Selasa, 18 Desember 2018

Pentingnya Penggunaan Antibiotik Dengan Tepat Sesuai Indikasi

Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang. Salah satu obat pilihan utama untuk mengatasi masalah tersebut adalah antimikroba seperti antibiotik/antibakteri, antivirus, antiprotozoa, antijamur.


Antibiotik adalah obat yang paling banyak digunakan untuk pengobatan infeksi uang disebabkan oleh bakteri. Berdasarkan studi yang telah dilakukan ditemukan bahwa sekitar 40-62 antibiotik digunakan secara tidak tepat seperti untuk mengobati penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Data dari penelitian kualitas penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit didapatkan 30-80% tidak didasarkan pada indikasi (Hadi, 2009).

Dampak Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat

Jumlah penggunaan antibiotik yang relatif banyak menyebabkan berbagai masalah dan menjadi ancaman global bagi kesehatan terutama ancaman resistensi terhadap antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa berdampak pada motbiditas dan mortalitas, selain itu bisa juga memberikan dampak negatif terhadap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi.

Pada mulanya resistensi antibitik terjadi di rumah sakit, tetapi kini juga sudah berkembang di lingkungan masyarakat, khususnya Streptococcus pneumoniae (SP), Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus.

Kuman yang resisten terhadap antibiotik di seluruh dunia (Guzman-Blancoetal et al 2000; Stevenson et al. 2005):
  • Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA)
  • Vancomycin-Resistant Enterococci (VRE)
  • Penicillin-Resistant Pneumococci, Klebsiella pneumoniae yang menghasilkan Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL)
  • Carbapenem-Resistant Acinetobacter baumannii dan Multiresistant Mycobacterium tuberculosis
Kuman resisten antibiotik terjadi karena penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan juga penerapan kewaspadaan standar yang tidak benar di fasilitas pelayanan kesehatan.

Berdasarkan penelitian Antimicrobial Resistant in Indonesia (AMRIN-Study) didapatkan data bahwa: 
  • Dari 2494 individu di masyarakat, 43% Escherichia coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik antara lain: ampisilin (34%), kotrimoksazol (29%), dan kloramfenikol (25%).
  • Hasil penelitian 781 pasien yang dirawat di rumah sakit didapatkan 81% Escherichia coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik, yaitu: ampisilin (73%), kotrimoksazol (56%), kloramfenikol (43%), siprofloksasin (22%), dan gentamisin (18%).

Untuk itu penggunaan antibiotik secara tepat adalah hal yang sangat penting, ini bukan hanya tugas tenaga kesehatan tetapi juga masyarakat. Karena saat ini banyak masyarakat yang menggunakan antibiotik sembarangan tanpa anjuran dokter.

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.