Minggu, 08 Oktober 2017

Penanganan Masalah Kesehatan Dalam Kedaruratan

Penanganan Masalah Kesehatan Dalam Kedaruratan

Dalam kondisi darurat, entah karena penyabab apapun pasti menimbulkan masalah kesehatan. Berbagai masalah harus memerlukan penanganan yang tepat karena dalam kondisi darurat semua kondisi bisa menjadi parah.

Dalam kedaruratan anak-anak, perempuan, ibu hamil, lansia memiliki hak yang sama seperti pada saat kondisi normal


Masyarakat, keluarga dan anak-anak mereka berhak menerima bantuan kemanusiaan dalam kedaruratan. Keluarga dan anak-anak mereka, termasuk perempuan, ibu hamil, lansia yang terpaksa meninggalkan rumah akibat konflik atau bencana harus segera mendapat bantuan agar bisa hidup normal.

Masyarakat dapat mendirikan posko untuk orang-orang yang lemah dan sakit di lokasi yang bebas dari kepentingan militer. Tentara harus memperbolehkan adanya akses bantuan kemanusiaan bagi masyarakat sipil. Petugas kemanusiaan dan pemberi bantuan harus dihormati dan dilindungi.

Kebutuhan khusus bagi para ibu dan remaja puteri dalam situasi kedaruratan harus diperhatikan. Mereka memerlukan suasana pribadi, kebersihan dan perlindungan. Anak-anak yang kehilangan keluarga, ibu-ibu hamil, ibu-ibu dengan anak-anak kecil, ibu kepala rumah tangga, orang-orang cacat dan orangtua memerlukan perhatian khusus sesuai kebutuhan masing-masing.

Pemerintah pusat dan daerah bertanggung jawab terhadap bantuan dan perlindungan kepada anak-anak dan keluarga yang mengungsi. Bantuan dan perlindungan kepada anak-anak dan keluarga dapat diberikan oleh pemerintah, swasta, LSM, Palang Merah, lembaga internasional, dan sebagainya.

Pengungsi berhak pulang dengan selamat kerumah mereka setelah keadaan dinyatakan aman. Hak-hak kepemilikan para pengungsi harus dihormati sehingga mereka dapat membangun hidupnya kembali. Pada saat masyarakat membangun hidupnya kembali pasca kedaruratan, perhatian harus diberikan terhadap pelayanan sosial termasuk kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak dan ibu.

Petugas kemanusiaan yang memberi bantuan kepada masyarakat sipil harus mencegah adanya tindak kekerasan, eksploitasi dan kejahatan. Jika ada kegiatan petugas kemanusiaan yang mengeksploitasi penduduk, harus segera dilaporkan ke instansi terkait dan pemerintah setempat.

Masyarakat, keluarga dan anak-anak harus mempunyai rencana dan mengetahui langkah-langkah sederhana guna menghadapi kedaruratan di rumah, sekolah maupun masyarakat.


Di rumah tangga seluruh keluarga dapat menyiapkan keperluan untuk kedaruratan karena bencana atau konflik. Semua orang harus sadar akan bahaya kebakaran, gempa bumi, banjir, topan dan bencana lainnya termasuk risiko adanya konflik. Kesiapsiagaan akan efektif jika semua anggota keluarga dan masyarakat tahu bagaimana mengurangi risiko mereka dan mengerti tanggung jawab masing-masing. Tempat-tempat yang memungkinkan bahaya dan tempat-tempat yang aman perlu diidentifikasi dan dibuat pemetaan. Setiap anggota masyarakat sekitar harus mendapat informasi dan ikut terlibat dalam perencanaan, serta melakukan tindakan pencegahan, pengurangan dampak (mitigasi) dan kesiapsiagaan.

Sistem peringatan dini kepada masyarakat dan jalur evakuasi untuk penyelamatan dari bahaya harus diketahui dan disosialisasikan. Masyarakat perlu mendapat latihan simulasi tentang tindakan penyelamatan dengan melibatkan anak-anak, sekolah serta keluarga di lingkungan sekitar.
Masyarakat perlu memiliki sarana kesehatan yang siap melayani kedaruratan dan membantu mereka.

Untuk itu petugas kesehatan harus dilatih agar siap melakukan tugas kedaruratan.
Penting sekali mendirikan sekolah di tempat yang aman, dekat dengan tempat tinggal anak-anak dan jauh dari tempat bencana seperti kemungkinan aliran banjir atau tanah longsor. Bangunan sekolah harus baik guna menjamin keselamatan anak-anak dan guru-guru. Pengelolaan sekolah juga harus baik sehingga anak-anak terlindungi dari serangan kekerasan, penculikan dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya.

Guru-guru dan tata usaha sekolah dapat melakukan penyuluhan pada anak-anak, keluarga dan masyarakat agar :
  1. Mengetahui ancaman bahaya alam dan risiko kedaruratan.
  2.  Mengetahui bagaimana mencegah bencana.
  3. Mengetahui bagaimana untuk mengurangi dampak akibat bencana atau kedaruratan tersebut.
  4. Mengetahui apa yang harus dilakukan dalam suatu kedaruratan.

Keluarga termasuk anak-anak harus diperkenalkan dengan peringatan dini adanya bahaya dan paham akan apa yang harus dilakukan ketika melihat atau mendengarnya. Peringatan dini bisa sederhana seperti kentongan, bunyi alarm, bunyi terompet atau bendera berwarna. Tempat yang aman di mana keluarga bisa berkumpul sudah harus diketahui, begitu pula tempat yang aman untuk binatang peliharaan. Ketentuan-ketentuan tersebut membantu mencegah keluarga tercerai-berai.

Anak-anak dapat dilatih untuk menghafal namanya sendiri, nama orangtua dan saudara serta nama desa atau kota tempat tinggal mereka. Mereka juga bisa dilatih mengingat ciri-ciri geografis atau pemandangan alam atau di tempat asal mereka sehingga mudah dibantu jika terpisah dari keluarga mereka.

Paket kedaruratan (emergency kit) untuk keluarga perlu disiapkan untuk keselamatan, isinya termasuk lampu senter, baterai, lilin, korek api, radio, tempat air, dan perlengkapan P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan). Perlengkapan kedaruratan tersebut perlu dicek secara berkala dan siap digunakan setiap diperlukan. Akte kelahiran dan dokumen penting lainnya harus disimpan di tempat yang aman dan mudah dijangkau. Membungkus rapi dalam plastik membantu terhindar dari air atau kerusakan.

Campak, diare, pneumonia, malaria, kurang gizi, dan komplikasi pada bayi baru lahir merupakan penyebab utama kematian anak apalagi di situasi kedaruratan.


Penyakit menular menyebar dengan mudah dalam kondisi lingkungan yang padat seperti di pengungsian. Guna mengurangi terjadinya risiko :
  1. Pastikan bahwa anak umur enam bulan hingga 15 tahun di pengungsian telah mendapat imunisasi lengkap utamanya terhadap campak.
  2. Lanjutkan dengan mendatangi layanan kesehatan guna mencegah atau mengobati penyakit.

Kurang gizi lebih sering terjadi dalam kedaruratan karena keterbatasan pangan, meningkatnya penyakit dan layanan pemeliharaan kesehatan yang kurang baik. Itulah sebabnya penting bagi anak-anak agar:
  1. Mendapat ASI dan jumlah nutrisi yang cukup sesuai umurnya.
  2. Mendapat makanan tambahan untuk menambah nilai gizi.
Anak yang sangat kurus dan atau bengkak-bengkak pada kaki perlu dibawa ke petugas kesehatan yang terlatih atau secara kesehatan agar segera diperiksa serta mendapat pengobatan dan perawatan sesuai statusnya.

Dalam kedaruratan, kurangnya air bersih, sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan dapat menyebabkan penyakit yang kemudian menjadi wabah. Penyakit kolera dapat terjadi karena buruknya sanitasi dan padatnya manusia.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan
  1. Cuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan dan setelah BAB.
  2. Buanglah kotoran manusia di jamban dan jangan buang sampah sembarangan.
  3. Lakukan penyiapan makanan dengan benar.
  4. Pakailah sumber air bersih atau memasak air, menyaring, memberi klorine atau disinfektan dengan panas matahari.
  5. Simpanlah air di tempat yang bersih dan pakai penutup.

Wabah penyakit dapat menjadi kedaruratan


Wabah penyakit dapat menjadi kedaruratan tergantung tingkat kegawatan serangan dan tindakan menghadapinya. Dalam kasus pandemi influenza dan penularan penyakit lain karena kontak perorangan, mereka yang sakit harus dipisahkan dari yang sehat.

Dampak kejadian luar biasa suatu penyakit bergantung kepada gawatnya penyakit serta tindakan pemerintah, masyarakat dan perorangan. Wabah influensia virus baru dapat menyebar dengan cepat melalui populasi yang tingkat kekebalannya rendah atau sama sekali tidak kebal terhadap virus baru tersebut.

Influenza disebut sedang atau gawat sesuai dengan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkannya. Kejadian luar biasa bisa datang dan pergi berulang-ulang setiap waktu. Tingkat kegawatan dapat berubah menjadi wabah dan tak mudah diperkirakan.

Influenza musiman atau tahunan menyebabkan kematian pada orang-orang berusia diatas 65 tahun. Sedangkan wabah influenza menyebabkan sakit dan kematian pada kelompok umur lebih muda. Baik pada wabah atau influenza musiman, risiko komplikasi dan kematian meningkat untuk ibu hamil dan anak di bawah dua tahun. Anak-anak di atas dua tahun tingkat infeksinya tinggi tetapi cenderung tidak menjadi gawat.

Gejala influenza termasuk demam tinggi, batuk, radang tenggorokan, ngilu-ngilu di badan, sakit kepala, menggigil, lemas, muntah dan diare. Dalam beberapa kasus influenza dapat menjadi pneumonia dan sesak nafas.

Dalam kejadian luar biasa influenza atau infeksi lainnya, beberapa langkah untuk membantu melindungi anak-anak dan keluarga-keluarga adalah:
  1. Tinggal di rumah jika sakit, dan jauhi orang lain.
  2. Kenali gejala-gejala dan tanda-tanda yang membahayakan, apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi untuk mendapat pertolongan jika sakitnya menjadi gawat.
  3. Cuci tangan setiap kali dengan air dan sabun.
  4. Pakai tisu jika batuk atau bersin dan buanglah tisu di tempat yang aman.
  5. Jangan meludah dekat anak-anak atau di tempat umum.

Dalam kejadian luar biasa apabila ada seseorang terinfeksi yang berakibat serius, agar tidak menularkan kepada orang lain, perlu mencegah penularan dengan cara :
  1. Ambil jarak kira-kira satu meter dengan orang lain, terutama jika batuk, bersin atau kurang sehat.
  2. Tinggal di rumah dan hindari berkumpul dengan banyak orang dan bepergian.

Dalam kejadian luar biasa yang meluas beberapa orang mungkin memerlukan berada di rumah sakit untuk perawatan dan mencegah penyebaran infeksi. Namun demikian untuk sebagian banyak orang akses untuk perawatan mungkin terbatas.

Cara merawat orang sakit di rumah dan mencegah penyebaran infeksi di rumah tangga.
  1. Berikan ruang khusus untuk yang sakit di rumah.
  2. Tugaskan satu orang saja untuk mengawasi yang sakit.
  3. Berikan makanan dan minuman yang cukup untuk yang sakit.

Ibu-ibu harus tetap memberi ASI meskipun dalam keadaan stres karena kedaruratan


Sering kali orang percaya bahwa dalam kedaruratan tidak boleh atau tidak dapat memberikan ASI karena kondisi ibu stres atau kurang gizi. Hal tersebut tidak benar. Ibu-ibu yang kurang makan atau tidak mendapat gizi yang cukup masih tetap dapat memberikan ASI. Mereka perlu diberi makanan dan minuman tambahan guna melindungi kesehatan diri dan anaknya. Bapak-bapak dan anggota keluarga yang lain dapat memberi dukungan kepada ibu-ibu menyusui dengan menyiapkan makanan dan mengasuh anak.

Stres memang dapat menghambat keluarnya ASI tetapi tidak menghentikan produksi ASI jika ibu dan bayi tetap bersama dan melanjutkan pemberian ASI. Tempat istirahat yang tenang di tenda pengungsian atau penampungan sementara dapat membantu ibu-ibu merasa nyaman.

Pemberian ASI tidak mungkin dilakukan dalam beberapa kasus. Misalnya anak yang terpisah dengan ibu mereka, ibu yang sedang sakit keras, ibu yang pernah menghentikan pemberian ASI, ibu yang tidak sanggup lagi memberi ASI dan ibu yang positif HIV dan sudah memiilih untuk tidak memberi ASI.

Pengganti ASI tidak boleh dibagikan secara bebas tanpa pengawasan bersama makanan lain yang tidak perlu perhatian khusus. Bagaimana pun ASI tidak tergantikan sebagai pelindung terbaik untuk bayi terhadap penyakit dalam kedaruratan.

Anak-anak memiliki hak untuk dilindungi dari kekerasan dalam kedaruratan


Pemerintah, LSM, organisasi nasional dan internasional, masyarakat dan keluarga berkewajiban melindungi anak-anak dari kekerasan dalam kedaruratan. Dalam suasana konflik atau bencana, perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak perempuan dan anak laki-laki agar tidak menjadi korban tindak kekerasan.

Beberapa tindak kekerasan langsung berhubungan dengan kedaruratan, seperti penculikan, penyiksaan, pemukulan, kekerasan di rumah tangga, luka-luka karena perkelahian dengan aparat atau antarkelompok di masyarakat. Kedaruratan juga meningkat karena tawuran, perkelahian di sekolah atau kekerasan di antara anak-anak itu sendiri.

Perempuan dewasa dan anak-anak dapat menjadi korban perdagangan orang, kejahatan seks termasuk perkosaan yang kadang-kadang memang dipakai untuk memicu kerusuhan. Tentu saja hal tersebut tak dapat diterima. Segala upaya harus dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah supaya hal-hal tersebut tidak terjadi. Perempuan dewasa dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan memerlukan perawatan kesehatan, perawatan psikologis dan konseling. Beberapa di antaranya membutuhkan dukungan agar dapat kembali ke keluarga mereka.

Dalam konflik bersenjata anak-anak harus mendapat perlindungan. Mereka jangan sampai dijadikan anggota tentara atau kelompok bersenjata. Jika anak-anak ditahan, mereka tidak boleh disakiti dan dicelakai. Mereka harus dipisahkan dari orang dewasa atau tetap dengan keluarganya serta menerima proses hukum yang adil. Jika anak perempuan atau anak laki-laki menjadi korban kekerasan, mereka harus mendapat hak untuk mencari keadilan yang mempertimbangkan pandangan mereka sebagai anak-anak.

Penting sekali agar anak-anak dan keluarga melaporkan pelanggaran terhadap hak-hak atau kejahatan terhadapanak kepada yang berwajib, jika dipandang aman untuk melakukannya. Pelanggaran serius terhadap terhadap anak termasuk pembunuhan anak, memanfaatkan anak sebagai tentara, kekerasan seksual dan penculikan anak harus dilaporkan hingga ke badan kemanusiaan internasional.

Anak lebih merasa aman diasuh oleh orang tuanya sendiri


Jika perpisahan terjadi maka segala upaya harus dilakukan agar anak berkumpul kembali dengan keluarganya. Dalam kedaruratan, pemerintah berkewajiban untuk memastikan bahwa anak-anak tidak dipisahkan dari keluarga atau pengasuhnya.

Jika terjadi pemisahan, pemerintah bertanggung jawab terhadap perlindungan dan perawatan anak-anak tersebut. Mereka harus mencatat anak-anak yang sebatang kara, terpisah dari keluarganya atau menjadi yatim piatu dan selanjutnya memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Segala upaya perlu dilakukan guna menentukan keluarga anak dan mempersatukan kembali mereka jika hal itu memang yang terbaik untuk anak.

Anak-anak yang terpisah dari keluarga perlu mendapat perawatan sementara yang baik. Jika memungkinkan perawatan sementara dilakukan oleh kerabat atau keluarga yang dikenal anak sampai ia dapat dipersatukan kembali dengan orangtua atau kerabat atau diasuh oleh orang tua angkat. Sebaiknya saudara kandung diasuh bersama.

Jika seorang anak untuk sementara tinggal dengan keluarga angkat maka pihak yang bertanggung jawab perlu memikirkan perawatan dan kesejahteraan anak. Di samping itu harus dipastikan bahwa keluarga angkat diberi sarana agar dapat memberi perawatan yang memadai.

Anak-anak yang terpisah dari orangtuanya karena kedaruratan tidak boleh dianggap yatim piatu. Mereka tidak boleh diadopsi. Selama nasib orangtua si anak dan atau saudara dekatnya belum dapat dipastikan, anak yang terpisah itu harus dianggap punya orangtua atau saudara yang masih hidup.

Perawatan anak dalam jangka panjang perlu direncanakan selama kedaruratan. Setelah periode investigasi, jika orang tua atau kerabat tidak dapat dilacak atau bahkan tidak ada yang tersisa untuk memelihara si anak, harus dicarikan orang tua angkat atau diadopsi. Panti asuhan harus menjadi pilihan terakhir.

Pindah ke masyarakat baru atau negara lain dapat membuat stres, apalagi jika keluarga anak tersebut menjadi korban kekerasan atau suatu bencana. Anak-anak yang menjadi pengungsi kadang-kadang harus belajar bahasa dan kebudayaan baru. Seringkali sekolah dan organisasi masyarakat dapat membantu anak-anak dan keluarganya menghadapi transisi dan integrasi dalam masyarakat mereka yang baru.

Gangguan dan stres karena bencana atau kontak senjata membuat anak takut dan marah


Jika hal itu terjadi, anak memerlukan perhatian khusus dan kasih sayang. Mereka harus berada di tempat yang aman dan diberikan kegiatan yang sesuai usianya. Anak-anak dapat diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kesiapsiagaan serta melakukan pengambilan keputusan untuk menghadapi situasi kedaruratan.

Perasaan dan perilaku anak dapat dipengaruhi oleh rasa takut, rasa sakit atau pengalaman yang mengerikan. Tiap anak bisa menunjukkan reaksi berbeda-beda. Sebagian dari mereka ada yang kehilangan minat terhadap kegiatan sehari-hari, menjadi kasar atau menjadi penakut. Beberapa anak lainnya terlihat tenang, namun sebenarnya menyembunyikan perasaan takut.

Orang tua atau pengasuh, teman sebaya, guru dan anggota masyarakat menjadi sumber yang penting dalam memberi dukungan dan rasa aman pada anak-anak. Keluarga dan masyarakat dapat membantu anak-anak yaitu dengan:
  • Mendengarkan dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengutarakan apa yang mereka pikirkan, berperan serta dalam mengambil keputusan dan mencari solusi.
  • Menyediakan informasi yang sesuai umur anak- guna membangun keyakinan dan memberi dukungan emosional.
  • Segera menciptakan suasana dan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari.
  • Menyediakan kegiatan anak yang menyenangkan sesuai umurnya seperti kesenian dan olahraga.
  • Memberi kesempatan kepada anak untuk bermain dan bersosialisasi.
  • Memberi kesempatan kepada anak sesuai umurnya untuk berperan serta dalam kegiatan kedaruratan seperti mengajar dan merawat anak-anak yang lebih kecil.
  • Membuat tata tertib yang jelas agar anak-anak berperilaku pantas dan hindari hukuman fisik.
  • Menyediakan tempat yang cukup nyaman bagi anak-anak dan orangtua untuk bersosialisasi sekaligus belajar keterampilan hidup dan akses terhadap pelayanan dasar
  • Membantu anak agar dapat menangani stres.

Jika anak-anak menunjukkan reaksi stres yang berlebihan dan tidak cepat pulih, mereka perlu mendapat pertolongan khusus dari konselor, psikolog, perawat atau dokter spesialis.

Anak-anak berhak mendapat pendidikan meskipun dalam kedaruratan


Berada di sekolah dengan suasana yang aman dan ramah anak dapat membantu memberi rasa normal dan proses pemulihan mereka. Adanya kebiasaan rutin yang tertib seperti jam sekolah, waktu makan dan tidur dapat memberikan rasa aman dan tenteram kepada anak-anak.

Suasana kebersamaan di sekolah dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan dan menghilangkan rasa cemas dalam kedaruratan. Dengan dukungan dari keluarga dan masyarakat para guru dan penyelenggara sekolah dapat membantu:
  • Memberi rasa aman kepada anak-anak untuk belajar dan bermain.
  • Memberi dukungan psikososial kepada anak-anak yang stres, trauma atau terpisah dari orang tua.
  • Memberi kegiatan sehari-hari yang dapat menyemangati harapan masa depan setelah kedaruratan.
  • Memberi keterampilan mengenal huruf dan angka.
  • Melatih keterampilan dasar untuk pertolongan pertama gangguan kesehatan.
  • Menyediakan tempat untuk berekspresi melalui permainan, olahraga, musik, drama, dan seni.
  • Membantu anak-anak kembali ke sekolah dan masyarakat.
  • Menjadi pendukung jejaring dan interaksi dengan keluarga dan antarkeluarga.
  • Memberi pengertian tentang hak asasi manusia dan keterampilan untuk hidup damai.
  • Membangun kesadaran untuk memelihara lingkungan dan keterampilan sederhana mengurangi risiko bencana.
  • Melatih anak-anak mengenal situasi, mengemukakan pendapat dan melakukan tindakan dalam hal-hal tertentu yang penting untuk mereka.

Para guru memerlukan latihan dan dukungan agar dapat memahami dan menangani anak-anak yang mengalami stres, kehilangan serta reaksi terhadap kedaruratan. Mereka harus dapat memberikan dukungan emosional, mental dan spiritual kepada murid-muridnya dan membimbing keluarga agar melakukan hal yang sama terhadap anak-anak mereka.

Masyarakat dan sekolah dapat pada pula membantu penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang sifatnya menghibur anak-anak di luar jam sekolah. Banyak kesempatan dapat dipakai untuk menyelenggarakan permainan anti kekerasan, olah raga dan bentuk rekreasi lainnya. Komunikasi dan interaksi antara anak-anak yang sebaya perlu digalakkan. Pemanfaatan seni seperti melukis, atau sandiwara boneka dapat membantu anak-anak kecil mengungkapkan pikirannya sesuai pengalaman mereka.

Orang tua, pengasuh, atau lainnya perlu menjaga anak-anak yang sakit flu atau penyakit infeksi lainnya di rumah atau tempat yang disediakan jika dalam pengungsian. Dalam kasus wabah yang menyebar cepat dari orang ke orang, diperlukan tindakan yang tepat dari pemerintah setempat untuk melindungi anak-anak.

Dalam ukuran kesehatan masyarakat, sekolah perlu diliburkan untuk mengurangi penyebaran penyakit. Dalam beberapa kasus, pendidikan tetap berjalan dengan strategi alternatif. Hal tersebut memerlukan perencanaan yang baik dan tindak lanjut oleh pendidik bekerjasama dengan orang tua murid.

Ranjau darat dan senjata yang tidak meledak sangat berbahaya


Sewaktu-waktu dapat meledak, membuat cacat atau mematikan jika disentuh atau terinjak. Keluarga dan anak-anak mereka hanya boleh berada di tempat yang sudah dinyatakan aman dari benda-benda tak dikenal yang membahayakan.

Ranjau darat adalah senjata pertahanan yang dapat meledak untuk membunuh, melukai, menghancurkan atau merusak kendaraan. Senjata artileri yang tidak meledak atau disebut UXO adalah segala macam amunisi seperti bom, peluru, mortir atau granat yang sudah digunakan tetapi gagal meledak.

Ranjau darat dan UXO memiliki berbagai macam bentuk, ukuran, dan warna. Ada yang dikubur dalam tanah, diletakkan di permukaan tanah atau disembunyikan di rerumputan, pepohonan atau air. Ada yang bersinar dan berkilau, ada pula yang kotor dan berkarat tetapi semuanya berbahaya dan harus dijauhi setiap saat.

Ranjau darat biasanya tidak terlihat. Perlu waspada jika berada di tempat yang pernah ada kegiatan militer atau di tempat-tempat yang ditinggalkan penghuninya atau tidak terawat. Tempat-tempat berbahaya biasanya diberi tanda misalnya dengan gambar tengkorak dan tulang yang bersilang, batu-batu yang dicat merah atau tanda-tanda lain yang menarik perhatian dan mudah dikenal sebagai tanda bahaya oleh penduduk setempat.

UXO lebih mudah terlihat ranjau darat karena warna dan bentuknya sangat menarik bagi anak-anak, tetapi jelas sangat berbahaya karena dapat meledak jika disentuh atau ada perubahan temperatur. UXO lebih sering menyebabkan kematian daripada ranjau darat.

Anak-anak harus diberitahu untuk tidak menyentuh benda-benda yang tak dikenal. Mereka harus diberi pengertian agar tidak menyentuh benda-benda yang kelihatan mencurigakan dan langsung melapor kepada orang dewasa yang mereka kenal atau petugas pemerintah setempat.

Berhati-hatilah melakukan perjalanan. Bertanyalah kepada penduduk setempat terutama jika akan melewati jalan yang mungkin menjadi tempat pembuangan senjata. Lebih aman melalui jalan-jalan umum yang biasa digunakan oleh orang banyak.

Ranjau, UXO, atau senjata-senjata yang ditinggalkan biasanya berada di gedung-gedung tua yang terbengkalai, jalan raya, dan jalan setapak yang tidak dipakai lagi, lapangan yang tidak tera

wat, pangkalan, markas atau pos militer, baik yang masih atau sudah tidak dipakai lagi, selokan atau parit. Keluarga dan anak-anak harus diberitahu agar menjauhi tempat-tempat semacam itu. Harus ada tindakan agar mereka berada jauh dari situ.

Anak-anak dan keluarganya harus tahu apa yang harus dilakukan jika melihat ranjau atau UXO. Mereka harus:
  1. Diam di tempat dan memberitahu orang yang lain.
  2. Hindari rasa panik.
  3. Jangan bergerak.
  4. Minta tolong.
  5. Jika tidak ada pertolongan, pikirkan dahulu sebelum dengan sangat hati-hati berjalan kembali secara perlahan ke jalur yang sebelumnya ditempuh.

Jika terjadi kecelakaan karena ranjau darat atau UXO
  1. Tekanlah kuat-kuat bagian yang mengeluarkan darah hingga pendarahan berhenti.
  2. Jika pendarahan tidak berhenti ikatlah secepatnya dengan sehelai kain atau perban di bagian yang luka lalu panggil petugas kesehatan.
  3. Jika pertolongan terlambat lebih dari sejam, periksalah pembalutnya setiap jam untuk melihat luka pendarahan. Jika pendarahan telah berhenti, lepaskan balutan
  4. Jika korban masih bernafas tetapi tidak sadar, gulingkan orang tersebut agar lidahnya tidak menutup jalan nafas.
  5. Bawalah ke petugas kesehatan.

Pemerintah dan pihak yang berwenang setempat bertanggung jawab terhadap keselamatan masyarakat anak-anak dan keluarga mereka. Penjinak bom yang profesional adalah solusi terbaik demi memastikan keselamatan semua orang.

Artikel Terkait