Kamis, 09 Februari 2017

Asma - Definisi, Gejala, Penyebab dan Pengobatan

penyakit asma

Definisi Asma


Asma adalah penyakit inflamasi (peradangan) yang berlangsung lama pada saluran napas yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak napas dan rasa berat di dada terutama pada malam hari atau dini hari akibat penyumbatan saluran napas. Seseorang yang menderita asma saluran pernapasannya lebih sensitif, otot-otot saluran pernapasan akan menjadi kaku dan menyempit saat terjadi serangan. Asma bersifat hilang timbul, artinya dapat tenang tanpa gejala tidak mengganggu aktivitas tetapi dapat terjadi serangan dengan gejala ringan sampai berat bahkan menimbulkan kematian.

Walaupun mempunyai tingkat kematian yang rendah namun jumlah kasusnya cukup banyak ditemukan dalam masyarakat. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan 100-150 juta penduduk dunia menderita asma. Bahkan, jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah hingga mencapai 180.000 orang setiap tahun. Laporan kementrian kesehatan tahun 2013 diperkirakan jumlah penderita asma di Indonesia mencapai 4,5 persen dari total jumlah penduduk. Studi di Asia Pasifik baru-baru ini menunjukkan bahwa hampir separuh dari seluruh pasien asma pernah di rawat di rumah sakit dan melakukan kunjungan ke bagian gawat darurat setiap tahunnya.

Gejala Asma


Gejala asma sangat beragam, hal ini karena derajat asma yang terjadi pada tiap orang berbeda-beda. Secara umum gejala asma sebagai berikut:
  • Bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tanpa pengobatan
  • Gejala berupa batuk, sesak napas, rasa berat di dada dan berdahak
  • Gejala timbul atau memburuk terutama malam atau dini hari
  • Respons terhadap pemberian bronkodilator

Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit:
  • Riwayat keluarga
  • Riwayat alergi
  • Penyakit lain yang memberatkan
  • Perkembangan penyakit dan pengobatan

Seseorang yang menderita asma bisa jadi tanpa gejala sama sekali ketika penyakitnya terkontrol. Jadi penderita asma yang terkontrol dapat beraktivitas layaknya orang lain yang tidak menderita asma.

Penyebab Asma


Untuk menjadi penderita asma, ada dua faktor yang berperan yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Ada beberapa proses yang terjadi sebelum seseorang menderita asma:
  • Sensitisasi, yaitu seseorang dengan risiko genetik dan lingkungan apabila terpajan dengan pemicu maka akan timbul sensitisasi pada dirinya.
  • Seseorang yang telah mengalami sensitisasi belum tentu menjadi asma. Apabila seseorang yang mengalami sensitisasi terpajan dengan pemacu maka terjadi proses inflamasi pada saluran napasnya. Proses inflamasi yang berlangsung lama atau proses inflamasinya berat secara klinis berhubungan dengan hipereaktivitas bronkus.
  • Setelah mengalami inflamasi maka bila seseorang terpajan oleh pencetus maka akan terjadi serangan asma.

Faktor-faktor penyakit asma antara lain:
  • Pemicu allergen: tungau, debu, binatang berbulu (anjing, kucing, kelinci), allergen kecoa, jamur, ragi, serbuk sari tanaman, terpajan asap rokok
  • Pemacu: rinovirus, ozon, pemakaian b2 agonis
  • Pencetus: semua factor pemicu dan pemacu di tambah dengan aktivitas fisik, udara dingin, histamine, dan metakolin

Risiko Asma


Risiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara faktor pejamu (host faktor) dan faktor lingkungan. Faktor pejamu antara lain:
  • Genetik asma, seseorang yang memiliki riwayat keluarga memiliki risiko tinggi menderita asma
  • Memiliki alergi
  • Hipereaktivitas bronkus
  • Jenis kelamin
  • Ras kulit hitam menunjukan prevalensi asma yang lebih tinggi dibandingkan kulit putih

Faktor lingkungan dapat menjadi presdisposisi penyakit asma dan bersama dengan faktor pejamu menjadi salah satu penyebab terjadinya asma. Yang termasuk faktor lingkungan yaitu:
  • Alergen, semua hal yang memicu terjadinya alergi
  • Sensitisasi lingkungan kerja
  • Asap rokok
  • Polusi udara
  • Infeksi pernapasan
  • status sosial ekonomi

Interaksi faktor genetik atau pejamu dengan lingkungan menyebabkan kemungkinan terjadinya:
  • Pajanan lingkungan hanya meningkatkan risiko asma pada individu dengan genetik asma
  • Baik lingkungan maupun genetik masing-masing meningkatkan risiko penyakit asma

Diagnosis Asma


Diagnosis asma yang tepat sangatlah penting, sehingga penyakit ini dapat ditangani dengan benar. Dokter akan melakukan sejumlah tes untuk mendiagnosis asma. Mengi, batuk yang lama dan berulang, riwayat alergi merupakan titik awal untuk menegakkan diagnostik. Secara umum untuk menegakkan diagnosa asma diperlukan pemeriksaan seperti berikut ini:

1. Anamnesa, ada bererapa hal yang harus ditanyakan kepada pasien antara lain:
  • Apakah ada batuk yang terutama pada malam menjelang dini hari?
  • Apakah pasien mengalami mengi atau dada terasa berat atau batuk setelah terpajan allergen?
  •  Apakah ada mengi atau rasa berat di dada atau batuk setelah melakukan aktifitas berat?
  • Apakah gejala-gejala tersebut di atas berkurang atau hilang setelah pemberian obat pelega?
  • Apakah ada batuk, mengi, sesak di dada jika terjadi perubahan musim atau cuaca atau suhu yang ekstrim?
  • Apakah ada penyakit alergi?
  • Apakah dalam keluarga (kakek atau nenek, orang tua, saudara kandung, saudara sepupu)ada yang menderita asma atau alergi?
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan fungsi paru dengan spirometer
4. Pemeriksaan arus puncak ekspirasi dengan alat peak flow meter
5. Uji reversibilitas dengan bronkodilator
6. Uji provokasi bronkus, untuk menilai ada tidaknya hiperaktivitas bronkus
7. Uji alergi (tes tusuk kulit) untuk menilai ada tidaknya alergi
8. Rontgen, untuk menyingkirkan penyakit lain selain asma


Pengobatan Asma


Pada pengobatan asma bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar pasien asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Obat asma terdiri dari obat pelega dan pengontrol. Obat pelega diberikan pada saat serangan asma, sedangkan obat pengontrol ditujukan untuk pencegahan serangan asma dan diberikan dalam jangka panjang dan terus menerus. untuk mengontrol asma digunakan anti inflamasi (kortikosteroid inhalasi). Pada anak, kontrol lingkungan mutlak dilakukan sebelum diberikan kortikosteroid dan dosis diturunkan apabila dua sampai tiga bulan kondisi telah terkontrol.

Obat asma yang digunakan sebagai pengontrol antara lain:
  • Inhalasi kortikosteroid
  • Agonis beta-2 kerja panjang
  • Antileukotrin
  • Teofilin lepas lambat

Obat asma yang digunakan sebagai pelega antara lain:
  • Agonis beta-2 kerja cepat
  • Antikolinergik
  • Metilsantin
  • Kortikosteroid sistemik
Selain obat-obatan diperlukan juga menjaga kebugaran antara lain dengan melakukan senam asma. Pada dewasa, dengan senam asma yang teratur, asma terkontrol akan tetap terjaga. Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga pola hidup sehat. Meskipun penderita asma melakukan pengobatan dengan benar tetapi faktor lingkungan tidak diatasi, seperti: banyak debu, asap rokok maka asma sulit terkontrol.

Pencegahan Asma

Pencegahan asma dapat dilakukan menjadi tiga tahap yaitu:

1. Pencegahan primer
Ditujukan untuk mencegah sensitisasi (yaitu seseorang dengan risiko genetik dan lingkungan apabila terpajan dengan pemicu maka akan timbul sensitisasi pada dirinya) pada bayi dengan risiko asma (orang tua asma), dengan cara:
  • Menghindari asap rokok atau asap polutan lain selama kehamilan dan masa perkembangan bayi.
  • Diet hipoalergenik ibu hamil, dengan syarat diet tersebut tidak mengganggu asupan janin.
  • Pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan
  • Diet hipoalergenik ibu menyusui

2. Pencegahan sekunder
Ditujukan untuk mencegah inflamasi pada anak yang telah tersentisisasi dengan cara menghindari pajanan asap rokok, serta allergen dalam ruangan terutama tungau debu rumah.

3. Pencegahan tersier
Ditujukan untuk mencegah manifestasi asma pada anak yang telah menunjukkan manifestasi alergi. Sebuah penelitian multi senter yang dikenal dengan nama ETAC Study (early treatment of atopic children) mendapatkan bahwa pemberian setirizin selama 18 bulan pada anak atopi dengan dermatitis atopi dan IgE spesifik terhadap serbuk rumput dan tungau debu rumah menurunkan kejadian asma sebanyak 50 persen. Perlu ditekankan bahwa pemberian setirizin pada penelitian ini bukan sebagai pengendali asma (controller)

Artikel Terkait