Minggu, 08 Oktober 2017

Masalah Kesehatan Yang Muncul Dalam Kedaruratan

Masalah Kesehatan Yang Muncul Dalam Kedaruratan

Kedaruratan bisa berupa konflik di masyarakat, bencana alam, atau wabah penyakit yang biasanya menyebabkan banyak orang menderita, baik karena akibat langsung dari kedaruratan tersebut maupun akibat tidak langsung seperti terjangkit oleh penyakit, malnutrisi, atau tindak kekerasan. Biasanya anak-anak dan kaum wanita sangat rawan menjadi korban kedaruratan. Dengan informasi dan dukungan yang tepat diharapkan keluarga dan masyarakat dapat siap siaga dan melakukan tindakan yang tepat saat terjadi kedaruratan.

Di Indonesia dalam kurun waktu empat tahun terakhir telah terjadi sekitar seribu kali kejadian bencana. Akibatnya terjadi ribuan orang mengalami luka-luka dan pengungsian sekitar empat juta jiwa.

Bencana alam dapat merusakkan kehidupan keluarga dan melumpuhkan tatanan sosial. Terlebih lagi jika terjadi pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah, potensial terjadi diskriminasi, kejahatan dan tindak kekerasan lainnya.

Dalam beberapa peristiwa di belahan dunia, anak perempuan dan anak laki-laki menjadi sasaran pengumpulan tenaga oleh angkatan bersenjata atau kelompok-kelompok tertentu. Sedangkan para wanita menjadi sasaran kejahatan, perkosaan dan perdagangan manusia.

Konflik dan bencana membuat anak-anak mudah terserang penyakit dan malnutrisi. Akses terhadap pelayanan kesehatan dan pangan menjadi semakin berkurang. Air bersih sangat langka akibat terbatasnya persediaan dan banyaknya jumlah orang yang membutuhkan. Sanitasi menjadi sangat buruk. Anak tak terurus karena ketiadaan sarana pendidikan. Dalam keadaan yang tak terkendali semacam itu risiko penularan penyakit meningkat.

Masalah Kesehatan Yang Muncul Dalam Kedaruratan
  • Dalam kedaruratan baik itu konflik, bencana atau wabah penyakit, kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, ibu hamil, lansia memiliki hak yang sama seperti pada saat kondisi normal.
  • Masyarakat, keluarga dan anak-anak harus mempunyai rencana dan mengetahui langkah-langkah sederhana guna menghadapi kedaruratan di rumah, sekolah maupun masyarakat.
  • Campak, diare, pneumonia, malaria, kurang gizi, dan komplikasi pada bayi baru lahir merupakan penyebab utama kematian anak apalagi di situasi kedaruratan.
  • Wabah penyakit dapat menjadi kedaruratan tergantung tingkat keganasan serangan dan tindakan menghadapinya. Dalam kasus pandemi influenza dan penularan penyakit lain karena kontak perorangan, mereka yang sakit harus dipisahkan dari yang sehat.
  • Ibu-ibu harus tetap memberi ASI meskipun dalam keadaan stres karena kedaruratan.
  • Anak-anak memiliki hak untuk dilindungi dari kekerasan dalam kedaruratan. Pemerintah, LSM, organisasi nasional dan internasional, masyarakat dan keluarga berkewajiban melindungi anak-anak dari kekerasan dalam kedaruratan.
  • Biasanya anak-anak lebih merasa aman jika diasuh oleh orang tuanya sendiri atau pengasuh yang sudah dia kenal. Jika perpisahan terjadi maka segala upaya harus dilakukan agar anak berkumpul kembali dengan keluarganya.
  • Gangguan dan stres karena bencana atau kontak senjata membuat anak takut dan marah. Jika hal itu terjadi, anak memerlukan perhatian khusus dan kasih sayang. Mereka harus berada di tempat yang aman dan diberikan aktivitas yang sesuai usianya. Anak-anak dapat diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kesiapsiagaan serta melakukan pengambilan keputusan untuk menghadapi situasi kedaruratan.
  • Anak-anak berhak mendapat pendidikan meskipun dalam kedaruratan. Berada di sekolah dengan suasana yang aman dan ramah anak dapat membantu memberi rasa normal dan proses pemulihan mereka.
  • Ranjau darat dan senjata yang tidak meledak sangat berbahaya. Sewaktu-waktu dapat meledak, membuat cacat atau mematikan jika disentuh atau terinjak. Keluarga dan anak-anak mereka hanya boleh berada di tempat yang sudah dinyatakan aman dari benda-benda tak dikenal yang membahayakan.

Wabah penyakit dapat menyebabkan kedaruratan atau dengan sendirinya menjadi kedaruratan. Hal tersebut terjadi karena sifat penyakit yang cepat menular dan mematikan serta rendahnya tingkat kesiapan masyarakat dalam menghadapinya. Penyebaran penyakit bisa meluas secara global.

Penyebaran virus influenza jenis baru secara cepat menular ke populasi yang kekebalannya rendah atau sama sekali tidak punya kekebalan. Penyebarannya yang begitu cepat hingga ke seluruh dunia menjadi wabah yang tak terduga. Anak-anak kecil di bawah umur dua tahun sangat menghawatirkan jika terserang influenza atau penyakit infeksi lainnya. Keluarga dan anak-anak mereka perlu mendapat tindakan pencegahan serta informasi dan dukungan yang diperlukan agar siap untuk menghadapi kedaruratan.

Pada kondisi kedaruratan tertentu seperti bencana, seringkali alat maupun saluran komunikasi seperti telpon, telepon genggam dan internet ikut mengalami kerusakan. Solusi pada kondisi demikian adalah penggunaan radio komunikasi atau telepon genggam satelit. Di antara kedua pilihan tersebut, radio komunikasi merupakan pilihan yang paling efisien karena harganya lebih terjangkau dan alatnya pun lebih mudah didapat. Radio komunikasi dapat dimanfaatkan dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam keadaan darurat.

Artikel Terkait