Selasa, 14 Februari 2017

Diabetes Melitus - Pengertian, Penyebab, Gejala, Pengobatan

Diabetes Melitus - Pengertian, Penyebab, Gejala, Pengobatan

Pengertian 

Diabetes melitus adalah suatu penyakit metabolisme yang berlangsung lama dengan banyak penyebab yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin disebabkan oleh gangguan atau kekurangan produksi insulin oleh sel-sel beta langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin. (WHO, 1999) 

Diabetes melitus merupakan penyakit kronik yang tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila penanganannya tidak tepat. 

Klasifikasi 

Diabetes melitus diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya sebagai berikut: 
  1. Diabetes melitus tipe 1, disebabkan destruksi sel beta yang menjurus ke arah defisiensi insulin absolut melalui proses imunologik (otoimunologik) dan idiopatik 
  2. Diabetes melitus tipe 2, penyebabnya bervariasi dari yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif, sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin. 
  3. Diabetes melitus gestasional, merupakan diabetes yang muncul pada masa kehamilan. Umumnya bersifat sementara, tetapi merupakan faktor risiko untuk diabetes melitus tipe 2. 
  4. Diabetes melitus tipe lain, yang disebabkan oleh: 
    • Defek genetik fungsi sel beta 
    • Defek genatik kerja insulin 
    • Penyakit eksokrin pankreas 
    • Endrokrinopati 
    • Diabetes karena obat atau zat kimia 
    • Diabetes karena infeksi 
    • Diabetes imunologi Sindroma genetik 
  5. Pra-diabetes 
    • GPT (glukosa puasa terganggu) 
    • TGT (toleransi glukosa terganggu) 

Penyebab 

Diabetes Melitus Tipe 1 
Diabetes melitus tipe 1 diperkirakan hanya 5-10% dari keseluruhan jumlah penderita diabetes. Gangguan sekresi insulin pada diabetes melitus tipe 1 terjadi karena kerusakan sel beta pulau langerhans yang disebabkan oleh reaksi otoimun. Namun ada pula yang disebabkan oleh virus cocksakie, rubella, CMvirus, herpes. 

Destruksi otoimun dari sel-sel beta pulau langerhans kelenjar pankreas mengakibatkan kekurangan produksi insulin. Kekurangan insulin inilah yang menyebabkan gangguan metabolisme. Selain kekurangan insulin, fungsi sel-sel alfa kelenjar pankreas juga manjadi tidak normal. Salah satu manifestasi dari keadaan ini adalah cepatnya penderita mengalami ketoasidosis diabetik apabila tidak mendapat terapi insulin. 

Penderita diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol dengan baik, dapat terjadi penurunan kemampuan sel-sel sasaran untuk merespon terapi insulin yang diberikan. Defisiensi insulin menyebabkan meningkatnya asam lemak bebas di dalam darah sebagai akibat dari lipolisis yang tak terkendali di jaringan lemak. Asam lemak bebas di dalam darah akan menekan metabolisme glukosa di jaringan-jaringan perifer seperti misalnya jaringan otot rangka, dengan kata lain akan menurunkan penggunaan glukosa oleh tubuh. 

Diabetes Melitus Tipe 2 
Penderita diabetes melitus tipe 2 mencapai 90-95% dari keseluruhan populasi penderita diabetes. Umumnya berusia lebih dari 45 tahun, tetapi sekarang di kalangan remaja populasinya meningkat. 

Penyebab diabetes melitus tipe 2 belum sepenuhnya terungkap dengan jelas. Faktor genetik dan pengaruh lingkungan cukup besar dalam menyebabkan terjadinya diabetes melitus tipe 2, antara lain: 
  • Obesitas 
  • Diet tinggi lemak dan rendah serat 
  • Kurang beraktivitas atau olah raga 
Obesitas merupakan salah satu faktor pradisposisi utama. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara gen-gen yang bertanggung jawab terhadap obesitas dengan gen-gen yang merupakan faktor pradisposisi untuk diabetes melitus tipe 2. Diabetes melitus tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, tetapi karena sel-sel sasaran insulin tak mampu merespon insulin secara normal. 

Resistensi insulin banyak terjadi sebagai akibat dari obesitas, gaya hidup kurang gerak, dan penuaan. Disamping resistensi insulin, pada penderita diabetes melitus tipe 2 juga timbul gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang berlebihan. Oleh sebab itu dalam penanganannya umumnya tidak memerlukan terapi pemberian insulin. 

Diabetes melitus tipe 2 yang tidak ditangani dengan tepat, akan mengalami kerusakan sel-sel beta pankreas yang terjadi secara progresif, yang sering kali akan mengakibatkan kekurangan insulin, sehingga akhirnya penderita memerlukan insulin dari luar. 

Menuryr sebuah penelitian  bahwa pada penderita diabetes melitus tipe 2 umumnya ditemukan faktor resistensi insulin dan defisiensi insulin. 

Diabetes Melitus Gestasional 
Merupakan diabetes yang timbul selama masa kehamilan, dan biasanya berlangsung hanya sementara. Sekitar 4-5 % wanita hamil diketahui menderita diabetes ini, dan umumnya terdeteksi pada atau setelah trimester kedua. 

Diabetes pada masa kehamilan umumnya akan pulih sendiri setelah melahirkan, namun dapat berakibat buruk terhadap bayi yang dikandung. Akibat buruk yang dapat terjadi yaitu peningkatan berat badan bayi ketika lahir dan meningkatnya risiko kematian. Disamping itu, wanita yang pernah menderita diabetes gestasional akan lebih besar risikonya untuk menderita diabetes di masa depan. Menjaga pola hidup sehat yang ketat dapat mengurangi risiko tersebut. 

Pra-diabetes 
Merupakan kondisi  kadar gula darah seseorang berada diantara kadar normal dan diabetes. Lebih tinggi dari pada normal tetapi tidak cukup tinggi untuk dikategorikan ke dalam diabetes. Kondisi pra-diabetes merupakan faktor risiko untuk diabetes, serangan jantung dan stroke. 

Apabila tidak dikontrol dengan baik, kondisi pra-diabetes dapat meningkat menjadi diabetes tipe 2 dalam kurun waktu 5-10 tahun. Namun diet dan olahraga yang baik dapat mencegah dan menunda timbulnya diabetes. Ada dua tipe kondisi pra-diabetes, yaitu: 
  1. Impaired Fasting Glucose (IFG), yaitu keadaan dimana kadar gula darah puasa seseorang sekitar 100-125 mg/dl. 
  2. Impaired Glucose Tolerance (IGT), yaitu keadaan dimana kadar gula darah 2 jam setelah mengkonsumsi 75 gram glukosa per oral berada diantara 140-199 mg/dl. 

Faktor Risiko 

Setiap orang yang memiliki risiko diabetes disarankan untuk segera memeriksakan dirinya ke dokter. Semakin cepat kondisi diabetes diketahui dan ditangani, makin mudah untuk mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. 

Beberapa faktor risiko diabetes antara lain: 
  • Riwayat 
    • Diabetes dalam keluarga 
    • Diabetes gestasional 
    • Melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg 
    • Kista ovarium 
    • Impaired fasting glucose 
    • Impaired glucose tolerance 
  • Obesitas, berat badan > 120% berat badan ideal 
  • Umur, umur 20-59 tahun: 8,7%, umur > 56 tahun: 18% 
  • Etnik atau ras 
  • Hipertensi 
  • Hiperlipidemia 
  • Kurang olah raga 
  • Pola makan rendah serat 

Gejala 

Diabetes seringkali muncul tanpa gejala, namun demikian ada beberapa gejala yang harus diwaspadai sebagai isyarat kemungkinan diabetes. Gejala yang sering dirasakan antara lain: 
  • Poliuria, sering buang air kecil 
  • Polidipsia, sering haus 
  • Polifagia, banyak makan atau mudah lapar 
  • Penglihatan kabur 
  • Koordinasi gerak anggota tubuh terganggu 
  • Kesemutan pada tangan dan kaki 
  • Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas 
  • Disfungsi ereksi pada pria 
  • ruritus vulvae pada wanita 
Gejala tersebut umumnya terjadi pada diabetes tipe 1, sedangkan pada diabetes tipe 2 gejala yang dikeluhkan umumnya hampir tidak ada. Diabetes tipe 2 seringkali muncul tanpa diketahui, dan penanganan baru dimulai beberapa tahun kemudian ketika penyakit sudah berkembang dan sudah terjadi komplikasi. Pada penderita diabetes tipe 2 umumnya lebih mudah terkena infeksi, sukar sembuh dari luka, daya penglihatan makin buruk, dan umumnya menderita hipertensi, hiperlipidemia, obesitas, dan juga komplikasi pada pembuluh darah dan saraf. 

Diagnosis 

Diagnosis diabetes umumnya akan dipikirkan apabila ada keluhan khas diabetes berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Apabila ada keluhan khas, diagnosis diabetes ditegakkan jika: 
  • Hasil pemeriksaan kadar gula darah sewaktu > 200 mg/dl 
  • Hasil pemeriksaan kadar gula darah puasa > 126 mg/dl 
Kriteria penegakkan diagnosis 
  1. Gula darah puasa 
    • Normal < 100 mg/dl 
    • Pra-diabetes 100-125 mg/dl 
    • Diabetes > 126 mg/dl 
  2. Gula darah 2 jam setelah makan 
    • Normal < 140 mg/dl 
    • Pra-diabetes 140-199 mg/dl 
    • Diabetes > 200 mg/dl 
Untuk kelompok tanpa keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar gula darah yang tinggi satu kali saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut pada hari yang lain. 

Komplikasi 

Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan komplikasi akut dan kronis. Berikut ini akan diuraikan beberapa komplikasi yang sering terjadi dan harus diwaspadai. 

Hipoglikemia 
Hipoglikemia adalah gangguan kesehatan yang terjadi ketika kadar gula darah dibawah kadar normal. Seseorang yang mengalami hipoglikemia menunjukkan gejala sebagai berikut: 
  • Merasa pusing 
  • Lemas dan gemetar 
  • Pandangan ber
  • kunang-kunang 
  • Pitam, pandangan menjadi gelap 
  • Keluar keringat dingin 
  • Detak jantung meningkat 
  • Hilang kesadaran 
Penderita hipoglikemia yang tidak segera ditangani bisa terjadi kerusakan otak dan kematian. Pada hipoglikemia, kadar gula darah penderita kurang dari 50 mg/dl. Kadar gula darah yang terlalu rendah menyebabkan sel-sel otak tidak mendapat pasokan energi sehingga tidak dapat berfungsi bahkan dapat rusak. 

Serangan hipoglikemia umumnya apabila penderita: 
  • Lupa atau sengaja meninggalkan makan 
  • Makan terlalu sedikit, lebih sedikit dari yang disarankan oleh dokter 
  • Berolah raga terlalu berat 
  • Mengkonsumsi obat antidiabetes dalam dosis yang lebih besar dari pada seharusnya 
  • Minum alkohol 
  • Stres 
  • Mengkonsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia 
Disamping penyebab di atas, perlu juga diperhatikan hal-hal berikut ini: 
  • Dosis insulin yang berlebihan 
  • Saat pemberian yang tidak tepat 
  • Penggunaan glukosa yang berlebihan seperti olahraga berlebihan 
  • Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan kepekaan individu terhadap insulin seperti gangguan fungsi adrenal atau hipofisis 

Hiperglikemia 
Hiperglikemia adalah keadaan dimana kadar gula darah melonjak secara tiba-tiba. Keadaan ini dapat disebabkan oleh stres, infeksi, dan konsumsi obat-obatan tertentu. 

Pada penderita hiperglikemia ditemukan gejala sebagai berikut:
  • Poliuria 
  • Polidipsia 
  • Polifagia 
  • Kelelahan yang parah 
  • Pandangan kabur 
Hiperglikemia dapat memperburuk gangguan kesehatan seperti gastroparesis, disfungsi ereksi, dan jamur pada vagina. Hiperglikemia yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya, yaitu ketoasidosis diabetik. Hiperglikemia dapat dicegah dengan kontrol kadar gula yang ketat. 

Makrovaskular 
Komplikasi makrovaskular dapat terjadi pada diabetes tipe 1, namun lebih sering terjadi pada diabetes tipe 2. Penderita diabetes dengan komplikasi makrovaskular  umumnya menderita hipertensi, dislipidemia, dan kegemukan. 

Pada umumnya komplikasi makrovaskuler yang terjadi adalah: 
  • Jantung koroner 
  • Penyakit pembuluh darah otak 
  • Penyakit pembuluh darah perifer 
Penyakit jantung sangat besar risikonya pada penderita diabetes. Pencegahan wajib dilakukan seperti pengendalian tekanan darah, kadar kolestrol dan lipid darah. Penderita diabetes sebainya selalu menjaga tekanan darah tidak lebih dari 130/80 mmHg. Hal-hal yang harus dilakukan yaitu: 
  • Menjaga berat badan ideal 
  • Diet gizi seimbang 
  • Berolahraga secara teratur 
  • Tidak merokok 
  • Mengurangi stres 
Mikrovaskular 
Komplikasi mikrovaskular sering terjadi pada penderita diabetes tipe 1. Meningkatnya kadar gula darah yang persisten dan pembentukan protein yang terglikasi menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi makin lemah, rapuh dan terjadi penyumbatan pada pembuluh-pembuluh darah kecil. Hal inilah yang mendorong timbulnya komplikasi mikrovaskular. 

Berikut ini komplikasi mikrovaskular yang terjasi pada diabetes. 
  • Retinopati, gangguan pada pembuluh darah di retina 
  • Nefropati, gangguan ginjal yang disebabkan oleh rusaknya pembuluh darah atau unit ginjal yang bekerja membersihkan ginjal. 
  • Neuropati, gangguan pada sistem saraf pusat atau perifer 
Disamping karena hiperglikemia, ketiga komplikasi ini juga dipengaruhi faktor genetik. Oleh sebab itu dapat terjadi dua orang yang memiliki hiperglikemia yang sama, berbeda risiko komplikasi mikrovaskularnya. Satu-satunya cara yang signifikan untuk mencegah atau memperlambat jalan perkembangan komplikasi mikrovaskular adalah dengan pengendalian kadar gula darah yang ketat. Pengendalian intensif dengan menggunakan suntikan insulin multi-dosis dapat menurunkan risiko sampai 60%. 

Pengobatan 

Penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan risiko kematian, yang secara spesifik ditujukan untuk mencapai dua target utama, yaitu: 
  • Menjaga agar kadar gula darah dalam batas normal 
  • Mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi 
Pada dasarnya ada dua pendekatan dalam penatalaksanaan diabetes, yaitu pendekatan tanpa obat dan pendekatan dengan obat. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah penatalaksanaan tanpa obat berupa pengaturan diet dan olah raga. Apabila dengan langkah pertama tujuan penatalaksanaan belum tercapai, dapat dikombinasikan dengan langkah farmakologis berupa terapi insulin atau terapi obat hipoglikemik oral atau kombinasi keduanya.

Pengaturan Diet 
Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, lemak, dan protein. Komposisinya yaitu karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25%. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan status gizi, umur, stres, dan kegiatan fisik, yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. 

Dalam salah satu penelitian dilaporkan bahwa penurunan berat badan 5% berat badan dapat mengurangi kadar HbA1c sebanyak 0,6% dan setiap kilogram penurunan berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu harapan hidup. 

Pilihan jenis makanan yang perlu diperhatikan dalam pengaturan diet: 
  • Masukan kolestrol tetap diperlukan, namun jangan melebihi 300 mg per hari 
  • Sumber lemak diupayakan yang berasal dari bahan nabati 
  • Sumber protein sebaiknya diperoleh dari ikan, tahu, tempe, karena tidak banyak mengandung lemak. 
  • Masukan serat sangat penting 
Disamping akan menghambat penyerapan lemak, makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membatasi rasa lapar yang sering dirasakan penderita diabetes tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Disamping itu makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya akan vitamin dan mineral. 

Olahraga
Berolahraga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap normal. Prinsipnya tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Beberapa contoh olah raga yang disarankan yaitu jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang. Olahraga aerobik ini paling tidak dilakukan selama total 30-40 menit per hari didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri pendinginan antar 5-10 menit. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa.

Terapi Insulin 
Apabila penatalaksanaan terapi tanpa obat belum berhasil mengendalikan kadar gula darah, maka perlu dilakukan langkah penatalaksanaan terapi obat, baik dalam bentuk obat hipoglikemik oral, terapi insulin, atau kombinasi keduanya.
Terapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita diabetes tipe 1, karena sel-sel beta langerhans kelenjar pankreas penderita rusak sehingga tidak dapat memproduksi insulin. Sebagai penggantinya, maka harus mendapatkan insulin eksogen untuk membantu agar metabolisme karbohidrat dapat berjalan normal. Walaupun sebagian penderita diabetes tipe 2 tidak memerlukan terapi insulin, namun hampir 30% ternyata memerlukan terapi insulin disamping terapi hipoglikemik oral. 

Terapi Hipoglikemik Oral 
Obat-obat hipoglikemik oral terutama ditujukan untuk membantu pasien diabetes tipe 2. Pemilihan obat hipoglikemik oral yang tepat sangat menentukan keberhasilan terapi diabetes. Pemberian obat hipoglikemik oral dapat dilakukan dengan menggunakan satu jenis obat atau kombinasi dari dua jenis obat. 

Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat hipoglikemik oral dibagi menjadi tiga golongan yaitu: 
  • Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin 
    • Sulfonilurea
    • Glinida 
  • Sensitiser insulin
    • Biguanida
    • Tiazolidindion  
  • Inhibitor katabolisme karbohidrat

Artikel Terkait