Jumat, 06 Oktober 2017

Cara Mencegah Malaria Terutama Pada Ibu Hamil

Cara Mencegah Malaria Terutama Pada Ibu Hamil

Malaria adalah yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles. Tidur memakai kelambu berinsektisida adalah cara terbaik menghindari gigitan nyamuk. Di daerah endemis malaria, kelambu berinsektisida diberikan kepada ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita secara cuma-cuma.

Nyamuk yang menularkan parasit malaria disebut nyamuk anopheles. Tidak semua nyamuk menularkan malaria. Jika nyamuk anopheles sudah menggigit penderita malaria kemudian menggigit orang sehat, maka parasit malaria ditularkan ke badan orang sehat tersebut sehingga jatuh sakit.

Ciri khas nyamuk anopheles adalah jika menggigit badannya menungging dan setelah menggigit nyamuk beristirahat pada dinding rumah yang gelap dan lembab, di bawah meja, di kolong tempat tidur dan di belakang lemari. Nyamuk tersebut hanya menggigit pada malam hari, di dalam maupun luar rumah.

Tidur memakai kelambu yang telah dicelup insektisida sesuai anjuran sangat baik untuk menghindarkan gigitan serta membunuh nyamuk. Semua anggota masyarakat khususnya anak balita dan ibu hamil harus dihindarkan dari gigitan nyamuk dimulai pada senja hari sampai fajar.

Kelambu berinsektisida ada dua macam:
  • Kelambu yang sudah dilapisi insektisida oleh pabrik.
  • Kelambu yang dicelup sendiri oleh masyarakat dengan racun serangga/insektisida (kelambu celup) setiap enam bulan sekali.

Insektisida yang digunakan untuk kelambu aman bagi manusia dan digunakan oleh banyak negara di dunia. Jumlah insektisida yang digunakan adalah dalam bentuk larutan dan sangat kecil pengaruhnya bagi manusia, termasuk bayi baru lahir.

Kelambu yang dicelupkan dalam insektisida tertentu dapat mematikan nyamuk yang hinggap. Petugas kesehatan membagikan secara cuma-cuma kepada ibu hamil dan yang mempunyai balita pada daerah endemis malaria. Selain itu juga memberi petunjuk mengenai penggunaan kelambu tersebut dan cara merawatnya.

Bayi dan balita harus tidur memakai kelambu berinsektisida. Jika tidak ada kelambu berinsektisida, keluarga dapat menggunakan kelambu biasa dengan ukuran yang besar sehingga semua anak yang masih kecil dapat tidur di dalam kelambu tersebut. Bayi yang masih menyusu harus tidur bersama ibunya dalam satu kelambu.

Kelambu khusus harus terus digunakan, juga pada saat tidak banyak nyamuk. Jika tidak dapat memakai kelambu, ada beberapa cara lain yang dapat membantu untuk menghindari gigitan nyamuk, seperti :
  • Tutup pintu dan jendela dengan kawat atau kasa nilon untuk mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah.
  • Hindari pergi keluar setelah hari gelap. Jika pergi di malam hari:
    • Gunakan pakaian pelindung yang menutupi lengan dan kaki.
    • Gunakan krim kimia penangkal nyamuk pada kulit yang tidak tertutup pakaian.
    • Gunakan obat nyamuk bakar (khususnya saat berada di luar) yang mengeluarkan asap. Asap tersebut mengusir nyamuk atau membunuhnya ketika mereka terbang melewati asap itu.
  • Semprot ruangan dengan insektisida sebelum tidur setiap malam. Oleh karena semprotan insektisida tersebut hanya efektif untuk beberapa jam, metode ini harus digunakan dengan kombinasi tindakan pencegahan lainnya, misalnya pintu dan jendela yang dipasang kasa.
  • Membunuh nyamuk secara fisik di dalam rumah dengan cara menepuk atau dengan alat lainnya.

Anak-anak di daerah endemis malaria berada dalam keadaan bahaya. Anak yang demam harus segera diperiksa oleh petugas kesehatan terlatih dan secepatnya mendapat pengobatan anti malaria yang tepat bila hasil pemeriksaan darahnya positif.

Pendukung Malaria harus diwaspadai. Bila anggota keluarga ada yang terkena demam, kemudian anak tidak mau makan, muntah-muntah, lesu atau uring-uringan (rewel), anak tersebut harus segera dibawa ke sarana pelayanan kesehatan terdekat untuk dilakukan pemeriksaan darah, baik secara
mikroskopis atau RDT (Rapid Diagnostic Test), dan diberi obat anti malaria sesuai petunjuk dari petugas kesehatan bila hasil pemeriksaan darahnya positif.

Terlambat menolong anak yang demam karena malaria, walau hanya sehari, dapat mengakibatkan kematian. Petugas kesehatan dapat memberi petunjuk mengenai obat yang paling tepat dan berapa lama harus dilanjutkan.

Anak yang terkena malaria harus terus minum obat meskipun sudah tidak demam lagi (sesuai aturan). Jika pengobatan tidak tuntas, akibatnya akan menjadi lebih parah dan sulit diobati. Obat anti malaria yang digunakan adalah ACT (Artemisinin Combination Therapy).

Jika tanda-tanda malaria berlanjut walaupun telah diobati, maka anak harus segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan. Kemungkinan penyebabnya adalah:
  • Anak tersebut tidak mendapatkan obat yang memadai.
  • Anak terkena penyakit lain yang bukan malaria.
  • Obatnya tidak mempan terhadap malaria sehingga diperlukan obat yang lain.

Selama demam, anak harus dijaga agar suhu badannya mereda dengan cara:
  • Memberikan obat penurun panas, seperti paracetamol atau ibuprofen tetapi jangan aspirin
  • Mengompres atau dibasuh dengan spons atau saputangan bersih yang dicelup air hangat-hangat kuku.
Petugas kesehatan perlu memberi informasi kepada orang tua dan pengasuh bagaimana mencegah malaria dan cara menangani anak yang terkena malaria.

Malaria sangat berbahaya bagi ibu hamil. Di daerah endemis malaria ibu hamil harus tidur di dalam kelambu berinsektisida. Pada daerah endemis tinggi angka malaria, kebanyakan ibu hamil dengan parasit malaria dalam darahnya tidak menunjukkan gejala malaria. Meskipun ibu hamil tidak merasa sakit, infeksi malaria masih dapat mempengaruhi kesehatannya dan bayinya.

Ibu hamil lebih berisiko terinfeksi malaria karena kehamilan mereka mengurangi kekebalan terhadap malaria. Ibu hamil menghadapi peningkatan risiko malaria sebagai berikut:
  • Ibu hamil memiliki risiko terinfeksi dua kali lebih besar dibandingkan wanita tidak hamil.
  • Ibu yang hamil untuk pertama atau kedua kalinya memiliki risiko lebih besar menderita malaria berat.

Penyakit malaria dapat berakibat buruk pada lima keadaan; anemia (kurang darah), berat badan lahir rendah, keguguran, lahir sebelum waktunya dan bayi lahir mati. Bayi yang lahir dari ibu yang terjangkit malaria pada saat kehamilan kemungkinan berat badan bayi lahir rendah dan lebih mudah terkena infeksi atau meninggal sebelum berumur setahun.

Ibu hamil tidak dianjurkan minum obat anti malaria untuk pencegahan, yang dianjurkan adalah menghindari gigitan nyamuk yaitu dengan menggunakan kelambu berinsektisida. Ibu hamil harus segera mulai menggunakan kelambu saat tidur begitu tahu mereka hamil.

Ibu hamil yang menderita malaria harus segera diobati untuk mencegah komplikasi malaria bahkan sampai kematian. Malaria menyebabkan penderita kekurangan darah (anemia) karena parasit merusak sel darah merah dan pada malaria jenis tertentu, parasit menyerang sel darah merah yang masih muda (retikulosit). Selain itu juga karena adanya parasit menyebabkan sel darah merah yang tidak terinfeksi juga mudah rusak. Karena itu penderita malaria harus mendapatkan zat besi dan asam folat untuk mencegah anemia.

Petugas terlatih dapat memberikan obat anti malaria kepada ibu hamil bila sudah ter konfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. Pada trimester pertama diberikan kina, sedangkan ACT diberikan pada trimester kedua dan ketiga.

Dengan diperkenalkannya pemakaian ACT di Indonesia baru-baru ini, Program Nasional Malaria telah mengeluarkan petunjuk pelaksanaan sebagai berikut: sebelum memberikan ACT untuk orang yang terinfeksi malaria, diagnosis harus dilakukan dengan menggunakan RDT atau mikroskop. Jika fasilitas ini tidak ada, maka ACT tidak boleh diberikan.

Penyakit malaria juga bisa menyerang anak-anak. Anak yang terserang malaria atau yang sedang dalam masa penyembuhan memerlukan banyak makan dan minum.

Malaria membakar energi karena demam yang ditimbulkan, sehingga anak akan kehilangan lebih banyak cairan. Anak harus diberi makan dan minum lebih sering untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi dan dehidrasi.

Masyarakat yang gizinya kurang baik dan tinggal di daerah endemis malaria lebih rentan terhadap infeksi malaria. Pemberian ASI akan mencegah dehidrasi dan membantu anak menghadapi dampak infeksi, termasuk malaria. Anak yang menderita malaria harus diberi ASI sesering mungkin.

Infeksi malaria yang berulang dapat menghambat pertumbuhan anak dan perkembangan otaknya. Infeksi malaria yang berulang juga dapat menyebabkan anemia. Anak yang menderita malaria harus diperiksa apakah ia juga mengalami anemia.

Keluarga dan masyarakat dapat mencegah malaria dengan menjaga kebersihan lingkungan untuk menghentikan perkembangan nyamuk.

Kita menyadari bahwa masalah malaria merupakan masalah kita bersama. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Keluarga dan masyarakat dapat mencegah malaria dengan menjaga kebersihan lingkungan untuk menghentikan perkembangan nyamuk.

Dalam menghentikan perkembangan nyamuk, setiap keluarga dapat melakukan kegiatan untuk mengurangi jumlah nyamuk malaria, seperti membersihkan rumput, semak-semak di tepi saluran dan sekitar rumah, melipat kain-kain yang bergantungan di dalam ruangan (rumah), mengusahakan keadaaan di dalam rumah tidak ada tempat-tempat yang gelap dan lembab, mengalirkan genangan-genangan air dalam rumahnya, mengeringkan air yang tergenang dan membunuh jentik-jentik dengan menebarkan ikan pemakan jentik dan pemberian larvisida.

Artikel Terkait