Kamis, 23 Maret 2017

Ibu Harus Tahu Tentang Risiko dan Tanda Kehamilan

Ibu Harus Tahu Tentang Risiko dan Tanda Kehamilan

Setiap ibu hamil dan keluarganya perlu tahu bahwa kehamilan dan pengasuhan anak memiliki berbagai risiko. Mereka harus mampu mengenal berbagai tanda peringatannya.

Secara umum dianjurkan, ibu sebaiknya melahirkan di fasilitas kesehatan dan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, karena kejadian penyulit persalinan tidak dapat diramalkan. Bagi beberapa ibu, hal ini lebih penting karena kemungkinan komplikasi akan meningkat, jika mereka:
  • Berusia di bawah 18 tahun atau di atas usia 35 tahun.
  • Telah melahirkan kurang dari dua tahun yang lalu.
  • Telah beberapa kali melahirkan prematur atau memiliki bayi kurang dari 2,5 kg saat lahir. 
  • Memiliki pengalaman persalinan dengan penyulit atau melahirkan dengan bedah perut sectio caesarea. 
  • Memiliki riwayat keracunan kehamilan. 
  • Memiliki pengalaman keguguran atau bayi lahir mati. 
  • Tinggi badan ibu kurang dari 1,45 meter. 
  • Berberat badan kurang dari 38 kilogram. 
  • Menderita HIV atau infeksi yang ditularkan melalui hubungan seks.

Ibu hamil harus dibantu untuk mengenali tanda-tanda kelahiran dan tahu kapan harus mencari pertolongan dari penolong melahirkan mahir yang mampu membantu persalinan.

Tanda-tanda kelahiran, meliputi beberapa hal berikut ini: 
  • Perut mulas secara teratur.
  • Mulasnya sering dan lama.
  • Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir. 
  • Keluar air ketuban dari jalan lahir.

Tanda–tanda bahaya pada kehamilan meliputi:
  • Perdarahan pada hamil muda maupun hamil tua. 
  • Bengkak di tungkai, kaki, tangan atau wajah disertai nyeri kepala dan atau kejang. 
  • Demam atau panas tinggi. 
  • Air ketuban keluar sebelum waktunya. 
  • Gerakan bayi di kandungan berkurang atau tidak bergerak. 
  • Muntah terus. 
  • Tidak mau makan.

Selama kunjungan pemeriksaan kehamilan, ibu hamil dan anggota keluarganya harus mendapatkan dukungan untuk mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan komplikasi dengan menyusun rencana yang meliputi beberapa hal pokok sebagai berikut: 
  • Di mana ibu akan melahirkan dan akan dirujuk ke mana jika terjadi komplikasi.
  • Siapa yang akan mendampingi ibu.
  • Bagaimana caranya si ibu agar sampai di tempat tujuan. 
  • Barang-barang yang akan diperlukan untuk ibu dan bayinya.
  • Berapa biaya yang diperlukan dan bagaimana biaya tersebut bisa terkumpul 
  • Siapa yang akan membantu keluarganya pada saat ibu tidak di rumah. 
  • Siapa yang akan menjadi donor darah, jika diperlukan.

Karena kondisi dapat berubah, rencana persalinan dan kemungkinan komplikasi harus diperbaharui setiap melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan.

Rencana perawatan darurat jika terjadi komplikasi harus mencantumkan lokasi klinik bersalin terdekat, atau rumah sakit dan berbagai sumber daya yang diperlukan untuk memungkinkan si ibu tiba di lokasi tujuan setiap saat, baik siang atau malam hari.

Semua ibu hamil harus mendapatkan akses ke pelayanan kesehatan ketika mereka akan melahirkan. Hal ini menjadi lebih penting terutama apabila si ibu dan keluarganya sadar bahwa proses kelahiran akan sulit. Dalam beberapa kasus, di mana jarak dan risiko kelahiran yang sudah diperkirakan merupakan faktor yang harus diperhitungkan, maka sebaiknya si calon ibu pindah ke tempat yang lebih dekat dengan klinik atau rumah sakit yang dipilih, agar pada waktunya mendapatkan pelayanan. 

Petugas kesehatan, keluarga dan masyarakat perlu memberikan perhatian khusus kepada remaja hamil karena mereka memiliki risiko komplikasi kehamilan yang lebih tinggi dan dalam beberapa kasus mereka mungkin tidak bisa mempengaruhi keluarga untuk mendapatkan dukungan atau meminta bantuan.

Artikel Terkait