Minggu, 08 Oktober 2017

Cara Mencegah Kecelakaan Anak di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat

Tags

Cara Mencegah Kecelakaan Anak di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat

Setiap tahun, hampir 1 juta anak meninggal karena kecelakaan dan lebih dari puluhan juta anak-anak lainnya memerlukan perawatan rumah sakit karena mengalami luka berat. Di antara yang luka berat banyak yang menjadi cacat permanen dan mendapat gangguan fungsi otak.

Di Indonesia angka kematian anak akibat kecelakaan, keracunan dan trauma tercatat 7,3 % pada 1992 dan merupakan salah satu dari lima penyebab kematian anak tertinggi. Kecelakaan darat pada anak – sesuai data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Departemen Kesehatan tahun 2007 – sebesar 19,2% sedangkan kecelakaan lalu lintas jalan raya yang terjadi pada anak sesuai data dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes POLRI) tahun 2009 adalah sebesar 8.601 anak (8,8%). Kecelakaan menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan pada anak-anak.

Kecelakaan yang biasa terjadi adalah jatuh, terbakar, tenggelam dan kecelakaan lalu lintas. Beberapa kasus kecelakaan di Indonesia juga diakibatkan bom atau bahan peledak yang banyak tersisa dari perang dunia dan perang kemerdekaan. Umumnya kecelakaan terjadi di dekat rumah, kecelakaan juga terjadi di sekolah dan lingkungan masyarakat. Hampir semuanya dapat dicegah dan dapat diatasi jika orang tua tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah kecelakaan dan jika terjadi kecelakaan.

1. Banyak kecelakaan anak yang serius dapat dicegah


Banyak kecelakaan yang serius dapat dicegah jika orang tua atau siapa pun yang menjaga anak berhati-hati dan menjaga keamanan lingkungan mereka.

Anak berumur 12 bulan hingga 4 tahun berisiko tinggi terhadap kematian dan kecelakaan. Sebagian besar kecelakaan terjadi di rumah dan hampir semuanya dapat dicegah.

Sebab utama kecelakaan di rumah adalah:
  1. Tertelan benda kecil, seperti koin, kelereng, biji buah-buahan.
  2. Jatuh dari bangku, jendela, meja, dan tangga.
  3. Luka bakar karena api, kompor, oven, panci, makanan panas, air mendidih, uap panas, lemak panas, lampu parafin, setrika, dan peralatan listrik.
  4. Luka potong karena pecahan kaca, pisau, gunting, atau kapak.
  5. Tertelan racun dari parafin atau kerosin, obat serangga, pemutih, dan deterjen.
  6. Terkena setrum karena memegang peralatan listrik atau kabel yang rusak, atau memasukkan pisau atau benda lain ke dalam colokan listrik.

Apa pun yang menyebabkan bahaya pada anak kecil harus disimpan di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan mereka.

Anak di bawah umur sebaiknya tidak diminta untuk bekerja selama berjam-jam atau melakukan sesuatu pekerjaan yang berbahaya. Mereka harus dilindungi dari kerja berat, perkakas yang membahayakan dan paparan dari bahan kimia yang beracun.

2. Anak balita sangat berisiko jika berada di jalan


Anak balita sangat berisiko jika berada di jalanan. Mereka harus selalu diawasi dan diajari perilaku aman di jalanan segera setelah mereka dapat berjalan. Anak kecil tidak berpikir sebelum lari ke jalan, keluarga perlu berhati-hati menjaganya.

Sebaiknya rumah diberi pagar. Anak-anak tidak diperkenankan bermain bola di jalan. Anak-anak harus diajarkan untuk selalu berjalan di tepi jalan.

Jika menyeberang jalan, anak kecil perlu diajarkan untuk:

  1. Berhenti di tepi jalan.
  2. Melihat ke dua arah.
  3. Mendengar suara mobil atau kendaraan lain sebelum menyeberang.
  4. Memegang tangan orang yang lebih dewasa.
  5. Berjalan, bukan lari.

Anak-anak yang lebih tua perlu diajari untuk memperhatikan anak yang lebih kecil dan memberi contoh yang baik.

Kecelakaan sepeda juga menyebabkan kematian. Anak-anak yang bersepeda harus benar-benar terlatih dan tidak lupa memakai tutup kepala (helm). Duduk di bak kendaraan yang sedang berjalan bisa berbahaya bagi anak.

3. Jangan biarkan anak sendirian di sekitar air


Anak dapat tenggelam dalam waktu kurang dari dua menit walaupun airnya tidak terlalu dalam. Sumur dan tempat air harus ditutup. Awasi jika anak sedang mandi, jangan mencebur ke ember besar. Anak harus diajar berenang sejak kecil sehingga tidak mudah tenggelam. Jangan bermain di saluran air. Anak harus dilarang berenang di aliran yang deras dan berenang sendiri. Jika terjadi banjir utamakan keselamatan anak.

4. Anak-anak harus dijauhkan dari api, kompor, lampu, korek api dan peralatan listrik


Luka bakar dapat dicegah dengan cara:
  1. Menjauhkan anak kecil dari api, korek api, dan rokok.
  2. Menjauhkan kompor dari jangkauan anak. Jika memakai tungku terbuka harus ditinggalkan dengan batu bata, jangan langsung di tanah.
  3. Menjauhkan panci-panci panas dari jangkauan anak.
  4. Menjauhkan dari bensin, parafin, lampu, korek api, lilin, penerang, setrika panas, dan kabel listrik dari jangkauan anak.
  5. Jangan menggendong anak sambil membawa air panas atau makanan panas.
Anak dapat tertimpa cedera serius jika mereka memasukkan jari atau benda-benda lain ke dalam colokan listrik. Berilah tutup pada colokan listrik untuk menghindari setrum. Kabel listrik harus dijauhkan dari jangkauan anak. Kabel yang terbuka sangat membahayakan.

5. Jatuh dari ketinggian penyebab utama cedera pada anak


Anak-anak suka memanjat. Karena itu pagar, tangga, balkon, atap, jendela dan tempat bermain harus dibuat aman agar anak tidak jatuh atau cedera. sehingga patah tulang, dan geger otak.

Kecelakaan karena jatuh dapat dicegah dengan:
  1. Melarang anak memanjat.
  2. Memasang pagar pengaman di dekat tangga, balkon, jendela.
  3. Memelihara kebersihan rumah dan mengatur pencahayaan yang baik.
  4. Jangan menaruh kursi dan tempat mainan dekat jendela.

6. Semua racun dan bahan berbahaya jauhkan dari anak-anak


Racun, obat-obatan, pemutih, cairan kimia dan cairan pembakar seperti bensin atau minyak tanah tidak boleh disimpan dalam botol minuman. Semua cairan dan racun harus disimpan dengan tanda yang jelas dan jauh dari penglihatan dan jangkauan anak.

Keracunan sangat berbahaya untuk anak-anak. Cairan pemutih, racun serangga dan racun tikus, parafin, kerosin, dan deterjen dapat mematikan atau mencelakakan anak. Banyak racun yang membahayakan walaupun tidak tertelan. Racun-racun tersebut menyebabkan kerusakan otak, buta, atau cacat, jika :
  • Dihirup, tertelan
  • Terkena kulit anak atau masuk ke mata
  • Masuk ke baju anak
Racun yang disimpan dalam botol minuman, gelas, atau mangkok dapat terminum oleh anak tanpa sengaja. Semua obat, bahan kimia dan racun harus disimpan dalam tempatnya yang asli (botol, kaleng, dll) dan ditutup rapat.

Deterjen, pemutih, cairan kimia, dan obat-obatan jangan sampai dijangkau anak. Bahan-bahan itu harus ditutup rapat dan diberi tanda, disimpan di lemari terkunci atau rak yang tinggi sehingga tak terjangkau oleh anak.

Obat-obatan untuk orang dewasa dapat membunuh anak kecil. Obat hanya diberikan kepada anak kalau resepnya memang untuk anak yang bersangkutan, jangan memberikan obat orang dewasa atau milik anak yang lain. Salah pakai atau terlalu banyak antibiotik dapat menyebabkan tuli pada anak. Aspirin sering menyebabkan keracunan pada anak.

7. Pisau, gunting, benda-benda tajam dan pecahan kaca dapat menyebabkan luka serius


Kantong plastik dapat menyebabkan anak kehabisan nafas. Benda-benda tersebut harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak. Pecahan gelas dapat menyebabkan luka potong, kehilangan banyak darah dan luka infeksi. Botol gelas harus dijauhkan dari jangkauan anak kecil dan jangan sampai ada pecahan gelas di sekitar tempat bermain.

Anak kecil harus dilarang memegang pecahan gelas. Anak yang lebih besar harus diminta untuk membuang pecahan gelas ke tempat yang aman. Pisau, gunting, pisau cukur harus dijauhkan dari jangkauan anak. Anak yang lebih besar harus dilatih menggunakan dan menyimpan benda-benda tersebut dengan aman.

Benda logam yang tajam, alat-alat dan kaleng berkarat dapat menyebabkan infeksi. Tempat bermain harus bersih dari benda semacam itu. Sampah rumah tangga termasuk botol pecah dan kaleng bekas harus dibuang ke tempat yang aman.

Kecelakaan lain di sekitar rumah dapat dicegah dengan mengajarkan anak tentang bahaya melempar batu atau benda tajam dan bermain dengan pisau atau gunting.


8. Anak kecil suka memasukkan benda ke dalam mulutnya


Jauhkanlah benda-benda kecil seperti koin, kelereng, kancing, biji-bijian dan manik-manik dari jangkauan anak-anak agar tidak tertelan.

Anak kecil suka memasukkan benda ke dalam mulut oleh karena itu benda-benda kecil seperti: kancing, manik-manik, uang logam, biji-bijian dan kacang harus dijauhkan dari jangkauan mereka agar tidak tertelan.

Anak kecil jangan diberi kacang, permen yang keras atau makanan bertulang atau berbiji. Anak kecil perlu diawasi pada waktu makan. Sebaiknya makanan anak dipotong-potong atau dihaluskan.
Periksa mainan anak agar tidak ada bagian yang bisa melukai atau tertelan.

Batuk, tersedak, dan nafas berbunyi atau tak bersuara sama sekali adalah tanda akibat menelan sesuatu, hal ini dapat membahayakan. Jika anak mempunyai masalah dengan nafasnya harus dicari kemungkinan apakah menelan sesuatu meskipun bendanya sudah tidak tampak.


9. Anak-anak senang bermain dengan benda di sekitarnya

Anak seringkali tidak menyadari bahwa benda yang ada disekitarnya adalah bahan berbahaya. Beritahukan kepada anak jika menemukan benda asing di tempat bermain, agar jangan menyentuhnya dan segera melaporkan kepada orang tua.

Jika anak menemukan benda yang belum dikenal sebelumnya, mereka biasanya menganggap bahwa benda tersebut dapat dijadikan alat bermain dan terkadang mereka ingin menyimpan benda tersebut tanpa menyadari bahayanya. Bila orang tua mengetahui bahwa benda yang ditemukan anak merupakan bahan peledak atau granat, segeralah melapor pada pihak yang berwajib. Selain itu, anak-anak harus dilarang bermain di sekitar tempat latihan militer.
Mercon atau petasan dapat dikelompokkan sebagai bahan peledak.
Ada semacam tradisi masyarakat Indonesia memasang mercon atau petasan untuk meluapkan rasa kegembiraan, biasanya menjelang hari raya Idul Fitri. Bahkan ada pula kelompok masyarakat yang memasang petasan pada saat pesta perkawinan.

Seringkali bahayanya tidak terpikirkan meskipun sudah banyak kecelakaan yang terjadi karena mercon. Jika terkena pada wajah atau bagian tubuh lainnya dapat mengakibatkan luka bakar. Bahkan sampai pada kematian. Apalagi jika meledak di dalam rumah, dapat terjadi kebakaran besar yang melahap harta penduduk.

Oleh sebab itu sebaiknya orang tua tidak mengijinkan anak-anaknya memasang mercon. Begitu juga diharapkan ada larangan resmi dari pimpinan masyarakat setempat pada warganya yang masih melakukan tradisi memasang mercon atau petasan pada upacara-upacara tertentu.

10. Anak anak harus dikenalkan secara dini budaya tertib berlalulintas di jalan raya


Anak-anak tanpa sadar sering menyeberang sembarangan di jalan raya, tanpa mengindahkan bahaya kecelakaan yang akan terjadi. Menyeberang yang salah dapat menjadi suatu kecelakaan, baik bagi pengendara maupun si penyeberang.
Kecelakaan dapat berakibat luka ringan, luka berat, bahkan kematian pada korbannya.
Untuk mengurangi risiko akibat kecelakaan, maka diperlukan alat pelindung diri (APD), antara lain helm anak untuk kelengkapan dalam berkendara roda dua dan menggunakan sabuk pengaman bagi pengendara roda empat. Hal lain yang perlu diperhatikan sejak dini untuk menghindari bahaya akibat kecelakaan di jalan raya, maka anak-anak harus mengetahui cara menyeberang yang benar, yaitu tengok kanan, tengok kiri, dan tengok kanan lagi.

Selain itu harus mengetahui tempat menyeberang yang aman, yaitu di zebra cross, jembatan penyeberangan. Untuk anak di bawah umur tujuh tahun dilakukan pendampingan saat menyeberang jalan raya. Orang tua atau pendamping anak harus memposisikan anak di bagian yang aman.

Selain cara menyeberang dan tempat menyeberang yang benar, maka anak-anak harus mengetahui secara dini diperkenalkan tentang rambu-rambu lalu lintas. Contoh tanda kendaraan tidak boleh dan boleh berhenti, arti lampu merah, kuning, hijau di perempatan jalan, tanda-tanda tempat menyeberang jalan, dan lain-lain.

Kecelakaan lalu lintas bukanlah takdir, tapi dapat dicegah, khususnya untuk anak-anak agar berperilaku yang benar di jalan raya. Untuk itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan secara dini dalam berlalu lintas yang benar.

Untuk mencegah terjadinya kecelakaan di jalan raya, maka perlu disosialisasikan budaya tertib berlalu lintas pada masyarakat umumnya dan anak-anak pada khususnya.

Artikel Terkait