Rabu, 04 Oktober 2017

Penggunaan Obat Pada Masa Kehamilan Dan Menyusui

Tags

Penggunaan Obat Pada Masa Kehamilan Dan Menyusui

Penggunaan obat pada wanita hamil memerlukan pertimbangan lebih khusus karena resiko tidak hanya pada ibu saja, tetapi juga pada janin yang dikandungnya.Resiko yang paling dikhawatirkan adalah timbulnya kecacatan pada janin atau bayi yang lahir nantinya, baik berupa cacat fisik maupun cacat fungsional. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah manfaat dari penggunaan obat lebih besar dari pada resikonya, sehingga ibu dapat melahirkan dengan sehat dan selamat.

Tidak ada obat secara mutlak dianggap aman untuk digunakan pada masa kehamilan. Efek teratogenik tidak hanya dalam bentuk kecacatan fisik saja, tetapi juga pertumbuhan yang terganggu, karsinogenesis, gangguan fungsional atau mutagenesis. Kecacatan janin akibat obat diperkirakan sekitar 3% dari seluruh kelahiran cacat.

Resiko paling tinggi untuk menimbulkan efek teratogenik adalah pada masa trisemester I, lebih tepatnya minggu ketiga sampai dengan minggu ke delapan dimana sebagian besar organ utama dibentuk. Setelah minggu kedelapan jarang terjadi anomali struktur karena organ utama sudah terbentuk dalam fase ini.

Pada trisemester II dan III, efek teratogenik lebih kepada kecacatan fungsional, contohnya penggunaan obat ACE inhibitor pada trisemester II dan III akan menyebabkan hipotensi pada janin.

Obat yang diberikan pada wanita hamil umumnya dapat melalui plasenta. Transfer obat melalui membran plasenta terjadi secara difusi pasif. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses transfer ini adalah : konsentrasi obat dalam darah ibu, aliran darah plasenta, sifat fisikokemia obat (berat molekul rendah, obat yang larut dalam lemak, non-polar dan tidak ter ionisasi akan lebih mudah melewati membran plasenta), hanya obat yang berada dalam bentuk bebas dari ikatan protein yang dapat melewati membran plasenta.

Penggolongan tingkat keamanan penggunaan obat pada wanita hamil berdasrkan FDA Amerika Serikat banyak dijadikan acuan dalam mempertimbangkan pengggunaan dalam praktik yaitu:
  • Kategori A: penelitian terkontrol menunjukkan tidak ada resiko. Penelitian terkontrol dan memadai pada wanita hamil tidak menunjukkan adanya resiko pada janin
  • Kategori B: tidak ada bukti resiko pada manusia. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya resiko tetapi penelitian pada manusia belum memadai
  • Kategori C: resiko tidak dapat dikesampingkan. penelitian pada manusia tidak memadai, penelitian pada hewan menunjukkan resiko atau tidak memadai
  • Kategori D: resiko pada janin terbukti positif, baik melalui penelitian atau post-merketing study
  • Kategori X: kontra indikasi pada kehamilan. Penelitian pada hewan atau manusia, atau data post marketing studymenunjukkan adanya resiko pada janin yang secara jelas merugikan dibanfingkan manfaat

Prinsip peggunaan obat pada masa kehamilan
  • Sedapat mungkin hindari menggunakan obat terutama pada trsmester pertama kehamilan upayakan terapi non farmakologi.
  • Obat hanya diberikan jika jelas diperlukan dengan mempertimbangkan manfaat dan resikonya.
  • Hindari obat baru karena datanya masih terbatas.
  • Pilih obat dengan profil keamanannya yang sudah diketahui.
  • Utamakan monoterapy.
  • Gunakan dengan dosis efektif yang terendah tetapi perlu juga diingat bahwa perubahan fisiologis ibu selama kehamilan mengubah farmakokinetika obat sehingga pada beberapa obat mungkin perlu peningkatan dosis untuk memeprtahankan kadar terapeutiknya
  • Gunakan obat dengan durasi sesingkat mungkin.
  • Hindari obat yang bersifat teratogen pada wanita usia produktif.
  • Jika obat yang digunakan diduga kuat dapat menyebabkan kecacatan maka lakukan USG.

Penggunaan obat herbal pada masa kehamilan Penggunaan obat herbal semakin meningkat pesat dibanyak negara didunia. Dibanyak negara obat herbal peraturannya tidak seketat obat sehingga pemantauan efek sampingnya pun tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Tambahan pula tidak banyak laporan efek sampingnya yang dipublikasikan, akibatnya sulit untuk mendapatkan informasi mengenai efek samping obat herbal, khususnya pada penggunaan selama kehamilan.

Kita mungkin menganggap obat herbal adalah produk “alamiah” sehingga bebas dari resiko efek samping, namun kenyataannya penggunaan obat herbal pada masa kehamilan tidak sepenuhnya bebas dari resiko baik terhadap ibu maupun janin. Meskipun hubungan sebab-akibat dari laporan kasus yang dipublikasikan masih belum dapat dipastikan, sebaiknya kita waspada dan menganggap bahwa penggunaan obat herbal dikontraindikasikan selama kehamilan.

Penggunaan obat masa menyusui
Obat hanya digunakan jika diperlukan dan pengobatan tidak dapat ditunda. Faktor yang harus diperhatikan:
  • Pemilihan obat
    • Pertimbangkan apakah obat dapat diberikan secara langsung dengan aman pada bayi
    • Pilih obat yang sedikit melalui ASI dengan memprediksikan ratio-M/P paling rendah.
    • Hindari formulasi obat yang long action.
    • Pertimbangkan rute pemberian obat yang dapat menurunkan ekskresi obat kedalam ASI
    • Jika memungkinkan hindari penggunaan jangka lama.
  • Waktu menyusui
    • Hindari menyusui selama konsentrasi obat mencapai puncak plasmanya.
    • Jika memungkinkan rencanakan menyusui sebelum pemberian dosis obat berikutnya
  • Pertimbangan lain
    • Selalu mengamati bayi terhadap tanda-tanda yang tidak biasa atau gejala kliniknya (seperti: sedasi, iritasi,rash, menurunkan nafsu makan, kesukaran menelan)
    • Tidak melanjutkan menyusui selama terapi obat jika resiko terhadap bayi lebih berat.
    • Berikan pengetahuan yang cukup kepada pasien untuk meningkatkan pemahaman terhadap factor-factor yang beresiko.

Loading...

Artikel Terkait