Sabtu, 22 Desember 2018

Pantangan Gondongan yang Harus Dihindari Agar Cepat Sembuh

Apa Itu Gondongan?

Gondongan adalah suatu penyakit dimana terjadi pembengkakan pada kelenjar parotis yang dikarenakan oleh infeksi virus kelompok paramyxovirus. Penyakit ini banyak menyerang anak-anak, yang ditandai dengan membesarnya ruang muka sisi bawah, dan di sekitaran telinga. Gondongan termasuk penyakit yang dapat menular..

Gondongan dapat menular lewat ludah, jadi orang sehat yang terkontaminasi ludah pasien gondongan kemungkinan dapat tertular. Ludah dapat menyebar ke orang yang lain lewat batuk, bersin, atau bertukar alat makan. Penyebaran penyakit ini cepat sekali, cuma beberapa waktu saja. Karena itu supaya tidak tertular, sebaiknya hindari kontak dengan anak yang terserang gondongan.

Tanda dan Gejala Gondongan

Orang yang terkena gondongan ditandai dengan adanya pembengkakan pada kelenjar parotis, Selain itu terdapat juga tanda dan gejala lainnya sebagai berikut:
  • Wajah bagian bawah tampak bengkak
  • Nyeri saat mengunyah dan menelan makanan
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri perut
  • Lelah, dan tidak nafsu makan.

Jika anak mengalami gejala seperti di atas sebaiknya segera periksa ke dokter supaya memperoleh diagnosis serta therapy yang tepat. Meskipun bukan adalah penyakit yang serius, serta bisa pulih dengan sendirinya, memperiksakan anak ke dokter bisa mengetahui apakah anak betul-betul terserang gondongan atau tidak. Sehingga penanganan yang dilakukan tepat.

Pengobatan Gondongan 

Tidak ada obat yang dengan spesifik bisa mengobati gondongan, penyakit ini bisa pulih sendiri dengan adanya sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan seperti hindari makanan asam, banyak minum air putih dan mengkompres sisi yang abuh dengan air hangat.

Untuk kurangi tanda-tanda seperti demam serta ngilu dapat dikasihkan obat anti ngilu seperti paracetamol serta ibuprofen. Disarankan pada anak supaya semakin banyak beristirahat.

Pantangan Gondongan yang Harus Dihindari

Buat pasien gondongan, ada banyak makanan yang perlu dijauhi, seperti dijelaskan di atas pasien gondongan dilarang konsumsi makanan yang memiliki kandungan asam karena akan memperparah peradangan yang berlangsung pada kelenjar parotis. Makanan asam sangat banyak, seperti cuka, asam, dan buah buahan yang masih muda. Pasien gondongan disarankan tidak untuk konsumsi makanan dengan struktur keras, sebab akan meningkatkan ngilu saat proses kunyah, karena itu makanan lunak sangat dianjurkan buat pasien penyakit ini.

Makanan yang Disarankan 

Untuk percepat proses pengobatan, anak disarankan untuk konsumsi makanan yang bergizi, sehingga akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dianjurkan minum air putih untuk hindari dehidrasi saat berlangsung demam. Konsumsi makanan yang banyak kandungan vitamin C seperti buah serta sayur. Buah yang banyak terkandung vitamin C adalah jeruk, kiwi, tomat, apel, dan jambu.

Pasien gondongan disarankan untuk perbanyak kegiatan kunyah supaya mempercepat proses penyembuhan, contoh dengan konsumsi permen karet.

Cara Mencegah Gondongan 


Supaya tidak terserang penyakit gondongan, banyak mencegah yang dapat diantisipasi. melakukan pencegahan adalah lebih baik daripada mengobati. Di bawah ini langkah mencegah penyakit gondongan:
  • Memberi imunisasi MMR pada anak-anak, diberikan saat anak berumur umur 1 serta mesti diulangi satu kali lagi pada umur 5 tahun.
  • Tetap mengawasi kebersihan tangan, membersihkan tangan sesudah BAB serta BAK, dan sebelum makan.
  • Tidak menggunakan perlengkapan mandi atau perlengkapan makan dengan orang yang lain. 
  • Buat pasien, mesti memakai kertas tisu saat bersin atau batuk supaya bisa langsung dibuang, serta menggunakan masker.
  • Buat pasien gondongan, disarankan tidak untuk melakukan aktivitas dahulu di luar rumah untuk menahan penyebaran penyakit ke orang yang lain.

Selasa, 18 Desember 2018

Pentingnya Penggunaan Antibiotik Dengan Tepat Sesuai Indikasi

Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang. Salah satu obat pilihan utama untuk mengatasi masalah tersebut adalah antimikroba seperti antibiotik/antibakteri, antivirus, antiprotozoa, antijamur.


Antibiotik adalah obat yang paling banyak digunakan untuk pengobatan infeksi uang disebabkan oleh bakteri. Berdasarkan studi yang telah dilakukan ditemukan bahwa sekitar 40-62 antibiotik digunakan secara tidak tepat seperti untuk mengobati penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Data dari penelitian kualitas penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit didapatkan 30-80% tidak didasarkan pada indikasi (Hadi, 2009).

Dampak Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat

Jumlah penggunaan antibiotik yang relatif banyak menyebabkan berbagai masalah dan menjadi ancaman global bagi kesehatan terutama ancaman resistensi terhadap antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa berdampak pada motbiditas dan mortalitas, selain itu bisa juga memberikan dampak negatif terhadap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi.

Pada mulanya resistensi antibitik terjadi di rumah sakit, tetapi kini juga sudah berkembang di lingkungan masyarakat, khususnya Streptococcus pneumoniae (SP), Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus.

Kuman yang resisten terhadap antibiotik di seluruh dunia (Guzman-Blancoetal et al 2000; Stevenson et al. 2005):
  • Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA)
  • Vancomycin-Resistant Enterococci (VRE)
  • Penicillin-Resistant Pneumococci, Klebsiella pneumoniae yang menghasilkan Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL)
  • Carbapenem-Resistant Acinetobacter baumannii dan Multiresistant Mycobacterium tuberculosis
Kuman resisten antibiotik terjadi karena penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan juga penerapan kewaspadaan standar yang tidak benar di fasilitas pelayanan kesehatan.

Berdasarkan penelitian Antimicrobial Resistant in Indonesia (AMRIN-Study) didapatkan data bahwa: 
  • Dari 2494 individu di masyarakat, 43% Escherichia coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik antara lain: ampisilin (34%), kotrimoksazol (29%), dan kloramfenikol (25%).
  • Hasil penelitian 781 pasien yang dirawat di rumah sakit didapatkan 81% Escherichia coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik, yaitu: ampisilin (73%), kotrimoksazol (56%), kloramfenikol (43%), siprofloksasin (22%), dan gentamisin (18%).

Untuk itu penggunaan antibiotik secara tepat adalah hal yang sangat penting, ini bukan hanya tugas tenaga kesehatan tetapi juga masyarakat. Karena saat ini banyak masyarakat yang menggunakan antibiotik sembarangan tanpa anjuran dokter.