektifitas yang sama pada pasien paska infark miokard dengan risiko kejadian kardiovaskular yang tinggi.
  • Diuretik, berfungsi untuk membuang sisa air dan garam dari dalam tubuh melalui urin. Diuretik pada golongan tiazid akan mengurangi risiko kejadian kardiovaskular, seperti yang telah dinyatakan beberapa penelitian seperti MRC dan SHERP
  • Nitrat, indikasi pemberian nitrat kerja panjang adalah untuk tatalaksana angina yang belum terkontrol dengan dosis betablocker dan CCB yang adekuat pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Tetapi sampai saat ini tidak ada data yang mengatakan penggunaan nitrat dalam tatalaksana hipertensi, selain dikombinasikan dengan hidrazalin pada kasus-kasus tertentu.  
Dalam mengkonsumsi obat-obatan hipertensi harus dikonsultasikan kepada dokter. Jangan mengkonsumsi obat tanpa anjuran dari dokter, dan juga jangan berhenti mengkonsumsi obat tanpa berkonsultasi ke dokter Anda. Dalam beberapa kasus, penderita hipertensi harus mengkonsumsi obat-obatan seumur hidup. Pengobatan dapat dihentikan bila tekanan darah terkendali dalam waktu yang lama.

Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan darah, dan secara umum sangat menuntungkan dalam menurunkan risiko permasalahan kardiovaskular. Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan antara lain:
  • Penurunan berat badan. Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti menghindari diabetes.
  • Mengurangi asupan garam. Di negara kita, makanan tinggi garam dan lemak merupakan makanan tradisional di beberapa daerah. Tidak jarang pula penderita hipertensi tidak menyadari kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan kaleng, dan makanan yang diawetkan. Penderita hipertensi harus membatasi asupan garam tidak lebih dari seperempat sampai setengah sendok teh setiap harinya.
  • Olah raga, Olah raga yang dilakukan secara teratur 30 sampai 60 menit setiap hari, minimal 3 hari setiap minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah. terhadap pasien yang tidak memiliki waktu untuk berolah raga secara khusus, sebaiknya harus tetap untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda atau menaiki tangga dalam aktivitas rutin di tempat kerja.
  • Mengurangi konsumsi alkohol. Mengkonsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari  pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian tidak mengkonsumsi alkohol adalah pilihan yang sangat membantu dalam penurunan tekanan darah.
  • Tidak merokok, merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.
  • Melakukan terapi relaksasi, seperti yoga atau meditasi
Menjalani pola hidup sehat adalah pilihan utama pengobatan hipertensi. Apabila dengan menerapkan pola hidup sehat tekanan darah dapat terkontrol, penderita hipertensi tidak perlu mengkonsumsi obat-obatan lagi. Dalam menjalani pola hidup sehat, penderita hipertensi harus memperhatikan asupan makanan. Berikut ini makanan yang harus dibatasi oleh penderita hipertensi, antara lain:
  • Makanan berkadar lemak jenuh tinggi, seperti: otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih
  • Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium, seperti: biscuit, crackers, keripik, dan makanan kering yang asin.
  • Makanan dan minuman kaleng, seperti: sarden, minuman ringan, kornet, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng.
  • Makanan yang diawetkan, seperti: dendeng, asinan, abon, ikan asin, pindang, telur asin, udang kering, selai kacang.
  • Susu full cream, mentega, keju, serta sumber protein hewani yang tinggi kolestrol seperti daging merah, kuning telur, dan kulit ayam
  • Minuman beralkohol
  • Makanan yang mengandung alkohol seperti tape dan durian.
Di Indonesia terdapat pergeseran pola makan, yang mengarah pada makanan cepat saji dan yang diawetkan yang kita ketahui mengandung garam tinggi, lemak jenuh, dan rendah serat. Dengan mengetahui gejala dan faktor risiko terjadinya hipertensi diharapkan masyarakat dapat melakukan pencegahan. Bagi penderita dapat menerapkan pola hidup sehat atau penggunaan obat yang tepat sehingga komplikasi yang terjadi dapat dihindarkan.

Loading...

Artikel Terkait