Rabu, 19 April 2017

Imunisasi Aman Untuk Anak Yang Sakit Ringan, Cacat atau Kurang Gizi

Imunisasi Aman Untuk Anak Yang Sakit Ringan, Cacat atau Kurang Gizi

Banyak orang tua yang tidak membawa anaknya untuk diimunisasi karena alasan anaknya sedang menderita demam, batuk, pilek, diare atau sakit lainnya. Sebenarnya imunisasi dapat diberikan kepada anak yang sedang sakit ringan.

Imunisasi juga dapat diberikan kepada anak cacat atau kurang gizi. Jika seorang anak terkena HIV positif atau baru diduga HIV positif, petugas kesehatan terlatih dapat memberikan saran imunisasi apa saja yang dapat diberikan.

Setelah anak mendapatkan suntikan, biasanya anak menangis atau kemudian menderita demam, goresan kecil pada kulit atau luka kecil. Hal ini merupakan hal yang biasa yang menunjukkan bahwa vaksin sedang bekerja. 

Bagi anak usia di bawah enam bulan, harus sering diberikan ASI, sedangkan bagi anak yang lebih tua harus banyak diberikan cairan dan makanan.

Jika anak menderita demam (lebih dari 38 derajat Celcius), maka segera dibawa kepada petugas kesehatan atau Puskesmas.

Campak sangat berbahaya untuk anak yang menderita kurang gizi, sehingga mereka harus diberikan imunisasi campak, terutama jika kondisi kurang gijinya semakin berat.

Setiap anak yang diimunisasi harus menggunakan jarum suntik yang baru. Masyarakat berhak memastikan bahwa dalam setiap imunisasi digunakan jarum suntik baru.

Pemakaian jarum suntik dan spuit yang sama, walaupun di antara anggota keluarga, dapat menyebarluaskan penyakit yang mengancam hidup mereka. Jarum suntik baru harus selalu digunakan untuk setiap orang. 

Semua imunisasi dalam berbagai situasi, termasuk keadaan darurat, harus diberikan dengan menggunakan jarum suntik yang hanya digunakan untuk satu kali saja. Orang tua dan pengasuh harus meminta jarum suntik yang baru untuk setiap imunisasi. Petugas kesehatan harus membuang jarum suntik dan alat sisa lainnya dengan aman.

Penyakit dapat menular dengan cepat jika orang berkumpul bersama-sama. Semua anak yang tinggal di lingkungan padat, terutama di daerah pengungsian, atau kondisi bencana alam harus segera mendapatkan imunisasi terutama campak dan Tetanus Toxoid (TT).

Kedaruratan yang mendorong orang untuk secara beramai-ramai meninggalkan rumahnya sering menjadi penyebab menularnya berbagai penyakit. Karena itu anak yang berusia di bawah 15 tahun, harus segera mendapatkan imunisasi terutama campak. Campak akan lebih berbahaya bagi anak yang kurang gizi atau tinggal di daerah yang lingkungannya tidak sehat.

Berbagai penyakit seperti campak menyebar dengan cepat. Seorang anak yang menderita campak perlu dijauhkan dari anak lainnya, dan kemudian segera diperiksakan ke petugas kesehatan terlatih serta mendapatkan vitamin A dosis tinggi.

Ketika terjadi wabah campak di satu daerah, anak harus diimunisasi. Kemudian daerah yang berdekatan harus segera disiagakan dan anaknya harus diimunisasi. Apabila jadwal imunisasi seorang anak terganggu, maka harus segera berkonsultasi kepada petugas kesehatan terlatih untuk melengkapi imunisasinya. 

Jika buku catatan imunisasi seorang anak hilang, dan kedua orang tuanya tidak ingat imunisasi apa saja yang telah diterima anaknya, maka untuk amannya perlu diulang lagi.

Catatan imunisasi seperti buku KIA atau KMS harus dibawa untuk diisi oleh petugas kesehatan setiap kali mendapatkan imunisasi.

Mengikuti jadwal imunisasi yang diwajibkan merupakan hal yang penting. Anak harus diimunisasi pada usia yang dianjurkan dan harus menerima dosis sesuai umurnya. Pada saat anak diimunisasi, petugas kesehatan harus mencatat vaksina tersebut, misalnya dosis yang keberapa (pertama, kedua, dst), tanggal imunisasi, atau tanggal kartu kesehatan diberikan kepada kedua orang tua atau pengasuhnya.

Vaksin harus juga dicatat dan disimpan pada pencatatan di klinik kesehatan. Penting bagi kedua orang tua atau pengasuh untuk menyimpan kartu imunisasi dan membawanya pada kunjungan imunisasi berikutnya. Dengan demikian petugas kesehatan dapat mencatat, vaksin apa yang pernah diterima oleh anak, berikut tanggal pemberian vaksin tersebut.

Artikel Terkait