Sabtu, 07 Oktober 2017

Bagaimana Cara Pencegahan dan Pengobatan HIV AIDS

Tags

Bagaimana Cara Pencegahan dan Pengobatan HIV AIDS

Tes dan konseling HIV dapat membantu deteksi dini infeksi HIV


Seseorang yang ingin mengetahui bagaimana mencegah infeksi HIV atau apakah dirinya terkena HIV harus menghubungi petugas kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan guna mendapat informasi tentang pencegahan HIV dan/atau nasihat tentang di mana dapat melakukan tes HIV, konseling, perawatan, dan dukungan.

Informasi tentang HIV, pelayanan dan pendidikan untuk mencegah atau mengurangi risiko penularan tersedia hampir di setiap wilayah Indonesia. Informasi bisa didapat di Puskesmas, pusat tes dan konseling, pusat kegiatan remaja, dan sekolah. Informasi juga tersedia melalui internet dan media lain.

Tes dan konseling HIV dapat membantu deteksi dini infeksi HIV. Orang yang terinfeksi dapat:
  1. Memperoleh dukungan yang dibutuhkan.
  2. Menghadapi kemungkinan infeksi lainnya.
  3. Belajar tentang hidup dengan HIV.
  4. Belajar menghindari penularan kepada orang lain.

Siapa pun yang merasa bahwa dirinya terinfeksi HIV harus memeriksakan diri ke petugas kesehatan atau menghubungi pusat penanggulangan HIV untuk mendapat tes dan konseling. iapa pun yang tinggal di daerah penularan HIV dan pernah melakukan hubungan seks yang tidak aman perlu tes dan konseling.

Konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS) dapat membantu memberi informasi tentang HIV dan AIDS serta perilaku seksual mereka juga membantu dalam membantu dalam perencanaan kehamilan. Jika salah satu pasangan terinfeksi HIV, ada risiko pasangannya akan tertular juga.

Jika pasangan suami-istri sedang menantikan kelahiran bayi, mereka perlu tes dan konseling untuk menjaga kesehatan bayi mereka. Konseling dan tes juga dapat membantu mereka yang tidak terinfeksi agar tetap tidak terinfeksi melalui penjelasan tentang cara-cara menghindari risiko, termasuk pilihan seks yang aman.

Ada banyak macam tes HIV, maka perlu minta penjelasan kepada profesional agar tahu tentang tes yang dipakai dan keakuratannya. Jika hasil tes HIV negatif, berarti bahwa orang yang di tes tidak terinfeksi atau terlalu awal mendeteksi virus.

Pada orang dewasa, tes darah HIV mengkin tidak mendeteksi infeksi hingga enam minggu sesudah tertular. Menurut hasil tes, deteksi pada bayi dapat diketahui 18 bulan setelah lahir. Meskipun demikian, diagnosa dini pada bayi (Early Infant Diagnosis/EID) dapat dilakukan pada usia enam minggu.

Keluarga dan masyarakat harus menjaga kerahasiaan hasil tes, konseling, dan informasi HIV. Kerahasiaan membantu melindungi anak-anak, remaja, dan orang dewasa mengalami cap buruk/stigma, diskriminasi, pengucilan, dan pengasingan.

Konseling membantu pemberdayaan perempuan dan remaja putri, mengenalkan pemakaian kondom untuk seks yang aman, dan membantu deteksi dan pengobatan terhadap infeksi menular seksual sekaligus dapat mengurangi terjadinya penularan HIV. Jika seorang perempuan atau remaja putri terdiagnosa HIV dan mempunyai anak atau sedang hamil, maka pertolongan yang diperlukan ditujukan agar dapat melindungi dan merawat anak-anaknya. Kelompok masyarakat pendukung dan organisasi non pemerintah (LSM) dapat memberi bantuan.

Meningkatkan akses dari tes, pengobatan, perawatan, dan dukungan dapat membantu mengurangi cap buruk/stigma dengan membuktikan bahwa HIV bukan ”kartu mati” dan banyak orang yang terinfeksi HIV terlihat sehat, bahagia, dan hidup produktif.

Semua ibu hamil harus mendapat informasi yang benar tentang HIV


Semua ibu hamil, pasangannya, atau anggota keluarga yang terinfeksi HIV, terpapar HIV, serta tinggal di lingkungan dengan penyebaran HIV yang meluas, harus menjalani tes HIV dan konseling tentang bagaimana melindungi dan merawat dirinya sendiri, anak-anak, pasangan, serta anggota keluarga mereka.

Cara paling efektif mengurangi penularan HIV dari ibu kepada bayinya adalah mencegah perempuan terinfeksi HIV. Pelayanan keluarga berencana dan kondom untuk perempuan dan laki-laki sangat diperlukan untuk mencegah penularan HIV.

Di berbagai wilayah Indonesia, khususnya pada wilayah dengan penyebaran HIV yang tinggi, pemeriksaan kehamilan merupakan kesempatan yang baik untuk tes HIV dan konseling . Jika seorang perempuan ditemukan positif HIV, harus mendapat konseling, rujukan, perawatan, dan pengobatan HIV dan pelayanan kesehatan lainnya. Tindakan tersebut dapat membantu ibu mengurangi risiko penularan HIV kepada bayinya.

Perempuan yang positif HIV perlu menganjurkan pasangannya dan anak-anaknya untuk tes dan konseling. Jika hasil tes positif, maka perawatan pengobatan, pencegahan, dan layanan kesehatan bagi ODHA perlu ditawarkan.

Ibu hamil yang terinfeksi HIV harus mendapatkan pengobatan ARV. Ini dapat memperbaiki kesehatannya sendiri dan mengurangi kemungkinan menularkan kepada anaknya.

Risiko penularan HIV kepada bayi dapat dikurangi menjadi kurang dari 2% jika ibu hamil menerima konseling yang komprehensif, pelayanan kesehatan, dan pengobatan ARV selama hamil dan enam bulan pertama setelah melahirkan. Ini merupakan program komprehensif yang disebut pencegahan penularan ibu kepada anak (Prevention of Mother to Child Transmission/PMTCT).

Ibu positif HIV dari bayi baru lahir perlu mendapat informasi dan keterampilan untuk memilih cara pemberian makan bayinya. Dia perlu konseling nutrisi dan pelayanan kesehatan untuk bayi dan dirinya serta memeriksakan bayi dan memberi perawatan keterpaparan HIV. Dia harus tahu bahwa bayi yang lahir dari ibu positif HIV yang tidak memakai obat ARV selama hamil kemungkinannya 1 dari 3 terlahir dengan HIV. Tanpa tindakan intervensi, setengah dari bayi-bayi yang terinfeksi HIV meninggal sebelum usia dua tahun.

Ibu hamil yang terinfeksi HIV perlu tahu bahwa:
  1. Memakai obat ARV selama hamil dapat memperbaiki kesehatan diri dan mengurangi risiko penularan pada bayi.
  2. Perawatan pre natal dan post natal dan pemeriksaan sebelum dan setelah bayi lahir serta perawatan selama hamil dan setelah melahirkan membantu mengurangi risiko penularan kepada bayi.
  3. Mulai memberi kotrimoksasol kepada bayi baru lahir yang terpapar HIV antara usia 4 dan 6 minggu dan melanjutkan hingga infeksi HIV dapat dikendalikan, dapat mencegah penularan (yang terjadi bila sistem kekebalan lemah).
  4. Ada bermacam cara memberi makan bayi, masing-masing dengan keuntungan dan risiko.

Ibu perlu menentukan cara makan bayi yang paling aman dan dapat ditangani oleh ibu sendiri:
  1. ASI eksklusif untuk enam bulan pertama guna perlindungan anak terhadap kematian karena diare, pneumonia, dan malnutrisi dengan risiko tertular HIV melalui pemberian ASI. Risiko penularan HIV kepada bayi lebih rendah dengan ASI eksklusif daripada pemberian makanan campuran (ASI dan makanan serta minuman lain). Risiko juga berkurang dengan memperpendek jangka waktu pemberian ASI dan melanjutkan dengan pengganti yang aman.
  2. Susu formula saja dapat mengurangi risiko penularan HIV melalui pemberian ASI tetapi meningkatkan risiko kematian karena infeksi seperti diare dan pneumonia, terutama pada enam bulan pertama. Ini hanya menjadi pilihan yang baik jika ibu mempunyai akses terhadap air bersih dan memberi susu formula sekurang-kurangnya 12 bulan.
  3. Pemberian ASI enam bulan perlu dilanjutkan hingga tersedia makanan pengganti yang aman dan cukup, termasuk susu formula dan makanan lain. Jika makanan bergizi dan aman sudah dapat diberikan, pemberian ASI harus dihentikan.
  4. Semua bayi, baik yang diberi ASI atau pengganti ASI, harus diberi makanan bergizi sejak usia enam bulan dan seterusnya untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka.


Semua anak yang lahir dari ibu HIV positif wajib tes HIV


Semua anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV positif atau orang tua dengan gejala dan tanda serta kondisi yang terkait dengan penularan infeksi HIV harus menjalani tes HIV. Jika ternyata HIV positif, mereka harus dirujuk untuk mendapat perawatan, pengobatan, serta dukungan.

Makin dini anak di tes, terdiagnosa HIV, dan mulai pengobatan HIV, makin baik kesempatan bertahan, hidup lebih lama, dan sehat.

Petugas kesehatan perlu menganjurkan tes dan konseling HIV sebagai standar pelayanan untuk semua anak-anak, remaja, dan dewasa yang menunjukkan tanda-tanda, gejala, atau kondisi medis yang mengarah kepada infeksi HIV atau yang terpapar HIV.

Anak yang ibunya positif HIV perlu menjalani tes HIV minimal enamminggu setelah dilahirkan, jangan ditunda.Bayi mempunyai antibodi ibunya untuk beberapa minggu setelah lahir sehingga tes standar antibodi tidak akurat untuk mereka. Tes khusus reaksi rantai polymerase (Polymerase Chain Reaction/PCR) diperlukan untuk mengetahui apakah anak mempunyai virus dalam usia enam minggu. Jika positif, anak perlu diobati segera.

Petugas kesehatan dapat membantu menyiapkan terapi ARV yang sesuai untuk anak. Orang tua mendapat konseling dan pelayanan sosial.

Bagian penting dari perawatan HIV dan pengobatan ARV untuk anak adalah dengan pemberian antibiotik kotrimoksasol. Ini dapat mencegah infeksi penyerta HIV, terutama PCP (Pneumocystic Pneumonia). Pengobatannya disebut terapi pencegahan kotrimoksasol atau CPT (Cotrimoxazole Preventive Therapy).

Anak-anak dengan HIV harus diberi ART (Antiretroviral Therapy) dalam kombinasi dosis yang tepat. Ini dapat diberikan oleh petugas kesehatan terlatih yang juga melakukan tindak lanjut. Jika anak sudah bersekolah, sekolah dapat memberi dukungan agar anak makan obat di sekolah.

Sangat diharapkan anak-anak yang mendapat pengobatan ARV makan obat secara teratur sesuai jadwal agar pengobatan tetap efektif.

Anak-anak perlu sehat dan gizi seimbang tetapi jika mereka dalam pengobatan HIV, makanan sempurna sangat penting. HIV atau infeksi penyerta dapat menyebabkan kurang nafsu makan, kesulitan menelan, atau mencerna. Oleh karena itu, perhatian perlu diberikan terhadap gizi anak-anak HIV positif dengan makanan yang berkualitas dan mudah dicerna. Tanpa gizi seimbang, pertumbuhan dan perkembangannya akan terganggu. Hal ini akan menyebabkan lebih banyak infeksi penyerta yang melemahkan kondisi anak dan meningkatkan kebutuhan terhadap gizi.

Jika anak-anak positif HIV cukup dewasa untuk mengerti, mereka perlu dilibatkan untuk memutuskan tentang perawatan medis dan dukungan. Mereka juga harus sadar tentang pentingnya perawatan segera dan pengobatan infeksi. Inilah bagian terpenting untuk mengembangkan kemampuan mereka untuk membuat masa depan yang sehat.

Orang tua harus memberikan informasi tentang HIV


Orang tua atau pengasuh harus membicarakan kepada anak-anak mereka tentang pergaulan yang berisiko terhadap penularan HIV. Remaja puteri dan perempuan muda sangat rentan terhadap penularan HIV. Anak perempuan dan anak laki-laki perlu mengetahui bagaimana menghindari, menolak, atau mempertahankan diri dari penyimpangan seksual, kekerasan, dan tekanan kelompok sebaya. Mereka perlu mengerti pentingnya saling menghargai dalam pergaulan.

Sementara anak-anak harus tahu fakta biologis tentang seks, mereka juga perlu mengerti bahwa hubungan seksual menyangkut perhatian dan tanggung jawab.

Diskusi dan penekanan pada aspek emosional hubungan seks membantu anak-anak membuat keputusan yang sehat dan tidak terpengaruh tekanan kelompok sebaya saat mereka tumbuh dan berkembang. Penting sekali bicara tentang seks dengan cara yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak, serta nilai-nilai yang ditanamkan.

Setiap orang perlu menyadari bahwa remaja puteri dan perempuan ibu muda sangat rentan terhadap infeksi HIV. Mereka perlu dukungan untuk melindungi diri dari seks yang tidak dikehendaki dan tidak aman.

Remaja puteri lebih rentan tertular HIV daripada remaja putra karena:
  1. Mereka mungkin tidak punya pilihan tentang kapan melakukan seks dan memakai kondom.
  2. Selaput vagina mereka lebih tipis daripada perempuan dewasa sehingga mudah untuk terkoyak karena hubungan seksual dan dapat menyebabkan infeksi HIV dan masuknya infeksi menular seksual lainnya.
  3. Mereka kadang-kadang menjadi target atau terlibat hubungan dengan laki-laki yang lebih tua yang kemungkinan terinfeksi.
  4. Mereka rentan menjadi obyek seksual dan perdagangan yang menempatkan mereka pada situasi risiko tinggi.

Remaja puteri dan perempuan mempunyai hak untuk menolak hubungan seks yang tidak dikehendaki dan tidak aman. Mereka juga mempunyai hak untuk mempelajari kecakapan bagaimana menghindari, menolak, atau mempertahankan diri terhadap hubungan seks yang tidak dikehendaki.

Remaja puteri dan perempuan perlu mengetahui apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi jika mereka menjadi korban dari kekerasan seksual. Mereka harus minta bantuan kepada petugas kesehatan atau pergi ke Puskesmas/Rumah Sakit untuk perawatan medis dan konseling. Petugas kesehatan dan pekerja sosial perlu dilatih untuk mengerti bagaimana situasi mereka itu. Informasi tersebut berlaku pula pada anak laki-laki.

Untuk menangani masalah kekerasan secara serius, anak laki-laki dan laki-laki dewasa harus dilibatkan secara aktif dalam menemukan solusi. Keterlibatan mereka dengan remaja puteri dan kaum perempuan diperlukan untuk mencegah kekerasan dan pelecehan seksual, menolak tekanan kelompok sebaya, dan mencapai persamaan gender. Hal ini termasuk pengertian terhadap ketidaksamaan dan ciri khusus gender.

Diskusi di rumah, sekolah, dan masyarakat antara anak-anak, remaja, orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan tokoh panutan lainnya dapat membantu menciptakan sikap dan perilaku yang sehat. Mereka dapat berperan dalam:
  1. Menghormati hak remaja puteri dan kaum perempuan serta hak-hak mereka..
  2. Kesetaraan dalam mengambil keputusan yang tepat dan menjalin hubungan yang sehat.
  3. Mengembangkan keterampilan dalam menghadapi tekanan kelompok sebaya, pelecehan seksual, kekerasan, dan stereotip atau penyamarataan.

Berikan lingkungan yang aman


Orang tua, guru, pimpinan kelompok sebaya, dan tokoh panutan lain harus menyediakan lingkungan yang aman bagi remaja serta aktivitas yang dapat membantu mereka membuat pilihan yang sehat dan mempraktikkan perilaku sehat.

Penting bagi anak-anak untuk tahu tentang HIV sejak dini. Ketika anak-anak menjadi remaja, mereka memerlukan informasi yang jelas dan benar untuk melakukan tindakan pilihan hidup sehat. Ini akan membantu menghindari infeksi HIV dan infeksi menular seksual lainnya.

Remaja perlu dukungan dalam mempelajari keterampilan hidup yang dapat membantu mereka melindungi diri dalam situasi di mana mereka rentan terhadap infeksi HIV. Keterampilan tersebut termasuk pemecahan masalah, pengambilan keputusan, penetapan tujuan, berpikir kritis, komunikasi, bersikap tegas, dan sadar diri. Remaja juga membutuhkan keterampilan dalam menghadapi stres atau situasi yang bertentangan.

Remaja dan kaum muda memandang orang tua, guru, pimpinan kelompok sebaya, dan figur lain sebagai panutan. Tokoh-tokoh panutan itu perlu pengetahuan tentang HIV sehingga mereka dapat berkomunikasi tentang HIV dan keterampilan hidup.

Remaja perlu tahu risiko HIV. Mereka harus tahu cara penularannya melalui seks tidak aman dengan orang yang sudah terinfeksi atau melalui pemakaian jarum yang sudah tercemar atau penggunaan jarum suntik secara bergantian (dalam kasus narkoba suntik). Mereka juga perlu tahu bagaimana HIV ditularkan supaya mereka bisa menolak mitos dan mencegah diskriminasi terhadap ODHA yang dasarnya adalah rasa takut yang tidak beralasan.

Penting untuk mengetahui dan mengurangi risiko dan tertular HIV dari seks tidak aman :
Risiko tertular HIV dapat diturunkan jika tidak melakukan hubungan seks. Jika mereka melakukan hubungan seks, pemakaian kondom laki-laki atau kondom perempuan secara benar dan konsisten begitu penting.

Untuk mengurangi risiko dapat dilakukan
  1. Tidak melakukan hubungan seks sama sekali
  2. Setia pada pasangan
  3. Melakukan seks aman dengan memakai kondom secara benar (sesuai aturan) dan konsisten.

Agar lebih aman lagi, khitan pada laki-laki dapat menurunkan kemungkinan tertular HIV dari perempuan ke laki-laki.

Makin banyak memiliki pasangan seks, makin besar risiko seseorang tertular HIV dan menularkan ke orang lain (jika tidak menggunakan kondom laki-laki atau kondom perempuan secara benar dan konsisten).

Meskipun demikian, siapa pun dapat tertular HIV, tidak hanya mereka yang mempunyai banyak pasangan. Orang yang tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi mungkin membawa virus. Hanya tes yang dapat membuktikan.

Kondom berpelumas merupakan pelindung yang baik untuk hubungan seks. Kondom laki-laki dengan pelumas (cairan pelicin) tidak mudah koyak jika dipakai. Jika pelumas kurang licin perlu ditambah cairan silikon atau gliserin atau jeli yang berbahan dasar air. Pelumas yang tidak tepat bisa merusak kondom.

Kondom untuk perempuan merupakan alternatif aman seperti kondom laki-laki. Kondom perempuan itu lembut, dipakai pada vagina. Ada cincin lembut di setiap ujungnya. Cincin pada ujung penutup dipakai untuk memasukkan dalam vagina; dapat meletakkan kondom tetap di tempatnya selama hubungan seks. Cincin yang lain tetap diluar vagina dan sebagian menutupi labia (bibir vagina).

Sebelum mulai hubungan seks, perempuan memasukkan kondom dengan jarinya. Hanya pelumas berbahan dasar air yang dipakai untuk kondom perempuan berbahan lateks, sedangkan pelumas berbahan dasar air dan berbahan dasar minyak dapat dipakai untuk kondom perempuan yang terbuat dari polyurethane atau lateks tiruan.

HIV dapat menular melalui seks oral, meskipun risikonya lebih kecil dibanding seks vaginal dan anal. Seks oral dapat menularkan infeksi menular seksual yang dapat memacu risiko penularan HIV. Pada kasus seks oral, dianjurkan memakai kondom laki-laki.

Karena infeksi menular seksual dapat menyebar melalui kontak alat kelamin, kondom harus dipakai sebelum mulai kontak alat kelamin.

Minum minuman beralkohol atau memakai narkoba dapat mengganggu akal sehat. Bahkan yang sudah mengerti risiko HIV dan pentingnya seks aman, bisa menjadi ceroboh setelah minum minuman beralkohol atau memakai narkoba.

Orang yang terkena infeksi menular seksual lebih berisiko mendapat HIV dan menularkan HIV kepada orang lain:

IMS, termasuk HIV, adalah infeksi yang menyebar melalui kontak seksual. Penularan dapat terjadi karena pertukaran cairan tubuh (cairan sperma, cairan vagina, dan darah) atau kontak dengan kulit alat kelamin. IMS lebih cepat menyebar jika ada luka.

IMS menyebabkan kerusakan dan penderitaan fisik. Setiap IMS, seperti gonorhoe atau sipilis dapat meningkatkan risiko infeksi dan penularan HIV. Penderita IMS lebih berisiko terinfeksi HIV jika melakukan hubungan seksual tidak aman dengan orang yang terinfeksi HIV.
  1. Orang yang dicurigai menderita IMS harus memeriksakan diri segera untuk didiagnosis dan pengobatan. Mereka harus menghindari hubungan seks atau melakukan seks aman (tidak penetrasi atau memakai kondom perempuan atau laki-laki).
  2. Pemakaian kondom yang benar dan konsisten ketika melakukan hubungan seks vaginal, anal, atau oral dapat menurunkan penyebaran IMS, termasuk HIV.
Orang yang terkena IMS harus memberitahu pasangannya. Sebelum mereka berdua diobati, mereka bisa terus saling menulari. Sebagian besar IMS dapat disembuhkan.

Beberapa gejala IMS
  1. Laki-laki merasa sakit waktu kencing, keluar cairan nanah dari penis, timbul bintil-bintil, bercak-bercak, luka kecil, bengkak pada alat kelamin dan juga dalam mulut.
  2. Perempuan mengalami keputihan yang berwarna dan berbau , sakit dan gatal serta perdarahan pada vagina waktu berhubungan seks dan sesudahnya. Infeksi yang lebih parah menyebabkan demam, sakit perut dan mandul.

Banyak IMS pada perempuan dan laki-laki tidak menunjukkan gejala yang jelas. Tidak semua masalah sekitar alat kelamin adalah IMS . Beberapa infeksi seperti jamur dan infeksi saluran kencing tidak ditularkan oleh hubungan seks tetapi menyebabkan ketidaknyamanan pada alat kelamin.

HIV dapat menyebar karena jarum tidak steril atau jarum suntik yang tercemar, terutama yang dipakai pada pengguna narkoba suntik dan peralatan medis lainnya.

Jarum yang tidak steril atau jarum suntik dapat menularkan HIV dan infeksi lain seperti hepatitis dari satu orang ke orang lain jika tercemar oleh darah yang terinfeksi. Begitu juga jarum yang digunakan untuk menindik harus selalu disterilkan terlebih dahulu.

Pengguna narkoba suntik atau yang melakukan hubungan seks tidak aman dengan mereka berisiko tertular HIV. Pengguna narkoba suntik harus selalu memakai jarum suntik yang steril dan tidak boleh memakai jarum suntik bekas orang lain.

Suntikan hanya boleh diberikan oleh petugas kesehatan terlatih dengan jarum suntik sekali pakai.
Setiap luka yang timbul akibat pemakaian benda yang tidak steril seperti sikat gigi atau pisau cukur dapat menularkan HIV. Alat cukur harus benar-benar steril untuk setiap orang termasuk anggota keluarga. Alat cukur perlu dicuci bersih dengan cairan pemutih yang sudah dicampur air dengan perbandingan 1:10, lalu dibilas dengan air bersih.

Peralatan untuk perawatan gigi, tato, perawatan wajah, tindik telinga atau badan, dan akupuntur tidak aman jika tidak disterilkan untuk setiap orang. Orang yang melakukan pekerjaan tersebut harus berhati-hati menghindari kontak dalam melakukan pekerjaannya.

Anak-anak dan remaja harus berperan aktif dalam pencegahan HIV


Anak-anak dan remaja harus berperan aktif dalam membuat keputusan dan melaksanakan upaya pencegahan HIV, memberikan perhatian, dan dukungan yang berdampak terhadap mereka, keluarga, dan masyarakat.

Anak-anak, remaja, kaum muda, dan keluarga dapat menjadi agen perubahan yang kuat dalam pencegahan HIV dan pendidikan dalam mengurangi cap buruk dan diskriminasi. Mereka harus menjadi pelaku utama dalam menentukan dan melaksanakan penanggulangan HIV.

Anak-anak dan kaum muda dapat meningkatkan kesadaran terhadap HIV dan kepedulian terhadap ODHA. Rasa percaya diri mereka meningkat dalam proses kerjasama dengan kelompok sebaya dan masyarakat.

Forum anak dan kegiatan lainnya membuka kesempatan bagi anak-anak dan kaum muda dalam menggerakkan masyarakat guna menciptakan lingkungan yang mendukung dan peduli terhadap ODHA.

Sekolah dan kegiatan pendidikan non formal dapat membantu anak-anak membentuk kelompok pendukung sebaya dan perkumpulan anak-anak. Ini dapat meningkatkan kebersamaan anak-anak yang dengan dukungan guru-guru atau petugas di masyarakat bertanggung jawab terhadap pencegahan HIV dan pendidikan keterampilan hidup.

Anak-anak, kaum muda, orang tua, pengasuh anak dan keluarga yang terkena dampak HIV dapat memperoleh dukungan dengan ikut serta atau membuat kelompok swadaya, kelompok sebaya dan kelompok pendukung berbasis masyarakat. Kelompok tersebut dapat:
  1. Membuat jejaring sosial yang memberi dukungan psikologis kepada anggotanya.
  2. Berbagi informasi praktis dan membantu keluarga mendapat pelayanan kesejahteraan sosial.
  3. Menawarkan kesempatan kepada para anggota untuk aktif dalam upaya mencari terobosan inovatif untuk pencegahan, perlindungan, perawatan dan dukungan terhadap HIV.

Melalui kerjasama dengan pemerintah setempat, LSM ,organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan dapat membantu kelompok tersebut.

Jika kelompok tersebut membentuk jejaring, mereka dapat membantu menciptakan gerakan untuk meningkatkan kesadaran dan pengertian tentang HIV dan mempromosikan perlindungan, perawatan dan dukungan kepada yatim piatu dan anak-anak yang rentan serta keluarga yang terkena dampak HIV, kegiatan semacam itu dapat membantu menghadapi pengucilan, cap buruk, dan diskriminasi yang dialami oleh ODHA dan keluarganya.


Dukungan dari keluarga


Keluarga yang terkena dampak HIV memerlukan dukungan dana dan layanan kesejahteraan sosial guna membantu mereka merawat anggota keluarga dan anak-anak yang sakit. Keluarga perlu dibimbing dan dibantu untuk mendapatkan layanan tersebut.

Keluarga memberikan respon terdepan dalam melindungi, merawat, dan mendukung anak-anak dengan HIV atau yang terkena dampak HIV. Keluarga dan kerabat menanggung hampir seluruh biaya untuk perawatan anak-anak tersebut.

Keluargalah yang paling mampu memberikan kasih sayang, perlindungan, dan dukungan bagi anak-anak tersebut. Ibu, ayah, atau pengasuh yang terinfeksi HIV memerlukan dukungan untuk bisa hidup lebih lama. Dengan umur panjang dan hidup sehat keutuhan keluarga terjaga.

Sebagian besar anak-anak yang kehilangan satu atau kedua orang tuanya hidup dalam keluarga dengan ekonomi terbatas sehingga perlu bantuan. Sebagian besar pengasuh anak dengan HIV adalah perempuan dan banyak dari mereka juga adalah anak-anak , kaum tua, termasuk nenek.

Kemitraan antara pemerintah dan masyarakat atau swasta atau organisasi berbasis keagamaan dapat memberi dukungan guna memperbaiki situasi ekonomi keluarga yang terkena dampak HIV. Dukungan termasuk kredit mikro, pinjaman bank berbunga rendah, atau bantuan sosial.

Bagaimana mendapat dukungan keuangan, seperti bantuan sosial dan layanan kesejahteraan sosial, harus jelas dan rinci dalam pedoman nasional. Semuanya perlu dikomunikasikan dengan benar, dimengerti, dan dikelola di tingkat lokal. Informasi yang diberikan oleh kelurga ketika mengajukan bantuan sosial harus dijaga kerahasiaannya.

Petugas kesehatan sebagai bagian dari pelayanan kesejahteraan sosial, harus yakin bahwa anakdengan HIV dan ODHA dari keluarga yang sama mendapatkan pelayanan dan dukungan pada fasilitas kesehatan yang sama. Hal Ini menghemat waktu keluarga, tenaga, dan sumber daya.

Pelayanan kesejahteraan sosial dengan dukungan pemerintah, swasta, dan organisasi berbasis keagamaan harus membantu orang tua dan pengasuh mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk merawat anak-anak yang terinfeksi atau terkena dampak HIV.

Jika anak positif HIV, pengasuh perlu bantuan untuk
  1. Tahu tentang infeksi HIV
  2. Tahu bagaimana memberi perawatan dan dukungan kepada anak, termasuk meyakini pemberian pengobatan ARV
  3. Mengurangi rasa takut tertular HIV dari anak tersebut
  4. Tahu bagaimana melindungi diri jika merawat anak tersebut
  5. Mengerti dan menanggapi kebutuhan emosional anak

Anak yang kehilangan orang tua, pengasuh, atau saudara kandung karena AIDS memerlukan dukungan psikologis dari keluarganya dan konseling untuk melewati trauma dan kehilangan. Orang tua atau pengasuh memerlukan dukungan untuk memahami tingkat kesedihan anak sesuai usianya dan dukungan psikososial yang tepat untuk anak.

Orang tua dengan HIV harus memastikan bahwa semua anaknya mempunyai akte kelahiran. Orang tua harus membuat wasiat.
  • Siapa yang menjadi wali bagi anak-anaknya.
  • Jika mereka punya simpanan atau harta bagaimana aset tersebut akan dibagikan. Jika anak-anak sudah bisa mengerti, mereka harus terlibat dalam pengambilan keputusan bersama orang tuanya.

Loading...

Artikel Terkait