Tuberkulosis (TBC) - Definisi, Gejala, Penularan, dan Pengobatan

penyakit TBC

Definisi TBC

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycrobacterium tuberculosis. Di masyarakat tuberkulosis dikenal dengan sebutan penyakit TBC atau penyakit flek. Kuman tuberkulosis sudah ditemukan sejak 24 Maret 1882, tetapi sampai sekarang belum ada satu negara pun di dunia yang bebas tuberkulosis. Bahkan penyakit TBC masih merupakan penyakit infeksi saluran napas yang paling sering dijumpai di Indonesia. Penyakit TBC bukanlah penyakit bawaan, bukan juga penyakit keturunan dan guna-guna, penyakit TBC juga bukan disebabkan oleh kelainan genetik.

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa pada tahun 2014 terdapat sekitar 9 juta kasus TBC baru di dunia. Di Indonesia berdasarkan data Kementrian kesehatan tahun 2015 jumlah kasus TBC telah mengalami penurunan. Data Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga akhir 2015 jumlah orang yang diduga TBC yang diperiksa adalah 1.210.659 orang, dan jumlah kasus TBC ternotifikasi sebanyak 324.020 kasus termasuk di antaranya kasus TBC anak sebanyak 23.080 kasus.

Kuman tuberkulosis bersifat sangat aerobic yaitu membutuhkan oksigen untuk kehidupannya, Oleh karena itu penyakit TBC paling sering menyerang organ paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain seperti : kulit, selaput otak (meningitis TB), tulang belakang (Spondilitis TB), kelenjar getah bening (limfadenitis TB), perut (peritonitis TB), dan tenggorokan (laryngitis TB).

Tanda dan Gejala TBC

Pada penderita TBC orang dewasa biasanya ditemukan gejala sebagai berikut:
  • Batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih
  • Dahak bercampur darah
  • Batuk darah
  • Sesak napas 
  • Badan lemas
  • Dada terasa nyeri
  • Demam meriang lebih dari sebulan
  • Nafsu makan berkurang
  • Berat badan menurun
  • Berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik

Untuk penderita TBC pada anak-anak gejalanya sebagai berikut:
  • Batuk-batuk yang cukup lama yang berlangsung selama 3 minggu atau lebih dan biasanya intensitasnya tinggi atau tidak pernah reda
  • Demam yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu tanpa sebab yang jelas.
  • Biasanya disertai dengan keringat malam dan umumnya tidak terlalu tinggi
  • Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas atau dalam 1 bulan tidak mengalami kenaikan dengan penanganan gizi yang adekuat
  • Nafsu makan menurun atau susah makan
  • Lesu atau anak jadi kurang aktif untuk bermain

Diagnosis TBC

Diagnosa TBC ditegakkan berdasarkan:
  • Gejala klinis
  • Pemeriksaan jasmani
  • Tes dahak
  • Tes darah
  • Rontgen dada
  • Tes mantoux, untuk penderita anak-anak
  • Pemeriksaan penunjang lainnya

Penularan TBC

Kuman TBC dapat ditularkan pada orang lain melalui udara, yang disebabkan oleh batuk dan bersin-bersin dari pasien TBC. Lewat batuk dan bersin dari pasien TBC tersebut, percik renik (percik dahak yang sangat kecil) yang mengandung kuman TBC dari dalam paru akan keluar, terbawa ke udara bebas dan dapat dihirup oleh orang di sekitar. Orang yang menghirup kuman TBC tersebut, bisa jadi terinfeksi TBC (infeksi laten) akan tetapi belum tentu sakit TBC. Namun, kuman TBC yang berterbangan di udara tersebut akan mati jika terkena sinar matahari dan sebaliknya, kuman TBC akan bertahan lama jika berada pada ruangan yang lembab dan ruangan tertutup yang ber-AC.

Baca juga : Telah Ditemukan Mobil Tanpa BBM dan Cas Baterai

Daya tahan tubuh setiap orang sangat mempengaruhi resiko penularan kuman TBC hingga menjadi sakit TBC. Penyakit ini juga dapat menyerang siapa saja, tidak memandang usia, jenis kelamin, maupun status sosial. Namun ada beberapa faktor yang memiliki resiko penularan TBC lebih besar seperti:
  • Memiliki kontak erat dengan pasien TBC yang belum terobati atau sedang menjalankan pengobatan fase awal
  • Memiliki kekebalan tubuh rendah seperti bayi, anak-anak dan orang lanjut usia.
  • Penderita HIV/AIDS (ODHA)
  • Penderita Diabetes Melitus
  • Perokok, 20 persen kasus TBC di dunia adalah perokok
  • Pecandu narkoba
  • Para petugas medis yang sering berhubungan dengan penderita TBC

Pengobatan TBC

Apabila tidak diobati dengan benar Penyakit TBC dapat menyebabkan kematian. Setelah dinyatakan positif  menderita TBC, pasien harus diberi obat dan meminumnya secara teratur sampai tuntas selama 6-8 bulan. Selama masa pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak pada tahap awal pengobatan, satu bulan sebelum masa pengobatan berakhir, dan akhir pengobatan. Obat TBC dapat diperoleh di Puskesmas atau Rumah Sakit secara gratis.

Jenis obat TBC yang diberikan adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, ethambutol dan streptomisin. Pemberian obat TBC harus sangat hati-hati karena sangat mempengaruhi proses penyembuhan. Pasien harus mengikuti semua instruksi dokter, tidak boleh mengurangi dosis dan berhenti meminum obat dengan kemauan sendiri. Kebanyakan pasien tidak sembuh karena karena tidak meminum obat dengan tuntas. Dengan pemberian obat TBC dalam jangka waktu 3 minggu saja biasanya pasien sudah merasa sembuh dan menghentikan pengobatannya. Sedangkan untuk mematikan kuman TBC dibutuhkan waktu pengobatan minimal 6 bulan.

Di Indonesia saat ini mulai dikenal TBC Resisten Obat atau MDR TB yaitu Multi Drug Resistent Tuberculosis atau dikenal dengan tuberkulosis yang resisten alias kebal. Pengobatan MDR TB lebih sulit, obatnya lebih banyak yang harus diminum, waktu pengobatannya lebih lama sampai sekitar dua tahun dan memiliki efek samping yang lebih sering.

Obat TBC memiliki efek samping diantaranya mual dan muntah, penurunan nafsu makan, demam, gatal-gatal pada kulit, sakit kuning atau hepatitis, kencing warna gelap. Apabila terjadi efek samping di atas sebaiknya langsung kontrol ke dokter.

Pencegahan TBC

Yang harus dilakukan pencegahan TBC adalah pemberian vaksin BCG (bacillus calmette Guerin), vaksin ini wajib diberikan pada bayi sebelum berusia 3 bulan. Vaksin BCG juga bisa diberikan untuk anak-anak dan orang dewasa yang belum pernah menerima vaksin BCG, akan tetapi keefektifannya akan berkurang.

Untuk mencegah penularan kuman TBC pasien harus memiliki kesadaran dan berhati-hati saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak menularkan penyakitnya. Hal-hal yang harus dilakukan:  
  • Tidak batuk sembarangan
  • Tidak membuang ludah sembarangan tetapi meludah di tempat tertentu seperti kaleng tertutup yang sudah diisi dengan sabun, karbol atau lisol
  • Buanglah dahak ke lubang WC atau timbun ke dalam tanah di tempat yang jauh dari keramaian
  • Sangat dianjurkan untuk bersedia memakai masker atau setidaknya sapu tangan atau tissue, menutup mulut pada waktu batuk dan bersih
  • Cuci tangan dengan sabun setelah tangan digunakan untuk menutup hidung atau mulut pada waktu batuk dan bersin
  • Ventilasi yang cukup sehingga udara segar dan sinar matahari masuk ke dalam rumah, mengusahakan sinar matahari masuk ke ruang tidur
  • Menjemur alat-alat tidur sesering mungkin, karena kuman TBC mati oleh sinar matahari

Untuk mencegah tertular TBC kita harus menjaga kebugaran tubuh dengan menjalani pola hidup sehat. Dengan tubuh yang sehat segala kuman penyakit susah menyerang karena kita memiliki daya tahan tubuh yang kuat.