Sabtu, 22 Desember 2018

Pantangan Gondongan yang Harus Dihindari Agar Cepat Sembuh

Apa Itu Gondongan?

Gondongan adalah suatu penyakit dimana terjadi pembengkakan pada kelenjar parotis yang dikarenakan oleh infeksi virus kelompok paramyxovirus. Penyakit ini banyak menyerang anak-anak, yang ditandai dengan membesarnya ruang muka sisi bawah, dan di sekitaran telinga. Gondongan termasuk penyakit yang dapat menular..

Gondongan dapat menular lewat ludah, jadi orang sehat yang terkontaminasi ludah pasien gondongan kemungkinan dapat tertular. Ludah dapat menyebar ke orang yang lain lewat batuk, bersin, atau bertukar alat makan. Penyebaran penyakit ini cepat sekali, cuma beberapa waktu saja. Karena itu supaya tidak tertular, sebaiknya hindari kontak dengan anak yang terserang gondongan.

Tanda dan Gejala Gondongan

Orang yang terkena gondongan ditandai dengan adanya pembengkakan pada kelenjar parotis, Selain itu terdapat juga tanda dan gejala lainnya sebagai berikut:
  • Wajah bagian bawah tampak bengkak
  • Nyeri saat mengunyah dan menelan makanan
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri perut
  • Lelah, dan tidak nafsu makan.

Jika anak mengalami gejala seperti di atas sebaiknya segera periksa ke dokter supaya memperoleh diagnosis serta therapy yang tepat. Meskipun bukan adalah penyakit yang serius, serta bisa pulih dengan sendirinya, memperiksakan anak ke dokter bisa mengetahui apakah anak betul-betul terserang gondongan atau tidak. Sehingga penanganan yang dilakukan tepat.

Pengobatan Gondongan 

Tidak ada obat yang dengan spesifik bisa mengobati gondongan, penyakit ini bisa pulih sendiri dengan adanya sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan seperti hindari makanan asam, banyak minum air putih dan mengkompres sisi yang abuh dengan air hangat.

Untuk kurangi tanda-tanda seperti demam serta ngilu dapat dikasihkan obat anti ngilu seperti paracetamol serta ibuprofen. Disarankan pada anak supaya semakin banyak beristirahat.

Pantangan Gondongan yang Harus Dihindari

Buat pasien gondongan, ada banyak makanan yang perlu dijauhi, seperti dijelaskan di atas pasien gondongan dilarang konsumsi makanan yang memiliki kandungan asam karena akan memperparah peradangan yang berlangsung pada kelenjar parotis. Makanan asam sangat banyak, seperti cuka, asam, dan buah buahan yang masih muda. Pasien gondongan disarankan tidak untuk konsumsi makanan dengan struktur keras, sebab akan meningkatkan ngilu saat proses kunyah, karena itu makanan lunak sangat dianjurkan buat pasien penyakit ini.

Makanan yang Disarankan 

Untuk percepat proses pengobatan, anak disarankan untuk konsumsi makanan yang bergizi, sehingga akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dianjurkan minum air putih untuk hindari dehidrasi saat berlangsung demam. Konsumsi makanan yang banyak kandungan vitamin C seperti buah serta sayur. Buah yang banyak terkandung vitamin C adalah jeruk, kiwi, tomat, apel, dan jambu.

Pasien gondongan disarankan untuk perbanyak kegiatan kunyah supaya mempercepat proses penyembuhan, contoh dengan konsumsi permen karet.

Cara Mencegah Gondongan 


Supaya tidak terserang penyakit gondongan, banyak mencegah yang dapat diantisipasi. melakukan pencegahan adalah lebih baik daripada mengobati. Di bawah ini langkah mencegah penyakit gondongan:
  • Memberi imunisasi MMR pada anak-anak, diberikan saat anak berumur umur 1 serta mesti diulangi satu kali lagi pada umur 5 tahun.
  • Tetap mengawasi kebersihan tangan, membersihkan tangan sesudah BAB serta BAK, dan sebelum makan.
  • Tidak menggunakan perlengkapan mandi atau perlengkapan makan dengan orang yang lain. 
  • Buat pasien, mesti memakai kertas tisu saat bersin atau batuk supaya bisa langsung dibuang, serta menggunakan masker.
  • Buat pasien gondongan, disarankan tidak untuk melakukan aktivitas dahulu di luar rumah untuk menahan penyebaran penyakit ke orang yang lain.

Selasa, 18 Desember 2018

Pentingnya Penggunaan Antibiotik Dengan Tepat Sesuai Indikasi

Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang. Salah satu obat pilihan utama untuk mengatasi masalah tersebut adalah antimikroba seperti antibiotik/antibakteri, antivirus, antiprotozoa, antijamur.


Antibiotik adalah obat yang paling banyak digunakan untuk pengobatan infeksi uang disebabkan oleh bakteri. Berdasarkan studi yang telah dilakukan ditemukan bahwa sekitar 40-62 antibiotik digunakan secara tidak tepat seperti untuk mengobati penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Data dari penelitian kualitas penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit didapatkan 30-80% tidak didasarkan pada indikasi (Hadi, 2009).

Dampak Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat

Jumlah penggunaan antibiotik yang relatif banyak menyebabkan berbagai masalah dan menjadi ancaman global bagi kesehatan terutama ancaman resistensi terhadap antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa berdampak pada motbiditas dan mortalitas, selain itu bisa juga memberikan dampak negatif terhadap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi.

Pada mulanya resistensi antibitik terjadi di rumah sakit, tetapi kini juga sudah berkembang di lingkungan masyarakat, khususnya Streptococcus pneumoniae (SP), Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus.

Kuman yang resisten terhadap antibiotik di seluruh dunia (Guzman-Blancoetal et al 2000; Stevenson et al. 2005):
  • Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA)
  • Vancomycin-Resistant Enterococci (VRE)
  • Penicillin-Resistant Pneumococci, Klebsiella pneumoniae yang menghasilkan Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL)
  • Carbapenem-Resistant Acinetobacter baumannii dan Multiresistant Mycobacterium tuberculosis
Kuman resisten antibiotik terjadi karena penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan juga penerapan kewaspadaan standar yang tidak benar di fasilitas pelayanan kesehatan.

Berdasarkan penelitian Antimicrobial Resistant in Indonesia (AMRIN-Study) didapatkan data bahwa: 
  • Dari 2494 individu di masyarakat, 43% Escherichia coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik antara lain: ampisilin (34%), kotrimoksazol (29%), dan kloramfenikol (25%).
  • Hasil penelitian 781 pasien yang dirawat di rumah sakit didapatkan 81% Escherichia coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik, yaitu: ampisilin (73%), kotrimoksazol (56%), kloramfenikol (43%), siprofloksasin (22%), dan gentamisin (18%).

Untuk itu penggunaan antibiotik secara tepat adalah hal yang sangat penting, ini bukan hanya tugas tenaga kesehatan tetapi juga masyarakat. Karena saat ini banyak masyarakat yang menggunakan antibiotik sembarangan tanpa anjuran dokter.

Rabu, 04 April 2018

Pengertian Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, dan Obat Keras


Banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa obat memiliki berbagai macam jenis dan golongan, secara garis besar obat digolongkan menjadi tiga yaitu obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras.

Mengetahui jenis obat sangat penting bagi masyarakat, karena tidak semua obat dapat dikonsumsi begitu saja tanpa resep dari dokter. Seperti antibiotik Amoxicilin yang banyk dibeli dan dikonsumsi masyarakat tanpa resep dokter.

Perlu diketahui bahwa penggunaan antibiotik harus menggunakan resep dokter, karena tidak semua penyakit memerlukan antibiotik, seperti flu yang disebabkan oleh virus tidak akan sembuh oleh antibiotik seperti Amoxicilin, karena antibiotik tidak membunuh virus tetapi membunuh kuman bakteri.

Cara membeli atau mendapatkan obat berbeda-beda sesuai dengan golongannya, sudah ada ketentuan bagaimana cara mendapatkannya. Untuk lebih jelasnya silahkan baca ulasan berikut ini.

1. Obat Bebas

Pengertian Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, dan Obat Keras
Adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus untuk obat bebas adalah berupa lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam.

Apabila Anda membeli obat sakit kepala di warung, seperti Paramex atau Bodrex, berarti Anda telah membeli obat bebas.

Untuk mengetahui golongan obat bebas sangat mudah, yaitu dengan melihat Lingkaran Hijau pada kemasan obat, Lingkaran Hijau tersebut merupakan tanda khusus obat bebas.

2. Obat Bebas Terbatas

Pengertian Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, dan Obat Keras
Adalah obat yang dijual bebas dan dapat dibeli tanpa dengan resep dokter, tapi disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus untuk obat ini adalah lingkaran berwarna biru dengan garis tepi hitam.
Khusus untuk obat bebas terbatas, selain terdapat tanda khusus lingkaran biru, diberi pula tanda peringatan untuk aturan pakai obat, karena hanya dengan takaran dan kemasan tertentu, obat ini aman dipergunakan untuk pengobatan sendiri. Tanda peringatan berupa empat persegi panjang dengan huruf putih pada dasar hitam yang terdiri dari 6 macam.

Sangat penting untuk melihat tanda peringatan tersebut, tentu saja hal ini dimaksudkan untuk mencegah peminum obat dari efek samping dan bahaya obat.

3. Obat Keras

Pengertian Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, dan Obat Keras
Adalah obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Ciri-cirinya adalah bertanda lingkaran bulat merah dengan garis tepi berwarna hitam, dengan huruf K ditengah yang menyentuh garis tepi. Obat ini hanya boleh dijual di apotik dan harus dengan resep dokter pada saat membelinya.

Mendapatkan obat dengan cara yang benar adalah pilihan yang tepat untuk mendapatkan obat yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi penyakit. Sebagai contoh, saat ini banyak orang menggunakan Antibiotik sendiri dan menggunakannya dengan kemauan sendiri, tidak mengikuti aturan yang berlaku.

Salah satu Antibiotik yang dibeli sendiri tanpa resep adalah Amoksilin, banyak masyarakat tidak tepat dalam menggunakan antibiotik ini. Hanya menderita Flu biasa, sudah minum antibiotik. Padahal penyakit flu dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan menggunakan antibiotik. Jadi penggunaan antibiotik tersebut tidak tepat dan akan berakibat buruk untuk kesehatannya.

8 Langkah Cara Penyerahan Obat Kepada Pasien

8 Langkah Cara Penyerahan Obat Kepada Pasien

Dalam proses penyerahan obat, ada delapan langkah penting yang harus dilakukan untuk menjamin terlaksananya penyerahan obat yang benar kepada pasien dari petugas penyerah obat. Setiap langkah membawa tanggungjawab dan  atau pertimbangan yang penting untuk dilakukan.

Dalam hal ini, diasumsikan bahwa pemberi resep telah melakukan diagnosis yang benar serta memilih obat yang benar dan regimen yang tepat, serta pasien mempunyai akses terhadap apotik. Langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Petugas penyerah obat menerima resep yang benar dari pasien atau pemberi resep (secara tertulis atau lisan) dan melakukan pengkajian resep terhadap antara lain:
  • Originalitas (keaslian) resep.
  • Jika diperlukan komunikasi dengan pemberi resep untuk resep yang meragukan dan tidak jelas.

2. Petugas penyerah obat membaca resep dengan benar dan memeriksa ketepatan instruksi yang tertulis pada resep, terhadap:
  • Nama obat.
  • Dosis, cara dan lama pemberian.
  • Ketersediaan obat.
Petugas penyerah obat kemudian mencari obat di tempat penyimpanannya

3. Obat yang diresepkan tersedia dalam kondisi layak pakai (tidak kadaluarsa atau rusak). Petugas penyerah obat harus:
  • Menjamin obat disimpan pada tempat yang benar.
  • Memeriksa tanggal kadaluarsa dan melakukan proses FIFO (First in First Out).
  • Melakukan proses periksa dan periksa ulang (jika memungkinkan) terhadap ketepatan nama, kekuatan dan bentuk sediaan obat yang diberikan.

4. Petugas penyerah obat harus memiliki pengetahuan obat dan cara penggunaan obat yang tepat dan dapat pula melakukan hal berikut:
  • Penyiapan obat dengan tepat.
  • Pengecekan kembali terhadap jenis obat dan dosis.

5. Petugas penyerah obat harus mengkomunikasikan kepada pasien cara yang tepat untuk menggunakan obat melalui informasi mengenai:
  • Etiket obat yang mencantumkan informasi mengenai nama pasien, nama obat, petunjuk penggunaan obat, tanggal pemberian obat, identitas pemberi resep, dan identitas petugas penyerah obat.
  • Instruksi berupa simbol, untuk pasien yang buta huruf.
  • Pemberian label/etiket informasi tambahan untuk obat.

6. Pasien mengerti terhadap instruksi dari petugas penyerah obat.
Petugas penyerah obat harus:
  • Mengulang secara lisan, instruksi yang tertulis pada etiket, jika memungkinkan dalam bahasa yang jelas dan lugas, yang dimengerti oleh pasien.
  • Meminta pasien untuk mengulang instruksi yang diberikan.
  • Menekankan kebutuhan terhadap adanya kepatuhan.
  • Menginformasikan peringatan dan perhatian terkait penggunaan obat.
  • Memberikan perhatian khusus terhadap kondisi tertentu seperti wanita hamil, pasien yang memiliki gangguan penglihatan dan pendengaran, buta huruf, anak dan pasien lansia dan pasien yang mendapatkan lebih dari satu jenis obat.

7. Yakinkan pasien untuk mematuhi instruksi dari terapi.
Untuk meningkatkan kepatuhan, pemberian obat harus disertai dengan pemberian informasi yang memadai. Komunikasi dengan pasien atau keluarganya seringkali menemui hambatan, sehingga pasien gagal untuk mengikuti petunjuk pengobatan.

Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab yang telah teridentifikasi:
  • Ada kesenjangan antar pemberi dan penerima informasi, baik dalam penggunaan bahasa, cara penuturan, ataupun cara pendekatan.
  • Waktu untuk memberikan informasi terbatas.
  • Pemberi informasi tidak berhasil menarik perhatian atau keterbukaan pasie/keluarganya.
  • Informasi yang diberikan tidak diartikan secara benar, atau tidak dimengerti.
  • Petunjuk yang diberikan tidak dipahami.
  • Petunjuk yang diberikan tidak disepakati.
  • Petunjuk yang diberikan tidak dapat dilaksanakan.
  • Petunjuk diberikan secara tidak lengkap.
  • Hal-hal yang harus dikerjakan terlupa.
  • Pasien tidak suka diajak berdiskusi.
  • Pasien/keluarga merasa sudah mengetahui.
  • Keyakinan pasien/keluarganya sulit diubah.
Tidak tersampaikannya informasi secara baik, mutlak menjadi tanggung jawab apoteker atau petugas penyerah obat lainnya, walaupun hambatannya mungkin ada di pihak penerima. Untuk itu, perlu diwaspadai kemungkinan adanya hambatan diatas, agar dapat segera diantisipasi.

8. Petugas penyerah obat melakukan pendokumentasian terhadap langkah yang dilakukan, yaitu:
  • Memasukkan detil informasi pada profil pengobatan pasien.
  • Memasukkan data resep.
  • Melengkapi data inventori.

Cara Injeksi Yang Tepat dan Benar

Bagi petugas kesehatan seperti dokter dan perawat sangat penting untuk mengetahui cara injeksi yang tepat dan benar. Karena injeksi adalah hal sangat penting dalan tindakan medis, banyak obat-obat penting yang diberikan dengan cara injeksi.

Berikut ini adalah 3 cara injeksi yaitu subkutan, intramuskular, dan intravena.

Cara Injeksi Subkutan



Alat/Bahan yang dibutuhkan
Alat suntik berisi obat yang akan diberikan (tanpa udara), jarum suntik (ukuran 25 Gauss,pendek dan tipis, terpasang pada alat suntik), cairan desinfektan (alkohol 70%), kapas, plester.

Teknik:
  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Tenangkan pasien dan jelaskan prosedur penyuntikan.
  3. Bersihkan lokasi penyuntikan (lengan atas, paha, dan perut).
  4. Oleskan desinfektan pada kulit lokasi penyuntikan.
  5. “Cubit” lipatan kulit.
  6. Suntikkan jarum bagian bawah dasar lipatan kulit dengan kemiringan 20 – 30 derajat.
  7. Lepaskan cubitan.
  8. Tarik udara secara perlahan. Jika keluar darah, cabut jarum, pindahkan ke lokasi baru, jika mungkin, dan mulai kembali dari langkah 4.
  9. Suntikkan secara perlahan (0,5 – 2 menit).
  10. Tarik jarum suntik secara cepat.
  11. Tekan kapas steril pada bekas suntikan. Tempelkan dengan bantuan plester.
  12. Perhatikan reaksi pasien  dan tenangkan jika perlu.
  13. Bersihkan dan rapikan , buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.

Cara Injeksi Intramuskular



Alat/Bahan yang dibutuhkan
Alat suntik berisi obat yang akan diberikan (tanpa udara), jarum suntik (22 Gauss, panjang dan agak tebal; terpasang pada alat suntik), cairan desinfektan (alkohol 70%), kapas, plester.

Tehnik:
  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Tenangkan pasien dan jelaskan prosedur penyuntikan.
  3. Cari lokasi penyuntikan (lateral upper quadrant major gluteal muscle, lateral side of upper leg, deltoid muscle).
  4. Oleskan desinfektan.
  5. Minta pasien untuk melemaskan  otot.
  6. Suntikkan jarum suntik dengan cepat dengan kemiringan 90 derajat (perhatikan kedalaman).
  7. Tarik udara secara perlahan; Jika keluar darah, cabut jarum, pindahkan ke lokasi baru, jika mungkin , dan mulai kembali dari langkah 4.
  8. Suntikkan perlahan (agar tidak terlalu sakit).
  9. Tarik jarum suntik secara cepat.
  10. Tekan kapas steril di bekas suntikan. Tempelkan dengan bantuan plester.
  11. Perhatikan reaksi pasien dan tenangkan jika perlu.
  12. Bersihkan dan rapikan, buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.

Cara Injeksi Intravena



Alat/Bahan yang dibutuhkan
Alat suntik berisi obat yang akan diberikan (tanpa udara), jarum suntik (20 Gauss, panjang dan agak tebal; terpasang pada alat suntik), cairan desinfektan (alkohol 70%), kapas, plester.

Teknik:
  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Tenangkan pasien dan jelaskan prosedur penyuntikan.
  3. Buka lengan baju pada bagian lengan atas sepenuhnya.
  4. Anjurkan pasien agar santai dan pegang lengan pada bagian bawah vena yang akan disuntik.
  5. Siapkan torniket dan cari vena yang diinginkan.
  6. Tunggu sampai vena menggembung.
  7. Oleskan desinfektan.
  8. Stabilkan pembuluh darah dengan menarik kencang di arah membujur dari vena tersebut. Lakukan ini dengan tangan lain yang bukan digunakan untuk menyuntikkan jarum.
  9. Suntikkan jarum dengan kemiringan sekitar 35 derajat.
  10. Tusuk kulit dan dan gerakkan jarum sedikit ke dalam  vena (3 – 5 mm).
  11. Pegang alat suntik dan jarum agar berada pada posisi stabil.
  12. Jika darah keluar, pegang alat suntik dengan kencang agar stabil, berarti benar berada dalam vena. Jika tidak tampak, harus dicoba lagi.
  13. Kendurkan torniket.
  14. Suntikkan perlahan. Amati kemungkinan rasa sakit, bengkak, hematoma; jika merasa ragu, apakah posisi masih dalam vena, sedot alat suntik lagi.
  15. Cabut jarum secara cepat. Tekan kapas steril pada bekas suntikan. Kencangkan dengan plester.
  16. Perhatikan reaksi pasien  dan tenangkan jika perlu.
  17. Bersihkan dan rapikan, buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.

Selasa, 03 April 2018

Cara Melarutkan dan Menyedot Obat Vial Dengan Benar

Apa itu vial ?

Vial/phial/flacon adalah gelas kecil atau bejana plastik atau botol yang digunakan untuk menyimpan obat dalam bentuk cairan, bubuk atau kapsul. Vial biasanya terbuat dari kaca tetapi ada juga yang berbahan plastik.

Cara Melarutkan Obat Vial dengan Benar

Sebagai petugas kesehatan seperti dokter atau perawat, sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara melarutkan obat vial yang benar. Di bawah ini adalah langkah-langkah bagaimana cara melarutkan obat vial yang tepat. 

Cara Melarutkan Serbuk Obat


Alat/Bahan yang dibutuhkan

Vial berisi serbuk obat yang akan dilarutkan, alat suntik dengan jumlah pelarut yang sesuai, jarum dengan ukuran yang tepat (intravena, subkutan atau intramuskular) pada alat suntik, desinfektan (alkohol 70%), jarum suntik, kain kasa.

Teknik melarutkan obat vial

Langkah-langkah yang harus dilakukan:
  • Cuci tangan terlebih dahulu.
  • Bersihkan bagian atas vial berisi serbuk obat dengan kapas beralkohol.
  • Masukkan jarum ke dalam vial, pegang bagian atas secara seksama.
  • Ambil udara sebanyak mungkin disesuaikan dengan jumlah pelarut yang sudah ada dalam alat suntik.
  • Injeksikan hanya cairan ke dalam vial, bukan udaranya.
  • Kocok vial.
  • Kocok vial kearah atas dan bawah. Balik vial hingga posisi bagian atas vial ada di bawah.
  • Suntikkan udara kedalam vial.
  • Ambil seluruh larutan (tanpa udara).
  • Keluarkan udara dari alat suntik.
  • Bersihkan dan rapikan; buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.

Melarutkan obat dengan benar adalah keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh tenaga kesehatan seperti dokter, perawat maupun apoteker. Jika Anda masih bingung dengan penjelasan di atas disarankan untuk menanyakan kepada petugas kesehatan yang memiliki pengetahuan bagaimana cara melarutkan obat vial yang benar.

Cara Menyedot Obat Suntik Dari Vial

Alat/Bahan yang dibutuhkan:

Obat dalam vial dan pelarutnya, alat suntik dengan ukuran sesuai, jarum suntik dengan ukuran yang tepat (intramuskular, subkutan atau intravena), desinfektan (alkohol 70%), kain kasa.

Teknik menyedot obat dari vial:

  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Bersihkan bagian atas vial dengan kapas beralkohol.
  3. Gunakan alat suntik dengan volume dua kali jumlah obat atau larutan yang dibutuhkan dan pasang jarum.
  4. Ambil udara sebanyak mungkin disesuaikan dengan jumlah larutan yang akan disuntikkan.
  5. Masukkan jarum suntik ke dalam vial , kemudian dibalik sehingga vial ada di atas.
  6. Pompa udara dari alat suntik ke dalam vial.
  7. Ambil larutan hingga berlebih 0,1 mL. Pastikan ujung jarum bebas dari cairan.
  8. Tarik jarum keluar dari vial.
  9. Keluarkan udara dari alat suntik.
  10. Bersihkan dan rapikan; buang alat bekas pakai dengan benar; cuci tangan.

Cara Menyedot Cairan Suntik Dari Ampul

Alat yang diperlukan:

Alat suntik dengan ukuran yang tepat, jarum suntik dengan ukuran yang sesuai, sediaan obat atau cairan dalam ampul, kain kasa.

Cara menyedot obat dari ampul

  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Pasang jarum pada alat suntik.
  3. Turunkan cairan dari leher ampul dengan mengetukkan jari ke ampul atau ampul digoyang dengan gerakan memutar ke arah bawah.
  4. Gesekkan alat pemotong sepanjang leher ampul.
  5. Lindungi jari dengan kain kasa jika ampul terbuat dari kaca. 
  6. Patahkan bagian atas ampul dengan hati-hati (untuk ampul plastik, dipotong dengan cara diputar).
  7. Sedot cairan dari ampul.
  8. Keluarkan udara dari alat suntik.
  9. Bersihkan dan rapikan ; buang semua bekas alat dengan benar; cuci tangan.

Semoga bermanfaat

Minggu, 25 Maret 2018

Cara Mengatur Gizi Seimbang Pada Lansia


Pedoman Gizi Pada Lansia

Usia lanjut membutuhkan penanganan gizi yang berbeda dengan orang bukan usia lanjut. Beberapa fungsi organ sudah menurun untuk itu harus disesuaikan dengan kondisi lansia tersebut. Pemenuhan gizi pada lansia harus memenuhi pedoman gizi berikut ini.

Banyak Makan Sayuran dan Cukup Buah-Buahan

Secara umum sayur dan buah merupakan sumber berbagai vitamin, mineral, dan serat pangan. Sebagian vitamin, mineral yang terkandung dalam sayur dan buah berperan sebagai antioksidan atau penangkal senyawa jahat dalam tubuh.

Berbeda dengan sayur, buah juga menyediakan karbohidrat terutama berupa fruktosa dan glukosa. Sayur tertentu juga menyediakan karbohidrat, seperti wortel dan kentang sayur.

Sementara buah tertentu juga menyediakan lemak tidak jenuh seperti buah alpokat dan buah merah. Oleh karena itu konsumsi sayuran dan buah-buahan salah satu bagian penting dalam mewujudkan gizi seimbang.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa konsumsi sayur dan buah yang cukup turut berperan dalam menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula dan kolesterol darah. mengendalikan tekanan darah.

Konsumsi sayur dan buah yang cukup juga menurunkan risiko sulit buang air besar (BAB/Sembelit) dan kegemukan. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dan buah-buahan yang cukup turut berperan dalam pencegahan penyakit tidak menular kronik.

Konsumsi sayur dan buah yang cukup merupakan salah satu indikator sederhana gizi seimbang.

Semakin matang buah yang mengandung karbohidrat semakin tinggi kandungan fruktosa dan glukosanya, yang dicirikan oleh rasa yang semakin manis.

Dalam budaya makan masyarakat perkotaaan Indonesia saat ini, semakin dikenal minuman jus bergula. Dalam segelas jus buah bergula mengandung 150-300 Kalori yang sekitar separohnya dari gula yang ditambahkan.

Selain itu beberapa jenis buah juga meningkatkan risiko kembung dan asam urat. Oleh karena itu konsumsi buah matang dan minuman jus bergula perlu dibatasi agar turut mengendalikan kadar gula
darah.

Biasakan Mengonsumsi Sumber Kalsium Seperti Ikan dan Susu

Kepadatan tulang usia lanjut mulai berkurang sehingga beresiko mengalami pengeroposan tulang/osteoporosis. Selain itu sistim gigi geligi tidak sempurna dan rapuh sehingga untuk mencegah kondisi yang lebih parah dianjurkan untuk mengkonsumsi pangan sumber kalsium terutama dari ikan dan susu.

Untuk itu orang dengan usia lanjut harus diperhatikan konsumsi kalsiumnya, agar kebutuhannya terpenuhi dianjurkan untuk mengkonsumsi susu dan juga ikan.

Biasakan Mengonsumsi Makanan Berserat

Serat pangan sangat diperlukan oleh usia lanjut agar tidak mengalami sembelit sehingga buang air besar menjadi lancar. Serat pangan akan menghambat penyerapan gula dan cholesterol sehingga membantu meningkatkan kesehatan usia lanjut.

Usia lanjut dianjurkan untuk mengonsumsi sumber karbohidrat yang masih banyak mengandung serat
(whole grains) dan mengonsumsi sayuran yang banyak mengandung serat pangan.

Batasi Mengonsumsi Makanan yang Mengandung Tinggi Natrium

Natrium merupakan elektrolit dalam tubuh yang mempunyai peran yang sangat penting, namun apabila jumlah natrium dalam tubuh meningkat akan mengakibatkan kondisi yang disebut hipernatriumia.

Pada kondisi tersebut akan terjadi ketidakseimbangan elektrolit di dalam dan di luar sel yang akan mengakibatkan oedema. Oleh karena itu kelompok usia lanjut harus berusaha mempertahankan kondisi natrium darah tetap normal dengan cara mengonsumsi air sesuai dengan kebutuhan dan mengonsumsi makanan yang rendah natrium. Kadar natrium yang tinggi akan memicu terjadinya hipertensi.

Minumlah Air Putih Sesuai Kebutuhan

Sistem hidrasi pada usia lanjut sudah menurun sehingga kurang sensitif terhadap kekurangan maupun kelebihan cairan. Akibat dehidrasi pada usia lanjut adalah demensia, mudah lupa, kandungan Natrium darah menjadi naik sehingga berisiko terjadi hipertensi.

Sebaliknya bila kelebihan cairan akan meningkatkan beban jantung dan ginjal.Oleh karena itu
kelompok usia lanjut perluair minum yang cukup (1500-1600ml/hari).

Tetap Melakukan Aktivitas Fisik

Sel-sel otot pada usia muda mempunyai kelenturan yang optimal dan mulai menurun pada usia lanjut. Kontraksi dan relaksasi otot menjadi berkurang akibatnya usia lanjut sering mengalami kekakuan otot.

Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik yang ringan seperti berjalan-jalan, bersepeda, berkebun dan melakukan olah raga ringan seperti yoga, senam usia lanjut yang berfungsi membantu kelenturan otot dan relaksasi otot.

Aktivitas fisik yang dilakukan usia lanjut akan menambah kesehatah jantung dan kebugaran tubuh.

Batasi Lonsumsi Gula, Garam, dan Lemak

Banyak mengonsumsi makanan berkadar gula, garam, lemak bagi kelompok usia lanjut meningkatkan risiko terhadap timbulnya penyakit seperti hipertensi, stroke, penyakit jantung, kanker dan penyakit kencing manis (diabetes melitus).

Usia lanjut berisiko mengalami gout (tinggi asam urat) oleh karena itu, konsumsi pangan dengan kandungan purin tinggi seperti jeroan dan emping melinjo agar dibatasi.

Sumber:
Kementerian Kesehatan RI