Kamis, 30 Maret 2017

Bagaimana Perkembangan Anak Usia 8 Tahun

Bagaimana Perkembangan Anak Usia 8 Tahun

Seorang anak harus mampu untuk

  1. Perkembangan fisik lebih stabil dan lebih bertingkat, jika dibandingkan dengan usia di bawah delapan tahun. 
  2. Otot semakin kekar, keterampilan gerak meningkat.
  3. Kemampuan untuk memahami dan mengkomunikasikan berbagai konsep yang abstrak dan idea yang komplek mulai berkembang.
  4. Ruang lingkup perhatian semakin luas, dan ia mampu memfokuskan perhatiannya pada masa lalu, masa yang akan datang ataupun masa kini.
  5. Kemampuan belajarnya semakin luas, dan ia mampu membaca, menulis, serta memecahkan masalah dilingkungan sekolah. 
  6. Teman-teman dan pergaulan dengan kelompoknya semakin menjadi penting.
  7. Minat untuk pertemanan termasuk menikmati waktu bersama ia dan kelompoknya serta merujuk kepada kelompoknya untuk mendapatkan informasi.
  8. Kemampuan mengendalikan dirinya meningkat, dan memahami masalah emosi yang lebih komplekpun meningkat pula. 

Nasihat untuk para orang tua dan pengasuh

  1. Menjadi tokoh panutan baik untuk anak perempuan maupun anak laki-laki. 
  2. Mendorong anak untuk dapat mengekspressikan perasaan dan keyakinannya serta kemampuan untuk memecahkan masalah. 
  3. Mengenal dan mendukung kekuatan anak, keterampilannya sebagaimana juga keterbatasannya. 
  4. Meluangkan waktu bersama anak untuk ngobrol, bicara dan mendengarkan anak. 
  5. Mengembangkan kegiatan yang dapat dikerjakan bersama anak, yang dapat menyebabkan anak merasa berhasil, aman dan disayangi. 
  6. Mendukung dan memfasilitasi waktu anak bermain dengan teman-temanya, atau pun dalam kegiatan ekstra kurikulernya.
  7. Hargai dan dorong perilaku positif serta membuat ketentuan yang jelas dan konsisten. 
  8. Tunjukkan minat dan terlibat dalam sekolah anak anda, ingat bahwa ayah dan ibu serta pengasuh merupakan guru pertama dan utama. 

Berbagai tanda peringatan yang harus diwaspadai

  1. Kesulitan untuk mencari dan mempertahankan teman serta sulit untuk turut dalam kegiatan kelompok. 
  2. Menghindari tugas dan tantangan tanpa melakukan usaha, serta menujukkan gejala pasrah. 
  3. Sulit menyampaikan kebutuhan, pikiran dan perasaan. 
  4. Sulit memfokuskan diri pada tugas, memahami dan menyelesaikan pekerjaan sekolah. 
  5. Sikap melawan yang berlebihan, atau rasa malu terhadap teman dan keluarga.

Rabu, 22 Maret 2017

Yang Harus Diketahui Keluarga dan Masyarakat Tentang Pengaturan Kelahiran

Yang Harus Diketahui Keluarga dan Masyarakat Tentang Pengaturan Kelahiran

Terlalu muda melahirkan (di bawah usia 18 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun) dapat membahayakan kehidupan perempuan dan anak mereka.

Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian ibu adalah 228 per 100.000 Kelahiran Hidup. Diharapkan pada 2015 angka kematian bayi turun menjadi 102 per 100.000 Kelahiran Hidup. Pencapaian tahun 2015 merupakan target komitmen global MDG’s.

Keluarga Berencana (KB) adalah salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan dan keselamatan ibu, anak, serta perempuan. Pelayanan KB menyediakan informasi, pendidikan dan cara-cara bagi laki-laki dan perempuan untuk dapat merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah anak, berapa tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan berhenti mempunyai anak.

Namun demikian, faktanya jutaan perempuan termasuk remaja puteri tidak bisa mengendalikan kehamilan atau pengaturan jarak kelahiran bahkan tidak memiliki akses terhadap metode KB yang efektif.

Baik suami maupun istri memiliki hak yang sama untuk menetapkan berapa jumlah anak yang akan dimiliki dan kapan akan memiliki anak. Melalui pelayanan KB pasangan suami istri dapat menentukan pilihan kontrasepsi berdasarkan informasi yang mereka pahami, misalnya tentang kehamilan dengan mempertimbangkan keuntungan dan risiko, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan faktor usia serta akses terhadap pelayanan kesehatan.

Apa yang harus diketahui oleh keluarga dan masyarakat tentang Pemgaturan Kelahiran

  • Hamil sebelum usia 18 tahun atau di atas 35 tahun akan meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu dan bayinya. 
  • Untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, seorang ibu sebaiknya menunda kehamilan berikutnya sampai anaknya yang terakhir berusia minimal dua tahun. 
  • Risiko kesehatan selama kehamilan dan persalinan akan semakin meningkat, jika seorang ibu terlalu sering hamil. 
  • Pelayanan KB memberikan pasangan suami istri pengetahuan dan kemampuan untuk merencanakan kapan akan mulai punya anak, berapa jumlah anak yang akan dimiliki, berapa tahun jarak usia antara anak, dan kapan akan berhenti melahirkan. Terdapat banyak pilihan alat kontrasepsi yang aman, efektif dan dapat diterima untuk mencegah kehamilan. 
  • Setiap pria dan wanita usia subur berhak mendapatkan informasi dan pelayanan KB serta bertanggung jawab terhadap KB. Mereka perlu mengetahui tentang manfaat KB bagi kesehatan dan berbagai pilihan yang tersedia.

Adanya jaminan akses terhadap pelayanan KB untuk pasangan suami istri, serta jaminan pendidikan bagi semua anak akan sangat membantu mencegah kematian ibu dan anak serta kecacatan. Segala pertimbangan ini akan membantu semua perempuan usia subur, remaja puteri dan anak untuk dapat tetap hidup sehat dan sejahtera.

Bahaya Hamil Sebelum Usia 18 Tahun atau di Atas 35 Tahun

Bahaya Hamil Sebelum Usia 18 Tahun atau di Atas 35 Tahun

Di Indonesia, setiap jam satu orang ibu meninggal. Menurut SDKI 2007, Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Berdasarkan hasil SKRT 2001 penyebab kematian Ibu adalah perdarahan (28%), keracunan kehamilan (24%) dan infeksi (11%). Penyebab tidak langsung kematian ibu antara lain kurang energi kronis/KEK pada kehamilan (37%) dan anemia pada kehamilan (40%). Kejadian anemia pada ibu hamil ini akan meningkatkan risiko terjadinya kematian ibu dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia. Sedangkan laporan rutin Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) tahun 2007, penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (39%), keracunan kehamilan (20%), infeksi (7%) dan lain-lain (33%).

Menunda kehamilan pertama sampai ibu berusia minimal 18 tahun membantu memastikan kehamilan dan persalinan yang lebih aman. Hal ini mencegah risiko bayi lahir prematur maupun bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Sedangkan bagi ibu, proses kehamilan dan persalinan pun lebih lancar baik dari segi fisik maupun mental. Hal ini menjadi penting terutama di daerah-daerah di mana pernikahan usia dini merupakan adat dan remaja menghadapi tekanan untuk segera hamil.

Melahirkan bagi seorang remaja puteri akan lebih berbahaya dan lebih sulit dibandingkan dengan perempuan dewasa. Bayi yang lahir dari seorang ibu yang masih sangat muda cenderung meninggal pada tahun pertama kehidupan bayi. Remaja puteri umumnya belum memiliki pinggul yang berkembang sempurna. Dengan demikian kehamilan bagi kelompok ini akan memberikan konsekuensi yang serius, seperti keracunan kehamilan, kelahiran prematur, kelahiran lewat waktu, kelahiran dengan penyulit, anemia (kurang darah) bahkan kematian ibu dan atau bayi.

Semakin muda seorang ibu, semakin besar risiko bagi ibu dan bayinya. Bagi remaja puteri di bawah usia 15 tahun, risiko kematian meningkat dengan tajam. Remaja puteri yang melahirkan sebelum usia 15 tahun memiliki risiko kematian lima kali lipat dibandingkan dengan ibu usia 20 tahunan.

Setiap perempuan usia subur, menikah atau tidak menikah, memerlukan bantuan untuk menunda kehamilan. Semua pihak yang terkait dalam masalah kehamilan dini baik remaja puteri dan ibu muda, remaja putra dan pria serta keluarganya, harus sadar tentang risiko yang mungkin terjadi dan bagaimana cara menghindarinya. Informasi ini harus juga mencakup tentang bagaimana mencegah infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV.

Setelah usia 35 tahun, risiko yang terkait dengan kehamilan dan persalinan bagi perempuan meningkat lagi. Risiko tersebut termasuk tekanan darah tinggi, perdarahan, keguguran dan diabetes selama kehamilan serta cacat bawaan pada bayi.

Perlu digarisbawahi bahwa kehamilan di kalangan remaja memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi, termasuk keracunan kehamilan, kelahiran prematur, kelahiran lewat waktu, kelahiran dengan penyulit, kurang darah dan meninggal. Sementara itu bagi bayinya, terdapat risiko yang lebih besar seperti kelahiran prematur, BBLR, dan berbagai masalah kesehatan serta kematian. 

Bagi remaja puteri yang hamil di bawah 15 tahun, risiko ini meningkat dengan sangat bermakna.

Perubahan Perilaku Akan Menimbulkan Terjadinya Perubahan Sosial

Perubahan Perilaku Akan Menimbulkan Terjadinya Perubahan Sosial

Sebagai individu, kita mengubah perilaku kita melalui berbagai tahap. Tahap-tahap tersebut meliputi: 
  1. Tidak sadar
  2. Menjadi sadar
  3. Termotivasi untuk mencoba sesuatu yang baru
  4. Mengadopsi perilaku baru
  5. Mempertahankan dan menghayati perilaku baru sehingga menjadi bagian dari perilaku dan kebiasaan sehari-hari.

Pertama, kita harus sadar bahwa perilaku tertentu mungkin tidak sehat bagi kita atau untuk anak-anak kita. Kemudian kita belajar bahwa ada pilihan lain atau perilaku alternatif. Setelah itu kita memutuskan untuk mencoba perilaku baru tersebut. Jika kita merasa puas dan perilaku baru tersebut menguntungkan maka kita akan melakukannya lagi. Akhirnya mungkin kita akan mengadopsinya. Setelah itu kita mungkin saja mempromosikannya kepada orang lain, mendorong mereka untuk mengadopsinya juga.

Belajar sebuah perilaku baru mengikuti siklus yang berawal dari kesadaran, percobaan dan pengulangan. Sebagai contoh, seorang ayah mungkin dapat dibujuk oleh seorang tokoh agama setempat agar anaknya tidur dengan menggunakan kelambu yang berinsektisida. Kemudian ia menyadari bahwa kelambu tersebut mencegah gigitan nyamuk, sehingga anaknya terhindar dari malaria. Kemudian ia menjadi seorang penganjur untuk tidur di dalam kelambu berinsektisida, dan berbagi pengalamannya kepada teman-temannya serta mendorong mereka untuk menggunakan kelambu juga.

Kadang-kadang orang yang tampaknya telah mengadopsi perilaku baru dapat menolak dan kembali ke perilaku lamanya. Sebagai contoh ayah yang sebelumnya telah mempromosikan penggunaan kelambu berinsektisida, kini mulai berpikir bahwa hal tersebut sangat merepotkan, sampai akhirnya ia dan keluarganya memutuskan untuk berhenti menggunakan kelambu.

Sebenarnya kembali kepada perilaku lama dapat membahayakan kesehatan keluarganya. Untuk menjamin kelestarian perilaku baru yang menguntungkan anak dan keluarganya tersebut diperlukan strategi komunikasi dan pembangunan yang berkelanjutan.

Hal ini termasuk menggunakan berbagai macam pesan dan metode untuk mendukung perubahan yang berkelanjutan agar masyarakat dan keluarga tetap mengadopsi perubahan perilaku. Perilaku baru tersebut secara bertahap akan diadopsi pula oleh seluruh warga masyarakat sehingga misalnya pada akhirnya setiap keluarga akan menggunakan kelambu berinsektisida

Perubahan perilaku akan menumbuhkan dinamika yang dapat menimbulkan terjadinya perubahan sosial

Individu jarang berubah dengan sendirinya. Perilaku mereka sering dipengaruhi oleh pandangan serta berbagai kebiasaan keluarga, kawan dan masyarakat. Kadang-kadang hal ini bersifat positif, contohnya ketika setiap orang mencuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar di jamban. Lain waktu dapat pula membahayakan, misalnya ketika orang tua memotong kelamin anak perempuannya atau menolak anaknya diimunisasi.

Untuk mengubah perilaku sosial berarti harus mengubah pandangan dan kebiasaan perilaku sehari-hari dari keluarga dan masyarakat. Apa yang akhirnya dilakukan oleh oleh para orang tua, pengasuh, anak-anak dan remaja sangat sering dipengaruhi oleh apa yang dilakukan sekitar mereka.

Perlawanan akan terjadi apabila norma sosial mendapatkan ancaman. Hal ini disebabkan karena perubahan melibatkan peralihan dinamika kelompok tentang masalah tentang gender, hubungan kekuasaan dan berbagai faktor lainnya dalam keluarga dan masyarakat.

Sebaliknya penerimaan akan segera menular apabila masyarakat melihat keuntungan ekonomi dan sosial dari perilaku baru tersebut. Sebagai contoh, ketika sebuah keluarga menggunakan kelambu ternyata keluarga ini tidak terkena penyakit atau mati karena malaria.

Keluarga ini dapat menggunakan seluruh energinya secara optimal untuk produktifitas keluarga dan sekolah anaknya. Masyarakat mulai melihat dan mendengar tentang perubahan, dan segera timbul minat yang luas untuk mengadopsi perilaku baru yang memberikan keuntungan buat mereka. Akhirnya perilaku baru tersebut menjadi kebiasaan normal yang dilakukan oleh setiap orang.

14 Penuntun Hidup Sehat

Pesan Utama Penuntun Hidup Sehat

Berikut ini 14 Pesan Utama Penuntun Hidup Sehat
  1. Kesehatan perempuan dan anak dapat ditingkatkan secara bermakna apabila kelahiran berjarak paling sedikit dua tahun antara kelahiran anak terakhir dengan awal kehamilan berikutnya. Kesehatan Ibu dan Anak akan semakin berisiko, apabila kehamilan terjadi dibawah usia 18 tahun, atau di atas usia 35 tahun. Pria dan perempuan termasuk para remaja harus tahu manfaat keluarga berencana sehingga mereka dapat melakukan pilihan yang tepat.
  2. Semua perempuan hamil harus mengunjungi petugas kesehatan terlatih untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan dan pasca kelahiran, dan semua kelahiran harus ditolong oleh petugas terlatih. Semua perempuan hamil dan keluarganya harus mengetahui tanda-tanda dari berbagai masalah selama dan sesudah kehamilan, serta tahu berbagai pilihan untuk mendapatkan pertolongan. Mereka juga harus punya rencana dan sumber daya untuk mendapatkan pertolongan kelahiran oleh tenaga ahli, dan pertolongan darurat jika diperlukan.
  3. Anak mulai belajar sejak dilahirkan. Mereka akan tumbuh dan belajar dengan baik, apabila mereka mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan rangsangan, disamping asupan gizi yang baik, dan perawatan kesehatan yang memadai. Mendorong anak laki-laki dan perempuan untuk bersama-sama mengamati dan mengekspresikan diri, serta bermain dan mengeksplorasi sangat membantu mereka untuk belajar dan berkembang, baik secara sosial, fisik, emosional dan intelektual.
  4. Air Susu Ibu saja adalah makanan dan minuman terbaik untuk bayi sampai dengan usia enam bulan. Setelah usia enam bulan, bayi memerlukan makanan tambahan bergizi lainnya, disamping tetap memberikan ASI sampai dengan usia 2 tahun atau lebih.
  5. Kurang gizi pada perempuan hamil atau pada anak dibawah usia 2 tahun dapat memperlambat perkembangan mental dan fisiknya. Anak memerlukan keseimbangan asupan makanan yang meliputi protein, tenaga, vitamin dan berbagai mineral seperti zat besi dan vitamin A, agar perkembangan dan kesehatannya terjaga dengan baik. Sejak lahir sampai dengan usia satu tahun anak harus ditimbang setiap bulan, sedangkan bagi anak usia satu sampai dua tahun ditimbang sekurang-kurangnya setiap tiga bulan. Jika seorang anak terlihat kurang tumbuh, maka anak tersebut harus segera diperiksa oleh petugas kesehatan terlatih.
  6. Setiap anak berusia 1-2 tahun harus mendapatkan satu paket imunisasi secara lengkap untuk melindungi mereka terhadap berbagai penyakit yang dapat menyebabkan terlambatnya pertumbuhan, cacat, atau meninggal. Semua perempuan usia subur termasuk remaja harus dilindungi dari tetanus untuk keselamatan mereka sendiri atau bayi yang akan dikandungnya kelak. Secara keseluruhan, lima dosis vaksin tetanus harus diberikan untuk perlindungan selama hidupnya. Bagi ibu hamil yang belum mendapatkan lima dosis vaksin tetanus, harus mendapatkan booster.
  7. Anak yang terserang diare harus mendapatkan cairan yang benar dalam jumlah yang cukup – Air Susu Ibu – dan larutan Oralit. Bagi anak yang berusia lebih dari enam bulan, perlu ditambahkan pemberian makanan dan minuman bergizi. Zinc harus diberikan untuk mengurangi kerusakan jaringan tubuh akibat diare. Jika diarenya bercampur darah, atau terlalu sering dan sangat cair, maka anak dalam keadaan bahaya dan harus segera dibawa kepada petugas kesehatan terlatih untuk mendapatkan pertolongan pengobatan.
  8. Hampir sebagian besar anak yang menderita batuk atau flu akan sembuh dengan sendirinya. Tetapi jika seorang anak batuk dan demam, bernafas cepat dan sulit, maka ia harus segera dibawa kepada petugas kesehatan terlatih untuk mendapatkan pertolongan pengobatan.
  9. Banyak penyakit yang dapat dicegah melalui praktik hidup bersih seperti mencuci tangan dengan sabun dan air (atau penggantinya seperti abu dan air) setelah buang air besar atau membersihkan anak yang baru selesai buang air besar, menggunakan toilet yang bersih, membuang kotoran jauh dari lingkungan tempat bermain dan sumber air, mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, menggunakan air bersih dari sumber yang aman, serta merebus air minum sampai mendidih, serta menjaga makanan dan minum tetap bersih.
  10. Malaria, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk sangat berbahaya. Di daerah endemis malaria orang harus tidur dengan menggunakan kelambu berinsektisida. Anak yang demam harus diperiksa oleh petugas kesehatan terlatih untuk mendapatkan pengobatan dan dilap dengan air dengan suhu normal. Sementara itu ibu hamil di daerah endemis malaria harus minum pil anti malaria seperti yang disarankan oleh petugas kesehatan.
  11. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), sebuah penyakit yang dapat dicegah, diobati tetapi tidak dapat disembuhkan. HIV ditularkan melalui hubungan seks yang tidak dilindungi, dengan orang yang sudah terinfeksi HIV, serta ditularkan melalui seorang ibu hamil yang sudah terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya, anak yang dilahirkannya, atau anak yang disusuinya, atau melalui darah dengan jarum suntik atau benda tajam lainnya yang sudah terkontaminasi HIV, melalui transfusi darah yang sudah terkontaminasi HIV. Memberikan penyuluhan kepada semua orang tentang HIV, mengurangi cap buruk serta diskriminasi harus dimasukkan sebagai bagian dari komunikasi, informasi dan edukasi tentang pencegahan HIV, test, dan pengobatan. Diagnosis awal dan pemberian pengobatan kepada anak serta orang dewasa merupakan upaya yang dapat lebih memberikan jaminan untuk hidup lebih lama dan lebih sehat. Anak dan keluarga yang tertular HIV harus memperoleh akses pelayanan kesehatan yang ramah anak, serta perawatan gizi dan pelayanan kesejahteraan sosial. Semua penderita HIV harus tahu hak-hak mereka. gizi dan pelayanan kesejahteraan sosial. Semua penderita HIV harus tahu hak-hak mereka.
  12. Remaja puteri dan putera harus secara setara mendapatkan perlindungan di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Jika lingkungan tersebut tidak melindungi, maka anak-anak akan menjadi lebih tidak berdaya terhadap kekerasan, penggunaan obat terlarang, eksploitasi seks, penjualan orang, menjadi pekerja anak, praktik yang berbahaya, dan diskriminasi. Hidup dalam keluarga, mendaftarkan untuk mendapatkan akta kelahiran, mendapatkan akses kepada pelayanan dasar, memberikan perlindungan dari kekerasan, sistem keadilan yang bersahabat kepada anak yang didasarkan kepada hak anak-anak, keterlibatan secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk melindungi mereka sendiri adalah merupakan dasar penting bagi penciptaan lingkungan yang melindungi sehingga nantinya anak-anak mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya.
  13. Banyak cedera serius yang dapat mengakibatkan kecacatan, atau kematian dapat dicegah jika orang tua atau pengasuhnya mengawasi anak-anak mereka dengan hati-hati, serta menjaga lingkungan agar tetap aman, dan mengajarkan mereka bagaimana mencegah kecelakaan dan cedera.
  14. Keluarga dan masyarakat harus siap untuk keadaan darurat. Dalam bencana alam, konflik, epidemi atau pandemi, anak-anak dan perempuan harus mendapatkan perhatian terlebih dahulu, termasuk pelayanan kesehatan dasar, gizi yang memadai, membantu agar bayi mendapatkan Air Susu Ibu, perlindungan dari kekerasan, penggunaan obat terlarang dan eksploitasi. Anak-anak harus memperoleh kesempatan untuk melakukan rekreasi, dan belajar di sekolah yang aman, sekolah yang ramah anak serta ruang yang dapat memberikan mereka rasa normal dan stabil. Anak-anak harus dirawat oleh orang tua mereka, atau kerabat yang sudah dewasa sehingga mereka merasa aman.

Diharapkan setiap orang seperti petugas kesehatan, guru, pekerja sosial, penyiar, wartawan, pemuka agama, tokoh politik, ibu, ayah, kakek-nenek, anggota keluarga yang lain, kawan, tetangga, mahasiswa, tua, muda, laki-laki dan perempuan dan lain-lain, dapat membantu untuk menyampaikan isi pesan Penuntun Hidup Sehat.

Senin, 20 Maret 2017

Demam Berdarah (DBD) - Pengertian, Penyebab, Gejala, Pengobatan

Demam Berdarah (DBD) - Pengertian, Penyebab, Gejala, Pengobatan

Pengertian

Demam berdarah adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui nyamuk. Nyamuk yang dapat menularkan penyakit demam berdarah adalah nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Virus demam berdarah terdiri dari 4 serotipe yaitu virus DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Penyakit ini merupakan penyakit yang timbul di negara-negara tropis, termasuk di Indonesia (CDC, 2007).

Demam Berdarah Dengue (DBD) banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya. World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.

Penyakit demam berdarah dengue masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Di Indonesia Demam Berdarah pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Angka Kematian (AK) : 41,3 %). Dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia.

Penyebab

DBD disebabkan oleh virus dengue anggota genus Flavivirus, diketahui empat serotipe virus dengue yaitu DEN-1, DEN- 2, DEN-3 dan DEN-4. Nyamuk penular disebut vektor, yaitu nyamuk Aedes (Ae) dari subgenus Stegomya. Vektor adalah hewan arthropoda yang dapat berperan sebagai penular penyakit.

Vektor DBD di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama dan Aedes albopictus sebagai vektor sekunder. Spesies tersebut merupakan nyamuk pemukiman, stadium pradewasanya mempunyai habitat perkembangbiakan di tempat penampungan air/wadah yang berada di permukiman dengan air yang relatif jernih.

Nyamuk Ae. aegypti lebih banyak ditemukan berkembang biak di tempat-tempat penampungan air buatan antara lain : bak mandi, ember, vas bunga, tempat minum burung, kaleng bekas, ban bekas dan sejenisnya di dalam rumah meskipun juga ditemukan di luar rumah di wilayah perkotaan; sedangkan Ae. albopictus lebih banyak ditemukan di penampungan air alami di luar rumah, seperti axilla daun, lubang pohon, potongan bambu dan sejenisnya terutama di wilayah pinggiran kota dan pedesaan, namun juga ditemukan di tempat penampungan buatan di dalam dan di luar rumah.

Spesies nyamuk tersebut mempunyai sifat anthropofilik, artinya lebih memilih menghisap darah manusia, disamping itu juga bersifat multiple feeding artinya untuk memenuhi kebutuhan darah sampai kenyang dalam satu periode siklus gonotropik biasanya menghisap darah beberapa kali.

Klasifikasi kasus dan berat penyakit 

Sekarang ini disepakati bahwa dengue adalah suatu penyakit yang memiliki presentasi klinis bervariasi dengan perjalanan penyakit dan luaran (outcome) yang tidak dapat diramalkan.

Diterbitkannya panduan World Health Organization (WHO) terbaru di tahun 2009 lalu, merupakan penyempurnaan dari panduan sebelumnya yaitu panduan WHO 19975. Penyempurnaan ini dilakukan karena dalam temuan di lapangan ada hal-hal yang kurang sesuai dengan panduan WHO 1997 tersebut. Diusulkan adanya redefinisi kasus terutama untuk kasus infeksi dengue berat.

Keberatan lain dari panduan WHO 1997 adalah karena penyusunannya banyak mengambil rujukan pada kasus infeksi dengue di Thailand, yang walaupun sangat berharga, tetapi tidak dapat mewakili semua kasus di belahan dunia lain yang memiliki perbedaanperbedaan. Sering juga ditemukan kasus DBD yang tidak memenuhi ke empat kriteria WHO 1997 yang dipersyaratkan, namun terjadi syok. Sehingga disepakatilah panduan terbaru WHO tahun 2009.

Klasifikasi kasus yang disepakati sekarang adalah:
  1. Dengue tanpa tanda bahaya (dengue without warning signs)
  2. Dengue dengan tanda bahaya (dengue with warning signs)
  3. Dengue berat (severe Dengue)

Kriteria dengue tanpa/dengan tanda bahaya

  • Bertempat tinggal di /bepergian ke daerah endemik dengue
  • Demam disertai 2 dari hal berikut:
    • Mual, muntah
    • Ruam 
    • Sakit dan nyeri 
    • Uji torniket positif 
    • Lekopenia 
    • Adanya tanda bahaya 
  • Tanda bahaya adalah : 
    • Nyeri perut atau kelembutannya 
    • Muntah berkepanjangan 
    • Terdapat akumulasi cairan 
    • Perdarahan mukosa 
    • Letargi, 
    • lemah 
    • Pembesaran hati > 2 cm
    • Kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang cepat 
  • Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran plasma tidak jelas)

Patogenesis dan patofisiologi 

Patogenesis DBD masih belum jelas betul. Berdasarkan berbagai data epidemiologi dianut 2 hipotesis yang sering dijadikan rujukan untuk menerangkannya. Kedua teori tersebut adalah the secondary heterotypic antibody dependent enchancement of a dengue virus infection yang lebih banyak dianut, dan gabungan efek jumlah virus, virulensi virus, dan respons imun inang.

Virus dengue masuk kedalam tubuh inang kemudian mencapai sel target yaitu makrofag. Sebelum mencapai sel target maka respon immune non-spesifik dan spesifik tubuh akan berusaha menghalanginya. Aktivitas komplemen pada infeksi virus dengue diketahui meningkat seperti C3a dan C5a mediator-mediator ini menyebabkan terjadinya kenaikan permeabilitas kapiler celah endotel melebar lagi.

Akibat kejadian ini maka terjadi ekstravasasi cairan dari intravaskuler ke extravaskuler dan menyebabkan terjadinya tanda kebocoran plasma seperti hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi pleura, asites, penebalan dinding vesica fellea dan syok hipovolemik Kenaikan permeabilitas kapiler ini berimbas pada terjadinya hemokonsentrasi, tekanan nadi menurun dan tanda syok lainnya merupakan salah satu patofisiologi yang terjadi pada DBD.

Gambaran klinis

Gambaran klinis penderita dengue terdiri atas 3 fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase pemulihan.

Pada fase febris
Biasanya demam mendadak tinggi 2 – 7 hari, disertai muka kemerahan, eritema kulit, nyeri seluruh tubuh, mialgia, artralgia dan sakit kepala. Pada beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorok, injeksi farings dan konjungtiva, anoreksia, mual dan muntah. Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti ptekie, perdarahan mukosa, walaupun jarang dapat pula terjadi perdarahan pervaginam dan perdarahan gastrointestinal.

Fase kritis
Terjadi pada hari 3 – 7 sakit dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya berlangsung selama 24 – 48 jam. Kebocoran plasma sering didahului oleh lekopeni progresif disertai penurunan hitung trombosit. Pada fase ini dapat terjadi syok.

Fase pemulihan
Bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48 – 72 jam setelahnya. Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan pulih kembali , hemodinamik stabil dan diuresis membaik.

Dengue Berat

Dengue berat harus dicurigai bila pada penderita dengue ditemukan:
  1. Bukti kebocoran plasma seperti hematokrit yang tinggi atau meningkat secara progresif, adanya efusi pleura atau asites, gangguan sirkulasi atau syok (takhikardi, ekstremitas yang dingin, waktu pengisian kapiler (capillary refill time) > 3 detik, nadi lemah atau tidak terdeteksi, tekanan nadi yang menyempit atau pada syok lanjut tidak terukurnya tekanan darah) 
  2. Adanya perdarahan yang signifikan 
  3. Gangguan kesadaran 
  4. Gangguan gastrointestinal berat (muntah berkelanjutan, nyeri abdomen yang hebat atau bertambah, ikterik) 
  5. Gangguan organ berat (gagal hati akut, gagal ginjal akut, ensefalopati/ensefalitis, kardiomiopati dan manifestasi tak lazim lainnya,

Diagnosis

Langkah penegakkan diagnosis suatu penyakit seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang tetap berlaku pada penderita infeksi dengue. Riwayat penyakit yang harus digali adalah saat mulai demam/sakit, tipe demam, jumlah asupan per oral, adanya tanda bahaya, diare, kemungkinan adanya gangguan kesadaran, output urin, juga adanya orang lain di lingkungan kerja, rumah yang sakit serupa.

Pemeriksaan fisik selain tanda vital, juga pastikan kesadaran penderita, status hidrasi, status hemodinamik sehingga tanda-tanda syok dapat dikenal lebih dini, adalah takipnea/pernafasan Kusmaul/efusi pleura, apakah ada hepatomegali/asites/kelainan abdomen lainnya, cari adanya ruam atau ptekie atau tanda perdarahan lainnya, bila tanda perdarahan spontan tidak ditemukan maka lakukan uji torniket. Sensitivitas uji torniket ini sebesar 30 % sedangkan spesifisitasnya mencapai 82%.

Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan hematokrit dan nilai hematokrit yang tinggi (sekitar 50 % atau lebih) menunjukkan adanya kebocoran plasma, selain itu hitung trombosit cenderung memberikan hasil yang rendah.

Diagnosis konfirmatif diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium, yaitu isolasi virus, deteksi antibodi dan deteksi antigen atau RNA virus. Imunoglobulin M (Ig M) biasanya dapat terdeteksi dalam darah mulai hari ke-5 onset demam, meningkat sampai minggu ke-3 kemudian kadarnya menurun. Ig M masih dapat terdeteksi hingga hari ke-60 sampai hari ke-90.

Akhir-akhir ini dikembangkan pemeriksaan Antigen protein NS-1 Dengue (Ag NS-l) diharapkan memberikan hasil yang lebih cepat dibandingkan pemeriksaan serologis lainnya karena antigen ini sudah dapat terdeteksi dalam darah pada hari pertama onset demam. Selain itu pengerjaannya cukup mudah, praktis dan tidak memerlukan waktu lama. Dengan adanya pemeriksaan Ag NS-l yang spesifik terdapat pada virus dengue ini diharapkan diagnosis infeksi dengue sudah dapat ditegakkan lebih dini.

Penelitian Dussart dkk (2002) pada sampel darah penderita infeksi dengue di Guyana menunjukkan Ag NS-l dapat terdeteksi mulai hari ke-0 (onset demam) hingga hari ke-9 dalarn jumlah yang cukup tinggi. Pada penelitian ini didapatkan sensitivitas deteksi Ag NS -l sebesar 88,7% dan 91 % sedangkan spesifisitas mencapai 100%, dibandingkan terhadap pemeriksaan isolasi virus dan RT-PCR dengan kontrol sampel darah infeksi non-dengue20. Penelitian lainnya di Singapura pemeriksaan NS1- antigen secara Elisa memberikan sensitivitas sampai 93,3 %.

Pengobatan

Pengobatan penderita DBD pada dasarnya bersifat simptomatik dan suportif yaitu pemberian cairan oral untuk mencegah dehidrasi.

Penatalaksanaan DBD tanpa komplikasi
  • Istirahat total di tempat tidur. 
  • Diberi minum 1,5-2 liter dalam 24 ja m (susu, air dengan gula atau air ditambah garam/oralit). Bila cairan or al tidak dapat dibe rikan oleh karena tidak mau minum, muntah atau nyeri pe rut berlebihan, maka cairan inravena harus diberikan. 
  • Berikan makanan lunak 
  • Medikamentosa yang bersifat simp tomatis. Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres, antipiretik yang be rsifat asetaminofen, eukinin, atau dipiron dan jangan diberikan asetosal karena dapat menyebabkan perdarahan. 
  • Antibiotik diberikan bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi sekunder. 

Penatalaksanaan pada pasien syok 
  • Pemasangan infus yang diberikan dengan diguyur, seperti Na Cl, ringer laktat dan dipertahankan selama 12-48 jam setelah syok diatasi. 
  • Observasi keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu, dan pernapasan tiap jam, serta Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (H t) tiap 4-6 jam pada hari pertama selanjutnya tiap 24 jam.
  • Nilai normal Hemoglobin
    • Anak-anak : 11,5 – 12,5 gr/100 ml darah 
    • Laki-laki dewasa : 13 – 16 gr/100 ml darah 
    • Wanita dewasa : 12 – 14 gr/100 ml darah 
  •  Nilai normal Hematokrit 
    • Anak-anak : 33 – 38 vol % 
    • Laki-laki dewasa : 40 – 48 vol % 
    • Wanita dewasa : 37 – 43 vol % c. 
  • Bila pada pemeriksaan darah didapatk an penurunan kadar Hb dan Ht maka diberi transfusi darah.

Indikasi rawat inap 

Penderita infeksi Dengue yang harus dirawat inap adalah seperti berikut. Bila ditemukan tanda bahaya, keluhan dan tanda hipotensi , perdarahan, gangguan organ (ginjal, hepar, jantung dan nerologik), kenaikan hematokrit pada pemeriksaan ulang, efusi pleura, asites, komorbiditas (kehamilan, diabetes mellitus, hipertensi, tukak petik dll), kondisi social tertentu (tinggal sendiri, jauh dari fasilitas kesehatan, transportasi sulit).

Pencegahan 

Vaksin untuk pencegahan terhadap infeksi virus dan obat untuk penyakit DBD belum ada dan masih dalam proses penelitian, sehingga pengendaliannya terutama ditujukan untuk memutus rantai penularan, yaitu dengan pengendalian vektornya.

Pengendalian vektor DBD di hampir di semua negara dan daerah endemis tidak tepat sasaran, tidak berkesinambungan dan belum mampu memutus rantai penularan. Hal ini disebabkan metode yang diterapkan belum mengacu kepada data/informasi tentang vektor, disamping itu masih mengandalkan kepada penggunaan insektisida dengan cara penyemprotan dan larvasidasi.

Beberapa metode pengendalian vektor telah banyak diketahui dan digunakan oleh program pengendalian DBD di tingkat pusat dan di daerah yaitu:

1. Manajemen lingkungan
Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan lingkungan untuk mengurangi bahkan menghilangkan habitat perkembangbiakan nyamuk vektor sehingga akan mengurangi kepadatan populasi.

Manajemen lingkungan hanya akan berhasil dengan baik kalau dilakukan oleh masyarakat, lintas sektor, para pemegang kebijakan dan lembaga swadaya masyarakat melalui program kemitraan. Sejarah keberhasilan manajemen lingkungan telah ditunjukkan oleh Kuba dan Panama serta Kota Purwokerto dalam pengendalian sumber nyamuk.

2. Pengendalian Biologis
Pengendalian secara Biologis merupakan upaya pemanfaatan agent biologi untuk pengendalian vektor DBD. Beberapa agen biologis yang sudah digunakan dan terbukti mampu mengendalikan populasi larva vektor DB/DBD adalah dari kelompok bakteri, predator seperti ikan pemakan jentik dan cyclop (Copepoda).

3. Pengendalian Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi masih paling populer baik bagi program pengendalian DBD dan masyarakat. Penggunaan insektisida dalam pengendalian vektor DBD bagaikan pisau bermata dua, artinya bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Insektisida kalau digunakan secara tepat sasaran, tepat dosis, tepat waktu dan cakupan akan mampu mengendalikan vektor dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan organisme yang bukan sasaran.

Penggunaan insektisida dalam jangka tertentu secara akan menimbulkan resistensi vektor. Data penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 di Jakarta dan Denpasar pada tahun 2009 yang dilakukan oleh Shinta dkk menunjukkan resistensi vektor terhadap insektisida yang digunakan oleh program. Insektisida untuk pengendalian DD/DBD harus digunakan dengan bijak dan merupakan senjata pamungkas.

4. Partisipasi masyarakat
Partisipasi masyarakat merupakan proses panjang dan memerlukan ketekunan, kesabaran dan upaya dalam memberikan pemahaman dan motivasi kepada individu, kelompok, masyarakat, bahkan pejabat secara berkesinambungan.

Program yang melibatkan masyarakat adalah mengajak masyarakat mau dan mampu melakukan 3 M plus atau PSN dilingkungan mereka. Istilah tersebut sangat populer dan mungkin sudah menjadi trade mark bagi program pengendalian DBD, namun karena masyarakat kita sangat heterogen dalam tingkat pendidikan, pemahaman dan latar belakangnya sehingga belum mampu mandiri dalam pelaksanaannya

5. Perlindungan Individu
Untuk melindungi pribadi dari risiko penularan virus DBD dapat dilakukan secara individu dengan menggunakan repellent, menggunakan pakaian yang mengurangi gigitan nyamuk. Baju lengan panjang dan celana panjang bisa mengurangi kontak dengan nyamuk meskipun sementara. Untuk mengurangi kontak dengan nyamuk di dalam keluarga bisa memasang kelambu pada waktu tidur dan kasa anti nyamuk.

Insektisida rumah tangga seperti semprotan aerosol dan repellent: obat nyamuk bakar, vaporize mats (VP), dan repellent oles anti nyamuk bisa digunakan oleh individu. Pada 10 tahun terakhir dikembangkan kelambu berinsektisida atau dikenal sebagai insecticide treated nets (ITNs) dan tirai berinsektisida yang mampu melindungi gigitan nyamuk.

6. Peraturan 
perundanganPeraturan perundangan diperlukan untuk memberikan payung hukum dan melindungi masyarakat dari risiko penulan DBD. Seperi telah penulis paparkan diatas bahwa DBD termasuk salah satu penyakit yang berbasis lingkungan, sehingga pengendaliannya tidak mungkin hanya dilakukan oleh sektor kesehatan. Seluruh negara mempunyai undang-undang tentang pengawasan penyakit yang berpotensi wabah seperti DBD dengan memberikan kewenangan kepada petugas kesehatan untuk mengambil tindakan atau kebijakan untuk mengendalikannya.

Dengan adanya peraturan perundangan baik undang-undang, peraturan pemerintah dan peraturan daerah, maka pemerintah, dunia usaha dan masyarakat wajib memelihara dan patuh. Salah satu Negara yang mempunyai undang-undang dan peraturan tentang vektor DBD adalah Singapura, yang mengharuskan masyarakat untuk menjaga lingkungannya untuk bebas dari investasi larva Aedes.

Minggu, 19 Maret 2017

Masalah, Fakta, dan Data Perokok Di Indonesia


Kebiasaan merokok sudah meluas di hampir semua kelompok masyarakat di Indonesia dan cenderung meningkat, terutama di kalangan anak dan remaja sebagai akibat gencarnya promosi rokok di berbagai media massa. Hal ini memberi makna bahwa masalah merokok telah menjadi semakin serius, mengingat merokok berisiko menimbulkan berbagai penyakit atau gangguan kesehatan yang dapat terjadi baik pada perokok itu sendiri maupun orang lain di sekitarnya yang tidak merokok (perokok pasif).

WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2030, dari 70% kematian yang disebabkan oleh rokok akan terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India (WHO, 2008). Pada tahun 2007, Indonesia menduduki peringkat ke-5 konsumen rokok terbesar setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang. Pada tahun yang sama, Riset Kesehatan Dasar menyebutkan bahwa penduduk berumur di atas 10 tahun yang merokok sebesar 29,2% dan angka tersebut meningkat sebesar 34,7% pada tahun 2010 untuk kelompok umur di atas 15 tahun.

Masalah Rokok Di Indonesia

Masalah merokok sampai saat ini masih menjadi masalah nasional yang perlu secara terus menerus diupayakan penanggulangannya, karena menyangkut berbagai aspek permasalahan dalam kehidupan, yaitu aspek ekonomi, sosial, politik, utamanya aspek kesehatan.

Diperkirakan lebih dari 40,3 juta anak tinggal bersama dengan perokok dan terpapar pada asap rokok di lingkungannya dan disebut sebagai perokok pasif. Sedangkan kita tahu bahwa anak yang terpapar asap rokok dapat mengalami peningkatan risiko terkena Bronkitis, Pneumonia, infeksi telinga tengah, Asma, serta kelambatan pertumbuhan paruparu. 

Kerusakan kesehatan dini ini dapat menyebabkan kesehatan yang buruk pada masa dewasa. Orang dewasa bukan perokok pun yang terus-menerus terpapar juga akan mengalami peningkatan risiko Kanker Paru dan jenis kanker lainnya.

Soewarta Kosen dkk (2009) memperkirakan bahwa jika asumsi tanpa biaya rawat inap, maka total biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat karena penyakit yang berkaitan dengan tembakau berjumlah Rp.15,44 triliun. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan total biaya rawat inap untuk penyakit yang sama pada tahun 2001 yakni Rp.2,6 triliun. Total biaya rawat inap untuk penyakit yang berkaitan dengan tembakau sebesar Rp. 3,11 triliun, sehingga total biaya untuk rawat inap dan rawat jalan sebesar Rp. 18,55 triliun.

Sekitar 1,5 juta orang dari rumah tangga perokok yang berobat penyakit Hipertensi dengan biaya yang dihabiskan mencapai Rp.219 miliar sebulan atau Rp.2,6 triliun lebih setahun. Rumah tangga perokok juga mengeluarkan belanja untuk berobat penyakit Asma sebesar Rp.1,1 triliun, penyakit TBC Rp.636 miliar, penyakit pernafasan lain Rp.4,3 triliun, dan penyakit Jantung 2,6 triliun. Jika biaya rawat inap tidak disubsidi, maka total biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat akibat penyakit yang berkaitan dengan tembakau adalah Rp.15,44 triliun.

Biaya rata-rata yang dibelanjakan oleh individu perokok untuk membeli tembakau dalam satu bulan adalah Rp.216.000; secara makro total biaya yang dibelanjakan oleh perokok di Indonesia dalam satu bulan sebesar Rp.12,77 triliun dan dalam satu tahun adalah Rp.153,25 triliun. 

Kerugian ekonomi total penduduk Indonesia dalam setahun akibat konsumsi produk tembakau mencapai Rp.338,75 triliun, atau lebih dari enam kali pendapatan cukai rokok Pemerintah yang hanya Rp. 53,9 triliun. 

Secara makro, terdapat kehilangan tahun produktif (DALYs Loss/ Disability Adjusted Life Years Loss) sebesar 13.935,68 (.7.575,22 untuk lakilaki dan 6.360,46 untuk perempuan) atau 25,5% dari total DALYs Loss dalam tahun yang sama (51.250 DALYs Loss).

Fakta-fakta Rokok Di Indonesia

Fakta membuktikan bahwa bahaya tembakau terhadap kesehatan sangat besar, jauh lebih dari yang disadari oleh sebagian besar masyarakat. Kebiasaan merokok berhubungan dengan kejadian berbagai penyakit, sebagian besar berakibat kematian. Uraian berikut ini memaparkan risiko kesehatan bagi perokok, rokok dan Indonesia sebagai perspektif dan data yang yang antara lain berisi hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

Risiko Kesehatan bagi Perokok 
  • Indonesia menempati urutan ke-7 terbesar dalam jumlah kematian yang disebabkan oleh kanker yakni sebanyak 188.100 orang. Kematian yang disebabkan oleh penyakit sistem pembuluh darah di Indonesia berjumlah 468.700 orang atau menempati urutan ke-6 terbesar dari seluruh negara-negara kelompok WHO. Kematian yang disebabkan oleh penyakit sistem pernafasan adalah penyakit Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) yakni sebesar 73.100 orang (66,6%) sedangkan Asma sebesar 13.690 orang (13,7%). Kematian akibat penyakit Tuberkulosis sebesar 127.00 orang yang merupakan terbesar ke-3 setelah negara India dan China.
  • Berbagai evidence based menyatakan bahwa mengonsumsi tembakau dapat menimbulkan penyakit kanker (Mulut, Pharinx, Larinx, Oesophagus, Paru, Pankreas, dan kandung kemih), penyakit sistem pembuluh darah (Jantung Koroner, Aneurisme Aorta, pembuluh darah perifer, Arteriosklerosis, gangguan pembuluh darah otak) dan sistem pernafasan (Bronchitis, Chronis, Emfisema, Paru Obstruktif Kronik, Tuberkulosis Paru, Asma, Radang Paru, dan penyakit saluran nafas lainnya) 
  • Akibat rokok di Indonesia menyebabkan 9,8% kematian karena penyakit Paru Kronik dan Emfisema pada tahun 2001.
  • Rokok merupakan penyebab dari sekitar 5% kasus Stroke di Indonesia. 
  • Wanita yang merokok mungkin mengalami penurunan atau penundaan kemampuan hamil. Pada pria meningkatkan risiko impotensi sebesar 50%. 
  • Seorang bukan perokok yang menikah dengan perokok mempunyai risiko Kanker Paru sebesar 20-30% lebih tinggi daripada mereka yang pasangannya bukan perokok dan juga risiko mendapatkan penyakit Jantung. 
  • Ibu hamil yang merokok selama masa kehamilan atau terpapar asap rokok di rumahnya atau di lingkungannya berisiko mengalami proses kelahiran yang bermasalah, termasuk berat bayi lahir rendah, lahir mati dan cacat lahir.
  • Lebih dari 40,3 juta anak Indonesia berusia 0–14 tahun tinggal dengan perokok dan terpapar asap rokok dilingkungannya. Anak yang terpapar asap rokok di lingkungannya mengalami pertumbuhan paru yang lambat, dan lebih mudah terkena infeksi saluran pernapasan, infeksi telinga dan Asma.

Seorang bukan perokok yang menikah dengan perokok mempunyai risiko Kanker Paru sebesar 20-30% lebih tinggi daripada mereka yang pasangannya bukan perokok dan juga risiko mendapatkan penyakit Jantung.

Rokok dan Indonesia sebagai Perspektif 
  • Sekitar 40,3 juta anak 0-14 tahun terpapar asap rokok. 
  • 40,5% populasi semua umur terpapar asap rokok di dalam rumah. 
  • 4,2% perempuan umur di atas 15 tahun merokok. 
  • 65,9% laki-laki umur di atas 15 tahun merokok. 
  • 69% rumah tangga memiliki pengeluaran untuk rokok. 
  • Rata-rata individu perokok menghabiskan Rp.216.000 untuk membeli tembakau.
  • Rata-rata satu perokok per tahun menghabiskan Rp.2.592.000 untuk membeli tembakau. 
  • Rumah tangga perokok terkaya menghabiskan 7% pendapatannya untuk rokok sementara rumah tangga perokok termiskin menghabiskan 12%. 
  • Minimal 1 orang anggota rumah tangga yang mengonsumsi tembakau. 
  • 50% dari perokok jangka panjang akan meninggal karena penyakit akibat rokok.

Data Perokok Di Indonesia

Berikut ini data-data mengenai rokok di Indonesia
  • Prevalensi perokok saat ini sebesar 34,7%. 
    • Lebih dari separuh perokok (52,3%) menghisap 1-10 batang rokok setiap hari.
    • 2 dari 5 perokok saat ini merokok rata-rata 11-20 batang setiap hari.
    • 4,7% perokok merokok 21-30 batang setiap hari. 
    • 2,1% perokok merokok lebih dari 30 batang setiap hari.
  • 76,6% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota keluarga lain.
  • 1,7% perokok mulai merokok pada usia 5-9 tahun dan tertinggi mulai merokok pada kelompok umur 15-19 tahun (43,3%). 
  • Persentase nasional penduduk berumur 15 tahun ke atas yang merokok setiap hari sebesar 28,2%. 
  • Persentase merokok penduduk merokok tiap hari tampak tinggi pada kelompok umur produktif (25-64 tahun) dengan rentang 30,7%-32,2%
  • Terjadi peningkatan prevalensi perokok yang merokok setiap hari untuk umur 25-34 tahun dari 29,0% (2007) menjadi 31,1% (2010). Peningkatan terjadi pada kelompok umur 15-24 tahun dari 17,3% (2007) menjadi 18,6% (2010).
  • Lebih dari separuh (54,1%) penduduk laki-laki berumur 15 tahun ke atas merupakan perokok tiap hari. 
  • Rokok merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Diperkirakan hingga menjelang 2030 kematian akibat merokok akan mencapai 10 juta per tahunnya dan di negara-negara berkembang diperkirakan tidak kurang 70% kematian yang disebabkan oleh rokok. 
  • Dari tiap 10 orang dewasa yang meninggal, 1 orang diantaranya meninggal karena disebabkan asap rokok. Di tahun 2025 nanti, saat jumlah perokok dunia sekitar 650 juta orang maka akan ada 10 juta kematian per tahun.
  • Tahun 2007 di Indonesia, usia perokok makin muda, jumlah perokok usia 15– 19 tahun di Indonesia mencapai 18,8% atau meningkat dari tahun 2001 (12,7%). Begitu juga perokok wanita jumlahnya meningkat terus tiap waktu.
  • Dan yang lebih berbahaya adalah dampak ekonominya. Merokok cenderung menyebabkan merosotnya daya kerja penduduk, yang berakibat pada menurunnya produktivitas perusahaan dan produktivitas nasional. Tiap batang rokok berarti hilangnya waktu kerja produktif sebanyak 10 menit. Pekerja perokok pun jadi cenderung malas dan suka mangkir. Pendek kata, merokok merupakan pemborosan nasional
  • Penyakit-penyakit akibat rokok pada akhirnya juga melemahkan potensi SDM kita. Diketahui asap rokok memicu sedikitnya 25 macam penyakit, mulai dari penyakit saluran pernafasan, Kanker Paru-Paru, penyakit pembuluh darah, Impotensi, Stroke, hingga Kanker Kandung Kemih. Dari semua itu Kanker Paru-Paru yang tergawat di peringkat pertama.

Makanan Sehat Untuk Ibu Menyusui Agar Bayi Selalu Sehat

Makanan Sehat Untuk Ibu Menyusui Agar Bayi Selalu Sehat

Agar tetap sehat dan produksi ASI memenuhi kebutuhan bayi, ibu sebaiknya makan lebih banyak dari biasanya dan sesuai pola menu seimbang.

Menyusui merupakan cara alamiah mahkluk mamalia – termasuk manusia – untuk memberikan makanan dan minuman kepada keturunannya pada awal kehidupan. Pada masa menyusui kebutuhan gizi ibu perlu diperhatikan karena ibu tidak hanya harus mencukupi kebutuhan dirinya melainkan harus memproduksi ASI bagi bayinya.

Makanan Yang Dianjurkan
  • Sumber zat tenaga seperti beras, kentang, bihun, mie, roti, makaroni, krackers.
  • Sumber zat pembangun seperti ayam, ikan, daging, telur, hati, keju, susu, kacang -kacangan, tahu, tempe.
  • Sumber zat pengatur yaitu sayur-sayuran yang berwarna hijau dan buah-buahan yang segar

PENGATURAN MAKAN SEHARI UNTUK IBU MENYUSUI

PENGATURAN MAKAN SEHARI UNTUK IBU MENYUSUI


Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan
  • Menjaga kesehatan ibu dengan makan cukup mengikuti pola menu seimbang 
  • Minum lebih dari 8 gelas sehari, tambahkan 3-4 gelas per hari dari biasanya

Makanan Sehat Untuk Lansia Agar Kebutuhan Gizi Tercukupi

Makanan Sehat Untuk Lansia Agar Kebutuhan Gizi Tercukupi

Setiap orang berhak untuk tetap sehat dan produktif di usia lanjut. Gizi mempunyai peranan penting dalam mempertahankan kesehatan dan memperlambat datangnya penyakit. 

Masalah yang sering dihadapi usia lanjut yang bisa menimbulkan masalah gizi
  • Masalah gigi seperti penyakit gusi, ompong dan gigi palsu yang tidak pas sehingga menimbulkan kesulitan mengunyah makanan seperti daging, buah dan sayur. 
  • Berkurangnya sensitifitas terhadap rasa dan aroma makanan, sehingga usia lanjut cenderung menyukai makanan yang terlalu asin dan manis yang tidak baik untuk kesehatan 
  • Sensitifitas terhadap rasa haus berkurang , sehingga usia lanjut berisiko dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh 
  • Obat-obatan tertentu bisa menyebabkan nafsu makan turun dan mual 
  • Faktor sosial dan ekonomi menyebabkan keterbatasan pada kemampuan membeli makanan bergizi 
  • Kesendirian dan depresi sering menghinggapi usia lanjut, menyebabkan malas makan 

Bahan Makanan Yang Dianjurkan
  • Bahan makanan segar (tidak diawet)
  • Bahan makanan sumber karbohidrat seperti havermout/oatmeal, roti gandum, beras merah, beras tumbuk
  • Bahan makanan sumber protein seperti susu rendah lemak, ikan, tempe, tahu 
  • Bahan makanan sumber lemak seperti alpukat, kacang tanah atau selai kacang, minyak kedelai, minyak jagung. 
  • Sayur-sayuran berwarna hijau, oranye seperti bayam, wortel, brokoli, labu kuning, labu siam, tomat, sayur hijau dan sayuran segar untuk lalapan 
  • Buah-buahan segar seperti pepaya, pisang, jeruk, nanas, apel, dll 

Hal-hal Yang Harus Diperhatikan
  • Porsi makan kecil dan sering, dianjurkan makan besar 3 kali dan selingan 2 kali sehari..
  • Sayuran dipotong lebih kecil, bila perlu dimasak sampai empuk, daging dicincang dan buah dijus atau blender.
  • Untuk memenuhi kebutuhan air, minum air 6-8 gelas sehari. 
  • Makan bersama teman akan lebih meningkatkan nafsu makan.
  • Penggunaan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lada, gula, cuka, dan lainlain akan meningkatkan cita rasa makanan.

Contoh menu makanan sehat lansia

Sabtu, 18 Maret 2017

Makanan Sehat Yang Dianjurkan Untuk Anak Balita

Makanan Sehat Yang Dianjurkan Untuk Anak Balita

Masa balita merupakan penentu kehidupan selanjutnya. Agar tumbuh kembang optimal berikan anak balita makanan dengan gizi seimbang.

Tujuan

  • Menanamkan kebiasaan makan yang baik dan benar kepada anak. 
  • Memberikan gizi yang seimbang sesuai kebutuhan untuk tumbuh kembang anak yang optimal 
  • Memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap penyakit.

Makanan Yang Dianjurkan

  • Sumber zat tenaga seperti beras, jagung, kentang, sagu, bihun, mie, roti, makaroni, biskuit
  • Sumber zat pembangun seperti ayam, ikan, daging, telur, hati, keju, susu, kacang-kacangan, tahu, tempe
  • Sumber zat pengatur seperti sayur dan buah yang berwarna dan segar

Makanan Yang Dibatasi 

Makanan dan minuman yang manis atau gurih seperti dodol, coklat (kecuali coklat bubuk), permen, junk food dan soft drink.

Hal Yang Perlu Diperhatikan

  • Gunakan bahan makanan yang beraneka ragam 
  • Pilih bahan makanan yang mudah dicerna 
  • Gunakan bumbu yang tidak terlalu merangsangn atau pedas
  • Gunakan alat makan yang menarik dan berwarnawarni 
  • Bujuk anak untuk makan dengan sabar dan telaten. 
  • Buat model - model dari bahan makanan agar tidak monoton 
  • Anak usia lebih dari 3 tahun makanan dimasak sampai lunak.
  • Hindari makanan yang membuat tersedak seperti kacang goreng, anggur atau klengkeng dalam bentuk utuh.

contoh menu sehat anak balita

Cara Diet Rendah Kalori Lebih Cepat Bikin Langsing

Diet Rendah Kalori - Menurunkan Berat Badan, Meningkatkan Kesehatan dan Kebugaran

Diet rendah kalori adalah diet yang diberikan untuk menurunkan berat badan pada penderita obesitas dengan membatasi kandungan energinya dibawah kebutuhan normal, cukup vitamin, cukup mineral, serta banyak mengandung serat.

Tujuan Diet

  1. Mencapai berat badan yang diinginkan dengan tetap mempertahankan status gizi yang optimal.
  2. Meningkatkan kesehatan dan kebugaran.

Cara Mengatur Diet

  • Jangan makan camilan berlebihan 
  • Jangan makan diatas jam 19.00, bila terasa lapar makanlah buah 

Strategi Makan

  • Jangan makan sambil tiduran 
  • Minum air putih dulu sebelum makan 
  • Dikunyah > 20 x sebelum makan 
  • Gunakan piring kecil

Hal Yang Perlu Diperhatikan

  • Timbanglah berat badan setiap hari untuk mengontrol perubahan 
  • Olahraga secara teratur, dan terukur minimal 3 kali seminggu 
  • Hati-hati menggunakan obat-obatan atau suplemen kecuali atas nasehat dokter 
  • Apabila berat badan telah mencapai berat badan normal maka perlu dipertahankan dengan makan sesuai pola gizi seimbang

Makanan Yang Dianjurkan


Sumber karbohidrat
Sumber hidrat arang  seperti nasi, nasi tim, bubur roti gandum, macaroni, jagung, kentang, ubi dan talas, havermout, sereal (hidrat arang komplek yang banyak mengandung serat). 

Sumber protein
Daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, ikan, putih telur,susu rendah lemak, tempe, tahu, kacang hijau, kedelai) 

Sayuran
Sayuran yang tidak menimbulkan gas seperti bayam, buncis, labu kuning, labu siam, wortel, kacang panjang, tomat, gambas, kangkung, kecipir, daun kacang panjang, daun kenikir, ketimun, daun selada dan toge. 

Buah-buahan 
Buah atau sari buah  seperti jeruk, apel, pepaya, melon, jambu, pisang, alpukat, belimbing, mangga.

Makanan yang Dibatasi


Sumber karbohidrat
Mie, roti putih, ketan, kue-kue, cake, biskuit, pastries 

Sumber protein
Daging tanpa lemak 1 x per mg, ayam 3x per mg, bebek, sarden (makanan kaleng) dan kuning telor 1x per minggu. kacang tanah, kacang bogor maksimal 25 gr

Makanan Yang Dihindari


Sumber protein
Daging berlemak, jeroan, sosis, daging asap, gajih, otak,kepiting, kerang,keju, susu full cream kacang merah, oncom, kacang mente 

Sayuran
Sayuran yang dapat menimbulkan gas, seperti: kol, kembang kol, lobak, sawi, nangka muda dan sayuran mentah 

Buah-buahan
Buah yang dapat menimbulkan gas dan tinggi lemak, seperti durian, nangka, cempedak, nenas dan buah-buahan yang diawet

Contoh menu diet rendah kalori


Berikut ini adalah contoh diet rendah kalori yang dapat diterapkan untuk menu sehari-hari, sangat penting untuk mengkonsumsi makanan sesuai dengan menu yang telah dipilih untuk mencapai berat badan yang ideal.

Contoh menu diit rendah kalori

10 Tips Merawat Bayi dan Balita Agar Selalu Tetap Sehat

10 Tips Merawat Bayi dan Balita Agar Selalu Tetap Sehat

Menjaga kondisi anak-anak tetap sehat adalah keinginan semua orang tua. Berikut ini ada 10 tips yang dapat digunakan ibu agar balita selalu tetap sehat.

1. Pemberian ASI

  • ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI mudah dicerna oleh bayi dan mengandung zat gizi sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan kekebalan dan mencegah berbagai penyakit, serta untuk kecerdasan. 
  • Beri ASI saja sampai anak berumur 6 bulan. 
  • Setelah 6 bulan, teruskan menyusui sampai anak berumur 2 tahun dan berikan makanan pendamping ASI. 
  • Makanan pendamping ASI berupa makanan lumat diberikan secara bertahap, mula-mula 2 kali berangsur sampai 3 kali sehari, dalam jumlah yang kecil sebagai makanan perkenalan. Kenalkan buah/ sari buah 2 kali sehari sedikit demi sedikit. 

2. Pola Makan Anak

  • Usia 0-6 bulan diberikan  ASI saja 
  • Usia 6-9 bulan diberikan  ASI + Makanan pendamping ASI (MP-ASI) Contohnya, bubur susu atau bubur tim yang dilumat 
  • Usia 9-11 bulan diberikan  ASI + MP-ASI yang lebih padat Contohnya, bubur nasi, nasi tim, dan nasi lembek 
  • Usia 1-2 tahun diberikan  makanan keluarga/makanan yang dicincang atau dihaluskan 3-4 kali sehari 
  • Usia 2-3 tahun diberikan  makanan keluarga + makanan selingan 2 kali sehari

 3. Tumbuh Kembang Anak

  • Perhatikan tumbuh kembang anak secara teratur. 
  • Bawa ke Posyandu untuk ditimbang, dapatkan kapsul vitamin A, imunisasi, stimulasi tumbuh kembang dan periksa kesehatan. 
  • Timbanglah berat badan untuk memantau pertumbuhan anak sehingga dapat mencegah gizi kurang atau gizi buruk. 
  • Bila ditimbang berat badan tidak naik 2 bulan berturut-turut atau turun rujuk ke Puskesmas. 
  • Beri makanan bergizi sesuai kelompok umur anak, agar tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat dan cerdas. 
  • Gunakan garam beryodium setiap kali masak. 
  • Bila ada gangguan perkembangan anak, rujuk ke Puskesmas. 
  • Bila anak sakit, bawa ke Puskesmas. 
  • Rawat anak dengan kasih sayang dan doa. 

 4. Pemberian Kapsul Vitamin A

  • Vitamin A bersumber dari sayur-sayuran berwarna hijau (bayam, daun katuk, serta buah-buahan segar berwarna cerah seperti pepaya, tomat, wortel, mangga dan dari sumber hewani seperti telur, hati, ikan). 
  • Vitamin A membuat mata sehat, tubuh kuat dan mencegah kebutaan. 
  • Beri kapsul vitamin A pada bayi dan anak balita, kapsul biru dengan dosis 100.000 SI untuk bayi dan kapsul merah dengan dosis 200.000 SI untuk anak balita. 
  • Dapatkan kapsul vitamin A secara gratis setiap bulan Februari dan Agustus di Posyandu atau Puskesmas. 

5. Yang Harus Dilakukan Bila Balita Batuk

  • Teruskan pemberian ASI bila bayi masih menyusui. 
  • Bila umur anak lebih dari 6 bulan, beri makan dan minuman hangat lebih banyak. 
  • Pada anak umur 1 tahun keatas, beri kecap manis ditambah madu atau air jeruk. 
  • Bersihkan hidung agar tidak terganggu pernafasannya. 
  • Jauhkan anak dari asap rokok dan asap dapur. 
  • Tidak membakar sampah didekat rumah. 
  • Rujuk ke Puskesmas bila: 
    • Ada tanda-tanda nafas cepat
    • Ada tanda sukar bernafas
    • Batuk pilek dengan panas tinggi. 

6. Yang Perlu Dilakukan Bila Balita Diare

  • Teruskan pemberian ASI bila balita masih menyusui. 
  • Beri air matang, cairan makanan (air sayur, air tajin atau oralit).
  • Teruskan pemberian makanan.
  • Cegah diare dengan cara minum air matang, cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah makan dan sesudah buang air besar.
  • Rujuk ke Puskesmas, bila ada tanda-tanda: 
    • Anak tidak membaik dalam 2 hari. 
    • Buang air besar encer berkali-kali. 
    • Muntah berulang ulang. 
    • Rasa haus yang nyata. 
    • Demam. 
    • Makan atau minum sedikit. 
    • Ada darah dalam tinja. 

7. Yang Perlu Dilakukan Bila Anak Demam

  • Demam merupakan gejala yang menyertai batuk pilek, malaria, campak, demam berdarah, sakit telinga atau infeksi lain. 
  • Teruskan pemberian ASI, bila anak masih menyusui. 
  • Beri anak cairan lebih banyak dari biasa seperti air matang, air teh, kuah sayur bening.
  • Jangan diberi pakaian tebal atau selimut tebal. 
  • Kompres dengan air biasa atau air hangat. Jangan dikompres dengan air dingin karena bisa menggigil. 
  • Pada demam tinggi beri obat turun panas sesuai anjuran petugas kesehatan. 
  • Usahakan tidur pakai kelambu untuk menghindari gigitan nyamuk. 
  • Bawa ke Puskesmas jika demam tidak sembuh dalam 2 hari. 

8. Yang Harus Dilakukan Bila Anak Sakit Kulit

  • Sakit kulit biasanya berupa biang keringat, bisul, koreng dan sebagainya. 
  • Bersihkan luka dengan air matang, keringkan dengan kain bersih. 
  • Jika berupa koreng, tutup dengan kain bersih. Jangan dibubuhi ramuramuan.
  • Bila tak kunjung membaik periksakan ke dokter 

9. Mencegah Dari Penyakit Kulit

  • Cegah agar anak tidak sakit kulit dengan cara: mandi teratur, ganti pakaian jika basah atau kotor dan cuci tangan dan kaki setiap habis bermain. 
  • Bawa anak ke Puskesmas jika kulit kemerahan, gatal, luka basah, berbau atau bernanah. 
  • Menjaga kebersihan anak 
  • Mandikan anak setiap hari pagi dan sore pakai sabun mandi.
  • Cuci rambut dengan shampo 2-3 kali dalam satu minggu. 
  • Cuci tangan anak dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar. 
  • Gunting kuku tangan dan kaki anak. 
  • Bersihkan rumah setiap hari dari sampah dan genangan air. 
  • Ajarkan anak untuk buang air besar di kakus/jamban. 

10. Merawat Gigi Anak

  • Jika tumbuh gigi, bersihkan gusi bayi sesudah diberi ASI dengan kain yang dibasahi air matang hangat. 
  • Jika sudah tumbuh gigi, gosok gigi pakai pasta gigi 2 kali, sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam. 
  • Pada umur 2 tahun ajari anak gosok gigi sendiri. 
  • Tidak membiasakan anak makan makanan yang manis dan lengket. 
  • Periksakan kesehatan gigi anak setiap 6 bulan setelah anak berumur 2 tahun.

4 Hal Yang Harus Dilakukan Oleh Ibu Nifas

4 Hal Yang Harus Dilakukan Oleh Ibu Nifas

Masa nifas adalah saat seorang wanita selesai menjalani persalinan. Masa nifas berawal dari jam sesudah plasenta bayi lahir sampai 6 minggu sesudah ibu melahirkan. Organ-organ reproduksi perlu pemulihan setelah melahirkan. Berikut ini 4 hal yang harus dilakukan pada masa nifas untuk kesehatan ibu dan bayinya.

1. Yang Harus Dilakukan Oleh Ibu Nifas Tentang ASI

  • Berikan ASI segera pada bayi yang baru lahir, karena ASI yang pertama kali (kolostrum) mengandung zat kekebalan yang melindungi bayi terhadap penyakit. Istirahat cukup supaya ibu sehat dan ASI keluar banyak.
  • Ibu dapat menyusui sesering mungkin semau bayi paling sedikit 8 kali sehari. 
  • Jika bayi tidur lebih dari 3 jam, bangunkan lalu susui. 
  • Ibu dapat menyusui sampai payudara terasa kosong, lalu pindah ke payudara disisi yang lain.
  • Ibu harus membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun saat akan memegang bayi, sesudah buang air besar atau kecil, dan sesudah menceboki anak. 

2. Menjaga Kesehatan Pada Ibu Nifas

  • Minum 2 kapsul Vitamin A warna merah (200.000 SI): 1 kapsul segera setelah melahirkan, dan minum lagi 1 kapsul setelah 24 jam berikutnya selambatnya 27 hari setelah melahirkan (masa nifas). 
  • Minum 1 tablet tambah darah setiap hari selama 40 hari. 
  • Periksa ke bidan/dokter/fasilitas kesehatan minimal 3 kali pada minggu pertama, minggu kedua, dan minggu keenam. 
  • Makan dengan pola gizi seimbang, lebih banyak daripada saat hamil. 
  • Istirahat/tidur cukup dan banyak minum air putih. 
  • Menjaga kebersihan alat kelamin dan mengganti pembalut sesering mungkin. 

3. Mengenali Tanda Bahaya Pada Ibu Nifas

  • Pendarahan lewat jalan lahir.
  • Keluar cairan berbau dari jalan lahir.
  • Demam lebih dari 2 hari. 
  • Bengkak di muka, tangan dan kaki, kadang disertai dengan sakit kepala dan kejang-kejang. 
  • Payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit.
  • Dapat mengalami gangguan jiwa. 
  • Jika kader mengetahui ada salah satu tanda-tanda tersebut, maka segeralah membawa ibu nifas tersebut ke Puskesmas terdekat atau meminta pertolongan dokter atau bidan. 

4. Merencanakan Program KB

Pentingnya ibu nifas mengikuti program KB yaitu Ibu nifas mempunyai waktu yang cukup untuk menyusui, merawat bayi serta menjaga kesehatan ibu dan keluarga. Diharapkan untuk mengatur agar jarak kehamilan 2 tahun atau lebih. 

Jenis-Jenis Alat KB dan Cara Menggunakannya 

Alat ber-KB untuk suami 
  • Kondom, dipasang pada alat kemaluan suami yang sudah tegang setiap kali melakukan hubungan seksual.
  • Vasektomi, dokter akan melakukan operasi kecil untuk mengikat/ memotong saluran sperma atau air mani. 

Alat ber-KB untuk istri 
  • Pil, diminum secara teratur setiap hari secara terus menerus, untuk ibu yang sedang menyusui minum pil KB khusus. 
  • Suntik, disuntikkan pada pantat sebelah kanan/kiri setiap 1 atau 3 bulan sekali tergantung dari jenis suntikan.
  • Implant, dipasang di lengan atas ibu. 
  • IUD, dipasang di rahim 2 hari atau 6-8 minggu setelah persalinan. 
  • Tubektomi, dokter akan melakukan operasi kecil untuk menjepit atau memotong saluran telur.

5 Hal Penting Yang Harus Ibu Hamil Ketahui

5 Hal Penting Yang Harus Ibu Hamil Ketahui

Berikut ini 5 hal yang harus diketahui agar kesehatan ibu dan bayinya selalu terjaga.

1. Pengaturan Kelahiran 

  • Seorang ibu sebaiknya hamil pada usia 20-30 tahun. Karena pada usia tersebut tubuh wanita telah siap secara fisik maupun mental untuk hamil dan melahirkan. 
  • Untuk menjaga kesehatan ibu dan anak sebaiknya jarak antara anak pertama dan kedua paling sedikit dua tahun. Kesehatan ibu akan terancam jika melahirkan dengan jarak waktu terlalu dekat, demikian pula bayi yang akan lahir sebelum waktunya dengan berat badan lahir rendah.
  • Hamil lebih dari empat kali, dapat membahayakan kesehatan ibu dan anak. Ibu yang telah 4 (empat) kali menjalani kehamilan dan persalinan akan mudah menderita kurang darah, pendarahan pada masa nifas dan kemungkinan bayi meninggal. 

2. Pemeriksaan Kehamilan 

  • Memeriksakan kehamilan secara rutin. Ibu hamil perlu memeriksakan diri ke petugas kesehatan minimal 4 kali selama kehamilan; mengukur tinggi badan pada saat pertama kali datang; mengukur LILA, menimbang berat badan, mengukur tekanan darah dan besarnya kandungan setiap kali periksa. 
  • Minum pil tambah darah selama 90 hari. 
  • Meminta imunisasi Tetanus Toxoid (TT) kepada petugas kesehatan untuk mencegah tetanus pada bayi. 
  • Mengikuti kelas ibu hamil. 
  • Mempersiapkan kelahiran (persalinan). Ibu perlu bertanya kepada bidan atau dokter tanggal perkiraan persalinan didampingi suami, dan mempersiapkan biaya persalinan. 
  • Merawat diri dan kehamilan dengan baik. Yaitu, dengan cara mandi dan gosok gigi teratur, mengurangi kerja berat, istirahat berbaring dengan posisi miring sekurangnya 1 jam di siang hari, melakukan perawatan payudara dengan cara membersihkan puting secara rutin. 

3. Makanan yang Sehat Bagi Ibu Hamil 

  • Makanlah aneka ragam makanan tanpa pantangan dalam jumlah yang lebih banyak dari sebelum hamil, jangan lupa makan sayur dan buah. 
  • Gunakan garam beryodium setiap kali memasak.
  • Biasakan makan pagi.
  • Minumlah air matang, sebaiknya 8 gelas per hari. 
  • Hindari minuman beralkohol.
  • Apabila ibu hamil mengalami mual, muntah, dan tidak nafsu makan, pilih makanan yang tidak berlemak dan menyegarkan seperti roti, ubi, singkong, biskuit, dan buah. Makan dengan porsi kecil dan sering.
  • Tidak dibolehkan minum jamu, minuman keras, atau merokok karena akan membahayakan kandungan. 

4. Menjaga Kebersihan Diri

  • Ibu hamil harus mandi sebanyak 2 kali sehari dengan menggunakan sabun, menggosok gigi paling sedikit 2 kali sehari yaitu pada pagi hari dan sebelum tidur. Mandi yang teratur dan bersih menghindarkan ibu dari penyakit kulit seperti gatalgatal dan dengan menggosok gigi secara teratur untuk mencegah sakit gigi dan gusi.
  • Setiap kali mandi sebaiknya ibu hamil mengganti baju dan pakaian dalam dari bahan yang dapat menyerap keringat. 

5. Mengenali Tanda-Tanda Bahaya Pada Ibu Hamil 

  • Pendarahan pada hamil muda atau hamil tua.
  • Bengkak kaki, tangan, atau wajah disertai sakit kepala dan atau kejang.
  • Demam atau panas tinggi.
  • Air ketuban keluar sebelum waktunya. 
  • Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak. 
  • Muntah terus dan tidak mau makan.
Apabila terdapat tanda-tanda bahaya pada ibu hamil harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan yang memadai.

Jumat, 17 Maret 2017

Besarnya Manfaat Ibu Hamil dan Balita Mengikuti Posyandu

Besarnya Manfaat Ibu Hamil dan Balita Mengikuti Posyandu

Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari, dan bersama masyarakat. Posyandu bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan dalam memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita. 

Upaya peningkatan peran dan fungsi Posyandu bukan semata-mata tanggungjawab pemerintah saja, namun semua komponen yang ada di masyarakat, termasuk kader. Peran kader dalam penyelenggaraan Posyandu sangat besar karena selain sebagai pemberi informasi kesehatan juga sebagai penggerak masyarakat untuk datang ke Posyandu dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat. 


Berikut ini adalah manfaat yang diperoleh masyarakat yang mengikuti posyandu.
  1. Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi, dan anak balita. 
  2. Pertumbuhan anak balita terpantau sehingga tidak menderita gizi kurang atau gizi buruk. 
  3. Bayi dan anak balita mendapatkan kapsul Vitamin A. 
  4. Bayi memperoleh imunisasi lengkap. 
  5. Ibu hamil akan terpantau berat badannya dan memperoleh tablet tambah darah (Fe) serta imunisasi Tetanus Toksoid (TT). 
  6. Ibu nifas memperoleh kapsul Vitamin A dan tablet tambah darah (Fe). 
  7. Memperoleh penyuluhan kesehatan terkait tentang kesehatan ibu dan anak. 
  8. Apabila terdapat kelainan pada bayi, anak balita, ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui dapat segera diketahui dan dirujuk ke puskesmas. 
  9. Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang kesehatan ibu, bayi, dan anak balita.

Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan. 

Kegiatan utama, mencakup:
  • Kesehatan ibu dan anak
  • Keluarga berencana
  • Imunisasi
  • Pemenuhan gizi
  • Pencegahan dan penanggulangan diare. 

Kegiatan pengembangan, dalam kegiatan ini masyarakat dapat menambah kegiatan baru disamping lima kegiatan utama yang telah ditetapkan, dinamakan Posyandu Terintegrasi. Kegiatan baru tersebut antara lain:
  • Bina Keluarga Balita (BKB)
  • Tanaman Obat Keluarga (TOGA)
  • Bina Keluarga Lansia (BKL)
  • Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
  • berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya. 

Siapakah yang harus mengikuti posyandu?
Semua anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dasar harus mengikuti posyandu, antara lain:
  • Bayi dan anak balita
  • Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui
  • Pasangan usia subur
  • Pengasuh anak. 

Keberhasilan pengelolaan Posyandu memerlukan dukungan yang kuat dari berbagai pihak, baik dukungan moril, materil, maupun finansial. Selain itu diperlukan adanya kerjasama, tekanan dan pengabdian para pengelolanya termasuk kader. 

Apabila kegiatan Posyandu terselenggara dengan baik akan memberikan kontribusi yang besar, dalam menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak balita.