Rabu, 26 April 2017

Bahaya, Diare Dapat Menyebabkan Kematian Pada Anak

Diare Dapat Menyebabkan Kematian Pada Anak

Diare merupakan penyakit yang berbahaya apabila tidak ditangani dengat tepat dan cepat. Diare dapat menyebabkan kematian anak, karena banyaknya keluar cairan dari tubuh sehingga tubuh kekurangan cairan (dehidrasi). Segera setelah terjadi diare, berikanlah anak cairan ekstra bersama dengan makanan dan minuman biasa.

Anak-anak disebut diare jika mengeluarkan tinja cair lebih dari tiga kali sehari. Diare akan lebih berbahaya jika anak lebih sering mengeluarkan tinja cair.

Baca juga :

Banyak orang menyangka bahwa minum cairan akan membuat diare lebih berbahaya. Hal itu tidak benar. Anak yang sedang diare harus diberi minum, termasuk ASI, sesering mungkin. Banyak minum cairan membantu menggantikan cairan yang hilang selama diare.

Anjuran pemberian minum kepada anak selama diare
  1. ASI harus diberikan lebih sering dari biasanya. 
  2. Oralit dicampur air minum yang bersih. 
  3. Kuah sup. 
  4. Air tajin dari menanak beras. 
  5. Air buah segar (jus). 
  6. Air kelapa. 
  7. Air bersih dari sumber yang aman. Jika ada kemungkinan air tidak bersih dan tidak aman diminum harus disucihamakan dengan menjerang, menyaring, memberi klorine atau menyucihamakan dengan sinar matahari sesuai dengan anjuran petugas kesehatan

Guna menghindari dehidrasi, berikan ASI sesering mungkin. Anak yang sudah tidak diberi ASI harus minum cairan setiap kali mengeluarkan tinja cair.
  1. Untuk anak di bawah dua tahun berikan seperempat atau setengah mangkuk besar (250 mililiter).
  2. Untuk anak dua tahun atau lebih berikan setengan hingga satu mangkuk besar (250 mililiter).
  3. Anak sebaiknya diberikan minuman 10 mililiter dikali berat badan, contohnya bila berat badan anak 10 kilogram maka diberi asupan cairan setengah gelas belimbing.

Minuman harus diberikan dalam mangkuk yang bersih. Jangan memberinya dari botol karena tidak mudah membersihkan botol secara sempurna dan botol yang tidak bersih dapat mengandung kuman penyebab diare.

Jika anak muntah, pengasuh harus menunggu hingga 10 menit dan mulai lagi memberi minum pelan-pelan sedikit demi sedikit.

Anak harus diberi cairan ekstra di samping makanan dan minuman biasa hingga diare berhenti.

Diare biasanya berhenti setelah tiga atau sempat hari. Jika lebih lama terjadi orang tua atau pengasuh harus minta bantuan petugas kesehatan.

Rabu, 19 April 2017

Semua Ibu Hamil Harus Mendapatkan Imunisasi TT

Semua Ibu Hamil Harus Mendapatkan Imunisasi TT

Semua ibu hamil beserta bayi dalam kandungannya perlu mendapatkan perlindungan terhadap tetanus. Bahkan jika seorang ibu hamil pernah mendapatkan imunisasi TT sebelumnya, ia masih perlu diperiksa status imunisasi TT-nya oleh petugas kesehatan untuk selanjutnya dilengkapi sampai memperoleh tingkat perlindungan terhadap tetanus seumur hidup.

Pada berbagai tempat di dunia, banyak ibu yang melahirkan di tempat yang tidak bersih dan menggunakan alat yang tidak steril. Hal ini dapat mengakibatkan ibu dan bayinya berisiko menderita tetanus, penyebab utama kematian bayi baru lahir.

Bahaya ibu hamil tidak mendapatkan imunisasi TT

Jika seorang wanita hamil tidak diberikan imunisasi TT, kemudian bakteri tetanus atau spora memasuki tubuhnya, maka kehidupan ibu berada dalam bahaya. Bakteri tetanus hidup dalam luka kotor. Bakteri dapat tumbuh jika tali pusat dipotong dengan menggunakan pisau yang tidak steril, atau jika terkontaminasi dengan sesuatu yang tidak bersih terhadap ujung tali pusat.

Alat apa pun yang digunakan untuk memotong tali pusat, harus disterilkan, dengan cara direbus, atau dipanaskan dengan menggunakan api, dan kemudian didinginkan dulu. Dalam minggu pertama sejak lahir, pusar bayi harus dijaga agar tetap bersih. Tidak boleh ada benda atau ramuan apa pun yang ditaruh di atas pusar.

Semua ibu hamil harus memastikan bahwa mereka dan bayinya telah mendapatkan imunisasi TT minimal sebanyak dua kali (TT1 dan TT2), agar terlindung dari tetanus.

Jadwal imunisasi TT ibu hamil

Jika dalam riwayat sebelumnya ibu hamil belum pernah mendapatkan imunisasi TT, maka ia harus mendapatkan imunisasi sesuai dengan jadwal berikut:
  • Dosis pertama: Segera setelah ia tahu bahwa ia hamil. 
  • Dosis kedua: Paling cepat satu bulan setelah dosis pertama. 
  • Dosis ketiga: Paling cepat enam bulan setelah dosis kedua, atau selama kehamilan berikutnya.
  • Dosis keempat: Paling cepat satu tahun setelah dosis ketiga, atau selama kehamilan berikutnya.
  • Dosis kelima: Paling cepat satu tahun setelah dosis keempat, atau selama kehamilan berikutnya.

Jika ibu sudah pernah mendapatkan imunisasi TT sebelumnya, maka ia tetap harus melengkapi status imunisasinya sampai dosis kelima. Jarak pemberian imunisasi berikutnya disesuaikan dengan status imunisasi terdahulu seperti jadwal di atas.

Setelah mendapatkan lima dosis TT dengan jarak pemberian yang benar, maka ibu telah terlindungi selama 25 tahun ke depan, demikian juga anaknya telah terlindungi untuk selama beberapa minggu pertama sejak kelahirannya.

Rabu, 05 April 2017

Menyusui Dapat Melindungi Bayi dan Anak Terhadap Penyakit Berbahaya

Menyusui Dapat Melindungi Bayi dan Anak Terhadap Penyakit Berbahaya

Menyusui dapat melindungi bayi dan anak terhadap penyakit berbahaya. Menyusui dapat juga menumbuhkan ikatan kasih sayang (bonding) antara ibu dan anak.

ASI merupakan imunisasi pertama, dan sekaligus dapat memberikan perlindungan terhadap diare, infeksi telinga, infeksi saluran pernapasan serta beberapa masalah kesehatan lainnya. Perlindungan menjadi hal yang sangat berguna ketika ibu hanya memberikan ASI saja selama enam bulan pertama, mulai usia enam bulan bayi harus diberikan makanan tambahan (MP-ASI) dan menyusui masih tetap dilanjutkan bersama dengan makanan lain sampai anak berusia 2 tahun dan lebih.

Tidak ada susu, makanan atau pelengkap lainnya yang dapat memberikan perlindungan sebaik ASI.

Pemberian ASI membantu ibu dan bayi membentuk hubungan kasih sayang yang sangat erat, sebuah proses yang disebut ikatan batin. Hubungan yang erat membantu bayi merasa aman dan dicintai, yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Manfaat memberikan ASI bagi ibu
  1. Terbukti secara ilmiah dapat mengurangi risiko kanker payudara dan kanker indung telur (ovarium) pada ibu. 
  2. Cara kontrasepsi alamiah, karena dengan memberikan ASI akan merangsang keluarnya hormon prolaktin untuk meproduksi ASI sekaligus menunda kesuburan sehingga kehamilan tertunda. 
  3. Mengurangi perdarahan setelah melahirkan dan mencegah terjadinya anemia. 
  4. Mengembalikan berat badan seperti sebelum hamil. 
  5. Lebih ekonomis, praktis, higienis dan hemat waktu. 

Ayah dan anggota keluarga yang lain dapat membantu ibu, dengan menganjurkan ibu beristirahat sambil menyusui bayi. Mereka juga dapat membantu ibu dengan menyediakan makanan bergizi, menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya atau merawat anak lainnya yang lebih besar.

Menyusui Sesuai Keinginan Bayi, Tanpa Dibatasi Jumlah dan Frekuensi

Menyusui Sesuai Keinginan Bayi, Tanpa Dibatasi Jumlah dan Frekuensi

Hampir semua ibu dapat menyusui dengan baik. Menyusui bayi sesuai keinginan bayi dapat menghasilkan produksi ASI lebih banyak. Bayi harus disusui semau bayi tanpa dibatasi dalam jumlah maupun frekuensi.

Susu ibu dapat menghasilkan susu sebanyak yang dikehendaki bayi. Jika bayi menyusu lebih sering, maka semakin banyak pula ibu memproduksi ASI. Hampir setiap ibu dapat menyusui bayinya dengan baik dan memproduksi ASI yang cukup, jika:
  1. Ibu memberikan ASI secara eksklusif. 
  2. Bayi menyusu dalam posisi yang benar yaitu dengan pelekatan mulut bayi pada payudara juga tepat, sehingga bayi dapat mengisap susu ibu dengan baik. 
  3. Bayi menyusu semaunya selama ia mau, termasuk waktu siang maupun malam, dan dibiarkan menyusu sampai ia selesai menyusu atau tertidur. 
  4. Bayi menyusu secara bergantian dari payudara kiri dan kanan atau sebaliknya. Bayi baru dipindahkan dari payudara yang satu jika ia telah selesai menyusu pada payudara yang pertama. Menggendong bayi dalam posisi yang benar membantu memudahkan bayi menyusu.

Beberapa tanda bahwa bayi berada dalam posisi yang benar untuk menyusu
  1. Kepala bayi dan badannya berada dalam satu garis lurus.
  2. Badan bayi menempel pada tubuh ibunya.
  3. Seluruh tubuh bayi menghadap ke arah ibunya.
  4. Bayi dalam keadaan santai, gembira dan mengisap susu ibunya.

Memegang bayi dalam posisi yang kurang baik, akan menimbulkan beberapa kesulitan antara lain: 
  1. Bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup. 
  2. Bayi menolak menyusu.

Beberapa tanda bayi menempel dengan baik
  1. Lebih banyak warna gelap sekitar puting susu ibu (areola) yang dapat dilihat di atas mulut bayi daripada dibawah mulut bayi. 
  2. Mulut bayi terbuka lebar. 
  3. Bibir bawah bayi mengarah keluar. 
  4. Dagu bayi menyentuh payudara ibu.

Beberapa tanda bahwa bayi menyusu deangan baik
  1. Bayi mengisap lama dan dalam. 
  2. Pipi terlihat bundar ketika sedang mengisap.
  3. Bayi akan melepaskan payudara jika sudah selesai.

Biasanya ibu tidak akan merasa sakit di sekitar payudaranya ketika sedang menyusui. Sejak lahir bayi harus menyusu setiap saat ia mau. Bayi harus diberi ASI sesuai dengan permintaan bayi, semau bayi dan tanpa dibatasi jumlah, frekuensi dan waktunya. Jika bayi baru lahir tidur lebih dari 3 jam setelah menyusu, ia boleh dibangunkan secara lembut dan ditawarkan untuk menyusu lagi.

Menangis bukanlah tanda bahwa bayi ingin makan atau minum. Biasanya bayi ingin dipegang dan dipeluk, atau popoknya perlu diganti, atau bayi merasa kepanasan atau kedinginan. Sebagian bayi menyusu hanya untuk merasa nyaman. Semakin banyak bayi mengisap susu, semakin banyak ASI yang dihasilkan yang membantu memenuhi kebutuhan bayi. Jika bayi menangis dalam waktu lama, walaupun sudah diberi ASI dan dipeluk, mungkin ibu perlu dukungan tambahan dalam memberi ASI, atau mungkin bayi kurang sehat. Sebaiknya ibu datang berkonsultasi kepada petugas kesehatan terlatih.

Memberi dot atau botol kepada bayi, dapat mengganggu proses pemberian ASI, karena gerakan mengisap dot atau botol berbeda dengan gerakan menyusu pada ibu. Bayi yang terbiasa dengan botol atau dot akan menolak menyusu kepada ibunya. Proses ini akan menyebabkan terbatasnya waktu bayi untuk menyusu kepada ibu dan akhirnya mengurangi produksi ASI. Dot dan botol dapat tercemar sehingga dapat meningkatkan risiko sakit.

Ibu yang merasa kuatir tidak mempunyai ASI yang cukup, sering memberi bayinya minuman atau makanan tambahan pada bulan-bulan awal kelahiran bayinya. Hal ini justru akan menyebabkan bayi semakin malas untuk menyusu pada ibunya, sehingga akhirnya semakin sedikit ASI yang diproduksi ibunya. Ibu akan memproduksi ASI lebih banyak jika tidak memberikan minuman dan makanan tambahan kepada bayinya, tetapi ia tetap menyusui bayinya.

Ibu perlu lebih diyakinkan bahwa ibu cukup memberi makan bayinya dengan memberi ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Semua ibu, terutama mereka yang tidak yakin terhadap pemberian ASI, perlu mendapatkan dukungan dan dorongan dari suami dan anggota keluarga lainnya, tetangga, kawan-kawan, petugas kesehatan, tempat bekerja, bahkan organisasi perempuan.

Petugas kesehatan yang menolong persalinan dapat membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang manfaat menyusui. Petugas kesehatan harus membantu ibu untuk menyusui anaknya dan membantu ayah bayi, serta keluarga lain untuk mau menerima bahwa menyusui merupakan sebuah proses alami dan kebiasaan baik yang bernilai gizi tinggi serta dapat melindungi kehidupan bayi.

Ibu yang merasa kuatir tidak mempunyai ASI yang cukup, sering memberi bayinya minuman atau makanan tambahan pada bulan-bulan awal kelahiran bayinya. Hal ini justru akan menyebabkan bayi semakin malas untuk menyusu pada ibunya, sehingga akhirnya semakin sedikit ASI yang diproduksi ibunya. Ibu akan memproduksi ASI lebih banyak jika tidak memberikan minuman dan makanan tambahan kepada bayinya, tetapi ia tetap menyusui bayinya.

Ibu perlu lebih diyakinkan bahwa ibu cukup memberi makan bayinya dengan memberi ASI saja sampai bayi berusia enam bulan. Semua ibu, terutama mereka yang tidak yakin terhadap pemberian ASI, perlu mendapatkan dukungan dan dorongan dari suami dan anggota keluarga lainnya, tetangga, kawan-kawan, petugas kesehatan, tempat bekerja, bahkan organisasi perempuan.

Selasa, 04 April 2017

Kontak Kulit Ibu Dengan Bayi dan Kemudian Menyusui ASI Segera Setelah Melahirkan

Kontak Kulit Ibu Dengan Bayi dan Kemudian Menyusui ASI Segera Setelah Melahirkan

Bayi baru lahir harus segera diletakkan di dada ibunya untuk dipeluk setelah dilahirkan. Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan ibunya dan bayi mulai menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir. 

Kontak kulit ibu dengan bayinya dan kemudian menyusui ASI segera setelah melahirkan, akan merangsang produksi ASI. Menyusui juga akan membantu kandungan ibu mengecil, yang berarti berarti akan mengurangi risiko perdarahan besar atau infeksi dan membantu mendorong ari-ari keluar.

Kolostrum, air susu kental berwarna kekuning-kuningan yang diproduksi oleh ibu pada hari pertama melahirkan dan beberapa hari berikutnya, merupakan makanan paling sempurna untuk bayi baru lahir. Kolostrum tersebut bernilai gizi tinggi, dan penuh dengan antibodi yang melindungi bayi terhadap infeksi.

Kadang-kadang ibu dianjurkan untuk tidak memberikan kolostrum kepada bayi mereka. Nasihat ini sama sekali tidak benar, karena bayi baru lahir memperoleh banyak manfaat dari kolostrum tersebut. Bayi baru lahir tidak memerlukan makanan atau minuman lain kecuali ASI. Memberikan makanan atau minuman lain kepada bayi baru lahir, berakibat mengurangi produksi ASI. Selain itu dapat mengakibatkan diare atau penyakit infeksi lainnya. Susu yang diproduksi ibu, kaya akan gizi dan sangat cocok untuk bayi baru lahir. Bayi harus disusui sesering mungkin sebanyak yang ia minta.

Bayi yang mengalami kesulitan untuk mengisap susu ibunya dalam beberapa hari pertama, harus diusahakan selalu dekat dengan ibunya, dan diberi kesempatan untuk menyusu berulang kali, atau bayi dibantu disusui sehingga ia menyusu secara, atau bayi diberi ASI dengan menggunakan cangkir bersih (jangan gunakan botol dan dot). Ibu harus dibantu untuk meningkatkan kemampuan bayinya mengisap, dan kepadanya diperagakan bagaimana caranya memerah ASI jika diperlukan.

ASI sangat baik untuk bayi dengan BBLR. Namun demikian tidak semua bayi dapat menyusu pada hari pertama kelahirannya. Bagi bayi yang tidak menyusu pada ibunya, tersedia beberapa pilihan yaitu: ASI yang diperah (yang berasal dari ibu bayi), ASI donor (setelah melalui test HIV, dan ASI dihangatkan dengan benar) atau susu formula (hanya bila ada indikasi medis). Semua jenis susu ini harus diberikan dengan menggunakan cangkir, sendok, atau alat medis yang biasa digunakan oleh petugas kesehatan terlatih di fasilitas kesehatan.

ASI yang telah dihangatkan, dimulai dengan menghangatkan ASI yang diperah (cukup untuk satu atau dua kali makan), dalam sebuah panci kecil sampai air mendidih. ASI tersebut kemudian didinginkan dalam kontainer tertutup dan bersih sebelum diberikan kepada bayi dengan menggunakan cangkir. Petugas kesehatan terlatih dapat memberikan bimbingan lebih jauh kepada si Ibu tentang bagaimana memeras ASI dan cara memanaskan ASI.

Sangat dianjurkan bayi yang baru lahir untuk tidur bersama ibunya dalam satu kamar yang sama. Jika seorang ibu melahirkan di sebuah Rumah Sakit atau Klinik, maka ibunya dianjurkan berada dekat dengan bayinya selama 24 jam. Ia harus meminta dengan sungguh-sungguh kepada petugas RS atau klinik agar bayinya tidak diberi susu formula, atau air atau cairan lainnya selain ASI

ASI Adalah Makanan Terbaik Untuk Bayi 0-6 Bulan

ASI Adalah Makanan Terbaik Untuk Bayi 0-6 Bulan

ASI merupakan makanan dan minuman terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan. Tidak perlu makanan dan minuman lain, bahkan air pun tidak diperlukan oleh bayi pada periode ini.

ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi dan anak yang mengandung sel darah putih, protein dan zat kekebalan yang cocok untuk bayi. ASI membantu pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal serta melindungi terhadap penyakit. ASI mengandung keseimbangan gizi sempurna untuk bayi, berbeda dengan susu formula, susu bubuk atau susu hewan.

Bayi usia 0-6 bulan tidak memerlukan air atau makanan lainnya (seperti air teh, jus, air gula, air anggur, air beras, susu lain, atau bubur), bahkan walaupun berada di daerah yang beriklim panas sekalipun, ASI sudah ianggap memenuhi seluruh kebutuhan bayi.

ASI mudah dicerna bayi. Berbeda dengan susu formula yang berasal dari susu hewan yang lambat dan lebih dicerna. Dibandingkan dengan susu formula. ASI dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit, karena ASI mengandung antibodi untuk kekebalan anak. Zat antibodi ini tidak terdapat dalam jenis susu yang lain.

Memberikan cairan dan makanan lain selain ASI kepada bayi usia 0-6 bulan, akan meningkatkan risiko diare dan penyakit lainnya. Air dan cairan atau makanan lainnya mungkin tercemar, yang pada akhirnya dapat menyebabkan diare.

Bayi yang diberi minum atau cairan dan atau makanan lainnya pada usia 0-6 bulan, akan mengganggu proses menyusu sehingga akan menurunkan produksi ASI itu sendiri.

Apabila bayi usia 0-6 bulan menyusu ASI, dan hasil penimbangan berkalanya tidak menunjukkan pertumbuhan yang baik maka:
  • Ibu memerlukan bantuan untuk memperbaiki cara menyusui sehingga bayi akan menyusu secara efektif. 
  • Bayi memerlukan lebih banyak kesempatan untuk menyusu. Bayi harus menyusu semau bayi tanpa dibatasi. Bayi harus diberikan kesempatan untuk menyusu sampai ia melepaskan punting ibunya, dan ia akan nampak puas atau mengantuk. Ini merupakan indikasi bahwa bayi telah mendapatkan segalanya dari menyusu. Bayi masih boleh ditawari untuk menyusu lagi, mungkin ia masih mau menyusu atau mungkin menolak. Bayi sebaiknya tetap dibiarkan merebahkan diri di dada ibunya sampai bayi benar-benar selesai menyusu. 
  • Bayi yang lahir dengan berat banad rendah (BBLR), memerlukan istirahat berkali-kali selama menyusu. 
  • Bayi mungkin jatuh sakit, dan ia harus diperiksa oleh petugas kesehatan terlatih. 
  • Bayi usia 0-6 bulan yang sudah mendapat air atau cairan lain, akan berakibat mengurangi asupan ASI. Oleh karenanya ibu memerlukan petunjuk tentang bagaimana cara mengurangi dan menghilangkan kebiasaan minum cairan lain dan berusaha untuk meningkatkan kebiasaan untuk hanya memberikan ASI saja.

8 Hal Penting Tentang Air Susu Ibu (ASI)

8 Hal Penting Tentang Air Susu Ibu (ASI)

Menyusui adalah cara alamiah yang direkomendasikan untuk diberikan kepada semua anak, walaupun makanan buatan dapat dibeli, air bersih tersedia, lingkungan yang bersih dan baik untuk menyiapkan dan memberi susu formula tersedia. Anak yang tidak diberi ASI, memiliki risiko yang semakin meningkat untuk sakit, dan dapat menghambat pertumbuhan bahkan meningkatkan risiko mati atau cacat. Bayi yang disusui akan menerima perlindungan (kekebalan) terhadap berbagai penyakit melalui air susu ibunya. Berikut ini  yang seharusnya diketahui oleh keluarga dan masyarakat tentang Air Susu Ibu
  1. ASI merupakan makanan dan minuman terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan. Tidak perlu makanan dan minuman lain, bahkan air pun tidak diperlukan oleh bayi pada periode ini. 
  2. Bayi baru lahir harus segera diletakkan di dada ibunya setelah dilahirkan. Bayi harus mendapatkan kontak kulit langsung dengan ibunya dan bayi mulai menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir. 
  3. Hampir semua ibu dapat menyusui dengan baik. Menyusui bayi sesuai keinginan bayi dapat menghasilkan produksi ASI lebih banyak. Bayi harus disusui semau bayi tanpa dibatasi dalam jumlah maupun frekuensi. 
  4. Menyusui dapat melindungi bayi dan anak terhadap penyakit berbahaya. Menyusui dapat juga ikatan kasih sayang (bonding) antara ibu dan anak.
  5. Memberikan ASI atau susu dengan menggunakan botol dan memberikan produk pengganti ASI seperti susu formula, atau susu yang berasal dari hewan dapat mengancam kesehatan bayi dan kelangsungan hidup bayi. Apabila ibu tidak dapat menyusui anaknya karena alasan medis, maka bayi dapat diberi ASI yang diperah, dan hanya bila terpaksa dapat diberi produk pengganti ASI yang disajikan dengan menggunakan cangkir bersih. 
  6. Seorang ibu yang terinfeksi HIV mempunyai risiko untuk menularkan infeksi tersebut kepada anaknya melalui pemberian ASI. Bayi usia 0-6 bulan memiliki risiko yang jauh lebih besar jika diberi ASI, cairan lain dan makanan, dibandingkan dengan bayi yang hanya diberi ASI saja. Karena itu disarankan, bayi cukup menerima ASI saja selama enam bulan pertama, kecuali jika pemberian pengganti ASI (susu formula) dipandang sebagai hal yang dapat diterima, memungkinkan, terjangkau, berkelanjutan dan aman. 
  7. Seorang ibu yang bekerja jauh dari rumahnya dapat melanjutkan menyusui anaknya. Ibu harus menyusui bayinya sesering mungkin pada saat bersama-sama dengan bayinya, dan memerah ASInya jika mereka terpisah, agar pengasuhnya dapat memberikan ASI tersebut dengan cara yang bersih dan aman. 
  8. Mulai usia enam bulan, ketika bayi mulai belajar makan, pemberian ASI harus tetap dilanjutkan sampai usia dua tahun atau lebih, karena ASI merupakan sumber zat gizi dan tenaga.
Hampir setiap ibu dapat memberikan ASI. Bagi ibu yang kurang yakin bisa menyusui, memerlukan dorongan dan dukungan praktis yang positif dari suami, keluarga, teman-teman dan saudara-saudaranya. Petugas kesehatan, kader, organisasi perempuan, dan pimpinan usaha juga dapat membantu.