Kamis, 06 April 2017

Ibu Berisiko Menularkan HIV Kepada Anaknya Melalui ASI

Tags

Ibu Berisiko Menularkan HIV Kepada Anaknya Melalui ASI

Seorang ibu yang terinfeksi HIV mempunyai risiko untuk menularkan infeksi tersebut kepada anaknya melalui pemberian ASI. Bayi usia 0-6 bulan memiliki risiko yang jauh lebih besar jika diberi ASI, cairan lain dan makanan, dibandingkan dengan bayi yang hanya diberi ASI saja. Karena itu disarankan, bayi cukup menerima ASI saja selama 6 bulan pertama, kecuali jika pemberian pengganti ASI (susu formula) dipandang sebagai hal yang dapat diterima, memungkinkan, terjangkau, berkelanjutan dan aman.

Test HIV, pengobatan,konseling Ibu hamil dan ibu baru yang diduga mereka terinfeksi HIV harus berkonsultasi kepada petugas kesehatan terlatih tentang bagaimana mengurangi risiko menularkan kepada bayinya selama kehamilan, melahirkan atau menyusui. Mereka juga harus mendapatkan konsultasi dan dukungan tentang cara mendapatkan pengobatan dan perawatan untuk mereka sendiri.

Petugas kesehatan terlatih dapat memberikan informasi tentang terapi antiretroviral (ART), yaitu satu jenis kelompok obat bagi mereka yang terinfeksi HIV kepada ibu yang positif tertular HIV. ART dapat mengurangi risiko pemindahan HIV dari ibu kepada anak sambil tetap menjaga kesehatan ibunya. Semua petugas kesehatan harus tahu jika test HIV dan terapi ART tersedia atau tidak di Puskesmas atau Rumah Sakit setempat. Petugas kesehatan harus menyediakan informasi tentang hal ini dan berbagai jenis pelayanan lainnya yang terkait dengan hal tersebut kepada ibu hamil dan ibu baru.

Pelajari berbagai risiko dan pilih mana yang dapat dilakukan. Seorang ibu yang ternyata HIV positif, harus diberikan konseling dan informasi yang lengkap untuk membantu ia memutuskan berbagai pilihan makanan terbaik untuk bayinya dan yang paling bisa ia lakukan.

Ibu HIV positif harus tahu bahwa
  1. Dengan memberikan ASI saja selama 6 bulan pertama, ia telah mengurangi risiko bayinya dari berbagai penyakit, gizi salah atau meninggal. 
  2. Dengan menggunakan produk pengganti ASI, seperti susu formula saja, maka ia telah menghindarkan bayinya dari risiko tertular HIV melalui ASI 
  3. Dengan mempersingkat masa menyusui dapat mengurangi risiko penularan infeksi kepada anak.
Pilihan makanan terbaik untuk anak dari ibu HIV positif, tergantung kepada kondisi perorangan. Ibu harus mempertimbangkan berbagai risiko setelah berdiskusi dengan petugas kesehatan terlatih.

Ibu HIV positif berhak terhadap
  1. Informasi yang ia perlukan guna mengambil keputusan berdasarkan informasi. 
  2. Semua pelayanan dan dukungan yang diperlukan untuk melaksanakan keputusan yang ia ambil.

Beberapa pilihan makanan anak

Enam bulan pertama
Memberi makan bayi dengan produk pengganti ASI (susu formula) harus memperhitungkan, beberapa hal yaitu, dapat diterima, terjangkau, memungkinkan, berkelanjutan, serta aman bagi ibu dan anak. Jika semua ketentuan ini terpenuhi, bayi dapat diberi makan hanya dengan produk pengganti ASI, selama enam bulan pertama, tanpa perlu makanan tambahan ataupun ASI itu sendiri. Hal ini akan menghilangkan risiko penularan HIV kepada bayinya melalui pemberian ASI.

Ibu HIV positif yang telah memutuskan untuk memberi ASI, ia harus memberi ASI secara eksklusif, tanpa harus menambah dengan cairan lain, susu atau makanan lain selama enam bulan pertama. Memberi ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama dapat mengurangi risiko bayi infeksi HIV dibandingkan dengan memberikan campuran ASI dengan makanan dan minuman lain. 

Gabungan pemberian makanan antara ASI dan makanan lainnya tidak saja meningkatkan risiko penularan HIV kepada bayi dalam 6 bulan pertama, tetapi juga menyebabkan berbagai penyakit, seperti diare, pneumonia, gizi salah serta meningkatkan risiko kematian.

Setelah 6 bulan
Semua anak harus diperkenalkan kepada berbagai jenis makanan lain untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan gizi mereka. Ibu yang telah menyusui bayinya pada enam bulan pertama, harus tetap melanjutkan pemberian asinya didampingi dengan makanan lain, kecuali jika mereka terpaksa harus memberikan makanan pengganti seperti susu formula, susu lain dan berbagai makanan. Sekali kebutuhan gizi telah terpenuhi secara aman dengan makan dan minuman selain ASI, maka semua kegiatan pemberian ASI harus dihentikan.

Informasi penting lainnya

Selama konseling, ibu hamil atau ibu baru yang terkena HIV, dapat dibantu untuk menentukan apakah ia akan mampu memberikan makanan yang aman dan bergizi cukup tanpa harus memberikan ASI. Kajian ini tidak cukup dilakukan satu kali saja, misalnya sebelum bayi lahir, tetapi juga dilakukan selama periode pemberian ASI dengan dukungan petugas kesehatan terlatih.

Ibu yang yakin bisa menyediakan susu pengganti dengan kualitas yang cukup, tepat, dan hygienis serta disiapkan dengan menggunakan air bersih, ia dapat menghentikan pemberian ASI nya dan segera mulai menggunakan produk pengganti ASI.

Petugas kesehatan terlatih harus memberikan informasi kepada ibu dan ayah, tentang petunjuk yang aman dan mempraktikkan cara penyiapan pengganti susu yang bersih.

Seorang ibu baru yang tidak tahu status HIV nya, harus memberi ASI secara eksklusif kepada bayinya selama 6 bulan pertama. Pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga bayi berusia dua tahun atau lebih disamping tetap memberikan makanan bergizi dan minuman lainnya. Anak yang sudah tertular HIV harus tetap diberikan ASI agar mereka dapat mendapatkan manfaat dari ASI.

Loading...

Artikel Terkait