Jumat, 06 Oktober 2017

HIV AIDS - Definisi, Gejala, Penularan, Pengobatan, Pencegahan

HIV AIDS - Definisi, Gejala, Penularan, Pengobatan, Pencegahan

APAKAH HIV ITU?

HIV adalah nama virus yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficency Virus, yaitu virus atau jasad renik yang sangat kecil yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia terdapat sel-sel darah putih yang berfungsi untuk melawan dan membunuh bibit atau kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh manusia, sehingga manusia tidak jatuh sakit. Inilah yang disebut sistem kekebalan yang merupakan daya tahan tubuh seseorang.

Dalam sel darah putih, atau sistem kekebalan tubuh manusia terdapat sel CD4 (atau disebut juga sel T). Jika ada bibit penyakit, kuman atau virus yang masuk atau menyusup ke dalam tubuh, sel CD4 akan mengenali si penyusup ini, kemudian mengirimkan informasi tentang data-data si penyusup, sehingga tubuh memproduksi sel darah putih yang sesuai untuk menangkal atau membunuh kuman, virus atau bibit penyakit tersebut. Virus HIV yang masuk ke dalam tubuh manusia secara khusus menjadikan sel-sel CD4 sebagai target sasarannya, dengan cara menghancurkan dinding selnya, masuk dan berkembang atau memperbanyak diri di dalamnya, lalu keluar mencari sel CD4 yang lain dan melakukan serangan yang sama, sehingga lama kelamaan tubuh semakin banyak kehilangan sel-sel CD4.

Pada tahap awal serangan, tubuh masih melakukan perlawanan, sel-sel CD4 yang belum terserang mengirim informasi tentang HIV ini, tubuh membentuk sel-sel penangkal untuk menaklukkannya, namun lama kelamaan dengan semakin sedikitnya jumlah sel-sel CD4, mengakibatkan semakin sedikit sel-sel pertahanan yang terbentuk karena rusaknya sistem informasi sel darah putih. Akibatnya jumlah virus semakin banyak dalam tubuh dan semakin menguasai.

APAKAH AIDS ITU?

Pada saat tubuh telah begitu parah kehilangan sel-sel CD4 hal ini berarti orang tersebut telah masuk dalam kondisi AIDS. AIDS adalah sebutan untuk kondisi tubuh seseorang yang sistem kekebalan tubuhnya telah sangat rusak, akibat serangan HIV, sehingga berbagai gejala penyakit ditemukan dalam tubuhnya. AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome yang artinya kumpulan gejala yang diakibatkan hilang atau berkurangnya kekebalan tubuh. Pada kondisi ini tubuh telah sangat parah kehilangan sistem kekebalannya, sehingga segala jenis kuman, virus dan bibit penyakit dapat menyerang tubuh tanpa dapat dilawan.

Bahkan untuk serangan penyakit atau virus yang paling umum seperti influenza yang bagi orang sehat dapat hilang dengan sendirinya tanpa diobati, cukup dengan makan dan istirahat/tidur, tidak demikian halnya dengan orang dalam kondisi AIDS, baginya serangan influenza akan menetap lebih lama dan terasa lebih menyakitkan. Seseorang yang sudah masuk kondisi AIDS, yakni kekebalan tubuhnya sudah rusak parah, akan dengan mudah diserang atau terinfeksi penyakit, bahkan kadang-kadang beberapa penyakit sekaligus.

Keadaan ini disebut infeksi oportunistik, yaitu masuknya penyakit dalam tubuh karena sangat lemahnya daya tahan tubuh. HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.

Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.

BAGAIMANA CARA PENULARAN HIV?

Untuk berada di dalam tubuh manusia, HIV harus masuk langsung ke dalam aliran darah orang yang bersangkutan. Sedangkan di luar tubuh manusia HIV sangat cepat mati. HIV bertahan lebih lama di luar tubuh manusia hanya bila darah yang mengandung HIV tersebut masih dalam keadaan belum mengering. Dalam media darah kering HIV akan cepat mati. Di dalam tubuh manusia, HIV terutama terdapat dalam cairan: darah, cairan kelamin (cairan sperma, bukan spermanya, dan cairan vagina), dan ASI (air susu ibu). Telah terbukti ketiga cairan inilah yang dapat menularkan HIV.

Penularan HIV terjadi jika ada kontak atau percampuran dengan cairan tubuh yang
mengandung HIV, yaitu:
  • Melalui hubungan seksual
  • Melalui darah, yaitu saat penggunaan jarum suntik yang tidak steril diantara pengguna narkoba, dan melalui transfusi darah yang ternyata darah yang ditransfusikan mengandung HIV, darah ibu ke bayi yang dikandungnya dalam rahimnya, dan alat suntik atau benda tajam yang tercemar darah yang mengandung HIV (alat cukur, jarum akupuntur, alat tindik, dll).
  • Melalui ASI, dari ibu yang mengidap HIV kepada bayinya

Dua Penyebab Utama Penularan (transmisi) HIV di Indonesia
  • Hubungan seksual, dan
  • Penggunaan jarum suntik yang tidak steril diantara pengguna narkoba.

APA SAJA HAL-HAL YANG TIDAK MENULARKAN HIV?

HIV mudah mati di luar tubuh manusia, maka HIV tidak dapat ditularkan melalui kontak sosial sehari-hari seperti:
  • Bersenggolan atau menyentuh
  • Berjabat tangan.
  • Melalui bersin atau batuk
  • Berenang bersama
  • Menggunakan WC/toilet yang sama
  • Tinggal serumah
  • Menggunakan piring/alat makan yang sama
  • Gigitan nyamuk atau serangga yang sama
Karena HIV hanya terdapat dalam tiga cairan tubuh: darah, cairan kelamin, dan ASI, dan TIDAK terdapat dalam keringat, air liur/ludah, air seni, dan tinja. Sedangkan nyamuk, disamping HIV tidak hidup dalam tubuh nyamuk, nyamuk hanya mengisap darah orang yang “digigitnya” dan tidak memindahkan darah dari orang yang satu ke orang yang lain.

BAGAIMANA PROSES SEJAK TERINFEKSI HIV SAMPAI MASUK KE KONDISI AIDS?

Secara singkat seseorang yang terinfeksi HIV akan mengalami tahapan yang dibagi dalam 4 stadium:

1. Stadium Satu - window period (Periode Jendela)
  • Stadium ini dimulai sejak saat pertama terinfeksi HIV
  • Tidak ada tanda-tanda khusus, dalam beberapa hari atau beberapa minggu orang tersebut mungkin akan menjadi sakit dengan gejala-gejala mirip flu, yaitu adanya demam, rasa lemas dan lesu, sendi-sendi terasa nyeri, batuk, dan nyeri tenggorokan. Gejala-gejala ini akan berlangsung beberapa hari atau minggu saja, kemudian hilang dengan sendirinya.
  • Jika dilakukan tes darah untuk HIV, hasilnya mungkin negatif, karena belum terdeteksinya antibody HIV dalam darah. Periode ini disebut Periode Jendela (window period) yaitu: sejak masuknya HIV ke dalam tubuh, diikuti dengan perubahan serologis pada darah sampai tes anti-bodi terhadap HIV dinyatakan positif. Lamanya window period adalah 1 sampai 3 bulan, bahkan dapat sampai 6 bulan. Berbeda pada penyakit umumnya karena virus, jika ditemukan antibodi, ini adalah kabar baik karena berarti dalam tubuh ada cukup zat anti yang dapat melawan virus tersebut. Pada HIV kebalikannya, jika ditemukan adanya anti-bodi HIV dalam tubuh, itu adalah konfirmasi adanya HIV dalam tubuh.
  • Meski masih dalam Periode Jendela, hasil tes darah untuk HIV masih negatif, namun orang tersebut sudah dapat menularkan HIV kepada orang sehat lainnya

2. Stadium Dua - Stadium HIV Positif Tanpa Gejala atau Asimtomatik
• HIV telah berkembang biak, dan hasil tes darah untuk HIV dinyatakan positif
• Namun orang tersebut masih terlihat sehat, dan merasa sehat
Pada stadium ini tidak ada gejala yang terlihat, orang tersebut masih terlihat
sama seperti orang sehat lainnya. Hal ini berlangsung rata-rata selama 5-10
tahun.

3. Stadium Tiga - Muncul Gejala
  • Sistem kekebalan tubuh menurun
  • Mulai muncul gejala meliputi Diare kronis yang tidak jelas penyebabnya, pembesaran kelenjar limfe atau kelenjar getah bening secara tetap dan merata, tidak hanya muncul di satu tempat, dan berlangsung lebih dari satu bulan. Flu terus menerus.

4. Stadium Empat – Masuk ke Kondisi AIDS
  • Sistem kekebalan tubuh rusak parah, tubuh menjadi lemah terhadap serangan penyakit apapun.
  • Ditandai dengan adanya bermacam-macam penyakit, meliputi Toksoplasmosis pada otak, Kandidiasis pada saluran tenggorokan (oesophagus), saluran pernafasan (trachea), batang saluran paru-paru (bronchi) atau paru-paru dan Sarkoma Kaposi, dan berbagai kanker.

BEBERAPA JENIS PENYAKIT YANG SERING DITEMUKAN PADA PENGIDAP HIV YANG TELAH MASUK KE KONDISI AIDS


1. Penyakit paru-paru utama
  • Pneumonia pneumocystis (PCP) jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik, tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV.
  • Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi lainnya yang terkait HIV, karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada stadium lanjut infeksi HIV, ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner). Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi pada satu tempat. TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, kelenjar getah bening (nodus limfa regional), dan sistem syaraf pusat. Dengan demikian, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner.

2. Penyakit saluran pencernaan utama
  • Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo).
  • Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium avium complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis).
  • Pada beberapa kasus, diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri. Selain itu, diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Pada stadium akhir infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV

3. Penyakit syaraf dan kejiwaan utama
Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada
syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem
syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri.
  • Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu, yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis), namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru
  • Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan.
  • Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yaitu penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf (akson), sehingga merusak penghantaran impuls syaraf. Ia disebabkan oleh virus JC, yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten, dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar (multilokal), sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis
  • Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia) yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV; dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV, sehingga mengeluarkan neurotoksin
  • Kerusakan syaraf yang spesifik, tampak dalam bentuk ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik, yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV terjadi. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma darah.


4. Kanker tumor ganas (malignan)
  • Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru.
  • Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening, misalnya seperti limfoma Burkitt (Burkitt’s lymphoma) atau sejenisnya (Burkitt’s-like lymphoma), diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL),
  • limfoma sistem syaraf pusat primer, lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma adalah tanda utama AIDS. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi.
  • Kanker leher Rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda uatam AIDS. Kanker ini disebabkan oleh virus papilloma manusia
  • Kanker lainnya, limfoma Hodgkin, kanker usus besar bawah (rectum), dan kaker anus.


5. Infeksi oportunistik lainnya
  • Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo. Virus sitomegalo dapat menyebabkan gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas, dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus), yang dapat menyebabkan kebutaan.
  • Infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis, kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara

APAKAH SEORANG PENGIDAP HIV DAPAT DIKENALI SECARA KASAT MATA?

Tidak, seseorang dengan HIV yang belum masuk ke dalam kondisi AIDS, tidak dapat dikenali hanya dengan dilihat saja, karena mereka akan terlihat normal seperti orang sehat lainnya, dan mungkin dia sendiri tidak tahu bahwa dirinya mengidap HIV. Untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi HIV, harus dilakukan tes darah untuk melihat apakah ada zat anti-bodi HIV dalam darah, yang merupakan bukti terdapatnya HIV dalam darah. Tes ini disebut tes anti-bodi HIV atau tes HIV.

APAKAH PENGIDAP HIV DAN PENDERITA AIDS DAPAT DISEMBUHKAN?

Tidak, sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat menghilangkan HIV dari tubuh manusia. Obat yang ada hanya dapat menghambat perkembangbiakan virus (HIV), tetapi tidak dapat menghilangkan HIV sama sekali dari dalam tubuh. Obat tersebut dinamakan obat antiretroviral (ARV).

TERAPI UNTUK PENGIDAP HIV

Ada beberapa macam obat ARV, penggunaan ARV secara kombinasi (triple drugs) yang dijalankan dengan dosis dan cara yang benar mampu membuat jumlah HIV menjadi sangat sedikit, bahkan sampai tidak terdeteksi. Menurut data Pokdisus AIDS FKUI/RSCM, lebih dari 250 ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS) yang minum ARV secara rutin setiap hari, setelah 6 bulan jumlah viral load-nya (banyaknya jumlah virus dalam darah) tidak terdeteksi.

Meski sudah tidak terdeteksi, pemakaian ARV tidak boleh dihentikan, karena jika dihentikan dalam waktu dua bulan akan kembali kekondisi sebelum diberi ARV. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi antiretrovirus adalah alasan utama mengapa kebanyakan individu gagal memperoleh manfaat dari penerapan ARV.

Terdapat bermacam-macam alasan atas sikap tidak taat dan tidak teratur untuk penerapan pengobatan tersebut, diantaranya karena:
  • Adanya efek samping/dampak pengobatan tidak bisa ditolerir (diare, tidak enak badan, mual, dan lelah)
  • Terapi antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif, dan
  • Infeksi HIV tertentu yang resisten obat,
  • Tingkat kepatuhan pasien, serta
  • Kesiapan mental pasien, untuk memulai perawatan awal.
Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun.

Banyak faktor yang memengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi. Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat.

Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula. Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangan AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

BAGAIMANA CARA MENCEGAH PENULARAN HIV?

Melihat kondisi yang harus dihadapi di atas, pilihan yang paling tepat yang bisa kita lakukan adalah pencegahan – mencegah agar diri kita tidak tertular, dengan berperilaku yang bertanggung jawab baik bagi diri sendiri dan orang lain, menjauhi perilaku yang berisiko, menjauhi situasi dan kondisi yang dapat membuat kita tertular, berperilaku sesuai dengan iman dan norma agama serta adat budaya luhur bangsa kita.

Ada 3 Cara Pencegahan Penularan HIV (termasuk ABCDE)

1. Pencegahan penularan melalui hubungan seksual (ABC)
  • A = abstinence = puasa, yaitu tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Hubungan seksual hanya dilakukan melalui pernikahan yang sah.
  • B = be faithful = setia pada pasangan, yaitu jika telah menikah, melakukan hubungan seksual hanya dengan pasangannya saja (suami atau istri sendiri). Tidak melakukan hubungan seksual diluar nikah.
  • C = using condom = menggunakan kondom, yaitu bagi salah satu pasangan suami atau istri yang telah terinfeksi HIV agar tidak menularkan kepada pasangannya.

2. Pencegahan penularan melalui darah (termasuk DE)
  • D = drugs = tidak menggunakan narkoba, karena saat sakaw (gejala putus obat) tidak ada pengguna narkoba yang sadar akan kesterilan jarum suntik, apalagi ada rasa kekompakan untuk memakai jarum suntik yang sama secara bergantian, dan menularkan HIV dari pecandu yang telah terinfeksi kepada pecandu lainnya.
  • E = equipment = Mewaspadai semua alat-alat tajam yang ditusukkan ke tubuh atau yang dapat melukai kulit, seperti jarum akupuntur, alat tindik, pisau cukur, agar semuanya steril dari HIV lebih dulu sebelum digunakan, atau pakai jarum atau alat baru yang belum pernah digunakan
  • Mewaspadai darah yang diperlukan untuk transfusi, pastikan telah dites bebas HIV

3. Pencegahan penularan dari ibu kepada anak
Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25-45%. Risiko ini semakin besar jika ibu telah masuk ke kondisi AIDS.

Risiko dapat diturunkan jika dilakukan:
  • Intervensi berupa pemberian obat antiretroviral (ARV) kepada ibu selama masa kehamilan (biasanya mulai usia kehamilan 36 minggu);
  • Kemudian ibu melakukan persalinan secara bedah (Caesar); dan
  • Ibu memberikan susu formula sebagai pengganti ASI, karena ASI ibu yang mengidap HIV mengandung virus (HIV).

Loading...

Artikel Terkait